tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: SISA-SISA FREKUENSI YANG MEMBARA
Layar laptop Jamie telah padam, meninggalkan ruangan dalam kegelapan yang hanya dipicu oleh sisa-sisa bara di perapian dan lampu indikator merah dari alat perekam yang masih berkedip pelan. Keheningan yang menyusul setelah siaran "pemberontakan" itu tidak terasa seperti kemenangan. Ia terasa seperti kekosongan yang ada di pusat sebuah ledakan—sebuah titik nol di mana waktu seolah berhenti berputar, menunggu dunia di luar sana bereaksi terhadap kebenaran yang baru saja dilepaskan.
Elara masih terduduk di kursi kayu, tangannya masih mencengkeram mikrofon seolah-olah benda logam itu adalah satu-satunya hal yang menjaganya agar tidak melayang pergi ke kegelapan. Napasnya pendek dan terasa panas di tenggorokannya yang kering. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri di ujung jari-jarinya—sebuah irama yang tidak beraturan, sebuah perkusi alami yang selama sepuluh tahun ini coba ia redam dengan tumpukan laporan keuangan dan kehidupan yang steril di London.
"Kita melakukannya," bisik Arlo. Suaranya terdengar sangat jauh, seolah ia berbicara dari balik dinding kaca.
Arlo masih memegang gitarnya. Senar-senar itu masih bergetar halus, menghasilkan dengung frekuensi rendah yang hanya bisa didengar jika ruangan benar-benar sunyi. Matanya menatap ke arah kamera yang sudah mati, namun pikirannya jelas tidak ada di sana. Ia tampak seperti seorang prajurit yang baru saja meledakkan benteng terakhirnya sendiri agar musuh tidak bisa menjajahnya.
"Kau dengar itu, El?" Arlo menoleh, menatap Elara dengan pandangan yang kosong namun tajam.
"Dengar apa, Arlo? Tidak ada suara di sini."
"Justru itu," Arlo tersenyum, sebuah senyuman yang terlihat menyakitkan di bawah cahaya remang. "Kesunyian ini... ini bukan kesunyian yang kosong. Ini adalah kesunyian setelah semua kebohongan disingkirkan. Ini adalah frekuensi nol."
Jamie, yang sejak tadi terdiam, tiba-tiba berdiri dan menyambar ranselnya. "Kita tidak punya waktu untuk merayakan filsafat suara sekarang. Aku baru saja memantau radar lalu lintas udara dan sinyal radio di area ini. Ada tiga kendaraan yang bergerak cepat menuju jalur masuk desa ini. Mereka bukan polisi lokal. Polisi Skotlandia tidak akan bergerak secepat ini kecuali ada tekanan dari pihak atas."
"Marcus," gumam Elara. Nama itu kini terasa seperti racun di lidahnya.
"Bukan cuma Marcus," Jamie memeriksa ponselnya dengan cepat. "Internet sedang meledak. Siaran kita ditonton oleh empat juta orang dalam waktu dua puluh menit. Server-server media sosial sedang kewalahan menangani gelombang komentar. Marcus tidak hanya marah; dia sedang dalam mode penghancuran total. Dia tahu posisinya sebagai produser jenius sudah berakhir, dan bagi orang seperti dia, jika dia harus jatuh, dia akan membawa kita bersamanya."
Elara bangkit berdiri, kakinya terasa lemas. Ia berjalan menuju jendela dan menyibakkan gorden wol yang berat. Di luar, salju mulai turun—bukan salju yang lembut seperti di kartu pos, melainkan badai salju Skotlandia yang kasar, yang disebut *The Great White Blur*. Cahaya lampu mobil di kejauhan tampak seperti mata monster yang menembus kabut putih.
"Kita harus pergi ke arah utara, melewati perbukitan," kata Arlo sambil menyarungkan gitarnya ke dalam tas yang sudah robek. "Ada jalan tikus para nelayan yang menuju ke dermaga tua. Jika kita bisa sampai ke sana sebelum badai menutup jalan, kita punya kesempatan."
Mereka mulai bergerak dalam kegelapan. Elara menyambar jaket tebalnya, namun ia berhenti sejenak di depan meja kayu. Di sana tergeletak buku catatan asli Arlo—buku yang berisi seluruh riset tentang resonansi emosi, buku yang hampir saja ia tukar dengan keselamatannya di Windermere.
"Tinggalkan itu, El," suara Arlo terdengar di belakangnya.
Elara menoleh, terkejut. "Tapi ini hidupmu, Arlo. Sepuluh tahun risetmu ada di sini."
"Buku itu adalah beban," Arlo mendekat, tangannya yang dingin menyentuh tangan Elara. "Selama buku itu ada, orang-orang seperti Marcus akan terus memburu kita. Selama angka-angka itu tertulis, aku akan selalu tergoda untuk kembali menjadi 'dewa distorsi' yang gila. Aku ingin menjadi manusia lagi, El. Aku ingin suaraku menjadi milikmu, bukan milik kertas-kertas ini."
Dengan gerakan yang tenang namun pasti, Arlo mengambil buku itu dan melemparkannya ke dalam perapian yang masih menyisakan bara api. Elara terkesiap saat melihat api mulai menjilat pinggiran kertas yang kuning. Dalam hitungan detik, rahasia tentang bagaimana memanipulasi emosi manusia melalui suara berubah menjadi abu yang terbang ke cerobong asap.
"Ayo," ajak Arlo.
Mereka keluar dari pintu belakang pondok, langsung disambut oleh hantaman angin dingin yang membuat paru-paru terasa membeku. Salju yang tebal membuat setiap langkah menjadi perjuangan. Jamie memimpin di depan dengan senter kecil yang cahayanya hampir kalah oleh badai. Elara menggenggam tangan Arlo erat-erat, takut jika ia melepaskannya, Arlo akan menghilang ke dalam putihnya salju dan kembali menjadi gema.
Di belakang mereka, di jalan masuk pondok, terdengar suara ban mobil yang mengerem kasar di atas kerikil beku. Pintu-pintu mobil dibanting. Elara tidak berani menoleh, namun ia bisa mendengar suara teriakan kemarahan yang terbawa angin—suara yang ia yakini sebagai suara Marcus.
"MEREKA DI SANA! KE ARAH TEBING!" teriakan itu terdengar sayup-sayup.
"Lari!" perintah Jamie.
Mereka berlari menembus semak-semak yang membeku, melewati padang rumput yang kini tertutup salju setinggi lutut. Napas Elara terasa seperti pisau yang mengiris tenggorokannya. Ia teringat masa-masa ia berlari di gym mewah di London, di atas *treadmill* yang nyaman dengan musik pop di telinganya. Betapa absurdnya semua itu sekarang. Di sini, di ujung dunia, musiknya adalah detak jantung yang ketakutan dan deru angin yang mematikan.
Tiba-tiba, Arlo terjatuh. Kakinya tersangkut pada akar pohon yang tersembunyi di bawah salju.
"Arlo!" Elara berlutut di sampingnya, mencoba menarik pria itu berdiri.
"Pergilah, El... kakiku..." Arlo meringis kesakitan, wajahnya memucat karena dingin dan nyeri.
"Jangan konyol! Aku sudah melompat dari mercusuar untukmu, aku tidak akan meninggalkanmu di padang salju!" Elara merangkul bahu Arlo, memaksanya untuk berdiri. Jamie kembali dan membantu memapah Arlo dari sisi lain.
Mereka terus berjalan, atau lebih tepatnya menyeret diri, menuju tepi tebing. Di bawah sana, Laut Utara meraung, ombaknya menghantam karang dengan kekuatan yang sanggup menghancurkan kapal baja sekalipun. Di dermaga tua yang sudah reyot, sebuah perahu motor kecil milik nelayan setempat bergoyang-goyang ditarik arus.
"Itu perahu paman dari pemilik pondok," Jamie menunjuk ke arah dermaga. "Kuncinya selalu ada di bawah kursi kemudi. Jika kita bisa menghidupkannya, kita bisa menyeberang ke pulau kecil di seberang teluk. Mereka tidak akan bisa mengikuti kita dengan mobil."
Saat mereka mencapai dermaga, sebuah cahaya senter besar dari arah bukit menyinari mereka.
"HENTIKAN!" suara Marcus menggelegar melalui megafon. "ARLO! JIKA KAU PERGI SEKARANG, AKU AKAN MEMASTIKAN KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MENYENTUH INSTRUMEN LAGI DI NEGARA INI! AKU AKAN MENUNTUTMU ATAS PELANGGARAN KONTRAK YANG AKAN MEMBUATMU BERHUTANG SEUMUR HIDUP!"
Arlo berhenti sejenak, berdiri di atas dermaga kayu yang berderit. Ia menoleh ke arah cahaya senter itu. Di kejauhan, ia bisa melihat siluet Marcus yang berdiri dengan angkuh, dikelilingi oleh pria-pria berjas hitam.
"KAU TIDAK PUNYA APA-APA LAGI UNTUK DIJUAL, MARCUS!" Arlo berteriak balik, suaranya bersaing dengan badai. "BUKUNYA SUDAH JADI ABU! LAGUNYA SUDAH MILIK PUBLIK! KAU HANYA SEDANG BERTERIAK PADA GEMA!"
"TIDAK! KAU ADALAH MILIKKU!" Marcus berlari menuruni bukit, kehilangan kendali dirinya. Keserakahan yang selama puluhan tahun ia pupuk kini berubah menjadi kegilaan murni. Ia tidak lagi peduli pada uang; ia ingin menghancurkan apa yang tidak bisa ia miliki.
Jamie menghidupkan mesin perahu. Suara *vroom* yang kasar menjadi musik paling indah yang pernah didengar Elara. "MASUK! CEPAT!"
Elara membantu Arlo masuk ke dalam perahu yang terombang-ambing hebat. Saat Elara hendak melompat masuk, ia merasakan sebuah tangan mencengkeram pergelangan kakinya.
Itu Marcus. Ia telah mencapai dermaga dan merangkak di bawah, mencoba menahan Elara. Wajah Marcus tampak mengerikan di bawah cahaya senter yang terjatuh—mata yang melotot, mulut yang berbusa karena amarah dan kelelahan.
"Kau tidak akan membawanya pergi!" raung Marcus. "Dia adalah mahakaryaku!"
"Dia adalah manusia, kau bajingan!" Elara menendang tangan Marcus dengan sepatu boot beratnya. Cengkeraman itu terlepas. Elara melompat ke dalam perahu tepat saat Jamie menarik tuas gas.
Perahu itu melesat menjauh dari dermaga, membelah ombak yang tinggi. Elara jatuh terduduk di lantai perahu yang basah, menatap ke arah dermaga yang semakin menjauh. Ia melihat Marcus berdiri di ujung dermaga, berteriak tanpa suara ke arah laut, sebelum akhirnya ia jatuh berlutut, sosok yang kuat dan ditakuti itu kini tampak seperti serangga kecil yang tak berdaya di tengah luasnya alam Skotlandia.
Di dalam perahu, Arlo menarik Elara ke dalam pelukannya. Tubuh mereka berdua menggigil hebat, namun ada rasa hangat yang mulai merembes—sebuah rasa lega yang melampaui logika.
"Kita bebas?" tanya Elara, suaranya hampir hilang tertiup angin.
Arlo mencium puncak kepala Elara, membiarkan asinnya air laut bercampur dengan air matanya. "Ya, El. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, frekuensinya benar-benar jernih."
Jamie mengarahkan perahu menembus kegelapan laut, menuju sebuah tempat yang tidak ada di dalam kontrak mana pun, sebuah tempat di mana mereka bukan lagi subjek penelitian atau komoditas, melainkan hanya Elara dan Arlo—dua jiwa yang selamat dari simfoni kehancuran mereka sendiri.
Bab 15 ditutup dengan pemandangan mercusuar di kejauhan yang masih berdiri tegak, namun bagi mereka, menara itu bukan lagi penjara. Ia hanyalah sebuah titik di masa lalu yang perlahan-lahan tenggelam di balik cakrawala, sementara di hadapan mereka, fajar baru yang benar-benar bersih mulai menyingsing di atas Laut Utara yang liar.
suara yang paling keras sekalipun tidak akan bisa mengalahkan kejujuran dari sebuah bisikan di tengah keheningan.
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐