Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI RUMAH SAKIT YANG SAMA
Riko langsung dibawa kerumah sakit dan masuk UGD. Ternyata kondisinya sangat parah. Tulang kakinya patah. Perutnya terjadi pendarahan lalu otaknya juga kena benturan keras.
Perlu operasi untuk menyelamatkannya.
Tito, Iyan, dan Leon pun menyerahkan semuanya pada dokter.
"Mohon diselesaikan dulu administrasinya" ucap perawat.
"Baik, Sus. Akan kami selesaikan administrasinya tapi tolong berikan perawatan terbaik untuk sahabat kami ini" ucap Tito.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan kondisi pasien" sahut perawat.
Ketiganya puj berterima kasih.
Tito langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo kakek, apakah aku boleh minta tolong sesuatu?" tanyanya pada seseorang.
"Halo cucuku sayang. Ya boleh saja, katakan" sahut seseorang yang menerima panggilan Tito.
"Tolong selesaikan administrasi Riko dirumah sakit milik kakek. Dia kena musibah dihajar habis habisan oleh seseorang. Dia dalam keadaan kritis saat ini" ujar Tito.
Iyan dan Leon langsung terbelalak mendengar ucapan Tito yang mengatakan rumah sakit kakeknya.
"Riko anak pintar itu ya? Oke serahkan sama kakek. Aku akan menghubungi direktur rumah sakitnya" sahut si kakek Tito.
"Baik, terima kasih kakekku sayang. Aku janji akan segera bermain ke Bandung untuk berterima kasih kepada kakek secara langsung" ujar Tito.
"Ya kakek tunggu. Semoga teman pintar mu itu bisa pulih kembali" sahut si kakek.
Lalu panggilan terputus.
Tito melihat tatapan kedua sahabatnya Iyan dan Leon sangat aneh.
"Ter..ternyata..selama ini kamu nyamar, ya To" ujar Leon.
"Kamu menipu kami dengan menjadi orang biasa aja" timpal Iyan.
Tito tersenyum tipis.
"Tidak menipu tapi menguji teman teman yang tulus. Kalian lolos" sahutnya.
Puk! Puk!
Iyan dan Leon memukul lengan Tito bergantian.
"Udah udah, nanti aku ceritain. Sekarang fokus sama Riko dulu" ucap Tito.
Iyan dan Leon mengangguk setuju.
Mereka pun menunggu di kursi tunggu pengantar.
Tak lama kemudian, seorang petugas rumah sakitbdatang menghampiri Tito dan membantu mengurus administrasi perawatan Riko.
Tentunya atas perintah direktur rumah sakit. Setelah selesai, Riko langsung ditindak dan menjalani operasi.
Saat sedang menunggu, tiba tiba ketiganya melihat seseorang yang sudah berlumuran darah akibat kecelakan masuk UGD.
Dan saat Tito mengamati orang itu, seorang wanita yang memakai pakaian sama dengan Maya tadi.
Ia pun berdiri. Dan melihat wajah Maya secara langsung.
"Heh itu MAYA!" serunya pada kedua sahabatnya itu.
"Hah?! Jangan bercanda" sahut Leon ikut berdiri san dan langsung menutup mulutnya.
Sedangkan Iyan yang memang sangat marah kepada Maya terlihat tidak peduli.
"Aku tidak melihat keluarganya, sepertinya dia mengalami kecelakaan" ujar Leon menebak.
Tito pun langsung menelepon seseorang. Tapi sebelum terhubung, ia melihat keluarga Maya yang ia ketahui datang termasuk tunangannya, Juan. Ia urungkan menelepon seseorang itu.
Langsung saja saat melihat kehadiran Juan, Iyan yang mengetahui wajah pria itu, berlari dan memukulnya.
"BAJINGAN!! KAMU MELUKAI SAHABATKU SEPARAH ITU!!" teriaknya.
Semua orang menoleh kesumber suara termasuk ayah, ibu, kakak Maya. Namun Erlan dan Ayu yang sudah panik dengan keadaan putrinya, mengabaikan keributan yang menimpa calon menantunya itu dan menyerahkan kepada anak pertama mereka alias kakak Maya.
"Apa apaan ini? Siapa kamu?" tanya seorang pria berjas dan tampan, menarik tubuh Iyan menjauh dari Juan.
"Aku teman dari seseorang yang dibuat celaka oleh pria ini" jawab Iyan.
"Apa maksudmu HAH?!! Dasar gila!! SIAPA YANG MENCELAKAI SESEORANG?" teriak Juan yang berusaha berdiri dari lantai setelah dipukul oleh Iyan.
"JANGAN MENIPU KAMI!! KAMU YANG JADI DALAM CELAKANYA RIKO SEKARANG!!" teriak Iyan.
Security pun datang. Memaksa Iyan untuk keluar UGD.
Tito dan Leon pun menyusul Iyan yang dibawa keluar.
Pria berjas tadi pun bertanya kepada Juan.
"Siapa pria pria itu? Kamu kenal?" tanyanya.
"Tidak..aku tidak mengenal mereka, Mas. Mereka salah orang" jawab Juan berbohong.
Akhirnya Juan dan pria berjas itu kembali menyusul Erlan dan Ayu menuju ruangan Maya berada.
Iyan ditenangan oleh Tito dan Leon.
"Kamu itu jangan marah marah terus. Bisa bisa kamu masuk penjara sebelum jadi sarjana" ujar Leon.
"Bener, Yan. Tahan amarahmu. Kamu tau siapa mereka? Juan adalah anak rektor. Kalau pun memang dia salah, pasti hukum bisa dikelabui olehnya" timpal Tito.
Iyan mengepalkan tangannya. Melampiaskan amarahnya.
Iyan sangat dekat dengan Riko karena sudah berteman sejak awal masuk kampus. Mereka sama sama penerima beasiswa dari desa yang berbeda. Mereka juga tinggal satu kos kosan. Sedangkan Tito dan Leon tinggal di kosan yang berbeda dan lebih nyaman.
Akhirnya mereka bertiga pun menunggu di luar rumah sakit. Sesekali Tito dan Leon bergantian yang berjaga didalam untuk mendapatkan informasi tentang perawatan Riko.
Dan ketika hari sudah malam, tanpa sepengetahuan mereka, Maya pun dipindahkan dirumah sakit lainnya dari sisi pintu rumah sakit yang berbeda.
Maya dibawa kerumah sakit Internasional Jakarta untuk mendapatkan perawatan lebih baik. Apalagi kondisi Maya juga cukup parah karena mengalami pendarahan otak.
Diam diam Juan pun mencari info keadaan Riko dan mendapatkan info jika Riko dalam keadaan kritis. Senyumnya terlihat tipis.
"Jangan salah kan aku berbuat seperti ini karena kamu yang memulai, pria kampung" batinnya.
Lalu Juan pun kembali fokus dengan keadaan Maya dan ikut menemani tunangannya itu saat pindah rumah sakit.