Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Perlindungan
Sore itu, Jalan Bunga mulai menggeliat dari tidurnya. Om Arman sedang duduk di kursi rotan teras rumahnya, menikmati hembusan angin yang membawa aroma matahari khas kemarau. Namun, ketenangannya terusik saat Manda melangkah mendekat dengan gestur yang sangat hati-hati, seolah-olah setiap langkahnya bisa memicu ledakan.
"Om..." panggil Manda lirih, nyaris berbisik.
"Ada apa?" sahut Om Arman tanpa sedikit pun menoleh.
Matanya tetap menatap lurus ke arah gerbang gang yang mulai ramai oleh para pengunjung malam.
"Soal kejadian semalam... aku benar-benar minta maaf."
Arman mengembuskan asap rokoknya ke udara.
"Jika kamu melakukan kesalahan di luar wilayahku, aku tidak akan peduli. Tapi selama kakimu masih berpijak di jalan ini, patuhi aturanku. Jangan buat tempat ini terlihat murahan karena kecerobohanmu!"
"Maafkan aku, Om. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Hmmm..." Om Arman memejamkan matanya, memberi isyarat bahwa percakapan selesai.
Namun, ia menyadari Manda masih berdiri di tempatnya. Arman memicingkan sebelah matanya.
"Apa lagi?"
Manda ragu sejenak, namun ia tahu informasi ini bisa menjadi penebus dosanya.
"Tuan Aldi... laki-laki semalam. Sepertinya dia sangat tertarik pada Gisel."
Kalimat itu bekerja seperti pemantik api pada bensin. Om Arman seketika menegakkan punggungnya, bangun dari kursi malas dengan gerakan yang begitu cepat hingga kursi itu berderit keras. Tatapan matanya yang tajam kini terhunus ke arah Manda, membuat jantung perempuan itu berdegup kencang karena ketakutan.
"Katakan sekali lagi!" desis Arman.
"Tu-Tuan Aldi semalam terus-menerus menanyakan mengapa Gisel tidak ikut 'bekerja' seperti kami. Dia terus mengorek informasi tentang latar belakang Gisel," lapor Manda dengan suara bergetar.
Brak!
Tinju Om Arman melayang menghantam meja kayu di sampingnya. Firasatnya selama ini tidak pernah salah. Para predator mulai mencium aroma mawar yang ia sembunyikan. Tapi kenapa harus keluarga Sanjaya? Siapa bajingan Aldi itu sampai berani membidik keponakannya sebagai target?
Tanpa sepatah kata pun, Arman melangkah pergi meninggalkan Manda yang berdiri gemetar dengan keringat dingin membasahi pelipis. Tante Ira, yang sejak tadi mengamati dari balik tirai jendela, keluar menghampiri Manda. Setelah mendengar penjelasan singkat, Ira hanya tersenyum hambar.
"Sepertinya kamu akan kena batunya," gumam Tante Ira acuh.
Sejak suaminya memutuskan untuk menampung Gisel dan menjauhkannya dari hiruk-pikuk Jalan Bunga, Tante Ira sudah bisa menebak jika suatu saat keponakannya akan mendatangkan petaka bagi mereka.
"Sesuatu yang terlihat berbeda di tumpukan sampah akan selalu menarik perhatian orang. Dan Gisel adalah berlian di tengah sampah ini. Kecantikannya, perlindungan Arman yang berlebihan... semua itu justru menjadi daya tarik bagi orang-orang berbahaya."
Tante Ira tak ingin ikut campur. Biarkan suaminya yang menyelesaikan apa yang sudah dimulainya.
Sementara itu, Om Arman melangkah masuk ke dalamsebuah kafe remang-remang tempat anak buahnya berkumpul. Ia memanggil Barong, salah satu orang kepercayaannya.
"Cari tahu segalanya tentang Aldi Sanjaya. Hubungannya, bisnisnya, dan apa pun yang dia lakukan di kota ini. Sekarang!" Barong mengangguk dan segera peri melaksanakan perintah.
Sambil menunggu informasi, Arman melirik jam dinding di kafe. Pukul empat sore lewat tiga puluh menit. Dadanya mulai terasa sesak oleh kecemasan. Biasanya Gisel sudah turun dari bus di halte depan gang setengah jam yang lalu. Bahkan Fajri, yang biasanya pulang paling telat, baru saja melintas dengan motornya.
Ia memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan, tidak ada telepon dari Gisel.
"Kenapa tidak ada kabar?" gumamnya, jemarinya siap menekan tombol panggil.
Namun, di saat tangannya hendak menyentuh layar, matanya menangkap sebuah pemandangan yang membuat amarahnya mendidih. Sebuah mobil mewah dengan kaca gelap berhenti tepat di sebelah halte. Dari dalamnya, Gisel keluar bersama Sena dan Diana.
Meski ia tidak bisa melihat siapa yang berada di balik kemudi, Om Arman sudah tahu siapa pelakunya karena ia pernah melihatnya. Arman menarik napas dalam, mencoba menekan gejolak emosi di dadanya agar tidak meledak saat itu juga. Ia memilih untuk berpura-pura tidak melihat. Ia ingin tahu satu hal: apakah Gisel masih akan bersikap jujur kepadanya, atau rahasia ini akan menjadi awal dari keretakan hubungan mereka.
Malam itu, makan malam berlangsung sunyi. Gisel tampak tidak tenang, sendoknya hanya mengaduk-aduk nasi tanpa niat untuk makan. Selesai makan, saat Om Arman bersiap mengenakan jaket kulitnya untuk berjaga malam, Gisel akhirnya mengumpulkan keberanian.
"Om... bolehkah aku bicara sebentar?" Arman berhenti di ambang pintu, memunggungi Gisel.
"Apa berhubungan dengan gadis kecil itu?"
Gisel tersentak. Ia menelan ludah dengan susah payah. Ia sadar, tidak ada yang bisa disembunyikan dari pamannya di Jalan Bunga.
"Om tahu?" Arman berbalik, menatap keponakannya dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Kamu mau menjadi pengasuhnya? Menjadi pelayan di rumah orang kaya itu?"
"Bukan, Om. Hanya sebagai teman," bantah Gisel cepat.
"Aku hanya akan menemaninya sepulang sekolah dan kembali sebelum malam. Aku hanya ingin membantu Keira."
"Apa yang ditawarkannya kepadamu sampai kamu berani melanggar perintahku?" tanya Arman telak.
"Arlan menawarkan jaminan pendidikan dan semua biaya hidupku, Om," jawab Gisel jujur, meski suaranya sedikit bergetar.
"Tapi bukan itu yang utama. Aku benar-benar tidak tega. Keira masuk rumah sakit karena kejang. Dia menolak semua orang kecuali aku." Cicitnya.
Om Arman terdiam. Ia tahu Gisel mewarisi kelembutan hati ibunya, kakak perempuannya yang paling ia sayangi. Gisel adalah mawar yang tumbuh dengan nurani yang murni, dan itulah yang membuatnya rentan dimanfaatkan oleh pria-pria manipulatif. Namun, Arman juga sadar bahwa ia tidak bisa terus-menerus mengurung Gisel di Jalan Bunga jika ingin masa depan gadis itu berubah.
Dilema moral menghantamnya. Di satu sisi, ada ancaman dari Aldi Sanjaya yang mulai mengintai. Di sisi lain, ada tawaran dari Arlan yang bisa menjadi tiket keluar Gisel dari lingkungan ini.
"Jika pria itu merasa tawarannya cukup berharga untuk masa depanmu, maka dia tidak akan keberatan untuk menemuiku secara langsung di sini," ucap Arman akhirnya.
"Maksud Om..." Mata Gisel berbinar penuh harap, namun juga terselip kecemasan.
"Aku akan menunggu dia datang ke sini untuk meminta izin dariku. Secara jantan," kata Om Arman sambil mengenakan helmnya.
"Jika dia benar-benar peduli pada anaknya dan menghargaimu, dia tidak akan takut mengotori sepatunya di Jalan Bunga." Arman berlalu pergi, meninggalkan Gisel yang terpaku di ruang tamu.
Di satu sisi, Gisel merasa lega karena pamannya memberikan kesempatan. Namun di sisi lain, ia mulai merasa sangat khawatir. Bagaimana jika kedatangan Arlan ke Jalan Bunga justru menjadi medan pertempuran? Ia tahu benar, Om Arman tidak pernah ragu untuk melayangkan tinju jika merasa harga dirinya atau keponakannya terusik.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏