Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diary Luca
Enjoy your time gays.....
H-1 sebelum keberangkatan, Aurora baru bisa prepare kebutuhan untuk liburannya karena padatnya jadwal perkuliahan yang tak bisa dia tinggalkan.
Waktu 2 minggu yang Luca berikan harus benar-benar mereka manfaatkan dengan baik agar setiap moment yang tercipta bisa selalu diingat dan tak ada sedikitpun waktu yang terlewat.
Menutup koper yang sudah dia tata dengan berbagai perlengkapan yang dibbutuhkan selama liburan, Aurora melempar tubuhnya begitu saja di atas kasur.
Seharian ini dia tidak memiliki waktu istirahat sedikitpun. Dari pagi hingga sore hari mengikuti jam kuliahnya, lalu menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang kemarin sempat tertunda dan terakhir mengepak barang untuk keberangkatannya.
Baru 5 menit matanya terpejam dan punggungnya menikmati kenyamanan, suara notifikasi pesan yang tiba-tiba terdengar memaksa Aurora untuk kembali bangun dan mengambil benda persegi panjang itu dari atas meja nakas sebelah tempat tidur.
Pesan singkat dari Luca rupanya.
Tadi kenapa telfon Ra?
^^^Gak papa. Gue kaget aja karena pas balik tadi lo ternyata belum nyampe rumah. Sekarang masih lembur atau udah mau pulang? ^^^
Hari ini, Aurora tak pulang bersama Luca seperti biasanya. Urusan pekerjaan lagi-lagi menjadi alasan Luca tak bisa menjemput Aurora di kampusnya.
Aurora juga tak mempermasalahkannya karena dia tahu Luca akhir-akhir ini memang tengah disibukkan dengan pekerjaan kantor yang sedang menumpuk. Selain itu, rasa percaya yang begitu tinggi terhadap Luca adalah kunci untuk Aurora tak menaruh curiga.
Udah mau pulang. Mau di beliin martabak?
^^^Boleh. Lo udah makan malem? ^^^
Udah tadi pesen GrabFood. Lo belum makan?
^^^Belum. Pulang tadi langsung packing buat keperluan besok. ^^^
Nasi goreng mau gak?
^^^Iya gak papa. Sama sekalian es teh warung angkringan.^^^
Oke. 👌👍
Hendak meletakkan handphonenya kembali ke tempatnya tapi sebuah notifikasi pesan lain tiba-tiba masuk dan memaksa Aurora untuk tetap stay dengan handphonenya.
...Grup Chat...
Cewek Motor
Gays, besok berangkatnya sesuai rencana kan?
Ketua Basket
Iya Alexa....... Lo udah berapa kali nanya itu ke kita?
Cewek Motor
Gue kan cuma mastiin doang.....
Ketua Basket
Lo tu kebiasaan. Kalo kita mau pergi liburan pasti bingung gak jelas sendiri.
Kulkas
Jangan lupa di cek lagi perlengkapannya Lexa..... Nanti ada yang ketinggalan lagi kayak biasanya.
Cewek Motor
Udah gue cek berkali-kali. Kali ini gue jamin gak ada yang ketinggalan lagi.
Ketua Basket
Kita liat aja nanti. Awas aja kalo tiba-tiba ngebingungin orang karena barangnya ketinggalan!
Cewek Motor
Ini Si Alice sama Aurora mana? Kok gak nongol sih mereka? Gak mungkin kan kalo udah pada tidur?
Gigi kelinci
Gue disini Alexa. Kenapa? Kangen lo sama gue?
Cewek Motor
Gak. Gak usah kepedean deh lo.
Gigi Kelinci
Masih aja gengsi lo.
Kapten Basket
Lo udah prepare Lice?
Gigi kelinci
Udah di siapin semuanya sama Aline. Gue mah tinggal berangkat aja.
Cewek Motor
Enak ya punya saudara kembar yang perhatian kayak Aline. Walupun keliatannya cuek dan gak banyak omong tapi selalu peduli sama lo. 😓😓😓
Kapten Basket
Baper lo?
Cewek Motor
Gue kadang iri aja kalo pas liat mereka saling ngejaga dan menyayangi satu sama lain.
Kadang gue juga berpikir kalo misalkan gue punya saudara, pasti gue juga bakal ngerasa seseneng itu.
^^^Alexa...... Mulai deh. Gak usah sedih gitu ah. Lo kan punya kita yang bisa bikin lo selalu bahagia. ^^^
🙃🙃
Gigi kelinci
Bener tuh. Jangan ngerasa sendiri mulu ah. Masih ada kita yang selalu temenin lo. ☺☺☺
Cewek Motor
Thanks ya gays. Kalian semua selalu bisa bikin gue lebih tunangan. 😀😀😀
Kulkas
Sama-sama. Tapi jangan mikir kayak gitu lagi. Ilangin tuh pikiran negatifnya.
Cewek Motor
Iya....... 😊😊😊
Gigi kelinci
Btw kegiatan kita selama 2 minggu di sana udah lo siapin semua kan Ra?
^^^Udah..... Kalian tenang aja. Pokoknya, sesampainya kita di sana nanti, semuanya udah gue atur se detail mungkin. Jadi, pasti bakalan seru dan gak akan mengecewakan. ^^^
Gigi kelinci
Pokoknya semua urusan liburan kita kali ini kita serahin sepenuhnya sama lo.
Ketua Basket
Kalo gue liat di google sama orang-orang yang udah pernah ke sana, tempatnya sih kayaknya seru and asyik gitu.
Gigi kelinci
Gue juga mikirnya gitu. Semoga aja emang beneran kayak gitu.
^^^Udah malem nih, tidur yuk? Besok biar gak kesiangan. ^^^
^^^Alexa juga tidur. Gak usah begadang. ^^^
Cewek Motor
Siap laksanakan Bu Komandan!💂💂💂
^^^👍^^^
Bersamaan dengan selesainya obrolan mereka di Grup Chat, klakson mobil milik Luca terdengar, menandakan jika sang pemilik sudah pulang.
Melempar handphonenya begitu saja di atas kasur, Aurora bergegas turun dari tempat tidur dan keluar kamar untuk menyambut Luca.
"Luca?" Panggil Aurora seraya menuruni tangga.
"Hey Ra." Balas Luca menoleh seraya tersenyum dan menghampiri Aurora.
"Pesenan lo." Ucap Luca seraya memberikan kresek yang di tentengnya.
"Thanks Luca." Tersenyum bahagia, Aurora mengambil kresek itu dari tangan Luca.
"Sama-sama."
Membawa kakinya melangkah menuju dapur, Aurora meletakkan kresek itu di atas meja lalu mengambil gelas dari dalam lemari dan mengisinya dengan air hangat dari dalam dispenser.
"Capek banget kayaknya." Mengulurkan gelas di tangannya, Aurora selalu melakukan itu pada Luca setiap kali sang suami baru saja pulang bekerja sebagai bentuk pelayanannya sebagai seorang istri.
"Iya. Kerjaan di kantor lagi banyak banget. Ini aja sebagian gue bawa pulang karena gak sempet di kerjain di kantor."
Bukan bermaksud mengeluh atau bagaimana, tapi berbagai cerita pada Aurora tentang kesehariannya adalah sesuatu yang membuat Luca sedikit mengurangi bebannya. Toh, Aurora juga seseorang yang selalu bisa mendengarnya. Bahkan tak jarang, Aurora memberikan saran jika memang dibutuhkan.
Meneguk minuman itu hingga tak bersisa, kesegaran langsung Luca rasakan saat air itu melewati tenggorokannya tanpa gangguan.
"Ya udah, bersih-bersih terus istirahat." Mengambil gelas itu dari tangan Luca, Aurora meletakkannya di atas meja.
"Thanks Ara." Ucap Luca sebelum pergi ke kamarnya.
"Sama-sama."
Sejak menikah dengan Luca, Aurora sebenarnya benci ketika dia harus makan sendiri tanpa di temani. Tapi, karena Aurora tahu jika Luca juga lelah karena pekerjaannya, Aurora jadi berpikir untuk tidak meminta Luca menemaninya.
Mengambil piring, gelas dan sendok dari dalam lemari, Aurora memindahkan semua yang ada di dalam plastik di tempatnya masing-masing lalu menatanya di tas meja. Setelah itu dia baru mengambil tempatnya duduk di salah satu kursi dan mulai menikmati makanannya.
***
Keluar dari kamarnya, Luca berniat untuk menuju ruang kerjanya guna melanjutkan pekerjaan. Tapi, baru juga hendak mengambil langkah, Luca melihat lampu dapur yang masih menyala pertanda masih ada Aurora di sana.
Di waktu yang sama namun di tempat berbeda, Aurora bangkit dari duduknya seraya membawa bekas makannya ke wastafel untuk di cuci.
"Besok jam berapa pesawatnya?" Tanya Luca yang tiba-tiba muncul mengagetkan Aurora yang tengah mencuci bekas makannya.
"Jam 10." Jawab Aurora menoleh sekilas lalu mematikan kran wastafel dan menata gelas serta piring itu ke tempatnya.
"Lo masih mau lanjutin kerja?" Tanya Aurora saat melihat Luca hendak masuk ke ruang kerjanya.
"Iya. Besok udah harus di follow up ke client soalnya."
"Mau gue bikinin kopi gak?" Tanya Aurora lagi memberi tawaran sebelum Luca masuk ke dalam ruangannya.
"Boleh."
Bersamaan dengan Luca yang masuk ke ruangannya, Aurora mengambil gelas baru dari dalam lemari untuk membuatkan Luca kopi sebagai teman kerjanya.
***
Membuka semua berkas yang dia butuhkan satu per satu dan menatanya di atas meja, Luca terlihat serius meneliti, mengecek dan mencocokkannya. Tampaknya, ada sesuatu di dalam beberapa dokumen itu yang tak sesuai dengan apa yang Luca harapkan.
Saking seriusnya dengan pekerjaan yang ada di depan mata, Luca tak sadar jika Aurora masuk ke ruangannya. Barulah saat Aurora meletakkan kopinya di atas meja Luca menyadarinya.
"Thanks Ara." Ucap Luca tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang ada di tangannya.
"Sama-sama."
Melihat bagaimana Luca begitu serius membuat Aurora tak ingin menganggu dengan berlama-lama di sana.
Tapi sebelum pergi, Aurora terlebih dulu mengatakan keinginannya mumpung dia masih mengingatnya.
"Luca?" Panggil Aurora.
"Hmm?"
"Lo punya powerbank kan?"
"Punya. Kenapa?"
"Gue boleh minjem gak? Soalnya powerbank yang biasa gue pake tiba-tiba rusak dan gue belum sempet beli."
"Ambil aja. Ada di kamar, laci meja belajar gue."
"Oke. Thanks Luca."
"Sama-sama."
Melangkah keluar dari ruang kerjan Luca, Aurora langsung menuju kamar Luca untuk mengambil powerbank yang Luca maksud.
***
Tadinya, Aurora hanya ingin mengambil powerbank berwarna putih yang ada di dalam laci lalu pergi. Tapi, sebuah buku dengan sampul berwarna coklat yang ada di atas meja justru menarik perhatian Aurora dan terhenti. Sederhana, tapi terlihat klasik dan unik.
Lancang memang jika Aurora mengambil buku itu dan membukanya begitu saja tanpa persetujuan. Tapi, rasa pesanan yang membuat Aurora berani melakukan.
Baru halaman pertama, Aurora sudah di kejutkan dengan sebuah foto yang menampilkan dirinya di masa SMA. Bingung sekaligus tak percaya, Aurora mengambil foto itu dan membaliknya. Berharap ada informasi yang mungkin bisa menjelaskannya.
Grizelle Aurora Oliver. 11 Mei 2015. Hanya kalimat itu yang tertera di sana. Tak mengerti apa maksudnya, hanya ada satu pertanyaan yang muncul di henak Aurora. Bagaimana Luca bisa tahu nama lengkapnya? Dan.... Tanggal itu..... Apa maksudnya apa?
Semakin penasaran, Aurora pun membawa tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang. Halaman pertama mulai dia baca.
11 Mei 2015.
Hari ini, Rion tiba-tiba memintaku untuk membantunya menjadi fotografer di salah satu SMA ternama di jakarta. Karena dirinya yang sedang ada projek pembuatan buku tahunan di sana dan kekurangan personel.
Awalnya aku menolak karena aku memng tak ikut serta di dalamnya. Tapi, karena Rion terus memaksa.... Aku jadi mau menuruti kemauannya. Untung saja aku memang suka memotret, jadi aku tak terlalu mempermasalahkannya.
Semuanya berjalan lancar sesuai arahan. Aku melakukan tugasku sebagai fotografer seperti biasa. Mengatur ini itu dan memastikan hasilnya sesuai keinginan.
Sampai tiba-tiba.... Di saat waktu luangku, aku tak sengaja menemukannya. Gadis cantik dengan balutan seragam SMA nya. Duduk di salah satu bangku taman seorang diri seraya membaca buku dan earphones yang terpasang di telinga. Benar-benar ciptaan Tuhan yang menyejukkan mata. Belum lagi, saat rambut tergersinys terbang tertiup angin. Sungguh, membuatku terpesona seketika itu juga.
Entah kenapa seluruh perhatianku saat itu hanya tertuju padanya. Rasanya... Aku begitu bahagia walau hanya dengan melihatnya. Apa mungkin ini yang orang sering bilang jatuh cinta pada pandangan pertama? Entahlah, aku juga tidak tahu.
Mengajaknya berkenalan? Aku belum seberani itu. Aku hanya bisa memotretnya dari kejauhan dengan harapan kami bisa bertemu lagi di lain kesempatan.
Beruntungnya aku karena sebelum dia pergi aku bisa mengetahui namanya. Grizelle Aurora Oliver. Benar-benar nama yang cantik seperti pemiliknya. Itu aku dapat dari temannya yang memanggilnya dengan nama itu.
Mengingatnya kembali membuatku tersenyum dengan sendirinya. Ya, sepertinya aku memang sedang jatuh cinta.
Aurora mengerti sekarang. Foto itu adalah foto pertama ditnya yang Luca ambil secara diam-diam. Kala itu, dia masih kelas satu SMA.
Hanya dengan membacanya saja, Aurora sudah bisa membayangkan bagaimana situasi yang terjadi saat itu. Membuatnya tak pernah luntur untuk mengukir senyum bahagia.
Semakin tertarik dengan kisah Luca dan tak ingin mengakhirinya di sana, Aurora pun membuka halaman berikutnya. Ada foto lain yang tertempel di sana. Itu saat dirinya tengah duduk di salah satu bangku olahraga. Kalau tidak salah saat dia bersama teman-temannya tengah menemani Audrey berlatih basket dengan tim basket SMA.
25 Mei 2015.
Ini hari terakhirku ada di SMA.
Tema pemotretan kali ini tentang olahraga dan sesuatu yang berkaitan dengannya.
Salah satu permintaan kelas yang menjadi tanggungjawabku adalah di gedung olahraga.
Dan ya, Tuhan benar-benar baik padaku. Aku kembali bertemu dengannya yang tengah duduk bersama-sama teman-temannya.
Cepat-cepat aku memotretnya karena aku tahu dia pasti akan pergi sebab gedung akan di gunakan untuk tempat pengambilan gambar.
Sungguh, hari ini aku benar-benar beruntung dan bersyukur karena bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya.
Aku harap, kelak di masa depan Tuhan akan kembali mempertemukanku dengannya dan menjadikanmu jodohku.
Semoga saja....
Masih dengan senyum yang sama, Aurora membuka lembar berikutnya.
15 Mei 2016
Satu tahun telah berlalu.
Aku tak lagi tinggal di Indonesia. Kembali tinggal dan menetap bersama kedua orang tuaku, aku melanjutkan kuliahku di Korea. Negeri gingseng yang begitu populer dengan industri k-pop dan dramanya.
Aku tak tahu apa yang terjadi dengan hatiku hari ini. Tiba-tiba saja, aku kembali mengingatnya dan merindukannya. Padahal, aku hanya bertemu dengannya dua kali dan tak pernah berani untuk menyapa. Tetap menjadi penggemar rahasianya.
Lihatlah, lembar bukunya saja masih di nomer 3. Belum ada cerita apapun yang bisa aku tuliskan tentangnya.
Apa mungkin.... Ini adalah cara Tuhan menunjukkan jalannya agar aku berani memperlihatkan diriku di hadapannya??
Sudahlah. Aku tak mau pusing di buatnya. Memikirkannya hanya membuat hatiku semakin merindukannya saja.
Dasar gadis tak bertanggungjawab! Membuat orang jatuh cinta dan merindukannya tapi tak bisa berbuat apa-apa. Merepotkan saja!
Berbeda dari 2 halaman sebelumnya yang cenderung mellow, Aurora kini justru tertawa dan menggelengkan kepala karena membayangkan bagaimana lucu dan menggemaskannya Luca saat menuliskan perasaannya ini.
Bagaimana bisa dia yang di salahkan padahal dirinya sendiri yang telah jatuh cinta padanya? Benar-benar aneh.
Lanjut ke halaman keempat, Aurora mengernyit bingung karena tanggal dan tahun yang tertera di sana kembali terpaut jauh. Apa jangan-jangan.... Luca menjadikan buku ini hanya untuk menceritakan tentang dirinya saja? Bukan untuk mengabadikan momen kesehariannya.
25 Desember 2018
Natal tahun ini ada yang sedikit berbeda dari tradisi keluargaku. Kami tak kembali ke indonesia untuk merayakan Natal bersama keluarga besar karena kedua orang tuaku yang masih sibuk bekerja.
Aku sama sekali tak mempermasalahkannya, karena bagiku, toh itu sama saja mau Natal di Indonesia maupun Korea. Yang terpenting masih bisa bersama keluarga.
Ah, hampir saja aku lupa. Ada sedikit cerita yang ingin aku bagikan padamu.
Hari ini, aku dan teman-temanku di Indonesia sempat ngobrol lewat panggilan video bersama sebelum kita pergi ke gereja.
Rion memberitahu kita semua jika dia sudah memiliki kekasih sekarang. Namanya Alice. Rion bilang, dia mahasiswa baru di kampusnya. Jurusan internasional bisnis sama seperti diriku.
Aku turut senang dan bahagia saat mendengarnya. Itu artinya, salah satu temanku tak lagi jomblo sekarang.
Rion juga bilang, jika Alice dari sekolah yang sama saat kita dulu bekerja untuk membuat buku tahunan. Kebetulan sekali bukan?
Padahal, aku sudah mencoba untuk tak mengingatnya lagi. Tapi apa ini? Tuhan justru seolah menginginkanku untuk tak melupakan gadis itu.
Haaaa.... Aku benar-benar bingung. Apa perlu aku bertanya pada Rion apa kekasihnya itu mengenai Aurora?
Tidak! Tidak! Itu akan membuatku terlihat bodoh dan aneh di matanya nanti.
Tapi..... Aku juga penasaran sekarang. Apakah Aurora sudah memiliki tambatan hatinya di sana?
Aits! Ayolah Luca.... Apa iya kamu harus dibingungkan hanya karena sebuah persoalan cinta? Kalau kamu memang mencintanya, kenapa tidak berjuang dan mengatakannya saja? Kamu menyulitkan dirimu sendiri Luca, kamu tahu?
Kamu benar-benar akan jadi gila jika terus memikirkannya, El Salvador Luca Shailendra.
Lagi dan lagi di buat tertawa, Aurora benar-benar tak menyangka jika seorang laki-laki tengah jatuh cinta akan sama anehnya dengan wanita. Aurora pikir, mereka cenderung kalem dan menyembunyikan.
Membuka lembar setelahnya, penulisan tanggal dan tahun kembali terpaut jauh. Fix sudah kalau buku ini memang Luca peruntukan untuk menulis tentang ceritanya.
5 Juni 2019
Pertemuan bisnis. Haaa...... Itu benar-benar acara pesta yang sangat membosankan. Bagaimana bisa kedua orang tuaku menyuruhku untuk datang ke sana sementara mereka tahu jika aku sangat membenci acara seperti itu. Sangat menyebalkan.
Tapi, sebagai seorang anak yang tahu akan kewajiban, aku datang. Ya...... Walaupun dengan perasaan tidak nyaman dan sedikit paksaan.
Tak lama aku bertahan di sana, mungkin hanya sekitar 20 menit sampai setengah jam. Setelah itu aku pergi tanpa sepengetahuan mereka.
Aku pergi menggunakan motor kesayanganku. Tak langsung pulang, tapi aku berkeliling untuk mencari udara malam yang segar dan sedikit ketenangan.
Menemukan tempat yang aku inginkan, aku menggentikan motorku di sana. Melepas helm lalu berjalan-jalan di sekitar.
Sampai tiba-tiba.... Aku di kejutkan dengan para brandalan yang tengah menyeret paksa seorang gadis. Aku tak tahu gadis itu siapa karena keadaan di sekitarku gelap dan kurang penerangan. Tapi yang jelas, gadis itu terus berteriak minta di lepaskan dengan suara tangis yang begitu memilukan.
Melihatnya membuatku tak bisa tinggal diam. Walaupun aku tidak tahu gadis itu siapa, tapi bukankah terlalu bajingan jika aku membiarkan kejadian yang tak seharusnya terjadi di depan mataku?
Singkat cerita, aku berhasil membuat para bajingan itu pergi dan menolongnya. Tenang saja.... Gadis itu aman tanpa sedikitpun luka. Aku juga tak berbuat jahat padanya. Jadi jangan berpikiran aneh-aneh tentangku.
Aku sempat ingin bertanya siapa namanya dan darimana asalnya karena dia sama sekali tak mengerti tentang apa yang aku katakan padanya. Jadi aku berpikir dia bukan orang Korea.
Sayangnya, belum apa-apa dia sudah terlanjur pingsan. Aku yang terkejut sekaligus khawatir seketika menelpon bantuan untuk membawanya ke rumah sakit.
Dokter bilang, dia mengalami syok atau mungkin trauma karena kejadian yang baru saja menimpanya.
Entah kenapa aku merasa sedih dan kasihan padanya. Nasibnya hari ini tak terlalu baik. Semoga saja dia bisa berjuang melawan traumanya itu jika dia benar mengalaminya.
Tapi, tak sampai di situ kejutannya ternyata. Ada satu hal yang membuat hatiku begitu terluka saat mengetahuinya.
Ya, saat orang kepercayaanku mengatakan jika namanya Grizelle Aurora Oliver. Ibarat bara saja tersambar petir, hatiku seketika hancur tak bersisa.
Gadis itu..... Adalah seseorang yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Seseorang yang selama ini di rindukannta. Seseorang yang membuat hati dan pikirannya tak pernah sejalan.
Bagaimana bisa aku tak mengenalinya?
Tuhan.... Sebenarnya takdir apa yang sedang kau rencanakan? Kenapa harus dengan cara seperti ini kau mempertemukanku dengannya?
Terdiam seketika, Aurora menutup buku itu dengan perasaan tak percaya. Jadi selama ini.... Laki-laki yang sudah menolongnya malam itu.... Dia adalah Luca.
Bodohnya ia kenapa tak pernah menyadarinya. Luca hadir dalam hidupnya bukan hanya sekedar kebetulan belaka. Luca, adalah takdir yang Tuhan kirimkan untuknya. Luca, adalah malaikat pelindung dirinya dari segala macam mala petaka.
Menangis sejadi-jadinya, Aurora melampiaskan semua kekecewaan di dalam hatinya.
"Ara?" Panggil Luca dengan ekspresi kebingungan seraya menutup pintu kamarnya dan melangkah mendekati Aurora.
"Lo kenapa? Kok nangis?" Suara tangis Aurora yang terdengar jelas membuat Luca seketika panik karena takut terjadi apa-apa dengan Aurora.
Bukannya menjelaskan apa yang terjadi dengan dirinya, Aurora justru langsung berdiri dan memeluk Luca seerat mungkin yang dia bisa dengan tangis yang semakin terdengar menyakitkan.
Tak tahu harus berbuat bagaimana, Luca hanya bisa diam sembari membalas pelukan Aurora. Memberi usapan lembut dan pelan di punggung seolah memberi sang istri ketenangan.
Setengah jam berlalu, isak tangis Aurora akhirnya perlahan reda. Dengan perasaan yang masih bingung, Luca memberanikan dirinya untuk melepas pelukan mereka.
"Lo kenapa? Kok tiba-tiba nangis kejer kayak gini?" Tanya Luca seraya tersenyum lembut dan menghapus air mata Aurora yang masih tersisa membasahi wajahnya.
"Gue..... Gue baca buku diary lo." Jawab Aurora terbata dengan kepala tertunduk tak berani menatap Luca.
Diam terpaku seketika, Luca tak mampu berkata-kata untuk menjelaskan. Dia masih begitu terkejut karena Aurora akhirnya tahu tentang rahasianya.
"Kenapa lo gak pernah bilang kalo lo cowok yang udah nolongin gue waktu itu? Kenapa lo pura-pura jadi seseorang yang baru yang dateng di hidup gue? Kenapa lo sembunyiin semuanya dari gue Luca? Kenapa?" Seakan masih belum cukup, Aurora kembali terisak dengan tatapan penuh kekecewaan pada Luca. Bahkan kali ini lebih terdengar memilukan dan menyakitkan untuk Luca.
Masih belum bisa menjawabnya dengan kata-kata, Luca menarik tubuh Aurora untuk kembali di peluk berharap dengan itu sang istri bisa sedikit lebih tenang.
"Kenapa Luca? Kenapa?" Rancau Aurora dalam tangisnya seraya memukul-mukul bahu Luca.
Hilangnya ingatan Aurora tentang kejadian malam itu awalnya memang membuat Luca jadi percaya diri untuk mendekati Aurora tanpa adanya rasa balas budi yang Aurora rasakan.
Tapi, Luca benar tak menyangka jika keputusannya menutupi rahasia itu justru membuat Aurora terluka seperti sekarang.
Jika saja dia lebih memiliki keberanian untuk mengatakannya pada Aurora siapa dirinya yang sesungguhnya, mungkin Aurora tak akan seterluka saat ini.