Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Jamuan Pahit di Presidential Suite
Aruna melangkah menyusuri lorong hotel yang mewah menuju kamar Presidential Suite. Di dalam tasnya, botol kecil berisi Air Mata Kejujuran yang seharusnya ringan sekarang menjadi berat. Namun memberikan kekuatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Begitu kartu akses ditempelkan dan pintu terbuka, pemandangan di dalam kamar sama sekali tidak romantis. Tristan sedang mengamuk pada seorang staf hotel di depan meja makan yang penuh dengan hidangan dingin yang tidak boleh ia sentuh.
"Aku bilang nanti! Istriku cuman keluar sebentar!" bentak Tristan. Wajahnya marah saat melihat staf hotel itu mulai memanggil keamanan melalui walkie-talkie.
"'Ada apa ini, Mas?' Pertanyaan tenang Aruna membuat Tristan menoleh seketika. Amarah di wajah suaminya itu seolah menghilang saat melihat Aruna melangkah masuk dan meletakkan tasnya di sofa.
"Aruna! Akhirnya kamu datang. Cepat urus ini! Mereka nggak mau menerima kartuku, dan manajer hotel ini mulai bertindak kurang ajar."
Aruna tersenyum tipis pada staf hotel. "Maaf atas ketidaknyamanannya. Saya akan selesaikan tagihannya sekarang."
Aruna mengeluarkan kartu debit pribadinya. Bukan kartu yang aksesnya dibagi dengan Tristan. Setelah transaksi selesai dan staf hotel pergi dengan wajah lega, Tristan menjatuhkan dirinya ke kursi makan tanpa sepatah kata pun. Ia tidak berterima kasih; ia hanya duduk di sana, menatap kosong ke meja, sementara harga dirinya terasa ikut hilang bersama kepergian staf hotel tadi.
"Sialan. Benar-benar memalukan," gerutu Tristan. "Kamu dari mana saja, hah? Meninggalkanku sendirian di sini tanpa uang sepeser pun."
Aruna mendekat. Gerakannya tenang dan terampil saat memutar pembuka botol wine yang sudah tersedia di meja. "Aku kan sudah bilang lewat telepon tadi, Mas. Aku urus kerjaan Ayah. Maaf ya, Mas, tadi aku telat. Sini, kita minum dulu."
Tristan kesal, mencoba meredakan amarahnya karena ia masih butuh Aruna untuk mengakses sisa harta Adiwangsa. "Ya, isi saja yang penuh. Aku perlu sesuatu buat bikin tenang."
Aruna berbalik membelakangi Tristan, berpura-pura sibuk dengan gelas kristal di tangannya. Dengan gerakan cepat, ia meneteskan cairan bening dari botol kecilnya ke dalam gelas Tristan.
"Ini, minum dulu. Nggak usah dipikirin lagi soal tadi. Mungkin banknya memang lagi error." ucap Aruna sambil memberikan gelas itu.
Tristan mengambilnya dan meminumnya dalam sekali tegak. Ia butuh alkohol untuk menghilangkan rasa malunya. Aruna menyandarkan punggungnya, menatap suaminya dari balik bibir gelas yang elegan. Ia menunggu dengan kesabaran mengamati Tristan menghabiskan setiap tetes minuman yang sudah ia 'siapkan.
Tristan mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menjernihkan pikiran yang mendadak kacau. 'Ah... rasanya agak aneh,' gumamnya dengan suara yang mulai serak. Tiba-tiba, pandangannya menjadi kosong selama Selama sedetik, ia terlihat seperti kehilangan kesadaran, sebelum akhirnya matanya membuka lebar dengan cahaya yang tidak wajar.
Aruna memiringkan kepalanya. "Aneh bagaimana, Mas? Apa rasanya seperti... penyesalan?".
Tristan tertawa sinis. Suara tawa itu terdengar serak dan jujur. "Penyesalan? Untuk apa? Aku justru senang kartu itu mati sekarang daripada nanti saat aku sedang bersama Siska di Bali."
Tristan tiba-tiba menutup mulutnya sendiri. Matanya melotot kaget. Kenapa aku menyebut nama Siska? batinnya panik.
"Siska? Siapa Siska, Mas? Teman kantor kamu?" tanya Aruna lembut, meski tangannya di bawah meja sudah menyalakan perekam suara di ponsel.
"Siska itu kekasihku, Aruna! Dia punya segala yang nggak kamu punya. Dia bergairah, dia cerdas. Dia bukan perempuan membosankan yang cuma tahu cara jadi istri penurut!" Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir Tristan. Ia berusaha membungkam dirinya sendiri, namun kata-kata itu muncul begitu saja dari mulutnya seolah ada tangan tak kasat mata yang menarik paksa kejujurannya keluar. "Kamu pikir aku benar-benar mencintaimu? Kamu itu membosankan, Aruna! Lugu, bodoh, dan terlalu mudah ditipu. Kalau bukan karena bisnis ayahmu yang sudah membusuk itu, mana mau aku pura-pura mencintaimu!
Tristan berdiri, menjatuhkan kursinya. Ia memegang lehernya, wajahnya membiru karena berusaha menahan kalimat selanjutnya, tapi gagal.
"Bahkan ayah kamu... pak tua itu... aku yang membuatnya terkena serangan jantung! Aku menunjukkan dokumen palsu pemindahan aset itu tepat di depan wajahnya sampai dia pingsan. Dan sekarang, aku tinggal menunggumu memberikan tanda tangan terakhir agar aku bisa menendangmu ke jalanan!"
Tristan jatuh berlutut di atas karpet mahal hotel itu, napasnya tak karuan, air mata ketakutan mengalir di pipinya karena ia baru saja membongkar semua rahasia terdalamnya di depan orang yang paling ingin ia hancurkan.
Aruna berdiri perlahan. Ia berjalan mendekati Tristan yang sedang gemetar, lalu berjongkok di depannya. Ia menunjukkan layar ponselnya yang sedang merekam.
"Terima kasih atas kejujurannya, Mas. Aku tidak menyangka 'hadiah' dariku akan bekerja secepat ini."
***
Tristan menatap layar ponsel yang menyala itu dengan ngeri. Rekaman itu memutar ulang setiap kata-kata kotornya untuk Siska dan pengakuan liciknya tentang manipulasi saham Pak Adiwangsa. Suara itu menggema di ruangan, meruntuhkan semua kebohongannya selama ini.
"Aruna... itu... itu tadi bukan aku," bisik Tristan gagap. Ia mencoba merangkak maju, meraih ujung rok Aruna dengan tangan yang masih gemetar. "Aku tidak tahu apa yang aku minum, tapi kepalaku mendadak kacau. Aku berhalusinasi! Aku pasti kelelahan karena mengurus pernikahan kita!"
Aruna menarik kakinya menjauh, menghindari sentuhan Tristan seolah-olah pria itu adalah tumpukan sampah yang membusuk. "Berhalusinasi, Mas? Halusinasi biasanya tentang hal-hal yang tidak nyata. Tapi namamu, nama Siska, dan kondisi Ayah... itu semua sangat nyata."
"Nggak, Aruna! Dengar dulu!" Tristan memaksakan diri untuk berdiri, meski seluruh tubuhnya seolah menolak untuk tegak. Ia berdiri di hadapan Aruna dengan tubuh yang bergoyang tak stabil, seolah satu sentuhan kecil saja sudah cukup untuk membuatnya ambruk lagi. Wajahnya yang tadi sombong kini memelas, memberikan tangisan palsu. "Siska itu... dia yang menggoda aku! Dia mengancam akan menghancurkan reputasi keluarga Adiwangsa kalau aku tidak menuruti kemauannya. Aku melakukan ini semua untuk melindungi kamu, Sayang! Soal Ayah... aku hanya ingin menunjukkan kalau aku bisa mengelola aset perusahaan agar beliau bangga, tapi beliau salah paham dan emosi."
Aruna menatap suaminya dengan rasa mual yang nyaris tak tertahankan. Setiap kata yang keluar dari mulut Tristan terasa seperti cairan kotor yang mengotori udara di sekitarnya. Pria ini bahkan tidak punya sisa harga diri untuk jujur, lebih memilih bersembunyi di balik alasan-alasan sampah.
"Melindungiku? Dengan cara tidur sama perempuan itu di malam pertama kita?" Aruna tertawa, sebuah tawa yang membuat Tristan merinding. "Kamu benar-benar menganggapku sebodoh itu, ya? Bahkan setelah kamu mengaku ingin membuang aku ke jalanan, kamu masih berani pasang muka memelas?"
"Aku hanya emosi tadi! Lidahku salah bicara!" Tristan mencoba mendekat lagi, suaranya mulai naik satu nada, perpaduan antara panik dan paksaan. "Hapus rekaman itu, Aruna. Mari kita bicarakan ini baik-baik. Kalau Ayah tahu, kondisinya bisa makin parah. Kamu tidak mau membunuh ayahmu sendiri dengan berita ini, kan?"
Aruna terhenti. Ia menatap Tristan dengan pandangan yang begitu tajam sampai pria itu terdiam. "Jangan pernah sebut nama Ayah dari mulut kotormu itu."
Aruna melangkah menuju meja, mengambil tasnya, dan berdiri dengan tegak. "Rekaman ini terlalu berharga untuk sekadar ditunjukkan ke Ayah sekarang. Aku akan menyimpannya untuk pengadilan. Aku akan ambil semua yang sudah kamu curi, Tristan. Sampai jas yang kamu pakai itu pun, akan kupastikan lepas dari badanmu."
"Aruna, jangan gila! Kamu nggak bisa menceraikan aku begitu saja. Perjanjian pranikah itu..."
"Perjanjian itu sudah jadi sampah sejak kamu mengakui manipulasi dokumen di depan rekaman ini, Mas," potong Aruna dingin. "Sekarang, keluar."
"Apa?" Tristan kaget.
"Keluar dari kamar ini. Sekarang. Aku sudah membayar tagihannya, jadi secara teknis ini kamarku. Kamu nggak punya uang, nggak punya kartu kredit yang aktif, dan sebentar lagi, kamu nggak punya tempat tinggal."
Tristan tertawa, mencoba menutupi rasa takutnya. "Kamu nggak bisa mengusirku begitu saja, Aruna! Ingat, aku ini suami sah kamu! Kamu nggak akan berani bikin skandal sebesar ini!"
Aruna menekan tombol di telepon hotel. "Keamanan? Tolong ke Presidential Suite sekarang. Ada tamu nggak diundang yang menolak pergi."
Tristan terdiam. Ia menatap Aruna seolah melihat orang asing. Gadis yang biasanya penurut dan mudah menangis itu kini berdiri seperti ratu yang sedang menjatuhkan hukuman mati.
"Pilih, Mas. Keluar dengan kakimu sendiri, atau diseret oleh keamanan hotel di depan tamu-tamu kelas atas lainnya?" bisik Aruna.
Tristan mengepalkan tangan, wajahnya merah antara malu dan dendam. Tanpa kata lagi, ia mengambil jasnya dari kursi dan melangkah keluar dengan kasar, membanting pintu hingga suaranya menggema di seluruh ruangan.
Begitu pintu tertutup, Aruna duduk di tepi ranjang. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya keluar, namun bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata pelepasan.
Tangannya mencari botol kecil di saku bajunya. "Terima kasih, Ibu," bisiknya pelan.
Permainan baru saja dimulai, dan Aruna baru saja memenangkan ronde pertama.