NovelToon NovelToon
Hanya Wanita Pelarian

Hanya Wanita Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan rahasia / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.

Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.

Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.

Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?

Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wacana

BRAAK!

Aya menutup pintu mobil lalu berlari kecil sambil menunduk memasuki lokasi parkiran motor dan masuk gedung kantor melalui pintu samping.

Rama tertawa kecil mengingat langkah buru-buru Aya memasuki pelataran kantor tadi. Aya mengancam untuk menunggunya benar-benar masuk baru mulai melanjutkan perjalanannya, seolah mereka berpapasan karena kebetulan bukan pergi bersama.

Rama merogoh saku mengambil gawai dan mengirim pesan pada Aya. Sebelum keluar dari mobil.

^^^[Jangan lupa jam sebelas kita fitting, lanjut ke rumah sakit besuk orang tuaku. Pastikan pekerjaan mu selesai sebelum pergi. ]^^^

^^^[IYAAA..cerewet banget sih?!! 😌]^^^

Rama tersenyum.

Setelah hampir satu jam meyakinkan Aya, akhirnya dia setuju untuk mengikuti rencana Rama. Meski sepanjang perjalanan ke kantor Aya memilih diam dengan wajah yang bertekuk.

Rama keluar dari mobil. Tak sengaja ia berpapasan dengan Pak Budi di basement, lokasi parkir mobil.

"Pagi, Mas Rama, " sapa Budi.

"Eh, Pak Budi. Selamat Pagi."

Rama menghampirinya dan mengulur tangan untuk berjabat. Mereka berjalan beriringan menuju gedung Departemen Umum dan Keuangan.

"Pagi ini langsung dimulai? "

"Boleh Pak, kebetulan siang saya harus ke rumah sakit lagi."

"Oke, siap. Dengan staf yang lain apa mau perkenalan sekalian?"

"Bisa, Pak. Mungkin setelah istirahat siang ya."

TING

Pintu lift terbuka. Mereka melangkah bersama. Rama membukakan pintu untuk mereka berdua.

Kepala seksi dan asisten berdiri menyambut keduanya dan mengikuti langkah mereka menuju ruang rapat departemen.

Rama sempat melirik ke arah Aya, yang ternyata sedang menatapnya dengan ekspresi kesal. Terang saja, ia harus pindah dari kantor impiannya dan bekerja di anak perusahaan meskipun di janjikan akan berada asisten manajer keuangan di sana.

Rama menyakinkannya, bahwa anak perusahaan itu yang terbaik setelah kantor pusat. Jadi, Aya tetap terhitung promosi. Selain itu, Bayu sepupunya yang menjadi pimpinan di sana, jadi Rama bisa menitipkan Aya untuk diawasi.

Aya tak bisa menolak dan bernegosiasi lagi. Itu sudah pilihan terbaik saat ini baginya supaya mereka bisa segera melangsungkan resepsi tanpa harus kehilangan pekerjaannya.

Dering notifikasi pesan masuk terdengar bersamaan. Sebuah pengumuman di kirim Elang di grup WhatsApp Departemen.

[Teman-teman, siang nanti jam dua siang tolong kosongkan jadwal untuk pertemuan dengan kepala Departemen baru sekaligus perpisahan dengan pak Budi. Pastikan pekerjaan kalian di selesaikan pagi ini. Terima kasih]

"Wah, satset juga ya mas Rama ini," ujar Mira terkekeh.

"HUSSS!! sembarangan panggil Mas. Kayak kamu pacarnya aja, " hardik septi.

"Yah, berprasangka dulu lah. Sapa tau Mas Rama seleranya yang aku gini kan? hahaha."

"Ngimpinya jangan ketinggian, nanti sakit jatuhnya. Ya kan, Aya? " ujar Septi lagi.

"Terserah kalian aja, deh, " sahut Aya santai.

Septi dan Mira menatap garing pada Aya.

"Dari kemarin kamu nggak asik banget sih, Ya? Lagi datang bulan?" tanya Mira.

Aya hanya menggeleng.

"Sudah.. kerja, kerja."

Mereka mengakhiri percakapan ringan itu dan kembali bekerja.

***

Di ruang rapat Departemen Umum dan Keuangan. Budi mempresentasikan hasil rapat mereka pada Rama.

Sesekali kepala Seksi dan asisten menambahkan atau menjawab Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Rama.

Tak banyak perdebatan, karena ini murni hanya peralihan. Jadi, belum saatnya Rama mengevaluasi sistem yang sudah berjalan.

Waktu tak terasa berlalu cepat. Rama tak terlihat kesulitan saat mendengarkan semua presentasi yang dipaparkan pak Budi dan timnya.

Lalu ditengah diskusi, Rama tiba-tiba melontarkan pertanyaan pada Clara yang membuat orang-orang diruangan itu saling pandang.

"Bu Clara, bagaimana kinerja Cahaya?"

Nama yang tak pernah disangka akan keluar dari mulut Rama. Anggun yang menjadi asisten kepala seksi keuangan merasa risih dengan pertanyaan itu.

"Cahaya? Adaptasinya cukup bagus Pak. Selama Magang kemarin, skornya paling tinggi. Kerjanya cepat, tugasnya minim koreksi. Penyelesaian sesuai arahan. Menurut saya begitu. Bagaimana menurut mu? tanya Clara pada Anggun.

"Setuju dengan penilaian Bu Clara, Pak. Tidak ada tambahan."

"Aya itu, termasuk yang inisiatifnya bagus Pak. Saya jarang lihat dia mengeluh seperti yang lain, " tambah Elang.

Rama mengangguk sambil tersenyum.

"Ada apa Pak Rama? Tiba-tiba tanya soal kinerja Cahaya?" tanya Budi penasaran.

"Oh, kebetulan Pak Bayu butuh asisten keuangan. Saya pikir, lebih baik ambil dari kantor ini saja daripada buka rekrutmen lagi. Setelah tadi saya dengar penjelasan Bu Clara soal tugas di masing-masing staf di keuangan, saya merasa kalau nama Cahaya yang diajukan untuk Pak Bayu sepertinya tidak akan mengganggu kinerja seksi keuangan. Bukan begitu?"

Semua akhirnya mengangguk.

"Oh, tidak masalah Pak Rama. Tugas Cahaya nanti bisa di alihkan pada Septi. Ritme kerjanya tidak terlalu berat, " sahut Clara.

"Oke, nanti saya sampaikan juga pada Pak Jaka untuk usulan ini. Kebetulan Pak Bayu butuh keputusannya cepat."

Mereka semua mengangguk. Elang menutup pertemuan untuk istirahat siang. Rama lebih dulu keluar setelah berpamitan dengan Budi dan karyawan yang lain.

"Rasanya tidak seperti biasanya ya ada mutasi ke anak perusahaan begitu, Apa memang bisa Pak Budi?"

"Kalau permintaan dari internal keluarga, kita bisa apa Clara?"

Semua tertegun dengan jawaban Budi.

"Maksudnya internal keluarga, Pak?" tanya Elang kemudian.

"Ya, kan pak Bayu masih sepupu dengan Pak Rama. Secara tidak langsung ini kan permintaan internal keluarga, apalagi yang ketok palu Pak Jaka, Paman pak Bayu sendiri. Jadi, siapa yang di rekomendasi ya terserah mereka saja, " jelas Budi terkekeh.

"Ooh, saya kira Aya yang bagian dari internal keluarga, " seloroh Elang.

Yang lain tertawa kecil membenarkan prasangka Elang. Mereka juga ternyata berpikiran sama.

Mereka kemudian keluar dari ruangan bergantian.

"Mira, Aya kemana? " tanya Clara.

"Oh itu Bu, tadi titip pesan. Di minta ke rumah sakit lagi mendadak sama keluarganya jadi ijin keluar lebih awal. Katanya diusahakan sudah kembali sebelum jam dua."

Clara menatap jam ditangan kirinya. Masih jam 11.50, masih sepuluh menit lagi jam istirahat.

"Kerjaan inputannya sudah selesai? "

"Sudah Bu. Sudah beres kata Aya. Kalau ibu mau buat laporan penyerapan dana anggaran bulan ini sudah bisa ditarik datanya. "

***

Rama menghentikan mobil di depan Aya berdiri. Aya bergegas masuk.

"Aya, di rapat tadi aku sudah sampaikan wacana pemindahanmu ke kantor Bayu. Tenang saja tidak akan ada yang curiga kalau itu permintaan khusus padamu. Mereka sudah setuju tinggal nanti kita pastikan proses pemindahannya lebih halus. Mungkin sebelum resepsi kita kamu sudah bertugas disana."

"Oke, " jawab Aya singkat.

"Untung saja kinerja mu bagus, jadi aku tidak kesulitan beralasan, " puji Rama sambil menatap Aya melihat reaksinya.

Aya hanya diam, tapi dalam hatinya ia tersanjung dengan pujian itu. Meski begitu, Rama sempat melihat sudut bibir Aya naik beberapa detik.

'Pintar sekali dia menahan senyumannya, ' batin Rama.

Roda mobil Fortuner Rama masuk ke dalam sebuah butik pakaian pengantin.

Nama ANNA BOUTIQUE berdiri kokoh di atas gedung.

Butik mewah yang tak pernah Aya bayangkan bisa masuk ke dalamnya.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu? " sapa pramuniaga yang membukakan pintu.

"Siang, Mbak. Kami mau lihat pakaian pengantin modern, " ujar Rama.

"Baik Pak, silahkan ikuti saya."

Keduanya mengikuti langkah Pramuniaga menuju ke bagian dalam khusus konsep Pernikahan modern.

" Coba kamu pilih dulu mana yang menurutmu cocok ya. Aku ke ruangan khusus pengantin pria."

Aya termenung, dia sendiri bingung mau yang seperti apa. Semua terlihat bagus, mewah dan elegan di matanya.

"Konsep pernikahannya bagaimana mbak? indoor atau outdoor?" tanya pramuniaga tadi setelah Rama pergi meninggalkan Aya berdua.

"Saya juga belum tahu bagaimana, mbak? " jawab Aya polos.

"Bagaimana kalau kita pilih dengan dua tema itu?"

Aya mengangguk setuju.

Ia melangkah mengikuti pramuniaga itu mencoba memilih yang terbaik sambil sesekali menatap Aya.

" Mbak suka yang bahan full brukat atau Full payet?"tanya pramuniaga itu sambil mengangkat 2 model pakaian yang terlihat berbeda.

Aya tersenyum merasa konyol, baginya sama saja.

"Saya coba yang ini ya, " jawabnya sambil mengambil jubah pengantin bahan full brukat.

Tak lama ia keluar dari ruang ganti. Berdiri di depan cermin besar memperlihatkan sedikit lekuk tubuhnya. Ada rasa risih di sana.

"Mbak, ada yang tidak seketat ini? saya kurang nyaman dengan lekuk tubuh saya yang terlalu terlihat."

Pramuniaga itu mengangguk dan berlalu mengambil gaun lain yang di maksud Aya.

Aya kembali ke kamar ganti setelah menerima gaun lain.

Tak lama ia keluar lagi dan bercermin dengan sesekali memutar tubuhnya.

Gaun itu cukup nyaman, seperti dress. Full brukat di bagian perut keatas, lalu longgar dan menjuntai dengan bahan satin halus dan mengkilap. Warna putih tulangnya menunjukkan kemewahan. Ditambah kain tile putih susu membuat kesan seperti gaun putri kerajaan jaman dulu.

"Cantik."

Rama tiba-tiba berdiri di sampingnya sambil ikut menatap Aya di cermin. Aya sempat terkejut dengan kehadirannya, dan akhirnya tak bisa menyembunyikan rona di pipinya.

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: masih review ya kak🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: masih direview sistem kak.. ditunggu ya🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. on progress🙏😁
total 1 replies
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!