Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. informasi tak terduga.
Malam itu Carol tidak bisa memicingkan kedua matanya. Mimpi buruk itu terus menghantui pikirannya.
"Kamu tidak bisa tidur ya?" tegur Zach dari tempat tidur sebelah.
"Iya, aku masih ngeri dengan mimpiku itu."
"Sudah jangan dipikirkan, cobalah tidur. Ini masih dini hari." Zach berdiri dari tempat tidurnya. Menghampiri Carol.
"Kamu mau kemana?" seru Carol saat melihat Zach berdiri dan mendekatinya.
"Mau bantu kamu tidur." Zach tersenyum penuh misteri. Berbaring disisi Carol.
"Dih, jangan mesum ya. Tuh, sana kamu tidur." Carol mendadak gugup. Jengah dengann ulah Zach.
"Hem, kan cuma mau bantu kamu biar terlelap." Zach mengusap-usap kepala Carol. Menina bobokan. Carol protes, tapi pada akhirnya diam sendiri. Karena usapan di kepalanya membuatnya tenang dan merasa damai juga.
Zach tersenyum smirk melihat Carol yang akhirnya tertidur juga. Akhirnya Zach membaringkan tubuhnya disisi Carol.
Entah siapa yang memulai, ketika keduanya terlelap. Posisi yang tadinya tidur dibatasi guling. Sekarang Zach dan Carol malah saling peluk. Wajah keduanya tanpa jarak. Desah nafas mereka menyentuh lembut ke masih-masing wajah.
Zach membuka kedua kelopak matanya, manakala merasakan hembusan nafas Carol menyapu wajahnya.
Ditelusurinya wajah Carol yang tertidur begitu damai. Perasaan saat di hutan tempo hari itu, tiba-tiba bergolak lagi. Zach berusaha mengekang perasaan itu. Namun semakin dikekang, hasrat itu semakin membuat Zach kepanasan.
Digerakkannnya tangannya, mengibaskan rambut yang menutupi sebagian wajah Carol. Zach mendekatkan wajahnya. Mencium kening Carol. Membuat Carol terjaga.
Zach terkejut dan buru-buru memalingkan wajahnya.
"Kamu kenapa Zach?" Carol kaget karena jarak antara dirinya dengan Zach begitu dekat. Hembusan napas Carol menerpa telinga Zach.
"Kamu ketiduran ya?" Carol menarik dirinya menjauh dari Zach. Tapi zach buru-buru menahannya.
"Tetaplah dalam posisi ini, Carol." pinta Zach dengan gugup. " Bukankah kita sudah menikah? Syah syah saja kan kita tidur seperti ini."
"Hem, kamu serius Zach menganggap pernikahan kita itu syah? Ck ck ck!" decik Carol.
"Apakah itu artinya kamu memang tidak menyukaiku?" tatap Zach seraya menelan salivanya yang terasa sepat.
"Apakah kamu sendiri menyukaiku?" todong Carol tanpa tedeng aling-aling. Zach menatap Carol dengan intens. Mengangguk samar. Tapi itu sudah cukup sebagai jawaban bagi Carol.
"Astaga Zach!" Carol bergerak mau duduk. Tapi lengannya kram karena ketindih tubuhnya. Sehingga niatnya yang mau duduk malah, menimpa Zach. Wajah Carol menempel di wajah Zach. Mencium pipinya.
Kedua manik mata Carol membulat sempurna. Buru-buru manarik wajahnya yang telah bersemu merah saking malunya. Untunglah cahaya dalam kamar remang-remang. Kalau tidak, Zach pasti melihat wajahnya yang cosplay kepiting rebus.
"Ma-maaf," Carol berusaha menetralkan deburan jantungnya. Carol merasa aneh dengan perasaannya yang datang tiba-tiba. Dorongan itu sepertinya membuat dirinya merasa aneh.
Carol menggelengkan kepalanya. Mengentaskan gejolak itu. Tapi ketika tangan Zach yang kekar merengkuh tubuhnya dalam dekapan. Dia sama sekali tidak bisa menolak atau melepaskan rengkuhan itu.
Diluar tiba-tiba hujan deras turun. Disertai gelegar guntur. Membuat Carol tersentak dan spontan memeluk Zach. "Tidak apa-apa, aku disini," ucap Zach lembut.
Entah karena dorongan hasrat atau akibat jiwa yang terguncang. Malam itu Zach dan Carol tidur bersama. Menyatu dalam ketakberdayaan melawan dorongan hasrat di luar kendali mereka.
Ketakutan akan ketidak pastian pada masa depan yang hancur. Sejak peristiwa kebakaran itu. Perubahan pada fisik mereka. Kejadian demi kejadin yang mengguncang hati mereka. Diburu oleh orang yang tidak mereka kenal. Kehilangan keluarga dan teman.
Semua peristiwa yang mereka lalui, seakan tumpah ruah dilampiaskan dalam gelora di tengah derasnya hujan badai malam itu.
*
*
John kembali ke kamarnya menjelang subuh. Pembicaraannya dengan Vincent sungguh di luar dugaannya. Dari Vincent dia mengetahui kalau kecurigaannya tentang sekte sesat itu semakin jelas. Vincent memaparkan semuanya dengan gamblang.
"Kamu tau darimana semua ini?" tanya John melihat puluhan foto dan selebaran yang ditunjukkan Vincent.
"Aku sudah lama mengikuti mereka. Aku sedang mencari jejak saudariku yang menghilang tiga tahun lalu. Aku dapat informasi katanya adikku ikut sekte ini." kisah Vincent seraya memperlihatkan foto adik perempuannya. "Dia baru masuk kuliah. Dan berkenalan dengan seorang cowok. Keduanya menghilang misterius. Setahun kemudian cowok itu ditemukan sudah menjadi tengkorak. Sedangkan adikku sampai sekarang masih menghilang."
"Astaga. Kukira semua itu hanya rumor semata. Ternyata sudah banyak korbannya. Kamu tau siapa pimpinan sekte yang kau ikuti ini." selidik John.
Vincent menggeleng. "Aku belum pernah melihatnya. Hanya tau namanya saja."
"Siapa?"
"Eye Black!"
"Mata hitam!" seru John kaget. "Kamu tidak salah sebut?"
"Iya, memang dia orangnya. Pernah dengar?" Vincent malah balik bertanya.
Rahang John mengatup keras kenangan beberapa tahun yang lalu, menyergap segenap ruang ingatannya. Tapi tidak mungkin menceritakan hal itu pada Vincent.
"Dulu sekali. Sudah cukup lama. Oke, terimakasih infonya. Hati-hati kawan. Semoga kamu temukan yang kamu cari." John buru-buru menyudahi pertemuannya dengan Vincent. Ada hal penting yang harus diperiksanya. Sehubungan dengan cerita Vincent. "Maaf aku pergi dulu."
Vincent merasa heran melihat sikap John yang mendadak berubah, begitu mendengar ucapannya. Apakah teman yang baru dijumpainya itu juga punya urusan dengan sekte itu. Pastinya iya. Buat apa dia menyelinap tadi di ruang basement. Tidak mungkin hanya karena kebetulan.
Vincent juga bergegas menutup pintu kamarnya. Dia lelah seharian setelah mengikuti berbagai acara sebelum upacara persembahan itu.
John masuk ke kamarnya. Menutup rapat pintu dan menguncinya dari dalam. Dari bawah dipan John menarik kopernya. Membuka koper pakaian itu. Sebuah bungkusan yang dibalut dengan kain hitam, dibukanya perlahan. Foto kenangan anak dan istrinya. Yang hilang diculik dan dibunuh beberapa tahun yang lalu.
John mengacak-acak beberapa foto. Entah apa yang dicarinya. Lalu tangannya terhenti pada sebuah foto. Jari jemarinya bergetar hebat. Menatap bayinya yang berumur tiga tahun. Momen foto putranya dan istrinya yang terbaring di atas altar persembahan yang terbuat dari batu.
Foto itu dikirimkan oleh seseorang yang tidak dikenalinya. Sampai sekarang John tidak tau siapa pengirim foto itu. Hanya ada nama "EYE BLACK" disudut foto.
Setelah beberapa tahun berlalu baru kali ini, dia mendengar kata itu lagi. Digaungkan oleh seorang wartawan yang menyamar menjadi anggota sekte sesat, pemuja setan.
Apakah peristiwa yang dialami istrinya ada kaitannya dengan yang disebutkan Vincent? Apakah sekte Eye Black itu sekte yang sama yang menculik anak istrinya? Dan sekte itukah yang menyebar wabah di kota kecil ini? Yanga jelas semua pertanyaan itu tidak satupun yang terjawab.
John tidak dapat memicingkan kedua matanya hingga malam berakhir. ***