NovelToon NovelToon
Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Antagonis / Fantasi Wanita
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Riyana Biru

"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"

Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.

Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.

Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.

Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arus Amerta

Aroma buah lerak yang direbus mulai menguar di tepian Sungai Amerta, bercampur dengan bau tanah basah dan kesegaran air yang mengalir deras dari arah hulu.

Rosie berjongkok di atas sebuah batu datar yang cukup lebar, tangannya sibuk memeras beberapa butir lerak yang sudah lembek hingga mengeluarkan busa putih yang melimpah. Dia diajari oleh Putih.

Di dunia modern, dia mungkin sudah terbiasa dengan detergen kimia yang menjanjikan pakaian putih bersih dalam sekali kucek, tapi di sini, lerak adalah senjata utamanya untuk menjaga serat sutra kuno milik keluarga Jati Jajar agar tidak rusak.

"Putih, kain sutra begini katamu jangan dikucek sekuat tenaga, berarti kayak gini, ya? " tanya Rosie sambil membentangkan kain merah marun di atas permukaan batu.

Dia menggunakan teknik kucek satu arah, sangat perlahan dan sistematis, memastikan kotoran terangkat tanpa membuat benang-benangnya bergeser.

"Benar, Kak. Kalau seratnya rusak, nanti pewarna alaminya jadi terlihat pecah saat dipakai upacara bulan depan," balas Putih.

"Omong-omong, upacara adat itu nanti acaranya apa aja?" tanya Rosie lagi.

Putih yang sedang merendam kain putih gading di samping Rosie mendongak sedikit. Wajahnya yang polos tampak berkilat karena uap air sungai.

"Itu adalah upacara syukur bumi, Kakak. Ayah biasanya akan mempersembahkan rempah terbaik dari gudang kita untuk kerajaan. Seluruh keluarga besar saudagar di Indraloka akan hadir," jawab Putih dengan nada yang sangat rendah hati, tapi ada kilat kewaspadaan yang terselip saat dia memperhatikan betapa terampilnya tangan Rosie bekerja.

Di seberang batu tempat mereka mencuci, beberapa wanita desa mulai berbisik-bisik. Suara gesekan kain pada batu yang biasanya mendominasi tepian sungai kini tertutup oleh bisikan sinis yang tajam.

Mereka menatap Rosie dengan pandangan menghina, seolah-olah melihat seekor harimau yang sedang mencoba mengenakan kulit domba.

"Lihat itu, Kirana Merah mendadak jadi pelayan. Apa roh yang merasukinya kemarin adalah roh budak yang rajin?" sindir seorang wanita berbaju lurik cokelat yang sedang membilas pakaiannya tidak jauh dari sana.

Rosie menghentikan gerakannya sejenak. Dia menoleh ke arah sekumpulan wanita itu, lalu menyunggingkan senyum yang sangat tipis dan dingin, tipe senyuman yang biasanya dia gunakan saat menghadapi rekan kantor yang suka menusuk dari belakang.

"Kecantikan itu harus seimbang dengan kebersihan, Bibi. Atau kalian lebih suka memakai kain yang baunya seperti lumpur kering di bawah terik matahari?"

Wajah wanita itu memerah padam, sementara teman-temannya segera menunduk pura-pura sibuk mencuci kembali. Kata-kata Rosie terasa seperti duri yang menusuk tepat di ulu hati mereka, membuat suasana di sekitar sungai mendadak menjadi tegang dan tidak nyaman.

Putih hanya diam, tapi pikirannya berkecamuk hebat. Kata-kata Melati saat perjalanan tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya, seperti dengung lebah yang tidak kunjung hilang.

Putih meremas kain di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia melihat Rosie yang kini dengan sangat percaya diri mengatur letak keranjang cucian di pinggir batu yang menjorok ke arah arus dalam.

"Kakak, biarkan saya saja yang meletakkan keranjang itu. Di sana arusnya sangat kuat," ucap Putih sambil bangkit berdiri dengan gerakan yang sengaja dibuat sedikit limbung.

"Enggak apa-apa, aku udah selesai kok. Sedikit lagi kain ini—"

Kalimat Rosie terputus. Putih yang melangkah mendekat tiba-tiba tampak tergelincir di atas permukaan batu yang berlumut licin. Tubuh Putih menyenggol bahu Rosie dengan dorongan yang sangat keras dan bertenaga, jauh lebih kuat dari sekadar tabrakan tidak sengaja seorang gadis lemah.

"Aaaa!"

Rosie kehilangan keseimbangan. Kakinya yang masih sedikit ngilu tidak mampu menahan beban tubuhnya yang terdorong ke arah tepian batu. Dalam sekejap, tubuhnya terjatuh ke dalam arus Sungai Amerta yang sedang bergolak deras karena hujan di hulu semalam.

Keranjang bambu berisi kain-kain berharga ikut terseret bersamanya, menciptakan buih-buih putih di permukaan air.

"Kakak! Tolong! Tolong Kakak Merah hanyut!" teriak Putih dengan suara yang melengking tinggi, memecah keheningan sungai.

Dia menjatuhkan diri di atas batu, tangannya menggapai-gapai ke arah air dengan wajah yang dipenuhi kepanikan luar biasa. Air matanya mengalir seketika, sebuah akting yang begitu meyakinkan hingga para wanita desa di sekitar sana langsung terperangah ketakutan.

Namun, di balik wajah yang penuh duka itu, jantung Putih berdegup karena rasa lega yang murni. Dia menatap bayangan merah Rosie yang timbul tenggelam menjauh terbawa arus deras menuju arah Lembah Kabut. Dia merasa masalahnya baru saja hanyut terbawa takdir yang dia ciptakan sendiri.

Kabar tentang hanyutnya putri sulung Trajuningrat sampai ke telinga Citra lebih cepat daripada aliran air Amerta itu sendiri.

Saat rombongan kecil itu kembali ke Kediaman Jati Jajar tanpa Rosie, suasana rumah besar itu langsung berubah menjadi neraka di bumi. Citra berdiri di teras depan, wajahnya yang cantik kini tampak sangat mengerikan dengan mata yang berkilat-kilat penuh amarah.

"Bagaimana mungkin kalian bisa membiarkan Merah hanyut?!" teriakan Citra menggelegar hingga ke gudang rempah di belakang.

Putih bersujud di lantai tanah yang dingin, tubuhnya terguncang oleh tangis yang tidak kunjung reda. "Ampun, Nyonya Besar. Saya sudah berusaha memegang tangan Kakak, tapi arusnya terlalu kuat. Batu itu sangat licin," isak Putih dengan suara yang tersendat-sendat.

Citra tidak mempedulikan tangis Putih. Pandangannya yang tajam beralih ke arah Melati yang berdiri gemetar di belakang majikannya. "Dan kamu! Apa gunanya ada pelayan di sana jika tidak bisa menjaga keselamatan putriku? Kalian semua tidak berguna! Mbok Sum! Ambil cambuk kulit itu!" perintah Citra dengan suara yang bergetar karena murka.

Mbok Sum melangkah maju dengan ragu, tapi dia tetap menyerahkan jalinan kulit hitam itu ke tangan Citra. Begitu cambuk itu berada di tangan sang nyonya, Melati segera melangkah maju dan bersujud tepat di depan kaki Citra, menutupi tubuh Putih sepenuhnya.

"Ampun, Nyonya Besar! Hukumlah saya saja! Ini semua adalah kelalaian saya yang tidak sigap menjaga Nona Merah. Jangan hukum Nona Putih, beliau sudah cukup menderita karena kehilangan kakaknya," teriak Melati dengan nada martir yang sangat dramatis.

Ctar!

Ujung cambuk kulit itu menghantam bahu Melati yang tidak tertutup apapun. Melati memejamkan mata rapat-rapat, tapi dia tetap tidak beranjak dari posisinya.

Dia membiarkan Citra meluapkan kemarahannya hingga berkali-kali cambukan itu mendarat di punggungnya. Darah mulai merembes ke sela-sela serat kain kembennya.

Putih menjerit histeris, memeluk pinggang Melati dari belakang. "Ibu, sudah! Saya mohon, hentikan! Jangan bunuh Melati!"

Citra akhirnya berhenti setelah napasnya mulai terengah-engah. Dia melempar cambuk itu ke lantai dengan perasaan frustrasi yang belum juga hilang. Nama baik Kediaman Jati Jajar kini benar-benar berada di ujung tanduk karena berita hilangnya Merah.

"Cepat kalian cari putriku, jika tidak, aku akan menghabisi kalian satu persatu!" ancamnya lalu pergi ke area sungai.

Melati tiba-tiba terbatuk keras. Sebuah noda merah kental keluar dari mulutnya, membasahi lantai tanah di depannya. Wajahnya yang semula pucat kini tampak sangat lemah, seolah jiwanya sedang ditarik paksa dari raga.

"Nona ... Putih ...," bisik Melati dengan suara yang hampir hilang. "Demi Nona ... saya rela ... mempertaruhkan nyawa saya sendiri. Nona jangan takut ... Melati akan selalu ada ...."

Melati jatuh pingsan di pelukan Putih setelah mengucapkan kalimat itu. Putih menangis sejadi-jadinya, tapi di dalam kepalanya, rasa benci terhadap Rosie yang kini hilang di sungai semakin mengakar kuat.

Baginya, karena Rosie yang 'sok rajin' itu, pelayan setianya harus menanggung penderitaan yang begitu berat.

"Kenapa Kakak harus berubah?" bisik Putih di tengah tangisnya, matanya menatap tajam ke arah aliran sungai yang bisa terlihat dari kejauhan. "Jika Kakak tetap menjadi Merah yang dulu, Melati tidak akan pernah dicambuk seperti ini. Kakak memang sumber segala bencana di rumah ini."

Putih merapatkan pelukannya pada Melati yang tidak sadarkan diri. Di dalam hatinya, dia bersumpah bahwa dia tidak akan membiarkan Rosie kembali dan merusak tatanan hidupnya lagi, meskipun sungai Amerta memutuskan untuk mengembalikan jasadnya sekalipun.

Putih mengusap wajah Melati yang dingin dan basah oleh keringat. Napas gadis itu tersengal, putus-putus.

“Aku—aku harus mengobatimu,” gumam Putih panik. Tangannya gemetar saat meraba luka cambukan di punggung Melati yang mulai membiru dan pecah. “Tunggu sebentar. Aku akan kembali.”

Dia berlari menuju dapur dengan langkah terseret. Tungku tanah liat masih hangat, tapi rak kecil tempat menyimpan bahan obat tradisional tampak hampir kosong. Putih membuka satu per satu wadah anyaman, jantungnya makin berdegup kencang.

Daun sangga habis.

Akar pahit ... tinggal serbuk sisa.

Putih menelan ludah. Dia berbalik cepat dan berlari ke arah gudang depan.

“Wira! Jaka!” panggilnya dengan suara tinggi. “Aku butuh bantuan kalian. Daun sangga di dapur sudah habis. Tolong carikan di hutan, sekarang juga!”

Dua pria itu saling berpandangan. Wajah mereka tidak segera menunjukkan kesiapan seperti biasanya.

“Nona Putih ....” Wira akhirnya membuka suara, ragu. “Benarkah Nona Merah hanyut di sungai itu?”

Putih membeku sesaat. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

“Arus Amerta sedang deras,” lanjut Jaka dengan suara berat. “Kami hanya ingin memastikan, apakah benar tidak ada harapan lagi?”

Pertanyaan itu menghantam Putih begitu keras. Dadanya naik turun, bukan karena sedih, melainkan karena sesuatu yang lebih gelap sedang menekan dari dalam.

“Melati sekarat,” katanya dingin. “Itu yang lebih penting sekarang.”

Wira menunduk, namun kegelisahan di wajahnya tidak sirna. “Ampun, Nona. Kami akan mencari. Tapi ... sungai itu bukan sungai biasa. Jika Nona Merah benar-benar—”

“Cukup!” potong Putih tajam.

Dia membalikkan badan, tidak ingin melihat keraguan di mata mereka lebih lama. Di dalam kepalanya, satu pikiran terus berputar tanpa ampun.

Jika Merah kembali, semua ini akan sia-sia.

Jika Merah kembali, Melati menderita tanpa alasan.

Putih mempercepat langkahnya kembali ke Melati, sementara di kejauhan, suara Sungai Amerta terus bergemuruh seperti menertawakan sumpah yang baru saja lahir di hati seorang adik.

1
Hana Agustina
y Allah.
tlg than tahan.. jangan ampe aku ngehujat si putih..
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: jangan dong, lagi bulan Ramadhan soalnya🤭
total 1 replies
Sita Sakira
ahhh gemes deh sama kelakuan putih😭🤣
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭cubit aja
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
💪💪💪 lanjut
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
alah sok peduli
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
akhirnya ibu mengakui merah
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
😍
shinobu
lanjut min ceritanya bagus min
shinobu: sama-sama min
Samagat terus min
total 2 replies
lin sya
bagus putih teruslah bermain halus dan mengamati gerak gerik Rosie alias bawang merah, klo baca alurnya knp skrg yg antagonis siputih thor bkn simerah lgi, hrusnya sft antagonis gk melulu jahat tpi pertahanan diri buat bertahan hidup, ini kayaknya sirosie pinter iya bodoh iya julukan nya trmsuk karakter menye menye bkn thor gk bsa liat musuh dlm selimut kyk putih dan melati apa hrus dibikin mentalnya terpuruk baru sadar, greget tau 😄
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤣 hahaha
kasian rosie dikatain mulu
bener, antagonis gak selalu jahat
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
😍 ada pangeran
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
💪
fril bunny🌼
lama²gw sleding juga ni si melati,suka banget memprovokasi si putih🗿💢
🍃🌸sativa🌸🍃
harus nya up gila gilaan sih thorr 😄
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 2 bab perhari itu dah gila menurutku yg biasanya up 1 bab perminggu
total 1 replies
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
rosie mah gitu, gak ad curigaan dikit kek ke putih
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
lah malah nyalahin orang, itu mah salah elu
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
gara gara putih nih, nambah beban rosie kan
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
kasian rosie, baru juga mau bahagia
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
tuh kan, jadi bawa bencana deh buat keluarga
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
itu bukan emas lah, oon luh
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
gara gara si ular rupanya
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
emang dasar si bawang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!