NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 **Vidio Biru**

"Dasar bocil," Luna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat transisi cepat Ila. Dari seorang "eksekutor" ulangan harian yang kejam, kini ia kembali menjadi anak kecil yang tampak sangat bahagia hanya karena akan menonton kartun si kembar botak asal Malaysia.

​'Menggemaskan,' batin Lanka singkat. Matanya yang biasanya dingin dan datar terus memperhatikan setiap gerak-gerik Ila yang saat ini masih berada di pangkuan Elzion. Ada desiran aneh di hatinya, melihat betapa mungilnya Ila dibandingkan dengan mereka.

​"Dek, kamu duduk di kursi samping Abang aja ya? Abang agak susah ini makannya," pinta Elzion lembut. Memang benar, menggendong Ila sambil menyuap nasi goreng yang penuh bumbu ke mulutnya membuatnya bergerak sangat terbatas.

​Ila mengangguk mengerti tanpa protes. Ia segera berdiri dari pangkuan Elzion. Namun, bukannya duduk di kursi kosong yang ada di samping kakaknya, mata Ila justru berkeliling menatap teman-teman abangnya satu per satu. Langkah kaki mungilnya kemudian membawanya berjalan mendekati Lanka.

​"Abang Lanka udah selesai makan?" tanya Ila sambil mendongak, menatap wajah Lanka yang baru saja meletakkan sendoknya. Lanka mengangguk pelan sebagai jawaban.

​"Ila duduk sini, yaa," pinta Ila. Hebatnya, tanpa menunggu jawaban setuju atau penolakan dari Lanka, Ila sudah lebih dulu mendudukkan bokongnya dengan santai di pangkuan Lanka.

​"Heh!" sentak Alzian dan Elzion secara bersamaan. Keduanya tersentak seolah baru saja melihat sebuah pelanggaran hukum internasional. Mata mereka memelotot melihat adik bungsu kesayangan mereka kini beralih ke pelukan orang lain—meskipun itu sahabat mereka sendiri.

​"Why?" tanya Ila polos sambil menoleh ke arah kedua abangnya.

​"Kenapa duduk di situ, Dek?" tanya Alzian dengan nada yang sedikit tidak rela. Ia merasa posisi pangkuan itu harusnya eksklusif untuknya atau Elzion.

​Ila langsung cemberut, bibirnya mengerucut sebal. "Ila mau di sini," ucapnya tegas.

​Melihat ekspresi menggemaskan itu, Lanka tak tahan untuk tidak terkekeh. Sebuah pemandangan langka, mengingat Lanka adalah sosok yang jarang tertawa. Dengan gerakan protektif, ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Ila agar anak itu tidak terjatuh.

​"Duduk di pangkuan Abang Alzian aja sini, Sayang," bujuk Alzian lagi, berusaha merebut perhatian adiknya.

​Ila menggeleng kuat. "Abang Alzian masih makan, nanti kena baju Ila. Ila di sini aja sama Abang Lanka," sahutnya dengan logika yang masuk akal namun membuat kedua kakaknya menghela napas pasrah. Mereka hanya bisa pasrah melihat Lanka yang kini tampak sangat menikmati perannya sebagai tempat bersandar baru bagi Ila.

​"Bang Lanka, cariin YouTube dong," pinta Ila sambil menyodorkan ponsel milik Liam ke hadapan wajah Lanka.

​Lanka menyambut ponsel tersebut dengan sigap. Jari-jari panjangnya dengan lincah membuka aplikasi YouTube dan mencari kata kunci yang diinginkan sang tuan putri kecil. Setelah selesai, Lanka memberikan kembali ponsel itu.

​Ila menyambutnya dengan riang dan mulai fokus menonton Upin-Ipin. Sesekali, suara kikikan lucunya terdengar saat melihat tingkah kocak di layar ponsel tersebut. Di sela-sela fokusnya Ila menonton, Lanka secara refleks mengelus rambut halus Ila dengan penuh kasih sayang, menciptakan suasana hangat yang membuat siapa pun di kantin itu iri melihatnya.

Ila fukos menonton dan terdapat notifikasi pesan masuk, Ila menyentuh notifikasi tersebut lalu terbukalah whatsapp, dia melihat sebuah video sepasang manusia yang saling menindih itu.

"Ahhh, "suara des*h*n dari ponsel Liam terdengar nyaring

Seketika mereka yang mendengar itu tersedak makanan.

Uhuk ahuk uhuk

Lanka dengan segera merampas ponsel Liam dari tangan mungil Ila.

"Ihh bang Lanka, Ila mau liat orang itu makan manusia. sama kaya ayah kemarin yang makan bunda," dengan polosnya Ila berucap. "Tapi kenapa mereka gak pakai baju yahh?" bingung Ila saat melihat video biru tersebut yang dimana laki-laki dan perempuan itu tidak menggunakan pakaian sama sekali.

"Shitt, mata adek gue ternodai." Elzion menatap tajam ke arah Liam.

Liam sendiri udah ketar ketir, "gue gak tau ada video seperti Itu di ponsel gue, "sahut Liam takut-takut. Memang benar dia tidak pernah menyimpan video seperti itu di ponselnya tapi kalau laptop mungkin banyak xixi.

"Kalau gak ada kenapa sampai adek gue liat itu diponsel la hah, "sentak Elzion. Juna, Dian dan Luna menahan tawa melihat wajah takut dari Liam.

Liam mengedikkan bahunya" dek kamu kenapa bisa liat video itu? Apakah Lanka yang mencarinya? "Tuduh Elzion, pasalnya tadi Ila meminta Lanka yang mencarikan youtube.

Lanka menatap sengit kearah Elzion, "gue gak mungkin sembarang memperlihatkan vidoe ke Ila.

Ila menggeleng, "bang Lanka cariin upin-ipin, terus saat Ila nonton ada pesan masuk jadi Ila buka deh."

"Jangan liat yang gituan lagi yah," ucap Lanka.

"Why?" tanya Ila.l

"Kamu masih kecil princess, gak boleh liat yang gitu-gitu." Ucap Alzian.

"Tapi kan Ila udah pernah liat langsung kemarin dikamar bunda." ucapnya polos

"Hahahah, "tawa Juna dan Dian pecah, sedangkan Liam hanya bisa menahan tawa.

"Melihat seperti itu tidak baik untuk kesehatan, "ucap Alzian.

"Iyakah? Pantes saja jantung Ila berdebar sekarang," ucap Ila tiba-tiba dengan wajah polosnya.

Elzion tersentak mendengar ucapan adiknya. "Berdebar?" tanyanya memastikan, merasa khawatir jika kesehatan adiknya sedang terganggu. Ila pun mengangguk mantap sebagai jawaban.

"Sejak kapan berdebar, Cil?" tanya Juna menimpali. Ia sangat yakin bahwa debaran jantung Ila bukan karena ia diam-diam menonton sesuatu yang tidak pantas, melainkan ada alasan lain.

"Sejak duduk di pangkuan Abang Lanka," sahutnya sangat polos, tanpa menyadari ucapannya baru saja menjatuhkan bom di tengah meja kantin itu.

Lanka yang biasanya sedingin es kini terkekeh pelan. Ada binar kemenangan di matanya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga kecil Ila lalu berbisik dengan suara rendah yang sangat protektif, "You're mine, little girl."

Ila segera membalikkan badannya, kini ia duduk menghadap Lanka. Mata bulatnya menatap tepat ke mata tajam Lanka. "Ila milik Abang?" tanya Ila meminta kepastian. Lanka mengangguk tegas tanpa ragu sedikit pun.

"Gakk!" protes Alzian keras. Wajahnya memerah karena rasa protektifnya sebagai seorang kakak laki-laki mendadak melonjak tajam.

Ila langsung cemberut, bibirnya maju beberapa senti. "Ila suka Bang Lanka, tapi Abang Al selalu bilang nggak terus! Ila nggak like Abang Al!" seru Ila dengan nada marah yang justru terdengar sangat imut di telinga mereka.

"Kamu masih kecil, Princess. Belum pantas suka-sukaan sama laki-laki," sahut Alzian mencoba memberi pengertian, meski sebenarnya ia hanya tidak rela adiknya berpaling ke laki-laki lain.

"Ihhh! Ila marah sama Abang! Ila mau ke kelas aja!" teriak Ila kesal. Ia segera beranjak turun dari pangkuan Lanka. Entah kenapa, hari ini mood-nya berantakan terus. Pertama, ponsel Liam dirampas Lanka, lalu sekarang abangnya melarangnya menyukai Lanka. Padahal di mata kecil Ila, Lanka itu sangat baik dan sangat ganteng.

Ila berlari meninggalkan meja kantin tanpa menoleh lagi, membiarkan para remaja laki-laki itu menatap punggung kecilnya yang menjauh. Keheningan sempat melanda meja itu sebelum akhirnya Lanka membuka suara.

"Gue bisa jagain Ila," ucap Lanka tiba-tiba dengan nada yang sangat serius.

"Gue percaya sama lo, Lan. Tapi masalahnya adek gue itu masih kecil banget," sahut Alzian yang langsung diangguki oleh Elzion.

Lanka menatap kedua sahabatnya itu bergantian. "Gue akan menjaga Ila dan nggak akan macam-macam ke dia sampai waktunya pas untuk menikahi dia nanti."

Dian, Liam, Juna, dan Luna hanya bisa terdiam membeku, memperhatikan perdebatan antara calon abang ipar dan calon adik ipar yang sangat tidak biasa ini. Suasana kantin yang bising seolah hilang tertutup oleh ketegangan di meja mereka.

"Gue pegang kata-kata lo. Tapi lo harus izin dulu ke Ayah Bryan nanti," ucap Elzion akhirnya, mulai luluh karena ia tahu Lanka adalah orang yang paling bisa diandalkan.

"Lo apaan sih, El? Ila itu masih kecil!" protes Alzian tidak terima melihat kembarannya justru memberi lampu hijau.

Elzion memutar bola matanya malas. "Lanka teman kita sendiri, Alzian. Gue yakin dia bisa jaga Ila lebih baik dari siapa pun."

Alzian menghela napas panjang, mencoba menekan egonya. "Awas kalau lo sampai buat adek gue nangis," ancam Alzian tajam. Sebenarnya, ia tidak masalah jika itu Lanka, tapi mengingat Lanka memiliki ribuan fans bar-bar di sekolah maupun di luar sana, ia khawatir Ila akan menjadi sasaran kecemburuan mereka.

Lanka yang paham akan kekhawatiran itu hanya tersenyum tipis. "Lo tenang aja. Gue nggak akan nyakitin Ila, dan gue nggak akan biarin fans gue menyentuh Ila bahkan seujung kuku pun. Gue jamin itu."

"Gue pegang kata-kata lo," ucap Alzian final. Ia kemudian beranjak dari kursinya untuk segera menyusul Ila ke kelas, tak ingin membiarkan adiknya berlama-lama dalam kemarahan.

Ila terus berlari dengan kaki-kaki mungilnya, mengabaikan teriakan dari arah kantin. Pikirannya sedang berkecamuk antara rasa suka pada Lanka dan kekesalannya pada Alzian. Namun, saat berada di tengah koridor yang cukup sepi menuju kelasnya, fokusnya teralih karena ia terburu-buru.

Tanpa ia sadari, dari arah tikungan muncul seseorang yang sedang berjalan sambil menatap layar ponselnya. Karena langkah kecilnya yang terlalu cepat, Ila tidak sempat mengerem.

Brukkk!

Tubuh mungil Ila terpental pelan dan mendarat di lantai sekolah yang dingin. "Aduhhh... sakittt," ringis Ila pelan. Ia mengusap bokongnya yang terasa berdenyut akibat benturan keras dengan lantai. Matanya mulai berkaca-kaca karena rasa nyeri yang tiba-tiba.

"Kamu gak apa-apa?" tanya sebuah suara bariton yang terdengar berat namun penuh kekhawatiran. Orang itu segera menyimpan ponselnya ke dalam saku dan mengulurkan tangan besarnya ke hadapan Ila, berniat membantunya berdiri.

Ila mendongak perlahan, berusaha melihat siapa sosok tinggi yang baru saja ia tabrak. Begitu matanya menangkap wajah pria itu, jantung Ila seakan berhenti berdetak sesaat. Ingatan dari masa lalunya berputar cepat. Tanpa memedulikan uluran tangan itu, Ila segera bangkit berdiri dengan sisa tenaganya dan langsung menghambur memeluk pinggang pria tersebut dengan erat.

"Bang Nio... Ila kangen, hikss..." Ila menangis sesenggukan di pelukan pria yang merupakan Kepala Sekolah baru di sana.

Ya, pria yang ditabrak Ila adalah Galenio. Galenio tadi sedang sibuk menelpon seseorang saat tiba-tiba saja seorang murid kecil menabraknya dengan keras.

Deg!

Jantung Galenio berdegup kencang. Ia tertegun kaku di posisinya. Tubuhnya seolah membeku saat mendengar suara tangisan murid mungil itu. Yang membuatnya sangat terkejut bukanlah tabrakannya, melainkan sebutan 'Bang Nio' yang keluar dari mulut Ila. Itu adalah sebutan khusus, sebutan penuh kasiikh yang biasanya hanya disematkan oleh adik perempuannya yang sudah tiada kepadanya.

Galenio menunduk, menatap pucuk kepala Ila dengan perasaan campur aduk antara bingung, tidak percaya, dan rindu yang menyakitkan.

"Ila?" tanya Galenio dengan nada suara yang bergetar karena bingung. Ia merasa seperti sedang melihat bayangan masa lalunya kembali dalam wujud murid paling kecil di sekolah ini.

1
Marsya
lupa namanya,tapi itu ketua dari abg2 ila klau gx slah,ampun dech bisa2nya lupa namanya🤣🤣🤣🤣
Little Girl ୭ৎ 。⁠*⁠♡.
maaf KA aku salah nulis tokoh harusnya Zeline bukan Radella.
Dewiendahsetiowati
Radella ini siapa Thor?
Dewiendahsetiowati
dapat ganti keluarga yang menyayangi
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!