NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Yang Kehilangan Suara

Pagi ini terasa sangat berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Rumah yang biasanya ramai kini terasa lebih lengang, seolah sebagian suaranya ikut pergi. Dua anak ibu telah berkurang, karena Kak Rini dan Kak Pipi sudah lebih dulu melangkah meninggalkan rumah untuk merantau.

Yang tersisa kini hanya Bang Ari, Bang Al, Bang Randi, dan Kak Rita, membantu ibu menjalani pagi yang panjang. Aku pun ikut membantu sebisaku—melakukan hal-hal kecil seperti mencetak gorengan, pekerjaan sederhana yang kini terasa lebih berarti.

Bahkan sebelum subuh, kami semua sudah terjaga. Rumah kecil itu kembali hidup oleh langkah-langkah pelan dan suara tungku yang menyala. Hanya adik bungsuku yang belum ikut membantu; usianya baru dua tahun, masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan dan tanggung jawab.

Setelah semua pekerjaan selesai, tibalah waktunya kami pergi ke sungai untuk mandi. Hari masih sangat pagi. Kami menelusuri pematang sawah dan semak-semak dalam diam, menyusuri jalan yang sudah akrab dengan kaki-kaki kami. Semua itu kami lakukan karena di rumah belum ada air bersih—belum ada sumur, apalagi aliran PDAM.

Udara pagi menggigit kulit ketika kami melangkah pulang. Kabut masih tebal, menutup hamparan sawah yang sunyi dan luas. Dinginnya air sungai seolah masih melekat di tubuh, membuat tangan dan kaki terasa kaku. Namun langkah kami tak boleh berhenti. Seperti pagi-pagi sebelumnya, hari tak memberi banyak pilihan selain terus berjalan.

Sesampainya di rumah, suasana masih temaram. Api di tungku dapur menyala kecil, menghangatkan udara yang dingin. Ibu sudah menunggu dengan wajah letih yang disembunyikan di balik senyum tipis. Gorengan yang dibuat sejak dini hari tertata rapi—sederhana, tetapi penuh harap. Harap agar hari ini cukup memberi untuk makan siang nanti, harap agar anak-anaknya tetap bisa bersekolah.

Kak Rita, Bang Al, dan Bang Randi tak banyak bicara. Mereka berganti pakaian dengan cepat, menyampirkan handuk yang masih lembap. Waktu terasa berlari. Dengan keranjang di tangan, mereka berpamitan singkat lalu melangkah keluar rumah, menyusuri jalan kampung yang masih sepi.

Langkah mereka kecil, tetapi beban yang dipikul terasa besar. Dari rumah ke rumah, dari gang ke gang, mereka menjajakan gorengan. Suara Kak Rita terdengar lirih namun sabar, Bang Al dan Bang Randi menyusul dengan panggilan yang sama—seolah pagi akan terasa lebih ramah jika terus disapa. Tak semua pintu terbuka, tak semua orang membeli. Ada senyum yang dipaksakan, ada lelah yang disembunyikan, namun langkah mereka tak pernah berhenti.

Ketika matahari mulai naik perlahan, keranjang itu akhirnya terasa lebih ringan. Tangan mereka pegal, kaki basah oleh embun, dan perut sering kali masih kosong. Tanpa mengeluh, mereka pulang, menukar keranjang dengan tas sekolah, menukar peran tanpa sempat benar-benar beristirahat.

Ibu memandangi mereka satu per satu—anak-anaknya yang tumbuh terlalu cepat, yang terlalu dini mengenal kerasnya hidup. Dalam diam, doa-doa dipanjatkan, agar langkah kecil itu selalu dikuatkan, agar lelah pagi hari kelak terbayar dengan masa depan yang lebih baik.

Pagi pun berlalu, meninggalkan jejak dingin, sunyi, dan perjuangan yang jarang didengar orang lain.

Tak lama setelah azan zuhur reda, terdengar langkah kaki dari arah depan rumah. Disusul ketukan pelan di pintu. Seorang tetangga berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak cemas namun berusaha tersenyum.

“Bu… tadi Kak Pipi sama Kak Rini nelpon,” ucapnya hati-hati. “Pakai telepon rumah kami.”

Tubuh ibu seketika menegang. Tangannya yang sejak tadi memegang kain lap terhenti. Wajahnya yang murung perlahan berubah—antara lega dan takut dalam satu waktu.

“Benar?” suara ibu bergetar, hampir tak terdengar.

“Iya, Bu. Mereka nanya kabar. Katanya minta ibu datang kalau bisa.”

Ibu menarik napas panjang, seolah selama ini ia lupa cara bernapas. Matanya berkaca-kaca, namun ia cepat menunduk, menyembunyikan air mata yang hampir jatuh. Tanpa banyak kata, ibu mengenakan kerudungnya. Tangannya gemetar saat merapikannya.

Aku hanya memandang dari kejauhan. Ada rasa hangat yang menyusup di dadaku—senang karena ibu akan mendengar suara anak-anaknya, sekaligus perih karena rindu itu akhirnya menemukan jalannya.

Sebelum melangkah pergi, ibu menoleh ke arahku.

Senyumnya tipis, dipaksakan.

“Jaga adik, ya,” katanya pelan.

Aku mengangguk. Kulihat punggung ibu menjauh, langkahnya cepat namun berat, membawa rindu yang akhirnya diizinkan bersuara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!