Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 — Kesombongan II
Miju Xie melangkah maju satu langkah. "Lin Xinyi, mari kita lihat... apa kesombonganmu benar-benar bisa mengalahkan petaka?" gumamnya.
Arena kembali bergetar. Retakan kecil menjalar di permukaan tanah, debu beterbangan ke udara bersamaan dengan Xinyi yang mulai memadatkan Mana di dalam tubuhnya.
Napasnya tidak stabil. Tubuhnya masih lemah, namun ia memaksakan diri untuk tetap berdiri. Tangannya mengepal kuat. Pandangannya tak bergeser sedikit pun dari langit yang bersiap menjatuhkan hukuman berikutnya.
Petir kedua akan datang.
Xinyi bisa merasakannya. Semakin dekat.
Ia mengusap darah di sudut bibirnya, lalu menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba mengerahkan seluruh kekuatannya. Dalam pikirannya hanya ada satu hal. Petaka tidak bisa diterima. Petaka harus dilawan.
Ia tidak bisa bertahan dengan pasrah. Ia harus melawan.
"Sedikit lagi..."
Dari kakinya, Mana hitam mulai berputar naik. Energi itu menyelimuti tubuhnya dari luar, membentuk lapisan pelindung sementara. Warnanya pekat seperti kegelapan malam, namun memancarkan aura pertahanan yang kuat.
"Masih belum."
Aliran Mana hitam semakin deras. Dalam sekejap, energi itu menelan lengannya hingga ke siku, berdenyut seolah hidup.
Di langit yang dipenuhi pusaran awan hitam, sebuah lingkaran sihir raksasa kembali terbentuk. Kali ini warnanya merah terang, dengan simbol dan tulisan aneh yang berputar di sekelilingnya.
Miju Xie menatap tanpa berkedip. "Datang."
Xun'er terdiam. Ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Xinyi sedang berada di tengah usahanya menentang langit. Jika ia mengganggu sekarang, semuanya hanya akan hancur.
Anak-anak yang pernah bermain dengan Xinyi menyatukan kedua tangan mereka. Wajah-wajah kecil itu dipenuhi harapan. Pria tua dan wanita tua di belakang mereka juga ikut menundukkan kepala, berdoa dalam diam.
"Belum pernah ada orang gila sepertinya, sudah dihancurkan masih berani menentang," gumam Yuan Xi. Tak ada lagi keangkuhan di wajahnya, yang tersisa hanya rasa penasaran.
Dari lingkaran sihir di langit, petir akhirnya keluar. Sambaran itu melesat ke arah Xinyi dengan kecepatan penuh. Tidak ada ruang untuk menghindar. Petir itu pasti akan mengenainya.
Xinyi memasang kuda-kuda. Tangannya mengepal kuat. Mana di dalam tubuhnya telah benar-benar dipadatkan.
Dengan tumpuan kaki kirinya, ia melompat maju dan mengayunkan tangannya, menghantam petir sebelum petir itu menyentuh tubuhnya.
"HAAGHHHHHHHHH!"
Tekanan petir itu luar biasa. Tubuh Xinyi kembali terhempas ke tanah. Ia bertahan dengan kedua kakinya, namun tetap terdorong mundur.
"AGHH HAHHH!"
Ia menggunakan Mana sebagai perisai di tangan kanannya. Tangan kirinya menahan pergelangan tangan kanan untuk menambah dorongan kekuatan.
Kaki kanannya maju selangkah meski terseret mundur tanpa henti. Ia memaksa dirinya maju satu langkah lagi. Petir merah itu semakin ganas, semakin liar.
"HIAAGHHHH! GHAAA!"
Orang-orang yang menyaksikan pemandangan itu mulai terdiam. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi ejekan. Semua hanya menatap dengan mata terbuka lebar. Untuk apa wanita itu berjuang sejauh ini, padahal peluangnya nyaris tidak ada.
Xun'er kembali meremas tangannya sendiri. Yao Li berdiri kaku, pandangannya terpaku pada benturan dua kekuatan di tengah arena.
Yuan Xi mulai merasa ada yang tidak beres.
"Dia... kenapa, kenapa sejauh itu?" batin Yuan Xi.
Sementara itu, Miju Xie perlahan menutup matanya. Tidak ada kecemasan di wajahnya, namun bukan berarti ia tidak peduli.
Di arena, kaki Xinyi kembali maju satu langkah. Ia terus menekan petir merah yang masih mengamuk tanpa ampun.
"Langit dan bumi kejam... semua mahluk diperlakukan seperti anjing. Tapi aku..."
Mata merahnya menyala terang. Mana di tangan kanannya bergetar, seolah merespons kehendaknya yang semakin membara.
"Tidak akan mati oleh langit!"
Dengan satu langkah sebagai tumpuan, ia mengayunkan tangannya sekuat tenaga.
"Sihir Penciptaan Kegelapan: Impact!"
Pukulan itu menghantam petir merah sekali lagi. Kali ini bukan sekadar bertahan. Ini adalah perlawanan terhadap langit itu sendiri.
Tubuh Xinyi tidak lagi terdorong mundur. Justru petirlah yang mulai terangkat ke atas, tertekan oleh kekuatannya.
"GHHARHHHH!"
BOOM—!
apa ada sejarah dengan nama itu?