NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6.Kenangan.

Bayangan di depan rumah itu membuat dada Yun Lan terasa seperti diremas tangan tak terlihat.

Ayahnya berdiri tegap di hadapan para prajurit, memegang gulungan titah kekaisaran dengan tangan yang tampak tenang.

Terlalu tenang.

Seolah-olah hari itu hanyalah pagi biasa.

Seolah-olah hidup mereka tidak akan berubah setelah matahari naik sedikit lebih tinggi.

Dan pemandangan itu…

Menarik Yun Lan jatuh ke dalam kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

 

Dalam kehidupan sebelumnya, pagi itu juga terlihat sama.

Kabut tipis.

Udara dingin.

Dan ayahnya duduk di bangku kayu depan rumah, sedang mengasah besi di atas batu datar.

Suara gesekan logam terdengar pelan, ritmis, menenangkan.

Yun Lan kecil duduk di dekatnya, memandangi percikan api kecil yang sesekali meloncat dari gesekan itu.

“Ayah membuat pedang lagi?” tanyanya polos.

Ayahnya tersenyum lembut.

“Bukan pedang. Mata bajak untuk sawah Paman Liu.”

Ia selalu punya jawaban sederhana.

Masuk akal.

Tidak pernah menimbulkan kecurigaan.

Sejak kecil, Yun Lan mengenal ayahnya hanya sebagai pembuat alat logam.

Orang desa yang pandai menempa besi.

Tidak pernah lebih dari itu.

Ia tidak pernah tahu bahwa tangan yang sama yang memegang palu itu dulu memegang pedang di medan perang.

Ia tidak pernah tahu bahwa bahu yang tampak lelah itu pernah memikul tanggung jawab ribuan prajurit.

Ia tidak pernah tahu bahwa ayahnya adalah seorang jenderal besar dari keluarga Li.

Karena kedua orang tuanya… sengaja tidak pernah menceritakannya.

Malam itu orang tuanya sedang berbicara serius saat Yun lan sedang tidur dalam pangkuan ibunya.

“Sampai kapan kedamaian ini kita rasakan suamiku.”

Ayahnya menatap Yun lan.

“Dia sudah tidur?. ”

“Sudah, beberapa hari ini putri kita mengalami mimpi buruk. ”

Ayahnya lalu duduk di sebelah istrinya yang dimana Yun lan tidur di pangkuan istrinya.

“Kita bukan menghindari istana, tapi orang di istana menganggap keluarga Li sebagai ancaman. ”

“Aku tahu kamu melakukan ini untuk menyelamatkan kami, termasuk putri kita. ”lanjut nya. “tapi suamiku, yang aku takutkan kita tidak bisa bersembunyi terlalu lama dari Kaisar. Dia pasti tahu suatu saat keberadaan kita. ”

“Aku tahu istriku, karena kejadian di kediaman kita yang dulu membuat putri kita menjadi trauma setiap malam. ”

“Jika Kaisar mengetahui keberadaan keluarga kita, dan menyuruhmu melakukan tugasmu. Apa yang aku katakan pada putri kita jika itu terjadi?. ”

“Kita harus tetap merahasiakan nya,sampai kita menghembuskan nafas terakhir kita. ”

Waktu itu Yun lan mendengarnya samar-samar pembicaraan mereka,saat itu ia tidak mengerti.

Sekarang… ia mengerti terlalu jelas.

Keluarga Li bukan keluarga biasa.

Nama itu pernah mengguncang istana.

Pernah menjadi simbol kekuatan militer.

Dan juga… simbol ancaman.

Ayahnya, Li Jian, memutuskan hubungan dengan istana bertahun-tahun lalu. Ia meninggalkan ibukota, meninggalkan pangkat, meninggalkan segala kehormatan yang melekat pada namanya.

Ia memilih hidup di desa terpencil tempat asal istrinya.

Hidup sebagai rakyat biasa.

Bukan karena ingin.

Tetapi karena harus.

Karena politik istana lebih mematikan daripada perang.

Karena semakin tinggi seseorang berdiri, semakin mudah ia dijatuhkan.

Ayahnya memilih menghilang.

Menghapus dirinya dari peta kekuasaan.

Dan Yun Lan tumbuh tanpa pernah tahu siapa ayahnya sebenarnya.

Sampai pagi itu.

 

Pagi ketika seseorang datang membawa surat berwarna kuning keemasan.

Seorang utusan istana.

Berkuda.

Berpakaian rapi.

Dengan wajah tegas yang tidak memberi ruang untuk penolakan.

Yun Lan ingat betul bagaimana ibunya pucat ketika melihat gulungan itu.

Dan ayahnya…

Hanya diam.

Diam sangat lama.

Lalu menerima surat itu dengan dua tangan.

Tidak ada perlawanan.

Tidak ada penolakan.

Hanya sebuah napas panjang yang sangat pelan.

Malam itu, Yun Lan melihat ayahnya batuk cukup lama di luar rumah.

Batuk yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.

Batuk berat, dalam, seolah paru-parunya terbakar dari dalam.

Tetapi ketika ia mendekat, ayahnya hanya tersenyum.

“Udara malam terlalu dingin.”

Kebohongan kecil pertama.

Besok paginya, ayahnya berkata dengan nada santai,

“Ayah harus pergi beberapa waktu. Ada pesanan alat logam dari desa sebelah. Mungkin lama.”

Ia bahkan sempat bercanda.

“Yun Lan harus menjaga Ibu, ya. Jangan bikin ibu cemas.”

Yun Lan mengangguk tanpa curiga.

Karena dalam dunianya yang kecil, ayahnya memang hanya seorang pembuat besi.

Ia bahkan membantu menyiapkan tas kecil ayahnya.

Menyelipkan kain hangat.

Menyelipkan kue kering yang dibuat ibunya.

Ia ingat betul wajah ayahnya saat berpamitan.

Senyum lembut itu.

Senyum yang sama persis seperti yang ia lihat sekarang di depan rumah.

Senyum yang menyimpan rahasia besar.

Dan Yun Lan… tidak tahu apa-apa.

 

Beberapa bulan berlalu tanpa kabar.

Awal musim dingin datang lebih cepat dari biasanya.

Salju pertama turun ketika Yun Lan sedang menimba air di sumur.

Ia masih ingat betul suara derap kuda yang memecah keheningan desa.

Cepat.

Tergesa.

Membuat semua warga menoleh.

Seorang prajurit berhenti tepat di depan rumahnya.

Bukan pembawa alat.

Bukan pedagang.

Prajurit.

Dengan baju perang.

Dengan lambang yang tidak ia kenal saat itu.

Ibunya keluar rumah dengan wajah yang sudah kehilangan warna bahkan sebelum pria itu berbicara.

Yun Lan berdiri di ambang pintu.

Ia mendengar semuanya.

Setiap kata.

Setiap jeda napas.

“Jenderal Li Jian… gugur di medan perang.”

Dunia Yun Lan runtuh saat itu.

Ia bahkan tidak mengerti kalimat itu sepenuhnya.

Jenderal?

Medan perang?

Ayahnya?

Semua terasa seperti bahasa asing yang tidak pernah ia pelajari.

Ibunya jatuh terduduk di tanah.

Menangis tanpa suara.

Dan Yun Lan berdiri membeku.

Tidak menangis.

Tidak bergerak.

Karena pikirannya tidak mampu menerima kenyataan yang terlalu besar.

Hari itu, untuk pertama kalinya, ia tahu siapa ayahnya sebenarnya.

Bukan dari cerita.

Bukan dari pengakuan.

Tetapi dari kabar kematian.

Dan rasa marah yang muncul di dadanya waktu itu… bukan karena ayahnya mati.

Tetapi karena ayahnya pergi tanpa mengatakan kebenaran.

Ia merasa ditipu.

Dikhianati.

Ditinggalkan dalam ketidaktahuan.

Baru kemudian, bertahun-tahun setelahnya, Yun Lan mengerti.

Ayahnya tidak merahasiakan itu untuk menipu.

Ayahnya merahasiakan itu untuk melindungi.

Melindunginya dari konflik istana.

Dari bahaya nama keluarga Li.

Dari bayang-bayang politik yang membunuh lebih kejam daripada pedang.

Ayahnya memilih menjadi “pembuat besi” di mata anaknya…

Agar anaknya bisa hidup sebagai anak desa biasa.

Tanpa beban.

Tanpa ketakutan.

Tanpa musuh.

Dan sekarang…

Yun Lan berdiri di balik pohon, melihat ayahnya yang masih hidup.

Masih bernapas.

Masih berdiri.

Masih memegang surat yang sama.

Air matanya akhirnya jatuh.

Pelan.

Hening.

Bukan air mata sedih.

Bukan air mata takut.

Tetapi air mata seseorang yang akhirnya mengerti segalanya.

“Ayah…” bisiknya lirih.

Dulu, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Sekarang, ia tahu.

Ia tahu ayahnya tidak akan menolak surat itu.

Karena kehormatan seorang prajurit tidak bisa dibuang begitu saja.

Karena tanggung jawab seorang jenderal tidak bisa diabaikan.

Karena meskipun ayahnya meninggalkan istana…

Istana tidak pernah benar-benar melepaskannya.

Dan Yun Lan tahu satu hal lagi.

Ayahnya sedang sakit.

Batuk itu.

Napas berat itu.

Ia mengingat semuanya.

Ayahnya pergi ke medan perang dalam kondisi tubuh yang sudah memburuk.

Dan tetap bertempur sampai akhir.

Kali ini…

Itu tidak akan terjadi.

Yun Lan mengusap air matanya.

Wajahnya berubah.

Lembutnya hilang.

Digantikan ketegasan yang dingin.

Ia tidak akan langsung menghentikan ayahnya.

Tidak.

Ia tidak akan merusak alasan ayahnya.

Ia tidak akan membuka rahasia yang ayahnya simpan bertahun-tahun.

Ia hanya akan melakukan satu hal.

Mengambil tempat itu.

Mengambil takdir itu.

Mengambil perang itu.

Bukan ayahnya yang akan pergi.

Tetapi dirinya.

Ia mengepalkan tangannya pelan.

Rahasia tentang kehidupan sebelumnya…

Tentang kematian ayahnya…

Tentang masa depan…

Akan ia simpan sendiri.

Seperti ayahnya dulu menyimpan rahasia untuk melindunginya.

Sekarang, giliran dirinya.

Melindungi ayahnya.

Dengan cara yang sama.

Diam.

Tanpa penjelasan.

Tanpa pengakuan.

Tanpa meminta dimengerti.

Yun Lan melangkah keluar dari balik pohon.

Matanya tajam menatap halaman rumah.

“Hari ini… takdir mengerikan itu harus berhenti disini.”

1
Nurhasanah
semoga surat jendral li cepat sampai biar yun lan ada perlundungan 😍😍... semangat thor di tunggu lanjutan nya 💪💪💪
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!