PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Permainan Penguasa
Jihan tetap tenang, ia tahu ini adalah serangan. "Aku baru saja menyelesaikan pendidikan pascasarjanaku, Michelle. Saat ini aku belum memegang jabatan struktural apa pun."
Michelle tertawa sinis, tawa yang sengaja dibuat terdengar meremehkan. "Ah, jadi kau hanya lulusan sekolah? Sepertinya kita berada di level yang berbeda. Aku sudah menjabat sebagai Vice President di industri media dan entertaiment Marculles sejak usia muda. Kupikir kau adalah saingan yang menarik, ternyata..."
Victoria menyenggol pelan lengan adiknya, memberi kode untuk menjaga sikap. "Michelle, itu tidak sopan. Jihan baru saja bergabung dengan kita."
Michelle hanya mengangkat bahu dengan angkuh, merasa menang karena menganggap Jihan hanyalah pajangan tanpa kekuatan politik di dalam keluarga.
Michelle mengangkat dagunya, menatap Jihan dengan sorot mata yang menantang. "Aku hanya memastikan dia layak berada di kalangan kita. Di Marculles, kita tidak bisa hanya mengandalkan kecantikan. " ucapnya dingin.
Livia, istri dari Nichole adik bungsu Alex yang merupakan seorang diplomat global, mengangguk setuju. "Benar. Di lingkaran ini, ambisi adalah kehidupan. Kecantikan tanpa isi hanya akan menjadi beban diplomatik bagi keluarga," timpalnya dengan nada yang lebih halus namun tetap tajam.
Marcellian hanya mengerutkan dahi melihat sikap putrinya yang terlalu blak-blakan. Meski begitu, ia tidak membantah. Bagi Marcellian, syarat mutlak untuk menyandang nama Marculles adalah perpaduan antara pesona, jabatan, dan kecerdasan yang setara.
Eleanor terdiam, ia menelan ludah dengan cemas. Ia ingin membela Jihan, namun ia tahu bahwa di keluarga ini, seseorang harus memenangkan rasa hormat melalui kemampuannya.
Dia benar-benar merendahkanku hanya karena aku belum memegang jabatan? Dia lupa darah siapa yang mengalir di tubuhku, batin Jihan geram merasakan amarah di dadanya.
"Kami semua di sini mengendalikan industri global, Jihan," Michelle melanjutkan sembari menyesap tehnya dengan anggun. "Setidaknya kau harus paham dinamika kekuatan dunia. Kami baru saja mendiskusikan tentang Restrukturisasi Aliansi Energi di Kawasan Baltik serta dampaknya terhadap fluktuasi kebijakan fiskal Uni Eropa. Bagaimana menurutmu? Apakah kau punya pandangan, atau topik ini terlalu berat untuk lulusan baru sepertimu?"
Suasana aula mendadak sunyi. Livia dan Marcellian menatap Jihan, menanti wanita muda itu tersudut.
Namun, Jihan justru menyeringai tipis. Sebagai calon diplomat yang telah dilatih secara profesional oleh keluarga Alvarezh sejak kecil, pertanyaan ini bagaikan makanan sehari-hari baginya. Pendidikan pascasarjananya hanyalah formalitas, ia sering berdiskusi di meja makan bersama kakak-kakaknya jauh lebih keras dari ini.
"Analisis yang menarik, Michelle," Jihan memulai dengan nada tenang. "jika kita hanya fokus pada kebijakan fiskal tanpa mempertimbangkan asimetri informasi dalam arbitrase regulasi internasional, maka restrukturisasi itu akan gagal dalam tiga kuartal. Kawasan Baltik sangat bergantung pada stabilitas jalur pipa Nord, dan setiap perubahan aliansi akan memicu volatilitas yang tidak bisa diredam hanya dengan instrumen moneter biasa. Kita butuh pendekatan paradiplomasi teknokratis untuk mengamankan aset di sana."
Michelle tertegun. Gelas tehnya tertahan di udara. Livia dan Marcellian saling berpandangan dengan mata membelalak. Jawaban Jihan bukan hanya tepat, tapi berada di level analisa tingkat senior.
Eleanor tersenyum, matanya berbinar bangga melihat menantunya melakukan serangan balik yang sangat elegan.
"Paradiplomasi teknokratis?" Michelle mengernyitkan dahi, ada satu istilah yang tidak ia pahami sepenuhnya di balik kalimat teknis Jihan. "Apa maksudmu dengan itu?"
Jihan menyesap tehnya dengan sangat tenang sebelum menjelaskan. "Itu adalah metode di mana aktor non negara melakukan negosiasi langsung dengan otoritas lokal tanpa menunggu birokrasi pusat yang lambat. Itu memotong risiko birokrasi sebesar 40% dan memastikan dominasi kita tetap absolut. Bukankah efisiensi adalah DNA keluarga ini?"
Livia terkesima. "Pengetahuanmu tentang hukum internasional dan strategi ekonomi sangat mendalam, Jihan. Aku tidak menyangka seorang lulusan baru memiliki ketajaman analisa seperti ini."
"Luar biasa,sangat cerdas" gumam Marcellian pelan, ia mulai melihat Jihan dengan cara yang berbeda. Kali ini, ada rasa hormat yang tumbuh di matanya.
Eleanor tersenyum lebar ke arah Jihan. "Sepertinya William tidak salah pilih. Kau bukan hanya permata yang indah dilihat, Jihan, tapi kau adalah otak yang selama ini dibutuhkan keluarga ini."
Michelle terdiam seribu bahasa, wajahnya memerah karena malu. Ia yang berniat menjatuhkan Jihan, justru baru saja dipermalukan oleh kepintaran wanita yang ia remehkan.
Michelle melempar tatapan sinis, matanya berkilat penuh permusuhan. kemampuan analisa jihan barusan membuktikan bahwa wanita ini bisa menjadi ancaman besar bagi posisinya sebagai si paling cerdasdi generasi muda Marculles.
Victoria, kakak Michelle, hanya bisa menghela napas panjang. Ia sudah hafal tabiat adiknya yang selalu merasa tersaingi jika ada matahari lain yang bersinar lebih terang di ruangan yang sama.
Livia, yang sejak awal mengamati dengan ketertarikan seorang diplomat, menyesap tehnya perlahan lalu kembali membuka suara dengan nada lembut.
"Analisamu tentang paradiplomasi teknokratis tadi sangat presisi, Jihan. Jarang sekali ada orang di luar lingkaran inti yang memahami bahwa stabilitas ekonomi tidak lagi hanya bergantung pada kebijakan bank sentral, melainkan pada negosiasi bawah tanah dengan otoritas lokal," ujar Livia dengan senyum tipis. "Bagaimana menurutmu jika pendekatan itu diterapkan pada protokol kedaulatan data di negara-negara berkembang? Apakah harus tetap menggunakan hegemoni infrastruktur, atau mulai beralih ke kemitraan lunak?"
Jihan meletakkan cangkir porselennya tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun. Gerakannya sangat anggun, mencerminkan kelasnya.
"Menurut saya, Lady Livia, hegemoni fisik sudah mulai usang. Jika ingin menguasai masa depan, kita harus masuk melalui legitimasi etis. Kita memberikan mereka infrastruktur, namun dengan narasi perlindungan privasi yang kuat. Dengan begitu, mereka tidak merasa dijajah, melainkan merasa dilindungi. Itu adalah cara paling elegan untuk menguasai data dunia tanpa memicu sentimen nasionalisme," jawab Jihan dengan tenang dan cerdas.
Livia mengangguk puas. "Jawaban yang luar biasa cerdik. Kau memahami bahwa diplomasi modern adalah tentang bagaimana membuat orang lain setuju dengan keinginan kita tanpa mereka sadari."
Michelle mendengus keras, tak tahan lagi berada dalam percakapan di mana ia tidak menjadi pusat perhatian. "Cukup dengan teori membosankan ini," potong Michelle ketus. Ia segera berdiri dan melangkah menuju sudut ruangan di mana sebuah artefak langka patung marmer dari era Renaissance yang baru saja tiba dari pelelangan di London dipajang. "Aku lebih tertarik melihat koleksi baru Daddy daripada terjebak dalam kuliah umum."
Melihat Michelle pergi dengan kesal, Margaret menepuk punggung tangan Jihan dengan lembut untuk menenangkan. "Tenanglah, Jihan. Jangan dimasukkan ke hati. Michelle memang selalu merasa terancam jika ada wanita cantik yang juga memiliki cerdas sepertimu," bisiknya sembari tersenyum tulus.
Jihan membalas senyuman Margaret, sedikit merasa lega. "Terima kasih, Lady Margaret."
"Panggil saja Margaret. Kau akan terbiasa dengan drama kecil seperti ini di keluarga Marculles," tambah Margaret.
"Bagaimana kalau kita melihat-lihat sekitar? Tempat ini punya galeri pribadi yang luar biasa. Anggap saja ini langkah awalmu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar ."
Jihan mengangguk pelan. "Tentu, itu terdengar menarik."
Di Sisi Lain Ruangan...
Berjarak beberapa meter dari lingkaran para wanita. William berdiri tegak dengan satu tangan di saku celana, berhadapan dengan pamannya Victor, suami Marcellian yang merupakan seorang bankir global bertangan dingin.
"Keputusanmu untuk melakukan akuisisi paksa terhadap jaringan perbankan di Asia Tenggara melalui perusahaan cangkang di Swiss itu terlalu berisiko, William," ujar Victor dengan suara rendah, matanya menatap tajam di balik kacamata mahalnya. "Regulator di sana mulai mencium adanya monopoli likuiditas. Jika mereka membekukan aset kita, Marculles Group akan kehilangan arus kas utama di kuartal depan."
William menyeringai tipis, sebuah seringai yang tidak memiliki kehangatan. "Biarkan mereka menciumnya, Paman. Aku tidak menggunakan perbankan tradisional untuk mengalirkan dana itu. Aku sudah mengalihkan semua likuiditas ke dalam instrumen utang derivatif yang terdesentralisasi."
Victor mengerutkan kening. "Kau bermain dengan shadow banking tingkat tinggi?"
"Aku tidak bermain, Paman. Aku sedang mendikte pasar," jawab William dingin. "Saat mereka menyadari apa yang terjadi, Marculles sudah memegang kendali atas 60% utang negara mereka. Kita tidak butuh tentara untuk menguasai sebuah wilayah, kita hanya butuh memegang leher bank sentral mereka. Dan aku sudah melakukannya minggu lalu."
Victor terdiam sejenak, sedikit gentar dengan kekejaman keponakannya dalam mengambil keputusan finansial. "Kau benar-benar tidak kenal ampun, William. Alexander mendidikmu menjadi kendali ekonomi yang sempurna."
William hanya berdengus, pandangannya sekilas beralih ke arah Jihan yang sedang berjalan bersama Margaret. Matanya menggelap sesaat mengingat kontrak yang ia paksakan tadi pagi sebelum kembali fokus pada Victor.
"Dalam keluarga ini, hanya ada dua pilihan, Paman, Menjadi orang yang memegang kendali, atau menjadi mangsa yang diatur oleh kontrak. Dan aku... tidak dilahirkan untuk diatur," tegas William, menutup pembicaraan itu dengan otoritas yang mutlak.
Jihan dan Margaret setelah puas mengelilingi galeri seni yang berisi koleksi langka, Margaret membawa Jihan berjalan menuju teras luas yang menghadap langsung ke taman bergaya Versailles. Memberikan sedikit ketenangan sebelum jamuan makan siang formal dimulai.
Saat mereka sedang menikmati pemandangan, seorang pemuda dengan gaya yang jauh lebih santai dan kekinian dibandingkan pria Marculles lainnya melangkah menghampiri. Ia adalah Matthias, sepupu William yang lebih muda dari Jihan.
Sejak awal melihat Jihan di aula, Matthias sudah merasa tertarik, baginya, Jihan terlihat jauh lebih sebaya dengannya dibandingkan dengan William yang lebih dewasa.
"Hai, Kak Margaret!" sapa Matthias dengan nada sedikit tengil. Ia lalu menoleh pada Jihan dengan binar penasaran. "Dan... halo, Kak Ipar."
Margaret terkekeh melihat tingkah sepupunya itu. "Jihan, perkenalkan, ini Matthias. Anggota keluarga paling tidak bisa diam di sini."
Matthias tersenyum lebar. "Aku tadi memperhatikan perdebatanmu dengan Michelle dari jauh. Kau terlihat sangat muda, tapi caramu bicara... wow, cerdas sekali. Jangan pikirkan omongan Michelle, dia memang merasa dirinya ratu media di sini, benar bukan, Kak Ipar yang Mulia Putri Margaret?" canda Matthias sambil membungkuk dramatis pada Margaret.
Margaret tertawa kecil. Sudah biasa dengan candaan Matthias. “kau benar, Jihan punya otak yang cerdas ." Tiba-tiba Margaret melihat ke arah pintu masuk utama. "Ah, sepertinya Michael baru datang. Aku harus menyambut suamiku sebentar. Matthias, temani Jihan, jangan sampai kau membuatnya pusing!"
Setelah Margaret pergi, suasana menjadi lebih santai. Matthias memasukkan kedua tangannya ke saku celana, bersandar pada pilar marmer sembari menatap Jihan.
"Tenang saja, jangan terlalu formal padaku. Aku lebih suka obrolan santai," ujar Matthias ramah. "Aku dengar kau baru lulus pascasarjana. Kalau boleh tahu, kau ambil jurusan apa?"
Jihan tersenyum, merasa sedikit lega karena akhirnya menemukan seseorang yang bicaranya tidak terasa seperti sidang kontrak. "Aku baru lulus dari jurusan Ilmu Komputer dan Analisis Data," jawabnya singkat namun jelas.
Matthias tersentak, matanya membelalak tak percaya. "Serius? Aku juga di jurusan yang sama untuk gelar sarjanaku! Tapi tunggu..."
Matthias tertawa dalam hati, tak menyangka sepupunya yang kaku seperti William ternyata menikahi wanita muda yang baru lulus kuliah dan satu bidang ilmu dengannya. "Kupikir William akan menikahi wanita yang hobi bicara saham sepanjang hari, ternyata dia menikahi seorang tech genius."
Jihan sedikit terkejut melihat reaksi Matthias. "Oh, benarkah? Kau juga mengambil jurusan komputer?"
"Ya, tapi jangan bayangkan aku ini kutu buku yang serius," Matthias tertawa. "Aku lebih banyak menghabiskan ilmuku untuk membangun proyek IT kecil kecilan dan tentu saja... gaming. Aku sedang membangun tim esports secara rahasia tanpa sepengetahuan siapapun ."
Jihan tersenyum tulus, merasa dihargai dan merasa kembali ke dunianya sendiri. "Jadi kau juga seorang gamers? Tidak kusangka keluarga Marculles punya sisi seperti ini."
"Tentu saja! Marculles tidak melulu soal menguasai dunia, Jihan. Kadang kami juga harus menguasai leaderboard game," sahut Matthias sambil menjelaskan beberapa game favoritnya dengan penuh semangat.
Mereka pun terlibat dalam obrolan khas anak muda, membicarakan tren teknologi terbaru hingga tempat-tempat liburan impian, membuat Jihan sejenak melupakan beban kontrak yang baru saja ia tandatangani pagi tadi. Bagi Jihan, kehadiran Matthias adalah oase di tengah gurun es keluarga Marculles.
Matthias, yang masih asyik mengobrol dengan Jihan, “Kita benar-benar cocok!" Matthias tertawa renyah. "Aku tak menyangka kau juga seorang gamers di tengah kesibukan pendidikan pascasarjanamu yang berat itu."
Jihan tersenyum kecil. "Hanya pemain amatir. Saudara laki-lakiku sering mengajak bertanding, jadi aku terbiasa melakukannya untuk mengisi waktu luang," jawabnya lembut.
Jinan... aku merindukanmu. Seandainya kau ada di sini, suasana ini pasti tidak akan seformal ini, batin Jihan perih saat teringat kembarannya.