Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Namira memberikan cengiran paling lebar dan tidak berdosa yang ia miliki. Alih-alih merasa takut karena ketahuan, ia justru melihat ini sebagai kesempatan emas untuk memperkenalkan "dunia luar" kepada suaminya yang kaku itu.
"Hehe, Mas Ayyan sayang... Daripada Mas marah-marah pagi ini, mending kita bikin kenang-kenangan. Ayo, Mas, ikut TikTok-an bentar! Penggemar aku pasti kaget kalau tahu suami aku ternyata gantengnya ngalahin aktor drakor!" bujuk Namira sambil menarik-narik ujung lengan baju koko Ayyan.
Ayyan mundur selangkah, wajahnya menunjukkan ekspresi antara bingung dan ngeri. "Namira, jangan aneh-aneh. Saya ini guru di sini. Apa kata santri kalau lihat saya goyang-goyang tidak jelas di depan kamera?"
"Enggak goyang yang aneh-aneh, Mas! Cukup berdiri tegak aja, pasang muka 'Kulkas' Mas yang paling keren itu, nanti aku yang bagian hebohnya. Ini lagi trend lho, namanya transisi pasangan!"
Namira tidak menyerah. Ia menyusun kembali ponselnya di atas tumpukan kitab. "Ayolah Mas, sekali aja! Kalau Mas mau, nanti aku janji bakal rajin baca satu halaman kitab setiap hari!"
Mendengar tawaran "mahal" itu, pertahanan Ayyan goyah. "Satu halaman? Benar?"
"Dua halaman deh kalau videonya tembus satu juta likes!" seru Namira penuh semangat.
Ayyan menghela napas pasrah. "Hanya berdiri diam kan? Tidak ada gerakan aneh?"
"Iya, Mas! Sini, berdiri di samping aku!"
Namira menyetel musik Victoria versi
remix yang lebih kalem. Kamera mulai merekam.
3... 2... 1...
Namira beraksi dengan lincah, menunjuk-nunjuk ke arah Ayyan sambil tersenyum lebar, sementara Ayyan berdiri mematung di sampingnya dengan tangan bersedekap di dada dan wajah yang tetap datar namun terlihat sangat berwibawa. Namira kemudian melakukan gerakan seolah-olah sedang merapikan peci Ayyan, lalu ia bersembunyi di balik punggung lebar suaminya sambil mengintip malu-malu.
"Oke! Cut! Sempurna!" teriak Namira girang.
Ia langsung mengedit video itu dengan cepat, menambahkan teks: "Kenalin, bodyguard pribadiku yang merangkap jadi Pak Ustadz. 🧊❤️ #MyCoolHusband #GusKulkas"
"Coba saya lihat," ucap Ayyan penasaran. Begitu melihat hasilnya, ia sedikit terkejut. Meskipun ia tidak melakukan apa-apa, sinergi antara keceriaan Namira dan ketenangannya menciptakan video yang sangat manis.
"Mas, lihat deh! Baru semenit di-post, komennya udah ribuan! Tuh kan, mereka bilang 'Gus-nya ganteng banget', 'Masya Allah, pasangannya adem', 'Ibu Nyai-nya spek bidadari kocak'!" Namira membaca komentar dengan antusias.
Ayyan hanya bisa menggelengkan kepala, tapi ada senyum kecil yang tersembunyi di sudut bibirnya. "Sudah, sekarang kewajibanmu. Makan buburnya, lalu buka kitabnya. Ingat janjimu tadi, dua halaman."
"Siap, Pak Boss! Eh, maksudnya... siap, Sayang!" jawab Namira sambil memberikan hormat pramuka, membuat Ayyan hanya bisa tersenyum pasrah menghadapi tingkah istrinya.
Tok tok tok!
"Ayyan, Namira... Ayo keluar, Nak. Ditunggu Abah di meja makan buat sarapan bareng," suara Umi Fatimah terdengar dari balik pintu.
Namira langsung tersedak. "Uhuk! Mas, itu Umi!" ia buru-buru menyembunyikan HP-nya di balik bantal, tapi terlambat. Namira iseng mengintip notifikasi sebentar dan matanya hampir keluar dari kelopak.
"MAS AYYAN! LIHAT!" Namira menjerit tertahan sambil menyodorkan layar HP ke depan wajah Ayyan. "Viral, Mas! Viral parah! Seratus juta likes dalam beberapa jam! Followers aku nambah lima ratus ribu, sekarang udah empat juta!"
Ayyan yang sedang merapikan sorban di pundaknya hanya melongo. "Empat juta? Itu orang semua?"
"Ya oranglah, Mas! Masa jin penunggu pesantren! Aduh, gimana ini? Pasti santri-santri udah pada lihat!" Namira panik sekaligus senang, tapi paniknya lebih dominan karena takut ditegur Abah Kyai.
"Sudah, tenang dulu. Ayo keluar, jangan biarkan Abah menunggu lama," ajak Ayyan meski hatinya juga sedikit was-was.
Begitu mereka sampai di ruang makan keluarga, suasana mendadak hening. Abah Kyai sedang memegang kacamata, sementara di sampingnya, Mbak Sarah dan Mas kamil (kakak Ayyan) sedang senyum-senyum sambil memegang ponsel.
"Nah, ini dia artis internasional kita sudah datang," goda Mas Kamil sambil tertawa lebar. "Ayyan, kamu sejak kapan pinter akting jadi patung di video?"
Wajah Ayyan langsung berubah menjadi merah padam. Ia menarik kursi untuk Namira, mencoba tetap bersikap tenang. "Itu... hanya membantu Namira saja, Mas."
Abah Kyai berdehem, membuat suasana kembali serius. Namira sudah menunduk dalam, tangannya gemetar memegang sendok. Aduh, habis ini pasti disuruh hapus akun, batinnya takut.
"Namira," panggil Abah Kyai dengan suara beratnya.
"N-nggih, Abah..." jawab Namira lirih.
"Abah tadi diberitahu santri-santri soal video itu. Katanya viral ya sampai ditonton jutaan orang?" Abah Kyai menatap Namira lewat atas kacamatanya.
Namira makin ciut. "Iya, Abah... Maafin Namira kalau lancang ajak Mas Ayyan..."
"Lho, kenapa minta maaf?" Abah Kyai justru tersenyum lebar. "Abah malah senang. Ternyata dakwah itu nggak harus lewat mimbar saja. Lewat video pendek begitu, orang-orang jadi tahu kalau Gus di pesantren itu nggak selamanya galak dan kaku. Katanya banyak yang komen positif dan jadi pengen mondok?"
Namira mendongak, matanya berbinar. "Beneran, Abah? Abah nggak marah?"
"Tidak, selama kontennya sopan dan bermanfaat. Tapi ingat," Abah melirik Ayyan sambil terkekeh, "Jangan sering-sering, nanti Ayyan malah lebih sibuk syuting daripada ngajar kitab."
Umi Fatimah ikut menimpali sambil menyodorkan piring nasi ke Namira. "Umi juga kaget tadi lihat followers kamu naik drastis. Berarti sekarang tanggung jawabmu lebih besar, Nduk. Kamu bukan cuma influencer Jakarta lagi, tapi wajah dari Pesantren Al-Hidayah."
Namira bernapas lega. Ia melirik Ayyan yang ternyata juga sedang menatapnya dengan tatapan "tuh kan, saya bilang juga apa".
"Siap, Abah! Namira janji bakal bikin konten yang bermanfaat! Nanti kita bikin konten 'Sehari Jadi Santri' ya, Mas!" celetuk Namira yang sifat aslinya langsung balik lagi.
Ayyan hanya bisa menghela napas pasrah sambil menyuap nasinya. "Satu video saja sudah bikin gempar satu kabupaten, apalagi kalau sehari penuh..."