Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Menyampaikan
Setelah puas berkeliling, Melani mengajak Vara untuk pulang. Langkah mereka melambat saat meninggalkan pusat perbelanjaan, sore mulai merambat turun.
“Vara, kamu langsung ikut saya pulang ke rumah, ya,” ucap Melani lembut.
Vara terkejut. Langkah nya berhenti sejenak.
“Maaf, Nyonya… sepertinya saya langsung pulang ke rumah saja. Ini juga sudah sore,” ujarnya hati-hati.
Melani tersenyum tipis, lalu mengangkat beberapa paper bag di tangannya.
“Tidak apa-apa. Soal pakaian ganti, kamu tidak perlu khawatir. Semua sudah saya belikan, lengkap luar dan dalam.”
Mata Vara sedikit membesar, bibirnya terbuka tanpa suara. Ia benar-benar kehabisan alasan.
“Jadi, ikut ya,” lanjut Melani lembut. “Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan.”
Hati Vara yang tadi sempat tenang kembali gelisah. Ada rasa penasaran bercampur cemas atas maksud perempuan paruh baya di hadapannya.
Melani menggenggam tangan Vara dengan lembut, menatapnya penuh kehangatan, tanpa paksaan, namun terlihat jelas penuh harapan.
Vara menghela napas pelan.
“I-iya, Nyonya. Saya ikut,” ucap Vara akhirnya.
“Terima kasih,” balas Melani tulus.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil hening. Tidak ada percakapan, hanya perasaan yang masing-masing di simpan dalam diam.
Di rumah, Luna mondar-mandir di ruang tengah, sesekali menengok ke luar jendela.
“Luna, kenapa dari tadi lihat ke luar terus?” tanya Nicholas heran.
“Luna lagi nunggu nenek, Kek. Tadi malam nenek bilang sore ini pulang sama Kak Vara,” jawab Luna polos.
Arga yang baru turun dari tangga mendengar ucapan itu.
Pantas saja Luna tidak ke perusahaan hari ini, batinnya.
“Luna, kamu sudah mandi?” tanya Arga saat duduk di sofa.
Luna menoleh. “Belum, Om.”
“Sekarang mandi. Sebentar lagi nenek pasti pulang,” ucap Arga tenang.
Tanpa membantah, Luna langsung berlari menuju kamarnya.
“Bi, Luna mau mandi,” serunya.
“Ayo, Non. Bibi siapkan bajunya,” jawab Bu Rina lembut.
Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar memasuki halaman. Ternyata benar, Melani benar tidak pulang sendiri.
Di ruang tengah, Melani menyerahkan paper bag kepada Vara.
“Ini pakaian gantimu.”
“Bi, tolong antar Vara ke kamar tamu,” pinta Melani.
“Baik, Nyonya,” jawab pelayan itu ramah.
“Nona, silakan ikut saya.”
Vara mengikuti langkah pelayan menuju lantai atas. Begitu pintu kamar dibuka, Vara terdiam.
Kamar tamu itu luas dan hangat. Ranjang besar berbalut sprei putih gading tertata rapi, dihiasi bantal-bantal lembut. Lampu kristal kecil menggantung di langit-langit, memancarkan cahaya kekuningan yang menenangkan. Tirai tebal berwarna krem menjuntai anggun di sisi jendela besar, sementara sofa kecil dan meja rias kayu berukir melengkapi ruangan dengan kesan elegan namun nyaman.
Vara berdecak kagum.
“Ini kamarnya, Nona,” ucap pelayan itu.
“Terima kasih, Bi,” jawab Vara sopan.
Setelah pelayan pergi, Vara segera mandi. Usai berganti pakaian, ia berdiri canggung di tengah kamar, lalu duduk di tepi ranjang.
Sekarang aku harus apa? pikirnya.
Tok… tok… tok…
Vara tersentak, lalu membuka pintu.
“Kak Vara!” seru Luna ceria.
“Luna… kamu tahu kakak di sini?” tanya Vara lega.
“Tahu dong,” jawab Luna sambil tersenyum lebar. “Kak Vara cantik banget!”
Vara mengenakan setelan rumah sederhana: atasan lengan panjang berwarna pastel lembut dengan celana panjang berbahan ringan. Rambut panjangnya hanya dijepit ke belakang, memperlihatkan wajahnya yang bersih dan alami.
Vara tersenyum malu mendengar pujian itu.
“Ayo, Kak, kita keluar,” ajak Luna sambil menarik tangan Vara tanpa menunggu jawaban.
Mereka menuju ruang keluarga. Namun setibanya di sana, ruangan itu kosong.
Vara menghela napas lega.
Entah mengapa, ketenangan itu justru membuat jantungnya berdebar, mengingat apa yang diucapkan Nonya Melani siang tadi.
---
Kini mereka telah duduk di ruang makan, tak terkecuali Vara yang mengambil tempat di sisi Luna. Awalnya ia tampak canggung. Situasi seperti ini terasa asing baginya. Sejak tinggal di rumah bibinya, ia nyaris tak pernah merasakan makan bersama dalam suasana hangat seperti ini, tanpa bentakan, tanpa sindiran, tanpa rasa terasing.
“Kak Vara, Luna mau yang itu,” ucap Luna sambil menunjuk sepiring ayam goreng di hadapannya.
Tanpa ragu, Vara segera mengambilkan ayam goreng itu dan meletakkannya di piring Luna. Tangannya cekatan, seolah ia sudah terbiasa melakukan hal itu. Dengan sabar ia memastikan Luna bisa makan dengan nyaman.
“Luna, biarkan Kak Vara makan. Kamu kan sudah bisa sendiri,” tegur Melani lembut, melihat cucunya terlalu manja.
“Tidak apa-apa, Nyonya,” jawab Vara cepat. Senyumnya tulus, tanpa beban.
Arga dan Nicholas hanya memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Tidak ada kata yang terucap, tetapi keduanya menangkap hal yang sama, ketulusan Vara bukanlah sesuatu yang dibuat-buat.
Makan malam berlangsung tenang. Tidak ada percakapan berat, hanya suara alat makan dan sesekali celoteh kecil Luna.
Usai makan, mereka berpindah ke ruang keluarga.
Di sana, kegugupan Vara kembali muncul. Ia duduk berdampingan dengan Luna, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Sorot matanya beberapa kali beralih pada Arga dan kedua orang tuanya, jantungnya berdebar tak menentu.
“Vara,” ucap Melani lembut, membuka pembicaraan.
“Kami ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.”
Vara menegakkan tubuh, menatap Melani penuh hormat. “Iya, Nyonya.”
“Kamu tahu kan, Luna telah kehilangan kedua orang tuanya,” lanjut Melani perlahan. “Dan selama ini hanya Arga yang benar-benar dekat dengannya. Tapi sejak kamu hadir, Luna berubah. Dia lebih ceria, lebih terbuka.”
Vara menunduk, mendengarkan dengan saksama.
“Kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat Luna merasa aman dan disayangi,” lanjut Melani. “Dan Arga… dia sudah cukup dewasa. Kami sebagai orang tua tentu ingin dia memiliki pendamping hidup.”
Hening sejenak menyelimuti ruangan.
“Dan kami pikir,” sambung Melani mantap, “kamu adalah orang yang pantas.”
Tubuh Vara menegang. Ia mengangkat wajahnya perlahan.
“Maksud Nyonya?” tanyanya pelan, hampir tak terdengar.
“Kami ingin kamu menikah dengan Arga,” ucap Nicholas tegas namun tenang.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Vara. Refleks, ia menoleh ke arah Arga. Pria itu hanya diam, wajahnya tetap datar.
“Nyonya… Tuan…” suara Vara bergetar. “Apa Nyonya tidak salah? Saya hanya wanita biasa. Saya tidak pantas, dan saya..”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Melani memotong dengan lembut namun tegas.
“Tidak ada yang tidak pantas, Vara,” ucapnya. “Kami tidak pernah membandingkan atau menilai dari latar belakang. Bagi kami, yang penting kamu orang baik dan bisa menerima Luna dengan sepenuh hati.”
Vara kembali menatap Arga, berharap pria itu mengatakan sesuatu.
“Bagaimana, Arga?” tanya Nicholas.
Arga hanya mengangguk singkat. Tidak ada penolakan.
“Tuan…” panggil Vara lirih.
"Kalau Luna sendiri bagaimana, apa Luna setuju Om menikah dengan kak Vara?" Tanya Melani
“Kalau Luna sih setuju!” serunya ceria. “Yee… Kak Vara jadi Tante Luna! Mulai sekarang Luna panggil Tante!”
Luna langsung memeluk Vara dari samping.
Vara tersenyum kikuk. Kepalanya terasa berat. Ia masih sulit percaya, bagaimana mungkin hidupnya berubah sejauh ini, hanya karena ia tulus menyayangi seorang anak kecil?
“Aku mau pernikahan kita diadakan sederhana,” ucap Arga akhirnya. “Cukup di rumah, dihadiri orang-orang terdekat.”
“Kenapa begitu?” tanya Melani.
“Aku masih menyelidiki kasus kecelakaan orang tua Luna,” jawab Arga serius. “Aku tidak ingin Vara menjadi sasaran. Jika mereka tahu Vara istriku, risikonya terlalu besar. Aku juga tidak ingin orang-orang yang tidak menyukaiku menjadikan orang terdekatku sebagai sasaran.”
Melani dan Nicholas saling pandang, lalu mengangguk.
“Kamu benar,” ucap Melani. “Keselamatan lebih penting.”
“Kalau begitu, minggu depan kita langsungkan pernikahannya,” lanjut Melani mantap.
“Minggu depan?” Vara terkejut. “Apa tidak terlalu cepat?”
“Tidak apa-apa, Nak,” jawab Melani lembut. “Lebih cepat, lebih baik.”
Melani menggenggam tangan Vara.
“Mulai sekarang, kamu panggil kami Mama dan Papa.”
Vara mengangguk pelan. Hatinya campur aduk, takut, gugup, sekaligus haru. Ia tak pernah menyangka, kedekatannya dengan Luna justru membawanya pada perubahan besar dalam hidupnya.