alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh satu
Alia meletakkan surat pengunduran dirinya di meja bu wirda, semalaman ia berpikir keras, alia memutuskan untuk resign dari pekerjaan yang sudah setahun ini digelutinya.
Pekerjaan dan posisinya yang lumayan mapan terpaksa alia lepaskan demi kesehatan mentalnya, terus terang alia merasa tidak mampu lagi bekerja di bawah kepemimpinan langit, pria itu terlalu menakutkan baginya.
Alia berjalan perlahan meninggalkan kantor, matanya mengitari sekeliling dengan raut wajah sedih. Sore ini adalah hari terakhirnya, alia memutuskan ingin membuka usaha kecil dirumahnya.
Ditambah narida juga dalam bulan ini akan diboyong suaminya ke jakarta, mau tak mau alia keluar dari pekerjaannya agar ia bisa mengurus putranya dengan tenang.
Alia bangun pagi ini sedikit lebih lambat, hatinya merasa riang tanpa beban, sembari memandikan luka terdengar senandung kecil keluar dari bibirnya.
"Bunda, bunda lagi banyak duit yah?" Tanya luka dengan menatap alia yang bersenandung penuh keheranan, alia tersenyum menatap putranya.
"Bunda lagi banyak duit dan waktu sayang, mulai hari ini bunda akan kerja dari rumah saja"
luka yang belum begitu memahami maksud dari ucapan alia hanya manggut-manggut sok paham, membuat alia tersenyum gemas menatap putra tampannya itu, lalu dengan gemas ia menciumi luka yang menolak ciumannya sembari meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Alia mengantarkan luka ke sekolahnya, matanya menatap bahagia ke arah putranya yang memasuki kelas. Putra tampannya itu melambaikan tangan sebelum alia beranjak pulang, alia menyalakan ponselnya yang memang sengaja ia matikan sejak bangun subuh tadi, ia tak mau di ganggu dengan panggilan-panggilan dari kantor.
Begitu ponselnya menyala sempurna puluhan notifikasi masuk, terlihat 30 panggilan tak terjawab, dari fandi, bu wirda dan juga langit, namun alia memilih mengabaikannya. Alia berjalan menuju ke arah ojek yang ia pesan melalui aplikasi online, yang menunggunya seraya menyerahkan helm pada alia.
"Alamatnya sudah saya share yah mas" ujarnya sopan yang dijawab anggukan oleh pria memakai helm dan jaket berlambang perusahaan ojek online itu.
Alia duduk tanpa bersuara, ia hanya memandangi jalanan yang tidak terlalu padat pagi ini. Benaknya dipenuhi ide-ide yang sekiranya bisa ia lakukan untuk membuat usaha di rumah saja, sangking sibuknya benak alia, ia tak sadar ojek yang ia tumpangi sudah sampai di depan rumahnya.
"Mbak, sudah sampai" tegur mas ojeknya menyadarkan alia dari lamunan.
Alia tersentak, tergeragap turun, wajahnya tersenyum malu dan tak lupa mengucapkan terima kasih sembari menyerahkan helm.
Alia melangkah masuk ke halaman rumah, matanya terbelalak lebar dengan mulut terperangah kaget. Ia terperanjat menatap pria itu, langit. Duduk di teras rumahnya menatap alia dengan mata memerah.
Tubuhnya tiba-tiba membeku, ia berhenti berjalan, kakinya terasa berat di langkahkan, matanya masih terpaku menatap pria itu.
Darimana pria itu tahu rumahnya, rasa takut tiba-tiba menyergap hatinya, sungguh ketakutan alia mulai menjalar ke wajahnya. Sementara langit menatap tajam ke arah alia yang membeku, rahangnya mengeras menahan emosi yang mulai menguasai hatinya.
"Sampai kapan kau akan tetap berdiri di situ?" Suara berat langit terdengar begitu mengintimidasi alia yang tersentak.
Perlahan alia melangkahkan kakinya dengan berusaha tetap tenang, ia tak mau pria ini merasa bahwa dia mampu mengintimidasi alia, walau kenyataannya saat ini alia memang merasa takut.
"Mau apa kamu kemari?" Tanya alia tenang. Ia duduk anggun berusaha menata jantungnya yang berdebar tak menentu.
"Kenapa kamu mengundurkan diri?" Langit bertanya tanpa basa basi, hatinya saat ini benar-benar tersinggung.
Mengapa wanita satu ini sangat sulit untuk di taklukkan, matanya menatap alia dengan sorot mata menuntut penjelasan, tidak ada senyum di bibir itu, senyum smirk yang biasa ia tunjukkan.
Kali ini langit benar-benar tak mampu menutupi isi hatinya, mata elangnya, garis rahangnya yang mengeras, benar-benar menunjukkan hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Apakah aku harus menjelaskan semuanya kepadamu" jawab alia dingin, ia melengos membuang pandangannya ke arah lain.
Alia benar-benar merinding melihat tatapan langit yang begitu tajam, gemeretak suara gigi yang beradu, buku jari yang memutih, menunjukkan bahwa langit benar-benar marah.
Namun pria itu tak menjawab sepatah katapun, tangannya menyugar rambutnya frustasi, ingin rasanya ia memaksa wanita di hadapannya ini menjelaskan alasan yang sebenarnya.
"Kalau kamu sudah tidak punya kepentingan lagi, silahkan pergi, saya banyak urusan" usir alia tanpa perasaan seraya melangkah, meraih handle pintu dan ingin masuk.
Namun tiba-tiba ia merasa tubuhnya di dorong masuk, belum alia menyadari apa yang terjadi, tubuhnya sudah berada di bawah kungkungan langit yang mendesak tubuhnya terjajar ke dinding.
Mulut alia terbuka ingin berteriak, namun bisikan langit membuatnya mengurungkan niatnya.
"Teriaklah, maka aku akan menciummu" suara parau langit terdengar berat di telinga alia, tubuhnya meremang.
"Sepertinya kamu tidak bisa di ajak bicara baik-baik, apakah kamu ingin kuperlakukan lebih kasar dari ini?" Ancamnya masih dengan bisikan, hembusan nafas langit terasa hangat di kulit leher alia yang meremang.
Alia diam tidak bersuara sedikitpun ia benar-benar takut, langit akan benar-benar melaksanakan ancamannya.
"Bisakah kita bicara baik-baik sekarang?" Tanya langit memegang dagu alia dan mengarahkan ke wajahnya, alia mengangguk, terlihat sorot mata ketakutan dari tatapannya.
"Bagus..." ujar langit melepaskan tubuh alia dari kungkungannya, ia melangkah menuju sofa dan duduk dengan santai di sana.
"Duduklah!" Perintahnya dengan suara yang terdengar lebih lembut.
Alia berjalan dengan mengusap air mata yang hampir jatuh di sudut matanya, bahasa tubuh alia terlihat benar-benar ketakutan, keberanian yang ia pupuk tadi sudah hilang entah kemana. Alia duduk dengan posisi seperti seorang pesakitan yang sedang mendapat dakwaan, menundukkan kepalanya.
"Jelaskan padaku, kenapa kamu mengundurkan diri?" Tanya langit menatap lembut ke arah alia yang terlihat sedikit gemetaran.
Hati langit seperti di cubit, entah mengapa setiap ia melakukan kekerasan seperti ini dan melihat alia takut, sungguh hatinya juga merasa sakit.
"Aku..aku..ingin membuka usaha di rumah saja" sahut alia pelan dengan suara mencicit, ia belum berani menatap mata langit,
"Kenapa?" Cecar langit penasaran memicingkan matanya,
"Karena, putraku tidak lagi ada yang menjaga" jawab alia masih dengan suara lirihnya,
"Bukan karena perlakuanku kemarin?"
Alia mendongakkan wajahnya menatap langit yang duduk bersandar dengan santainya, mata elang langit masih menatapnya penasaran.
"Tidak.." geleng alia berbohong, degub jantungnya berpacu, ia takut langit menyadari kebohongannya.
"Aku tahu, kamu takut padaku alia, jangan bohong" ujar pria itu tenang, tatapan matanya masih menginterogasi.
"Kalau kamu tidak mau jujur, aku bisa melakukan hal-hal yang lebih buruk dari yang pernah kulakukan padamu" ucapan tenang langit terdengar penuh ancaman.
" jangan bohong padaku, aku tahu semua tentangmu"
Mata alia membelalak lebar, rasa takutnya kembali menyergap.
"Apa untungnya aku berbohong padamu" ucapan alia yang berusaha tegar, terdengar bergetar
"Aku tidak pernah takut padamu langit, aku hanya membencimu" lanjut alia dengan sorot mata dingin.
"Aku mengundurkan diri, karena aku tidak ingin bekerja untukmu, aku benci padamu" tukas alia berusaha terlihat kuat.
"Hhhhhhh" dengusan kasar keluar dari bibir langit yang tersenyum sinis.
"tapi kamu tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku" bisik langit penuh ancaman dengan mencondongkan wajahnya ke arah wajah alia yang menjauh.
"Cobalah terus membenciku, dan jangan kembali kerja besok, maka aku akan menyebarkan video malam itu, sayang. Malam ketika kamu menikmati cumbuanku"
Alia terperangah, bola matanya membelalak terkejut dan bibir yang bergetar.
"Apa..apa maksudmu?" Tanya alia tergeragap, tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat, wajah cantik alia memucat.
Perubahan ekspresi itu tak luput dari perhatian langit, jantungnya kembali mendenyut, menghasilkan rasa sakit.
' maaf alia, aku tak tahu bagaimana caranya agar kamu tidak menjauh dariku' batin langit dalam hati.
"Apa maksudmu dengan video?, langit.." panggil alia setengah memekik, rasa takut dan marah bercampur dalam hatinya.
Langit bangkit dengan gaya acuh tak acuhnya, ia berjalan menuju pintu dengan tangannya berada di saku celana, alia mengejar pria itu, menarik lengan langit kasar.
"Langiiitt..." teriak alia mencengkeram lengan langit kuat, langit menatap lengannya yang berada dalam cengkeraman jemari mungil alia, hatinya tiba-tiba menghangat.
"Video malam itu, alia! Video malam saat kamu mengerang di pelukanku sayang, apakah kamu mau aku menjelaskan secara detail semuanya"
"Tidak...kamu bohong!" Teriak alia tidak terima, kini kedua tangannya mencengkeram kedua lengan langit dan menggoyang-goyangkannya.
Hati langit kembali menghangat, sungguh ia tak tahu apa yang terjadi dengan hatinya, entah mengapa perasaannya selalu berbeda jika ia berada di dekat alia, dan hal ini tak pernah ia dapati dari wanita lain yang pernah hadir dalam hidupnya.
"Kalau kamu tak mau video itu menyebar, besok datang dan bekerjalah seperti biasa" bisik langit sebelum meninggalkan alia yang termangu.
Alia jatuh terduduk, hatinya mencelos, tanpa sadar air matanya berjatuhan membasahi pipi ranumnya, ia menangis tersedu dalam diamnya.
Bersambung...