Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: JEBAKAN SANG PREDATOR
Malam di Menteng terasa jauh lebih sunyi dibanding hiruk-pikuk Jakarta pada umumnya. Di sebuah mansion bergaya kolonial modern yang dipagari tembok tinggi, Alana bergerak dalam diam.
Alana bersandar sejenak di dinding marmer yang dingin untuk mengatur napas. Dia melirik jam di pergelangan tangannya: 02.15 pagi. Sebagai agen intelijen, dia tahu ini adalah waktu di mana kewaspadaan orang berada di titik terendah.
Misi kali ini bukan main-main. Targetnya adalah Arkano Dirgantara, pengusaha yang dikenal dermawan namun aslinya adalah pemain besar di pasar gelap. Alana harus mengambil data transaksi ilegal dari pria yang dijuluki 'Hantu Sektor Barat' ini.
Alana mengeluarkan perangkat peretas dari saku celana taktisnya. Hanya butuh beberapa detik bagi alat itu untuk melumpuhkan kunci elektronik pintu balkon di lantai dua.
Klik.
Pintu terbuka. Alana menyelinap masuk ke ruangan yang didominasi aroma kayu cendana dan parfum mahal. Ruangan itu luas dan mewah, namun terasa dingin dan kaku.
"Fokus, Alana. Cari brankasnya," gumamnya pelan.
Dia melangkah menuju lukisan besar di belakang meja kerja utama. Di balik kanvas itu, tersembunyi sebuah brankas baja dengan sistem keamanan tingkat tinggi. Alana segera bekerja dengan pemindai lasernya. Jari-jemarinya bergerak tenang, sistem seperti ini sudah sering dia tangani.
Bip. Bip. Klik.
Pintu brankas terbuka sedikit. Alana segera merogoh ke dalam dan menemukan map hitam yang dia cari. Namun, tepat saat dia hendak menariknya keluar, sebuah suara menginterupsi.
"Mencuri di rumah orang lain itu tidak sopan. Apalagi untuk wanita sepertimu."
Suaranya rendah dan sangat tenang, tapi sanggup membuat Alana membeku. Tiba-tiba, lampu kristal di langit-langit menyala terang. Cahaya yang mendadak membuat mata Alana perih sesaat.
Alana segera berbalik dan refleks meraih pistol di pinggangnya. Namun, gerakannya terhenti saat melihat siapa yang duduk di kursi kerja itu.
Arkano Dirgantara.
Pria itu duduk dengan santai, menyilangkan kaki sambil memainkan pemantik api emas di tangannya. Kemeja hitamnya yang tidak terkancing sempurna memberikan kesan santai namun tetap mengintimidasi.
"Sejak kapan Anda di sana?" tanya Alana. Suaranya berusaha tetap datar meski jantungnya berpacu, serasa dia sudah berada diambang kematian.
Arkano terkekeh kecil. "Sejak kamu memanjat pipa air di luar. Aku melihatmu dari monitor CCTV di ruangan sebelah. Gerakanmu lumayan, tapi kayaknya kamu terlalu percaya diri."
Wajah Alana memanas. "Kalau sudah tahu, kenapa nggak langsung menyuruh pengawalmu menangkap aku saja?"
Arkano berdiri. Tubuhnya yang tinggi tegap membuat Alana merasa terdesak secara mental. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah yang teratur, berhenti tepat di depan Alana.
"Karena aku ingin melihat sendiri siapa yang cukup berani mengusik ketenanganku," ucap Arkano sambil menatap Alana dengan tajam.
Alana mencoba menarik senjatanya kembali, namun dalam gerakan kilat, Arkano sudah mencengkeram pergelangan tangannya dan memelintirnya ke belakang punggung.
"Akh!" pekik Alana ketika punggungnya terdorong ke meja kerja, sementara tubuh Arkano menguncinya tanpa celah.
"Jangan bergerak," bisik Arkano. Napasnya terasa di wajah Alana. "Atau pengawalku di balik pintu itu akan menembak mu sebelum kamu sempat menarik pelatuk."
Alana menggeram, mencoba melepaskan diri. "Tangkap saja aku! Aku jamin kalau atasanku nggak akan tinggal diam!"
Arkano tersenyum miring, senyum yang membuat Alana tidak nyaman. "Atasanmu? Komisaris Hendra baru saja menerima dua miliar dariku malam ini. Dia sudah menjualmu, Alana. Kamu hanya tumbal untuk menenangkan emosiku."
Alana terdiam. Kabar tentang pengkhianatan itu seperti hantaman keras di dadanya. "Kamu bohong."
"Aku tidak perlu berbohong pada orang yang sudah kalah," Arkano mendekatkan wajahnya. "Tapi membunuhmu adalah pemborosan. Aku lebih suka memiliki sesuatu yang berguna."
Arkano menjauhkan sedikit tubuhnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. Sebuah cincin berlian berkilau di dalamnya.
"Menikahlah denganku, Alana."
Alana terbelalak. "Kamu udah gila?"
"Aku butuh istri untuk memperbaiki citra bisnisku. Dan kamu butuh tempat persembunyian karena saat kamu keluar dari sini, kepolisian akan mencap kamu sebagai pengkhianat," Arkano menjelaskan dengan nada bicara seperti sedang menegosiasikan kontrak biasa.
"Aku lebih baik mati daripada menikah denganmu!"
Arkano tetap tenang. Dia mengusap bibir Alana dengan ujung jarinya. "Pilihannya sederhana. Pakai cincin ini dan kau aman di sini, atau keluar dan hadapi kematian yang sia-sia. Mana yang kau pilih?"
Alana terengah, matanya mencari celah di iris mata Arkano yang gelap. Dia tahu Arkano tidak sedang menggertak. Jika dia benar-benar dikhianati oleh divisinya sendiri, maka jalan satu-satunya untuk bertahan hidup adalah tetap berada di dekat pria ini.
"Kenapa harus aku?" tanya Alana lirih.
Arkano menarik pinggang Alana hingga tubuh mereka merapat. "Karena aku suka menjinakkan yang liar. Dan kau adalah tantangan yang paling menarik."
Hening sejenak. Alana memejamkan mata, menelan kepahitannya.
"Baik," bisik Alana. "Aku terima."
Arkano tersenyum puas dan menyematkan cincin itu di jari manis Alana. Rasanya berat dan dingin.
"Pilihan cerdas, Nyonya Dirgantara," Arkano mengecup keningnya dengan nada posesif. "Selamat datang di duniaku. Ingat, sekali kau masuk, tidak ada jalan untuk keluar hidup-hidup."
Alana hanya bisa terdiam menatap cincin itu. Permainan baru yang jauh lebih berbahaya baru saja dimulai.