NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penuh dengan darah

"Cih, mengapa sulit sekali..." batinnya meronta, menggugat tangannya sendiri yang kian kehilangan kendali.

Logam dingin pinset itu masuk jauh ke dalam luka, menelusuri lorong daging yang hancur hingga ujungnya beradu dengan tulang dan jaringan otot yang kaku. Setiap gerakan menghasilkan bunyi berdecit yang memuakkan—suara gesekan antara baja dan bagian terdalam tubuhnya sendiri yang bergema di dalam kepala Andersen seperti simfoni penyiksaan neraka.

Demi mendapatkan cengkeraman pada proyektil timah yang keras itu, Andersen terpaksa melakukan tindakan gila... ia merobek luka tersebut lebih lebar dengan tangannya sendiri.

Ia menarik peluru itu dengan paksa, seolah-olah sedang mencabut duri beracun dari sepotong kayu mati, mengabaikan kenyataan bahwa setiap senti tarikan itu berarti merusak jaringan hidupnya Sendiri.

Rasa sakitnya kini telah melampaui segala batas akal sehat. Rasanya seolah-olah ada sebatang besi membara yang ditancapkan perlahan ke saraf-sarafnya, membakar habis sisa-sisa kewarasannya.

Dug... Dup...

Jantung Andersen berdentum kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme liar dan tak beraturan, layaknya seekor burung dalam sangkar yang berusaha menghancurkan jerujinya demi melarikan diri dari raga yang kini menjadi medan pertempuran berdarah itu.

“Andersen, hentikan! Jangan!”

Pekikan Margarette membelah kabin, suaranya pecah oleh horor yang tak terbendung. Jemarinya mencengkeram kemudi hingga memutih, gemetar hebat saat menyaksikan semburan cairan merah pekat itu membasahi jok kulit mewah mobilnya. “Luka itu... kau bisa mati kehabisan darah sebelum sampai ke sana!”

Namun, lelaki itu seolah telah memutus saraf rasa takutnya sendiri. Andersen mengabaikan peringatan maut itu dengan ketenangan yang mengerikan, seolah nyawanya hanyalah kepingan taruhan murah di atas meja judi takdir.

“Belok kanan!” sela Andersen.

Suaranya rendah, memotong histeria Margarette seperti belati tajam. “Setelah melewati supermarket di depan, ambil putar balik, lalu ke arah kiri! Lakukan sekarang dan... Jangan lepaskan pedal gasnya!”

Ciiiittt....

Mobil sedan itu melesat, bannya memekik saat melibas tikungan, menciptakan simfoni mekanis di tengah sunyinya jalanan.

Di bawah keremangan lampu kabin yang berkedip-kedip... seolah-olah nyawa kelistrikan mobil itu pun ikut sekarat bersama penumpangnya. Andersen bekerja dengan kecepatan yang didorong oleh sisa-sisa kesadaran terakhir.

Dengan jemari yang bersimbah merah, ia melilitkan kain kasa itu kuat-kuat, menekan robekan di lengan kiriNya dengan paksa.

Ia tidak peduli jika balutan itu kasar atau tidak rapi... baginya, setiap lilitan adalah perpanjangan waktu yang ia pinjam dari kematian demi satu tujuan yang masih menanti di ujung jalan yang gelap.

Kini giliran punggung kanannya yang menagih nyawa. Di sana, di kedalaman yang tak terjangkau mata, sebuah proyektil timah masih tertanam, mengirimkan gelombang panas yang meluluhlantakkan pusat sarafnya.

Rasanya seolah ada bara api yang sengaja diletakkan di dekat tulang belakangnya, terus membakar tanpa ampun.

Dengan napas yang menderu layaknya mesin yang hampir meledak, Andersen menyentak kemeja sutranya yang kini tak lebih dari onggokan kain compang-camping yang basah kuyup oleh cairan merah.

Lelaki itu duduk condong ke depan, memperlihatkan siluet tubuhnya yang kokoh namun penuh luka di bawah kilatan lampu jalanan yang menyelinap masuk lewat jendela mobil dan menciptakan permainan cahaya dan bayangan yang dramatis pada kulitnya yang pucat.

Tangannya bergetar hebat... sebuah kelelahan raga yang hampir tak mampu ia bendung lagi. Namun, dengan kehendak yang lebih keras dari baja, ia memaksa jemarinya meraba tepian luka yang menganga di punggungnya.

Ia menekan pinggiran daging yang robek, merasakan hangatnya darah yang kembali membanjir, sebelum akhirnya memaksa ujung pinset besi itu merangsek masuk kembali.

Dirinya harus menembus lorong rasa sakit itu sekali lagi, mencari logam penghancur yang bersembunyi di balik jaringan ototnya, demi sebuah janji yang belum lunas.

“Ughhh...!”

Andersen mengerang tertahan, suara yang lebih mirip geraman binatang buas yang terluka. Giginya beradu begitu keras hingga rahangnya terasa kaku, seolah tulang penyusun wajahnya nyaris retak karena menahan beban rasa sakit yang tak terbayangkan.

Pinset itu merangsek lebih dalam, mengoyak jaringan lunak hingga akhirnya—ting!—terdengar bunyi denting logam yang halus namun nyata. Ujung pinset itu berhasil menjepit proyektil timah yang bersarang di sana.

Berbeda dengan perjuangan sebelumnya, peluru ini tercabut lebih mudah, seolah ia pun sudah bosan merusak tubuh lelaki itu. Begitu timah panas itu dilempar ke lantai mobil dan berdenting di atas karpet, lubang luka di punggungnya seolah terbuka lebar, menyerah pada tekanan dari dalam.

Blup... Bluppp...

Suara itu terdengar begitu nyata di telinga Andersen yang kian sensitif. Itu adalah suara darah yang keluar dari pembuluh yang pecah dan membunyikan gelembung udara yang terjepit di antara aliran cairan hangat yang meluap.

Seketika, kabin mobil yang sempit itu dipenuhi oleh aroma amis logam yang tajam, aroma kematian yang mencoba merayu Andersen untuk menyerah.

Namun, ia menolak kalah. Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, ia menyumbat lubang menganga di punggungnya dengan seonggok kain kasa.

Satu tangannya menekan kuat-kuat, sementara tangan lainnya menarik ujung perban elastis dengan gerakan yang mekanis.

Ia memutar perban itu mengelilingi dada dan perutnya, membelit tubuhnya sendiRi dengan gerakan cepat dan kasar layaknya seorang mumi yang sedang menjahit kembali lukanya agar rohnya tidak terbang keluar.

Di bawah sorot lampu jalanan yang berkelebat, Andersen bersiap menghadapi sisa malam, meski tubuhnya kini tak lebih dari tumpukan luka yang dibalut kain putih.

Napas Andersen kini hanya berupa bisikan tipis yang tersangkut di tenggorokan... sebuah ritme samar antara hidup dan mati.

Luka-luka itu memang telah tertutup oleh balutan kasa, namun tubuhnya kini terlukis oleh warna merah tua yang pekat, seolah ia baru saja dibaptis oleh api dan darah.

Di balik kemudi, Margarette melirik ke samping dengan napas yang tertahan di dada.

Menyaksikan Andersen yang bersimbah darah dengan lilitan perban yang kini mulai menjenuh dan memerah pekat, ia didera ketakutan yang mencekam. Untuk beberapa detik yang terasa abadi, ia mengira pria di sisinya telah menyerah dan kehilangan nyawa dalam keheningan kabin mobil yang pengap.

Namun, di sela deru mesin yang perlahan melambat saat memasuki kawasan pemukiman, suara parau itu kembali terdengar, membelah kesunyian bagai retakan es.

"Di depan... kiri," bisik Andersen.

Kata-kata itu berat, keluar dengan paksa dari kesadaran yang kian menipis dan pandangan yang mulai kehilangan fokus.

Dengan gerakan kaku yang menyakitkan dan jemari yang masih gemetar hebat, ia melakukan sesuatu yang tak terduga: ia kembali mengenakan kemeja sutranya yang telah rusak. Ia mengancingkannya satu per satu dengan tangan yang bersimbah merah, menutupi kehancuran tubuhnya yang berbalut perban.

Seolah-olah, dengan mengenakan kembali pakaian koyak itu, ia sedang memungut martabatnya yang tersisa, menyembunyikan kerapuhan raga dari dunia dan dari mata gadis yang harus dirinya selamatkan.

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!