Mengisahkan perjuangan seorang pemuda yang tadinya hanya seorang pemuda biasa, tapi, kehidupan yang sulit membuatnya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang agen.
Bukan hal yang mudah karena Wawan, tokoh utama di cerita ini sebenarnya adalah seorang penakut yang mengharapkan hidup normal dan santai.
Tapi, lama kelamaan Wawan menjadi terbiasa dengan pekerjaan berbahaya itu dan malah menjadi agen paling hebat di kesatuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang tabung gas Yanto
Setelah merekrut anggota-anggota baru ke dalam tim, kini saatnya bagi mereka untuk kembali.
Bersamaan mereka kembali ke markas lama yang tersembunyi di dalam hutan.
Perjalanan pulang itu agak repot karena mobil menjadi sangat lebih hingga semua orang harus berdesak-desakan.
Tapi setidaknya meksipun harus desak-desakan, perjalanan pulang mereka aman tanpa ada kendala apapun.
Sejenak kita beralih pada Yanto yang sedang berjalan di sebuah lorong bersama anak buah kepercayaannya yaitu Kipli.
Kipli berjalan mengekor di belakang Yanto tanpa mengucapakan satu patah katapun.
Setelah berjalan beberapa meter, mereka akhirnya tiba di ujung lorong yang mana di ujung lorong itu ada sebuah pintu.
Pintu baja itu di jaga dua orang.
Dua orang tadi langsung membukakan pintu ketika mereka melihat Yanto mendatangi mereka.
Di bagian dalam pintu itu, terlihat ada sebuah ruangan yang sangat amat luas.
Memang tidak terlihat jelas berapa luas tempat itu karena keadaannya yang benar-benar gelap.
Yang jelas. Ruangan itu benar-benar luas.
Yanto dan Kipli berdiri di dekat pintu yang mereka masukin tadi dan diam sejenak.
Tak lama, lampu tiba-tiba menyala dan memperlihatkan seberapa luasnya tempat itu dan apa yang ada di dalamnya.
Ternyata. Tempat itu adalah gudang super besar yang mana gudang itu di gunakan untuk menampung tabung gas subsidi yang jumlahnya ribuan.
"Berapa banyak yang ada di sini!?" Tanya Yanto sambil melihat tabung-tabung yang telah anak buahnya kumpulkan itu.
"Hampir seratus ribu tabung!"
"Dan kita masih belum berhenti mengumpulkan tabung hingga saat ini!" Kata Kipli.
"Terus kumpulkan tabung gasnya. Aku mau tempat ini penuh dengan tabung gas tanpa ada satupun celah kosong di gudang ini" Kata Yanto.
Kipli yang tidak tahu kenapa bosnya itu begitu terobsesi dengan tabung gas subsidi tidak tahan untuk tidak bertanya.
Meksipun Kipli tahu kalau mengajukan pertanyaan yang tidak perlu itu bisa mengancam nyawanya.
"Tuan... Apa sebenarnya yang mau anda lakukan dengan tabung-tabung itu?..." Yanto mendadak mengambil tindakan.
Dorr!!
Hampir saja kepala Kipli berlubang.
Untungnya Yanto mengarahkan pistol yang ia pegang ke arah samping kepala.
Tapi tadi itu benar-benar nyaris.
"Jangan tanya hal yang tidak perlu kau ketahui!" Ekspresi Yanto kala itu sangat menyeramkan.
Bahkan Kipli saja sampai terdiam dengan wajah pucat saking menyeramkannya Yanto.
"Maafkan saya, tuan!" Kata Kipli sambil menundukkan kepalanya.
Setelah itu Yanto menyimpan kembali pistolnya dan pergi begitu saja meninggalkan Kipli di gudang itu.
Sebelum Kipli juga pergi dari sana, Kipli terlebih dahulu menoleh ke arah tumpukan tabung gas yang sangat banyak itu.
"... Sebenarnya apa yang mau dia lakukan dengan tabung gas sebanyak ini?..." Tak henti-hentinya Kipli penasaran.
Beralih ke tempat lain.
Pada waktu yang sama, sebuah demo besar-besaran sedang terjadi dimana demo itu sendiri berlangsung ricuh.
Rakyat kala itu benar-benar marah hingga merusak fasilitas-fasilitas umum yang ada di sekitar mereka.
Para aparat yang bersiaga di sekitar demo benar-benar di buat kesulitan pada saat itu karena saking brutalnya para pendemo ini.
Dan alasan dari demo ini, tidak lain dan tidak bukan adalah karena kurangnya stok tabung gas subsidi.
Belum lagi. Kebanyakan tabung gas subsidi yang beredar sekarang kebanyakannya bermasalah.
Entah cepat habis atau gampang meledak.
Makanya, masyarakat sangat tidak puas dan menuntut pemerintah untuk memperbaiki masalah ini sesegera mungkin.
Di pinggiran demo, terlihat ada seorang jurnalis sedang menyaksikan jalannya aksi demo bersama satu temannya.
"Menurutmu, apa demo ini akan segera di respon sama para pejabat!?"
"Soalnya sudah dari kemarin kericuhan ini terjadi tapi belum ada tanda-tanda para pejabat itu menanggapi masalah ini!" Kata jurnalis cantik itu pada temannya.
Teman laki-lakinya menjawab. "Entahlah. Kamu tahu sendiri seperti apa para pejabat negeri kita ini!"
"Jangankan menyelesaikan masalah dengan cepat. Kadang-kadang mereka bahkan tidak mau mengerjakan tugas mereka kalau belum di desak!"
"Iya juga, yah...!"
"Haah... Kadang-kadang aku berharap kalau negeri kita ini punya orang-orang kompeten yang bisa menyelesaikan masalah dengan cepat!" Kata si jurnalis cantik.
"Jangan kebanyakan ngayal. Orang kompeten seperti itu jarang ada, dan kalaupun ada... Paling-paling sekarang sedang di desak oleh pihak yang tidak mau ada perubahan pada negeri ini!"
"Ngomong-ngomong, Gus... Menurutmu, apa masalah tabung gas ini ada kaitannya dengan Mafia atau sejenisnya!?" Si teman yang bernama Agus seketika memasang wajah seakan ia sudah muak.
Ia muak karena temannya itu suka ngayal soal hal-hal yang berbau mafia.l dan agen rahasia.
"Kamu mulai lagi...!"
"Sudah aku bilang. Mafia, agen rahasia dan sejenisnya itu tidak ada!" Kata Agus sambil menghela nafas panjang.
"Siapa bilang tidak ada!?"
"Keberadaan mereka di kategorikan abu-abu tapi bukan berarti tidak ada. Aku yakin kalau mereka itu sebenarnya ada tapi tidak di ketahui orang banyak!" Setelah itu si jurnalis cantik itu lanjut bicara hal-hal yang tidak bisa di mengerti kebanyakan orang.
Bahkan teman laki-laki itu juga tidak mengerti hingga si teman hanya bisa buang muka dengan ekspresi yang aneh.
Kembali pada Wawan.
Sudah seminggu lebih sejak Wawan dan anggota baru tiba di markas.
Dalam kurun waktu seminggu itu semua orang mengakrabkan diri satu sama lain meskipun tidak begitu akrab juga.
Terutama Wawan dan Sarah.
Mereka selalu memasang wajah tanpa ekspresi jadi orang-orang di sekiranya agak kurang begitu dekat dengan mereka...
Kecuali mungkin Raisya, komandan dan para mentornya.
Hari itu adalah hari yang cerah, dimana cahaya matahari benar-benar terik tanpa ada satupun awan yang terlihat di langit.
Di tengah-tengah cuaca yang terik itu, Wawan tampak sedang duduk seorang diri di tepi sungai yang banyak bebatuan.
Alasan Wawan duduk di tepi sungai itu adalah karena Wawan sedang memancing.
Ia terlihat mendapatkan banyak ikan dengan ukuran yang lumayan besar.
Selama beberapa waktu Wawan memancing di sana tanpa bersuara sedikitpun.
Hingga akhirnya, ketenangan di sekitar Wawan tiba-tiba hilang ketika dua orang yang sedang adu ilmu beladiri muncul.
Byurr!!
Seseorang terlempar dari semak-semak dan mendarat di air yang mana posisinya cukup dekat dengan Wawan.
Sampai-sampai Wawan basah kuyup di sana.
Seorang lagi keluar dari balik semak-semak dan berkata. "Apa cuma itu saja yang bisa kamu lakukan?!"
Itu adalah Sarah.
Ia juga yang telah melempar orang tadi hingga masuk ke dalam sungai.
Orang yang ada di dalam sungai pun keluar sambil berkata. "Aku tidak di latih untuk condong pada ilmu belakang!"
"Aku di latih untuk bisa melakukan banyak hal, makanya kemampuanku rata-rata meskipun aku bisa banyak hal!" Ternyata yang latihan dengan Sarah adalah Arhan.
Di sini Arhan tampak agak malu karena kalah dari seorang perempuan.
Apalagi sampai di lempar masuk ke dalam sungai olehnya.