NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sungai Han

Sinar matahari pagi menyinari area konstruksi yang mulai bising dengan suara alat berat. Takara melangkah memasuki area proyek dengan rompi keselamatan yang terpasang rapi. Dari kejauhan, ia melihat Arlo sudah berdiri di dekat pos pantau, memegang dua gelas kopi kertas yang masih mengeluarkan uap tipis.

"Pagi, Takara. Kamu tepat waktu seperti biasa," sapa Arlo dengan senyum hangat. Ia menyodorkan salah satu gelas kopi itu. "Ini kopi dari kedai di depan. Aku ingat kamu suka yang tidak terlalu manis."

"Pagi, Arlo. Wah, makasih ya. Kamu penyelamatku pagi ini," jawab Takara sambil menerima kopi itu. Aroma kafein yang kuat seketika membangkitkan energinya yang sempat redup karena kurang tidur.

Arlo menyesap kopinya sejenak sebelum menatap Takara dengan binar antusias. "Besok weekend, jadi kan kita keliling buat jalan? Kamu belum lupa janji kita, kan?"

Takara teringat kembali bagaimana lelahnya ia saat mengantre di stadion kemarin, dan betapa ia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari rasa melankolis tentang Jake. Jalan-jalan santai dengan Arlo terdengar seperti rencana yang sempurna untuk menyegarkan diri.

"Jadi dong, ayo! Aku mau ke Sungai Han," ajak Takara. "Aku sering liat di drama, katanya kalau malam di sana bagus banget buat jalan santai sambil makan ramen."

"Oke! Let's go! Aku bakal siapin rute terbaik biar kita nggak cuma dapet pemandangannya, tapi juga makanan enaknya," seru Arlo penuh semangat.

Setelah perbincangan ringan itu, suasana mendadak berubah menjadi serius. Keduanya segera berjalan menuju area di mana fondasi utama gedung agensi sedang dikerjakan. Ini adalah bagian paling krusial dari desain Takara: struktur yang harus menopang beban berat namun tetap terlihat ringan secara estetika.

"Takara, lihat bagian ini," Arlo menunjuk pada rangkaian besi tulangan yang sedang disusun oleh para tukang. "Aku sudah minta mereka menambah pengait di sisi kiri. Dengan zona tanah seperti ini, kita butuh kestabilan ekstra untuk jembatan kayu yang kamu rancang di atas nanti."

Takara memperhatikan dengan cermat, membandingkan apa yang ia lihat dengan blueprint di tangannya. "Setuju. Tapi pastikan penambahannya tidak memakan ruang untuk instalasi pipa air kolam. Aku nggak mau estetikanya terganggu karena ada pipa yang menyembul keluar."

Mereka berdua berjalan di antara tumpukan material, mengawasi setiap pergerakan tukang dengan mata yang sangat teliti. Di lapangan, mereka adalah tim yang tak terhentikan. Ketajaman arsitektur Takara bertemu dengan ketelitian teknik sipil Arlo, menciptakan sebuah sinergi yang membuat para pekerja di sana segan sekaligus kagum.

Sepanjang hari itu, Takara benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya. Ia hampir lupa mengecek ponselnya, meninggalkan pesan-pesan dari Jake yang mungkin masuk tanpa sempat ia baca. Baginya, mengerjakan proyek ini adalah caranya menunjukkan cinta pada dunia yang Jake tinggali, meski ia sendiri tidak bisa selalu berada di sisi pria itu.

———

Udara sore di sekitar Sungai Han terasa sejuk, membawa aroma air dan kebebasan yang sudah lama tidak Takara rasakan. Sinar matahari yang mulai meredup memberikan semburat warna oranye di langit Seoul, menciptakan pantulan indah di permukaan sungai yang tenang.

Takara hari ini hanya mengenakan cardigan rajut berwarna krem, celana jeans longgar, dan sepatu kets putih. Rambutnya dibiarkan tergerai alami, hanya sedikit dipoles riasan tipis yang membuat wajahnya terlihat lebih cerah dan segar.

Arlo, yang sudah menunggu di depan pintu unitnya, sempat terpaku selama beberapa detik. Ia terbiasa melihat Takara dengan helm proyek, rompi oranye, dan wajah serius yang tertutup debu konstruksi. Melihat Takara yang sekarang yang terlihat sangat manis dan santai membuat jantung Arlo berdegup sedikit lebih kencang.

"Ayo! Aku udah nggak sabar!" pekik Takara senang, memecah lamunan Arlo.

Setelah memarkir mobil, mereka mulai berjalan menyusuri trotoar luas di pinggir sungai. Banyak orang yang sedang bersepeda, piknik dengan tenda kecil, atau sekadar membawa anjing mereka berjalan-jalan.

"Udah lama banget nggak jalan begini," kata Takara sambil merentangkan tangannya, menghirup udara dalam-dalam. Di Brisbane, ia sering melakukannya, tapi di Seoul, ini adalah momen pertamanya benar-benar menikmati kota tanpa rasa terburu-buru.

"Sekarang kamu bisa sering jalan-jalan," jawab Arlo sambil menyesuaikan langkah kakinya dengan Takara. "Selama proyek ini jalan, aku siap jadi pemandumu setiap akhir pekan kalau kamu mau."

Takara menoleh dan tersenyum lebar. "Pekerjaan ini menyenangkan bagiku, apalagi dilakukan berbarengan dengan jalan-jalan. Rasanya beban di pundakku langsung hilang kalau liat air seluas ini."

Mereka sampai di area dekat jembatan Banpo. Arlo mengajak Takara duduk di tangga semen yang menghadap langsung ke sungai. Ia kemudian pergi sebentar dan kembali dengan dua cup ramen instan yang masih mengepul panas dari minimarket terdekat.

"Ini dia, menu wajib Sungai Han," kata Arlo sambil memberikan sumpit pada Takara.

"Wah, makasih Arlo! Kamu tau aja aku lagi laper," seru Takara antusias.

Sambil menyeruput ramen, mereka mengobrol tentang banyak hal, mulai dari impian masa kecil mereka hingga hal-hal konyol yang terjadi di kantor Brisbane dulu. Arlo adalah pendengar yang sangat baik. Ia tidak pernah memotong pembicaraan Takara dan selalu menanggapi dengan tulus.

Namun, di tengah tawa mereka, perhatian Takara teralih pada sebuah layar besar di seberang jalan yang menampilkan iklan teaser konser grup Jake. Wajah Jake muncul di sana, terlihat sangat karismatik dan tak tersentuh.

Takara terdiam sejenak. Ia merasa bersalah karena sedari tadi ia benar-benar melupakan ponselnya dan melupakan Jake.

Tepat saat itu, ponsel di saku Takara bergetar. Sebuah panggilan masuk.

📲 Jake Calling...

Takara melihat layar ponselnya, lalu melirik Arlo yang sedang menatapnya dengan rasa ingin tahu. Arlo bisa melihat nama yang tertera di layar itu.

Arlo tertegun, matanya membelalak menatap layar ponsel Takara yang masih menyala, menampilkan nama yang sangat dikenal di seluruh penjuru Korea. Ia menatap Takara dengan ekspresi tidak percaya, lalu beralih menatap layar besar di seberang sungai yang baru saja menampilkan wajah Jake.

"Jangan bilang itu Jake... ENHYPEN?" Tanya Arlo dengan nada penasaran yang kental. "Maksudku, sering banget kamu dapet telepon dari nama Jake, tapi aku nggak pernah nyangka kalau itu dia."

Takara menghela napas panjang. Ia tahu tidak ada gunanya berbohong pada orang yang setiap hari bekerja dan tinggal di sebelah unitnya. Cepat atau lambat, Arlo pasti akan menyadarinya.

"Hm... aku percaya padamu," ucap Takara sambil menatap Arlo dalam-dalam, mencoba mencari kesungguhan di mata pria itu. "Jake itu adalah teman sejak aku kecil di Brisbane. Kami tumbuh besar bareng sebelum dia ikut audisi dan pindah ke sini. Tolong... tolong banget rahasiakan ini dari siapapun."

Arlo tampak berusaha memproses informasi tersebut. Ia menyandarkan punggungnya, menatap aliran air Sungai Han yang mulai gelap. "Wow. Pantesan... Pantesan kamu kelihatan tertekan banget setiap dapet telepon dari dia di kantor. Ternyata sahabatmu itu orang paling dicari satu negara."

Arlo kemudian tersenyum tipis, meski ada sedikit ganjalan di hatinya. "Rahasiamu aman bersamaku, Takara. Aku nggak punya alasan buat ngerusak karir temenmu atau bikin posisi kamu di sini susah."

"Makasih, Arlo. Kamu nggak tahu betapa berartinya itu buat aku," jawab Takara lega.

Ia akhirnya memutuskan untuk tidak mengangkat telepon itu dulu. Ia hanya mengirimkan pesan singkat: 'Lagi di luar, nanti aku telepon balik.'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!