Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Panggil Aku Bryan
Andrew Piston kembali akan mendatangi Queen di kediaman Bryan. Pria itu sebenarnya heran, kenapa Queen tinggal di sana. Kemarin dia tidak sempat bertanya dan hanya menerka saja, kenapa adik dari Blake justru tinggal di rumah orang lain. Dia juga belum sempat bertanya pada Blake langsung karena dia memang terlalu sibuk.
Andrew sudah mengirim pesan pada Queen. Wanita itu saat ini sedang sarapan dengan Bryan. Melihat Queen terus mengirim pesan, Bryan mengerutkan alisnya tidak senang.
"Habiskan sarapanmu dulu, jangan main ponsel saat makan."
Queen meletakkan ponselnya dan menatap Bryan sambil tersenyum. "Tuan Bryan, pengacaraku Andrew akan datang ke sini lagi."
Bryan mengeratkan pegangannya pada garpu dan pisaunya. Namun, ekspresinya terlihat begitu tenang.
"Itu bagus. Kebetulan sekali aku memiliki waktu senggang."
Queen mengangkat sebelah alisnya dan ekspresi wajahnya berubah usil. "Dia datang untuk menemuiku, memang apa hubungannya denganmu?"
"Aku tuan rumah, tentu tidak sopan jika tidak menyambutnya. Lagipula bisa bertemu teman lama, itu suatu hal yang baik."
"Ku dengar dulu kamu dan dia berebut wanita. Aku jadi penasaran, wanita seperti apa yang membuat kalian para lelaki memperebutkannya?"
Bryan tersenyum, dia meletakkan pisau dan garpunya lalu mengusap bibirnya dengan tisue. Dia berdiri dengan perlahan. Sejak tadi matanya tidak lepas dari Queen. Melihat ekspresi Bryan, entah mengapa Queen merasa jantungnya mulai berdebar keras.
Bryan berdiri di depan Queen. Queen tiba-tiba menjadi gugup.
"Ke_kenapa melihatku begitu."
Bryan hanya diam, dia semakin lekat menatap Queen. Queen jadi tidak berselera untuk melanjutkan makannya. Bryan bersandar di meja. Melihat Queen salah tingkah, dia tersenyum.
"Kamu salah. Pertama, aku tidak pernah berebut wanita dengan siapapun. Bagiku, jika aku menginginkan seorang wanita aku pasti akan mendapatkannya. Aku tidak akan berebut. Aku akan menyingkirkan penghalang ku. Kedua, dulu aku benci pada perempuan, tapi sejak ada kamu, tidak lagi."
Queen seketika mengangkat wajahnya, menatap Bryan dengan ekspresi tak percaya. Melihat wajah terkejutnya yang lucu, Bryan menyipitkan matanya.
"Aku sudah kenyang." Queen berdiri hendak menghindari Bryan. Namun, Bryan tidak akan membiarkan Queen pergi kali ini. Dia menarik tangan wanita itu dan menahan pinggangnya.
"Tuan Bryan, jangan gila."
"Panggil aku Bryan, seperti kamu memanggil Andrew."
"Tuan Bryan, aku ini masih berstatus istri orang. Apakah kelakuanmu ini pantas? Kamu tidak sedang melecehkanku, kan?"
Bryan menelan ludahnya melihat Queen berbicara. Rasanya dia ingin melumat bibir yang terus berbicara itu, tetapi akal sehatnya masih berfungsi. Bryan melepaskan tangannya dari pinggang Queen.
"Untuk sekarang aku akan melepaskanmu."
Tapi tidak untuk nanti setelah kamu mengurus perceraianmu. Sambung Bryan dalam hati.
Queen segera pergi meninggalkan Bryan. Lagi dan lagi degup jantungnya menggila karena ulah pria itu. Dia tidak tahu apakah itu karena dia menyukai Bryan, atau karena ada faktor lain. Yang jelas, saat menghadapi Bryan, Queen tidak bisa marah.
Queen jadi teringat di kehidupan masa lalunya saat pertama kali dia melihat Bryan. Pria itu tampak kurus dan wajahnya terlihat sangat berantakan, janggutnya penuh dengan jenggot.
Saat dia melihat Sofia di dalam stroller, ekspresi pertama yang muncul di wajah Bryan adalah tercengang, dia menatap Sofia cukup lama, lalu dia berkata, "Bayimu cantik sekali."
Mendengar ucapan Bryan, Queen tersenyum, "Terima kasih. Dia memang cantik."
"Bolehkah aku menyentuhnya?"
"Tentu saja, Boleh."
Bryan menunduk ingin menyentuh Sofia. Namun, karena wajahnya penuh brewok, mungkin itu membuat Sofia takut dan akhirnya menangis.
Tangan Bryan membeku di udara. Dia belum sempat menyentuh bayi itu, "Kenapa dia menangis? Aku bahkan belum menyentuhnya."
"Mungkin dia takut melihat jambangmu."
Bryan tersenyum, "Maafkan aku sudah menakuti putrimu."
"Tidak apa-apa."
Lalu hari berikutnya Bryan datang lagi, kali ini wajahnya terlihat lebih rapi meski masih ada sedikit jambang di sekitar dagunya. Sofia tidak menangis. Dia tertawa sambil mengulurkan tangannya ke wajah Bryan.
Saat itu Queen tidak terlalu memperhatikan Bryan karena dia sudah memiliki Xavier di dalam hatinya. Dia hanya merasa pria di hadapannya ini tidak begitu berbahaya. Jadi Queen bersikap biasa saja padanya.
Akan tetapi, siapa sangka, setelah dia hidup kembali, dia justru dipertemukan dengan Bryan dalam keadaan sekarang.
Queen segera mengusir pikiran anehnya. Dia bersiap siap untuk menemui Andrew.
Andrew datang ke kediaman Lewis dengan ekspresi tenang seperti biasa. Saat dia melihat Bryan ada di rumah di jam kerja, alisnya berkerut dalam.
"Kamu tidak bekerja?"
"Perusahaan itu milikku. Jadi aku bebas datang dan pergi kapan pun aku mau."
"Sombong sekali, seperti biasanya."
Queen turun dan menatap mereka sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak bosankah kalian setiap bertemu selalu berdebat?"
Queen terlihat cantik dengan rambut tergerai. Dia memakai atasan tanpa lengan berwarna coklat dan celana panjang berwarna senada.
Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Andrew mengeluarkan berkas yang sudah dia kumpulkan dan bertanya pada Queen, tentang langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya.
Queen membaca berkas yang disusun oleh Andrew dan merasa puas. Villa miliknya juga telah terjual dengan harga yang lumayan tinggi, semua berkat bantuan dari Blake, Bryan dan Andrew, rencana Queen untuk berpisah dengan Xavier tinggal menunggu harinya.
"Soal Villa itu ...."
"Kakakku sedang mengurusnya. Dia perlu ke kantor polisi untuk mengkonfirmasi masalah ini karena kasus pencurian yang menimpaku beberapa waktu yang lalu."
"Aku turut bersedih atas kejadian yang menimpamu, Queen."
Queen hanya mengangguk dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Yang terpenting aku dan putriku selamat."
Bryan melirik Queen, dia yang tahu kejadian sebenarnya hanya merasa kagum dengan akting wanita itu. Kelak jika dia berhasil menikahi Queen, maka dia harus lebih berhati-hati dalam menghadapinya. Jangan sampai dia bernasib sama seperti Xavier.
"Soal perceraian ini, apakah saya sudah bisa mengajukannya ke pengadilan?"
"Jangan, tahan dulu. Aku perlu menemukan momennya."
Queen tidak ingin terburu-buru. Dia ingin hasilnya benar-benar memuaskan. Mia jatuh dan Xavier hancur. Dia ingin kedua orang itu menderita sampai mereka merasa tidak layak untuk hidup.
Setelah Andrew berpamitan, ponsel Bryan menyala. Itu panggilan dari Ethan. Pria itu pun segera mengangkat panggilan dari asistennya.
"Tuan, ini gawat. Seseorang sedang mencoba meretas keamanan perusahaan kita. Tim IT kita sedang berupaya untuk menghentikannya, tetapi lawannya terlalu kuat. Bagaimana ini, Tuan?"
"Bagaimana bisa diretas? Sudah lama sekali hal ini tidak terjadi. Aku akan segera ke sana. Tunggu."
Bryan segera memasukkan ponselnya ke saku. Queen mendengar percakapan Bryan dan Ethan karena memang suasana ruangan itu yang cukup sepi, sehingga suara Ethan masih bisa terdengar olehnya.
"Ada masalah di perusahaan, aku harus segera menanganinya."
Queen terlihat ragu untuk bicara, tetapi mengingat kebaikan Bryan di masa lalu, dia pun akhirnya bicara. "Bisakah aku ikut. Aku mungkin bisa sedikit membantumu."
"Baiklah, ayo."
Bryan tidak tahu mengapa dia bisa begitu saja percaya pada Queen. Hanya saja, dia memang tidak meragukan Queen. Ketika dia berhadapan dengan Queen, dia bisa merasakan kepercayaan diri wanita itu cukup tinggi.
Visual Queen dan Bryan