Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diambang Pernikahan
Tahun 2012 menjadi babak baru dalam hidupku. Malam sebelum hari besar itu tiba, aku memutuskan untuk bersimpuh di atas sajadah, melaksanakan salat dan mengadu kepada Allah. Dalam doa, aku memohon agar Ia meyakinkan hati serta perasaanku.
Sejujurnya, aku masih merasa asing. Perkenalanku dengannya belum berlangsung lama, namun restu kedua orang tuaku sudah bulat untuk pernikahan ini. Aku tak ingin menyalahkan siapa pun atas keputusan ini, lagipula aku sendiri sudah mengiyakan dan setuju untuk melangkah bersamanya.
Oh iya, kita belum berkenalan dengan baik, ya? Namaku Yani Dewi Astuti. Aku tumbuh di tengah keluarga dengan tiga bersaudara yang memiliki kepribadian cukup unik.
Yadi Pratama (Kakak Pertama)
Mas Yadi adalah sosok yang keras kepala dan terkadang sulit sekali dinasihati. Nada bicaranya sering kali terdengar ketus, namun di balik itu semua, ia adalah kakak yang sangat baik. Meskipun terlihat galak, sebenarnya dia orang yang sangat penyayang kepada adik-adiknya.
Sutiya Ningsih (Adik Bungsu)
Tiya adalah anak ketiga di keluarga kami. Sifatnya khas anak bungsu: suka ngeyel dan manja. Ia adalah kesayangan Mamak; kalau minta uang, pasti langsung dikasih. Tiya sangat cerdas dan pandai berbicara, namun hatinya sangat sensitif. Jika bicara dengannya, kita harus pelan-pelan. Nada suara yang tinggi sedikit saja sudah membuatnya merasa dibentak, dan dia sangat gampang tersinggung.
Sosok Orang Tua Kami
Ibuku, Mamak Suheni, adalah wanita pendiam yang luar biasa sabar. Ia tak pernah membalas meski tetangga membicarakan hal buruk tentangnya; sikapnya lebih ke masa bodoh. Mamak sangat perhatian dan ringan tangan dalam memberi, meski terkadang pendapatan kami hanya pas-pasan. Beliau adalah pahlawan yang sabar menghadapi kami bertiga yang tergolong anak-anak bandel dan super aktif.
Sedangkan ayahku, Bapak Salman, memiliki kepribadian yang cukup keras dan sangat hemat. Kadang Bapak hanya memberi uang belanja harian kepada Mamak sekitar 20 sampai 30 ribu rupiah saja. Namun, Mamak menerima itu tanpa komplain. Mungkin ada alasan di balik itu semua—mungkin penghasilan Bapak memang terbatas karena harus membagi anggaran untuk listrik, beras, dan kebutuhan mendesak lainnya yang tidak kami ketahui.
Lanjut...Detik-Detik Menuju Sah
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Saat duduk di depan cermin untuk dirias, tiba-tiba rasa gugup yang luar biasa menyerangku. Tubuhku bergetar hebat, namun aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya agar sang perias bisa menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Begitu riasan selesai, aku melihat sosok diriku yang berbeda di cermin, namun debar jantungku masih tak menentu.
Suara dari ruang depan mulai terdengar memanggilku agar segera bergegas. Pak Penghulu telah tiba. Di depan dekorasi pengantin yang sudah tertata rapi, sebuah meja hias telah siap menjadi saksi bisu janji suci kami.
Aku melangkah perlahan menuju tempat prosesi. Di sana, Bapak dan calon suamiku sudah menunggu. Kami pun duduk bersiap. Saat kulihat tangan calon suamiku menjabat tangan Bapak di depan Pak Penghulu, suasana seketika menjadi hening dan sakral. Rasanya semua orang sudah bersiap untuk menyaksikan saat-saat kami dihalalkan.
Rasa deg-degan itu semakin memuncak. Telapak tanganku basah oleh keringat dingin. Tisu yang sedari tadi kugenggam erat untuk menyeka keringat kini sudah berubah bentuk menjadi lembek dan kucel karena saking kuatnya aku meremasnya.
Hingga akhirnya, suara lantang Ijab Qobul menggema. Begitu nama lengkapku diucapkan dengan satu tarikan napas oleh mempelai pria, seluruh saksi dan tamu undangan berteriak serentak, "SAH! SAH! SAH!"
Pak Penghulu menutupnya dengan ucapan hamdalah yang menyejukkan. Seketika, beban di pundakku terasa terangkat. Detik itu juga, statusku telah berubah. Aku bukan lagi seorang gadis perawan, melainkan telah resmi menyandang gelar sebagai seorang istri.
Tradisi dan Pertemuan Keluarga
Jam baru menunjukkan pukul 08.09 pagi. Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum acara ngunduh mantu dimulai pada pukul sembilan. Bapak memintaku untuk membawa suamiku berkeliling menemui keluarga besar, mulai dari kakek dan nenek dari pihak Bapak maupun Mamak. Tujuannya agar suamiku mengenal lebih dekat siapa saja keluarga besar yang kini juga menjadi keluarganya. Sebagai anak yang patuh, aku pun mengikuti saran Bapak dan Mamak.
Sebelum rentetan acara dimulai, kami menyempatkan diri untuk makan terlebih dahulu agar staminaku kembali segar. Namun, di keluarga kami ada sebuah tradisi Jawa yang harus dijalani, yaitu sungkeman kepada kakak pertama karena aku melangkahinya untuk menikah lebih dulu.
Kami memberikan tumpeng yang dilengkapi dengan satu ekor ayam betina—sebuah simbol doa dan harapan agar sang kakak segera mendapatkan jodohnya. Adat istiadat di setiap kampung memang berbeda-beda, dan beginilah cara kami menghormati saudara tua. Setelah prosesi sungkeman yang penuh khidmat selama lima menit itu selesai, barulah aku dan suamiku bisa menikmati makan berdua di dalam kamar.
Selesai makan, kami bersiap untuk berjalan beriringan menuju depan rumah guna menemui para tamu yang mulai berdatangan. Sebenarnya, aku sempat ingin berganti pakaian agar lebih nyaman, namun orang-orang di rumah melarangku. Aku tidak tahu pasti apa alasan di balik larangan itu, mungkin ada kepercayaan tertentu yang masih dipegang teguh.
Namun, sebelum benar-benar duduk di pelaminan, aku menyempatkan diri menemui teman-teman akrabku di sebelah rumah. Mereka sudah heboh memintaku berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Setelah meladeni permintaan mereka, barulah aku bersiap mengganti pakaianku dengan gaun pengantin yang akan dikenakan untuk acara utama.
****
Resepsi Sederhana dan Canda Tawa Sahabat
Acara pernikahan kami digelar dengan sangat sederhana. Tidak ada kemewahan yang berlebihan, sehingga kami tidak perlu mengeluarkan biaya yang terlalu mahal. Bagiku, kesederhanaan ini justru terasa lebih khidmat.
Namun, ada satu hal yang cukup menguji kesabaran. Setelah rangkaian acara inti selesai, aku sebenarnya sudah ingin sekali berganti pakaian. Tapi orang tua dari pihak Mamak melarangnya. Beliau bilang, pengantin baru harus tetap duduk di depan menunggu tamu sampai malam. Katanya, pantang bagi pengantin untuk ganti baju sebelum matahari terbenam.
Duh, itu mitos atau bukan ya, Gaes? Tapi ya sudahlah, namanya juga orang tua, aku iyakan saja daripada jadi perdebatan.
Kalau boleh jujur, aku lelah sekali. Sudah dua hari aku tidak tidur nyenyak, dan hari ini aku harus bertahan sampai malam dengan pakaian pengantin yang berat. Awalnya aku masih bisa melempar senyum manis kepada setiap tamu yang datang, tapi lama-kelamaan, badan ini rasanya pegal juga, Cuy!
Tamu undangan semakin sore justru semakin banyak. Aliran orang yang hadir di acara resepsi seolah tak ada putusnya. Di tengah rasa lelah itu, tiba-tiba mataku berbinar melihat rombongan yang sangat kukenal. Teman-teman baikku datang! Padahal sebelumnya aku sempat mengira mereka tidak bisa hadir.
"Hai! Ya ampun... aku pikir kalian nggak bakal datang lho!" seruku senang sambil menyalami mereka satu per satu.
Rombongan itu berjumlah tujuh orang; empat perempuan dan tiga laki-laki. Suamiku pun ikut tersenyum dan menyalami teman-temanku dengan ramah.
"Ya kali kami nggak ke sini? Ya nggak, Temen-temen?" sahut Dona yang langsung disambut anggukan kompak dari yang lain.
"Hu-um! Masa teman sendiri nikah kita absen. Bisa rugi dong nggak makan kue cucurnya, hahaha!" celetuk Febriyan dengan wajah tanpa dosa.
"Cuy! Yang ada di pikiran lu cuma makanan aja!" gerutu Desti sambil mendaratkan geplakan ringan di kepala belakang Febriyan.
Seketika tawa kami semua pecah. Aku sampai tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah mereka yang tidak berubah meski aku sudah jadi pengantin.
"Sudah ah, biarin saja kenapa sih?" belaku sambil tertawa kecil menimpali Desti.
"Tuh, dengar! Yang punya rumah saja nggak masalah, kenapa kamu yang sewot?" ejek Febriyan balik ke arah Desti dengan muka tanpa dosa.
Kami pun larut dalam obrolan seru. Sesekali kami bicara serius, namun ujung-ujungnya selalu kembali ke candaan. Di tengah keriuhan itu, Ita menyenggol lenganku sambil melirik ke arah suamiku yang sedang berbincang dengan tetangga desa sebelah.
"Eh Yan, gimana rasanya punya suami?" tanya Ita dengan nada penuh selidik.
"Aih, kamu kenapa sih kepo amat? Mereka kan baru sah, belum juga unboxing," tegur Gery spontan.
Wajahku terasa panas. Aku pura-pura tidak mendengar ucapan mereka yang mulai melantur. "Ah, kalian ini ngomong apa sih?" ucapku sambil memalingkan muka.
"Alah, si Yani pura-pura budek tuh, Gaes!" gerutu Jesika yang menyadari tingkah maluku.
"Halah, nggak usah didengar kata Jesika sama Gery. Mereka kayak nggak pernah muda aja," timpal Riyan menengahi. "Sudah yuk, buruan makan. Habis ini kita harus gantian ke desa sebelah, waktu kita mepet nih."
Aku mengernyitkan dahi. "Desa sebelah? Emang ada yang nikahan juga?" tanyaku yang benar-benar tidak tahu kabar terbaru.
"Iya, kan si Unyil nikah hari ini juga! Masa kamu nggak tahu?" timpal Ita, yang langsung diiyakan oleh Ayue.
"Aku beneran nggak tahu, sumpah!" jawabku jujur.
"Gimana dia mau tahu, Gaes? Wong undangannya ada di tangan gue. Lagian Yani kan lagi sibuk urus nikahannya sendiri, makanya sengaja nggak aku kasih tahu dulu," papar Febriyan memberikan penjelasan.
"Oh, pantesan. Ya sudah, lanjut dulu makannya ya," ucapku pamit sebentar untuk menemui saudara-saudara jauh yang baru datang.
Tak terasa hari semakin gelap. Satu per satu teman-temanku mulai berpamitan. Acara terus berlanjut hingga tamu terakhir benar-benar pulang sekitar pukul 12 malam. Tubuhku rasanya sudah tidak sanggup lagi berdiri tegak.
"Pak, Mamak... kami masuk dulu ya? Aku sudah capek, lelah sekali rasanya," rengekku pada kedua orang tuaku.
"Iya, sudah sana istirahat. Jangan lupa kebayanya dilepas pelan-pelan dan disendirikan, ya. Besok harus dikembalikan ke MUA," ucap Mamak mengingatkan. Aku hanya mengangguk lemas.
Aku melirik suamiku, memberikan kode lewat mata agar kami segera masuk ke kamar. Aku sudah tidak sabar ingin membersihkan badan karena rasanya lengket dan gerah sekali setelah seharian memakai riasan tebal dan kebaya ketat.
Sesampainya di kamar, kami pun bersih-bersih diri seadanya agar bisa tidur dengan nyaman. Jangan bayangkan ada adegan 'malam pertama' yang romantis malam ini. Karena saking lelahnya, begitu kepala menyentuh bantal, kami berdua langsung jatuh terlelap tanpa sempat mengucap sepatah kata pun.
....
Bersambung..
Ma'af ya temen-temen. Untuk ceritanya masih amburadul, Nanti mungkin akan aku perbaiki lagi, 1 persatu, Cuman nunggu ceritanya nanti tuntas dulu ya. Baru akan ditamat kan terimakasih atas pengertiannya.