NovelToon NovelToon
Perfect Lies

Perfect Lies

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / Pengganti / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."

Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."

Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang panjang

Malam itu, atmosfer di dalam kamar mansion terasa berkali-kali lipat lebih pekat dari biasanya. Udara musim semi yang dingin di luar sana seolah tak mampu menembus suhu panas yang mulai merayapi kulit mereka berdua. Status tunangan yang kini mereka sandang seolah meruntuhkan tembok terakhir yang selama ini menjaga batas-batas fisik mereka.

Atlas memeluk Kaylee dari belakang saat mereka sudah berbaring di atas ranjang king-size yang luas. Namun, suasana yang biasanya hanya berisi pelukan hangat untuk pengantar tidur, kini terasa sangat berbeda. Kaylee membeku saat merasakan sesuatu yang keras dan menegang menekan bagian belakang tubuhnya. Sebagai wanita dewasa, Kaylee tahu persis apa itu.

Jantung Kaylee berdegup kencang, suaranya seperti tabuhan genderang yang menggema di telinganya sendiri.

Atlas tidak lagi menahan dirinya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Kaylee, menghirup aroma vanila yang memabukkan itu dengan napas yang memburu. Bibirnya mulai menjelajah, memberikan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil yang meninggalkan jejak kemerahan, sebuah tanda kepemilikan yang nyata.

"Ay..." suara Atlas terdengar sangat serak, bergetar karena gairah yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun di balik topeng sahabat.

Tangannya yang kokoh mulai merayap dari pinggang Kaylee, masuk ke balik kaus tipis yang gadis itu kenakan. Sentuhan kulit ke kulit itu membuat Kaylee merinding hebat. Atlas membalikkan tubuh Kaylee secara perlahan hingga mereka kini saling berhadapan, dengan posisi Atlas yang mengunci tubuh mungilnya.

"Apa boleh nyicil, Ay?" bisik Atlas tepat di depan bibir Kaylee, matanya yang biasanya tajam kini tampak sayu dan penuh damba. "Aku benar-benar menginginkanmu... seutuhnya. Aku nggak tahu apa aku bisa nunggu sampai hari pernikahan kita tiba."

Kaylee menatap mata Atlas, melihat kejujuran dan rasa haus akan cinta di sana. Tidak ada lagi keraguan. Hubungan ini sudah sah secara hati dan keluarga, hanya tinggal menunggu janji suci di altar.

Kaylee menarik tengkuk Atlas, mendekatkan wajah pria itu ke wajahnya sendiri, lalu mengangguk pelan sebagai tanda setuju. "Iya, Atlas... aku milikmu."

Mendengar itu, pertahanan Atlas runtuh sepenuhnya. Ia menyambar bibir Kaylee dengan ciuman yang jauh lebih menuntut dan panas dari sebelumnya. Malam itu, di bawah remang lampu kamar, mereka akhirnya melintasi garis batas terakhir. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi jarak. Hanya ada dua jiwa yang selama dua puluh tahun saling mencari, dan kini akhirnya menyatu dalam kehangatan yang tak terlupakan.

Malam itu menjadi saksi bisu bagaimana dinding pertahanan yang dibangun selama dua puluh tahun runtuh sepenuhnya. Di bawah temaram lampu kamar yang redup, Atlas mencintai Kaylee dengan seluruh emosi yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Setiap sentuhannya adalah perpaduan antara kelembutan seorang sahabat dan gairah posesif seorang pria yang akhirnya mendapatkan dunianya.

Ciuman mereka yang awalnya manis berubah menjadi tuntutan yang panas. Atlas menjelajahi setiap inci tubuh Kaylee seolah ingin menghafal setiap lekuknya, menandai wilayahnya dengan kecupan-kecupan yang meninggalkan jejak kemerahan di leher dan bahu gadis itu. Kaylee hanya bisa mendesah pasrah, jari-jarinya meremas rambut Atlas, menarik pria itu semakin dekat, menyatu dalam ritme yang hanya dipahami oleh mereka berdua.

Atlas benar-benar kehilangan kendali. Baginya, satu kali tidak akan pernah cukup untuk membayar tahun-tahun yang ia habiskan hanya dengan membayangkan momen ini. Mereka terhanyut dalam lautan gairah yang seolah tidak memiliki tepi, hingga detak jantung mereka beradu dalam frekuensi yang sama.

Sinar matahari musim semi mulai menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari kamar yang kini berantakan dengan pakaian yang berserakan di lantai. Atlas terjaga lebih dulu, namun ia sama sekali tidak berniat beranjak. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memperhatikan wajah tenang Kaylee yang masih terlelap dalam pelukannya.

Kulit Kaylee yang seputih porselen kini tampak dihiasi bercak merah karya Atlas semalam. Alih-alih merasa bersalah, Atlas justru tersenyum puas. Ia menarik selimut lebih tinggi, lalu kembali menyusupkan wajahnya di leher Kaylee, memberikan kecupan-kecupan kecil yang akhirnya membuat gadis itu melenguh pelan.

"Eungh... Atlas, berhenti... geli," gumam Kaylee dengan suara serak, matanya masih terpejam erat.

"Bangun, Ay," bisik Atlas, suaranya terdengar sangat rendah dan menggoda di telinga Kaylee. "Ini sudah pagi."

Kaylee membuka matanya sedikit, melihat wajah tampan Atlas yang tampak begitu segar meski mereka hampir tidak tidur semalaman. "Jam berapa? Kita ada kelas jam sembilan, kan?"

Atlas justru mengeratkan pelukannya di pinggang Kaylee, menarik tubuh polos gadis itu agar semakin menempel padanya. "Bolos aja ya? Gue nggak rela bagi-bagi lo sama dunia luar hari ini. Gue masih merasa nggak cukup, Kay."

Kaylee membelalakkan matanya, merasakan sesuatu kembali menegang di balik selimut. "At! Lo beneran gila ya? Kita baru saja... semalaman!"

"Gue emang gila karena lo," balas Atlas tanpa rasa bersalah. Ia mulai menciumi bahu Kaylee lagi, tangannya mulai bergerilya di bawah selimut. "Enam bulan kita cuma kecupan bibir, dua puluh tahun kita cuma pelukan. Jadi jangan harap gue bakal ngelepasin lo cuma buat kuliah arsitektur yang ngebosenin itu."

Kaylee tertawa kecil, meskipun tubuhnya terasa lelah, ia tidak bisa menolak binar cinta di mata Atlas. Ia menyerah, membiarkan Atlas kembali membawanya ke dalam pusaran gairah pagi itu. Di kamar itu, waktu seolah berhenti, dan bagi Atlas, satu seumur hidup pun rasanya tetap tidak akan cukup untuk mencintai Kaylee.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 😍😍

1
kalea rizuky
uda end kahh
kalea rizuky
bagus np sepi like
kalea rizuky
baguss
kalea rizuky
berarti uda nganu belom kok Bianca gini
kalea rizuky
mending pergi jauh lah ngapain masih di situ
kalea rizuky
dih kucing di kasih ikan jelas di embat laki. kayak gini g ccok di jadiin suami
Desti31
Izin mampir Thor😍🙏
Ridwani
👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!