Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian di Atas Meja Makan
Malam ini, suasana ruang makan masih saja sama. Sunyi yang menjengkelkan. Lampu kristal di atas mereka memang berpijar mewah, tapi bagi Arini, cahayanya terasa seperti lampu operasi—putih, dingin, dan seolah sedang menelanjangi luka di hatinya. Tidak ada obrolan. Hanya ada bunyi denting sendok yang beradu dengan piring, sebuah irama monoton yang membuat Arini merasa sedang menghitung mundur sisa kesabarannya. Di ruangan seluas ini, dia merasa seperti pajangan yang salah tempat. Ada, tapi tidak dianggap.
Aris tetap seperti biasanya: punggung tegap, tatapan lurus ke piring, dan ekspresi sedatar dinding beton. Bagi suaminya itu, Arini mungkin hanya salah satu perabot rumah yang kebetulan bisa bergerak. Pernikahan ini memang tidak dimulai dengan bunga atau janji suci yang mengharukan. Tidak ada debar di dada. Yang ada hanyalah map cokelat di kantor pengacara—sebuah kontrak yang menukar kebebasan Arini dengan pelunasan hutang ayahnya.
Arini menarik napas dalam, mencoba mengusir sesak yang mulai mencekik kerongkongannya. Ia menatap tangan Aris yang kokoh, lalu memberanikan diri menatap wajah pria yang secara hukum adalah suaminya itu.
"Mas, sampai kapan kita mau seperti ini?" Suara Arini lirih, hampir pecah tertelan sunyi.
Gerakan tangan Aris berhenti. Ia menaruh garpunya pelan, jenis gerakan yang terlalu tenang hingga justru terasa mengancam. Saat ia mendongak, matanya yang tajam menatap Arini tanpa sedikit pun binar hangat.
"Seperti apa?" tanya Aris pendek. Suaranya rendah dan kering, seperti suara orang yang terganggu dari rutinitas pentingnya.
"Seperti orang asing yang terpaksa satu atap," jawab Arini. Kali ini ia tidak menunduk. "Sudah tiga bulan, Mas. Tapi aku merasa lebih mirip asisten rumah tangga yang kebetulan boleh duduk di mejamu. Apa sesulit itu untuk menganggapku sebagai istri? Atau... setidaknya sebagai manusia?"
Aris menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di depan dada. Tatapannya kini benar-benar mengintimidasi, seolah Arini sedang mengajukan protes yang konyol.
"Jangan naif, Arini. Kita sudah sepakat sejak di kantor pengacara," ucap Aris dingin. "Aku memberimu status, keamanan finansial untuk keluargamu, dan nama besar. Tugasmu sederhana: buat Ibuku tenang. Itu transaksi yang adil. Jangan mulai membawa-bawa perasaan ke meja makan, apalagi mengharapkan sesuatu yang tidak tertulis di kontrak. Kamu tahu posisimu di mana."
Kalimat itu terasa lebih tajam daripada pisau steak di depan Arini. Sangat rapi, tapi menyayat sampai ke dalam. Arini teringat wajah ayahnya yang memohon tiga bulan lalu. Demi martabat keluarga, ia rela menjual dirinya ke dalam penjara emas ini. Ia sempat berharap waktu akan meluluhkan es di hati Aris. Ternyata, ia salah besar.
"Aku nggak lupa kontrak itu, Mas. Aku ingat setiap hurufnya," suara Arini mulai bergetar meski ia sudah mengepalkan tangan di bawah meja sampai kukunya menusuk telapak tangan. "Tapi apa salah kalau aku minta kita jadi teman? Biar rumah ini nggak terasa seperti medan perang setiap kali kamu pulang. Apa keramahan itu juga harus masuk dalam daftar tagihan?"
Aris berdiri, merapikan setelan jasnya tanpa ekspresi. Ia menatap Arini sekali lagi—tatapan yang kosong, seolah ia sedang melihat sebuah masalah teknis yang enggan ia perbaiki.
"Teman? Arini, jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan harapan kosong. Hubungan yang dibangun di atas kebohongan nggak akan menghasilkan persahabatan tulus. Kita berdua ini egois, kita cuma mengambil apa yang kita butuhkan. Jalani saja peranmu di depan Ibu. Itu sudah lebih dari cukup. Jangan menuntut lebih kalau nggak mau kecewa."
Tanpa menunggu jawaban, Aris melangkah pergi. Langkah kakinya di atas tangga kayu terdengar seperti vonis mati. Arini ditinggalkan sendirian di meja makan yang luas itu, ditemani sisa makanan yang mendadak terasa sepahit empedu.
Arini menunduk, menatap cincin emas di jarinya. Berkilau, tapi terasa berat seperti borgol. Ia bangkit, mulai membereskan piring-piring kotor itu sendirian. Ia sengaja tidak memanggil pembantu; ia butuh rasa sakit fisik agar pikirannya tidak melantur ke mana-mana.
Saat tangannya menyentuh piring bekas suaminya, air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya jatuh. Satu tetes, tepat di atas porselen putih yang dingin. Di luar, hujan mulai turun, membasahi jendela dapur dengan aliran yang berantakan. Arini menatap kegelapan taman belakang, menyadari bahwa ia sedang terjebak dalam sandiwara yang melelahkan. Namun, jauh di sudut hatinya yang paling keras kepala, masih ada sisa harapan bahwa suatu hari nanti, Aris akan pulang kepadanya bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai tempat untuk singgah.
Meski ia tahu, untuk sampai ke sana, mungkin ia harus hancur terlebih dahulu.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.