Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian di Atas Meja Makan
Suasana ruang makan malam ini masih saja sama. Sunyi yang menjengkelkan. Di atas kepala mereka, lampu kristal itu memang berpijar mewah, namun bagi Kiki, cahayanya terasa sesejuk ruang operasi. Putih, dingin, dan seolah sengaja menguliti luka yang belum kering di hatinya. Tidak ada obrolan. Hanya ada bunyi denting sendok yang beradu pelan dengan piring, sebuah irama monoton yang membuat Kiki harus mencengkeram pinggiran taplak demi menahan sisa kesabarannya. Di ruangan seluas ini, ia merasa tak lebih dari sekadar pajangan yang salah tempat. Ada secara fisik, namun kasatmata dalam rasa.
Fikar tetap seperti biasanya. Punggungnya tegak kaku, tatapannya terpaku pada makanan, dengan ekspresi sedatar tembok di belakangnya. Bagi suaminya itu, Kiki mungkin hanyalah salah satu hiasan rumah yang kebetulan bernapas dan bisa bergerak. Pernikahan ini memang tidak dimulai dengan taburan bunga atau janji suci yang menggetarkan dada. Tidak ada kehangatan yang menjalar. Yang ada hanyalah map cokelat di kantor pengacara, sebuah kontrak dingin yang menukar kebebasan Kiki dengan pelunasan utang ayahnya.
Kiki menarik napas panjang, berusaha mengusir sesak yang mulai mencekik kerongkongannya. Ia sempat melirik tangan Fikar yang tampak kokoh saat memegang pisau, sebelum akhirnya memberanikan diri menatap wajah pria yang secara hukum adalah suaminya itu.
"Mas... sampai kapan kita mau seperti ini?" Suara Kiki lirih, nyaris pecah saat membelah kesunyian yang tebal.
Gerakan tangan Fikar terhenti seketika. Ia meletakkan garpunya pelan, jenis gerakan yang terlalu tenang namun justru terasa mengancam. Saat ia mendongak, matanya yang tajam menghujam Kiki tanpa menyisakan sedikit pun binar hangat di sana.
"Seperti apa?" Fikar bertanya pendek. Suaranya rendah dan kering, tipikal orang yang merasa terusik dari rutinitas pentingnya.
"Seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi atap," sahut Kiki. Kali ini, ia menolak untuk menunduk lebih dulu. "Sudah tiga bulan, Mas. Tapi aku merasa lebih mirip asisten rumah tangga yang kebetulan diizinkan duduk di mejamu. Apa sesulit itu untuk menganggapku sebagai istri? Atau, setidaknya, sebagai manusia?"
Fikar menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu melipat tangan di depan dada. Tatapannya kini benar-benar mengintimidasi, seolah Kiki baru saja melontarkan keluhan yang sangat konyol.
"Jangan naif, Ki. Kita sudah sepakat sejak di kantor pengacara," ucap Fikar dingin. "Aku memberimu status, keamanan finansial untuk keluargamu, dan nama besar. Tugasmu sederhana: buat Ibuku tenang. Itu transaksi yang adil. Jadi, jangan mulai membawa perasaan ke meja makan, apalagi mengharapkan sesuatu yang tidak tertulis di kontrak. Kamu tahu persis di mana posisimu."
Kalimat itu terasa lebih tajam daripada pisau steak di depan mata Kiki. Rapi, presisi, namun menyayat sampai ke dalam. Bayangan wajah ayahnya yang memohon dengan mata berkaca-kaca tiga bulan lalu melintas sekilas. Demi martabat keluarga, ia rela menjual dirinya ke dalam penjara emas ini. Ia sempat berharap waktu akan meluluhkan es di hati Fikar, namun nyatanya, ia salah besar.
"Aku tidak lupa kontrak itu, Mas. Aku ingat setiap hurufnya," suara Kiki mulai bergetar meski ia sudah mengepalkan tangan di bawah meja hingga kukunya menusuk telapak tangan. "Tapi apa salah kalau aku minta kita jadi teman? Biar rumah ini tidak terasa seperti medan perang setiap kali kamu pulang. Apa keramahan juga harus masuk dalam daftar tagihan?"
Fikar berdiri, merapikan setelan jasnya tanpa ekspresi sedikit pun. Ia menatap Kiki sekali lagi, sebuah tatapan kosong seolah ia sedang meninjau sebuah masalah teknis yang enggan ia perbaiki.
"Teman? Kiki, jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan harapan kosong. Hubungan yang dibangun di atas kebohongan tidak akan menghasilkan persahabatan yang tulus. Kita berdua ini egois karena kita cuma mengambil apa yang kita butuhkan. Jalani saja peranmu di depan Ibu. Itu sudah lebih dari cukup. Jangan menuntut lebih kalau tidak mau kecewa."
Tanpa menunggu balasan, Fikar melangkah pergi. Bunyi langkah kakinya di atas tangga kayu terdengar seperti ketukan vonis mati yang bergema di seluruh ruangan. Kiki ditinggalkan sendirian di meja makan yang luas itu, ditemani sisa makanan yang mendadak terasa sepahit empedu di lidah.
Kiki menunduk, menatap cincin emas di jarinya. Berkilau cantik, namun terasa seberat borgol yang mengunci pergelangan tangannya. Ia bangkit, mulai membereskan piring-piring kotor itu sendirian. Ia sengaja tidak memanggil pelayan karena ia butuh sedikit rasa sakit fisik agar pikirannya tidak melantur ke mana-mana.
Saat jemarinya menyentuh piring bekas suaminya, air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya luruh juga. Satu tetes jatuh tepat di tengah piring putih yang mewah. Di luar, hujan mulai turun, membasahi jendela dapur dengan aliran yang berantakan. Kiki menatap kegelapan taman belakang, menyadari bahwa ia terjebak dalam sandiwara yang melelahkan. Namun, jauh di sudut hatinya yang paling keras kepala, masih ada sisa harapan bahwa suatu hari nanti, Fikar akan pulang kepadanya bukan karena kewajiban, melainkan sebagai tempat untuk singgah.
Meski ia tahu, untuk sampai ke sana, mungkin ia harus hancur terlebih dahulu.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.