Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Malam di Jakarta terasa lebih pekat dari biasanya. Hujan rintik mulai turun, membasahi aspal dan menciptakan pantulan lampu kota yang berpendar seperti genangan minyak. Almira duduk di dalam mobil Yoga yang terparkir satu blok dari kantor Polres Jakarta Barat. Di pangkuannya, sebuah tablet menampilkan denah bangunan yang dikirimkan oleh Debo dari tempat persembunyiannya.
"Gudang barang bukti ada di lantai dasar, bagian belakang gedung," bisik Debo melalui sambungan telepon. Suaranya terdengar jauh lebih tenang sekarang, seolah bahaya yang mengintainya di Bogor tadi telah menempanya menjadi lebih berani. "Kak, aku sudah meretas sistem logistik mereka. Koper Ayah ada di rak B-12. Tapi hati-hati, ada penjaga di lobi belakang dan kamera CCTV setiap sepuluh meter."
Almira menarik napas dalam-dalam. Ia mengenakan jaket kurir ekspedisi yang kebesaran, menyembunyikan identitasnya di balik helm dan masker. "Yoga, kau siap?"
Yoga, yang duduk di kursi kemudi, memeriksa jam tangannya. "Aku akan mematikan aliran listrik di blok belakang selama lima menit. Itu jendela waktumu. Jika dalam lima menit kau belum keluar, aku akan memicu alarm kebakaran di sisi depan untuk memecah perhatian. Tapi ingat, Al, begitu alarm bunyi, kau hanya punya satu jalan keluar: lewat jendela toilet pria di samping gudang."
Almira mengangguk. Ia merasakan logam dingin di sakunya—sebuah kunci duplikat yang dibuat Risky dari koneksi "orang dalamnya".
"Hati-hati, Al," ucap Yoga tulus. "Risky sedang menuju Priok. Dia bilang, jangan sampai kau tertangkap. Jika kau tertangkap, tidak ada lagi yang bisa membawa bukti itu ke meja hijau."
Almira turun dari mobil tanpa kata-kata lagi. Ia berjalan dengan langkah cepat namun terukur, menundukkan kepala agar wajahnya tidak tertangkap kamera pengawas yang masih menyala. Saat ia mencapai pintu akses belakang, lampu di seluruh area tersebut tiba-tiba padam.
Sekarang.
Almira berlari menembus kegelapan. Ia menggunakan senter kecil yang hanya ia nyalakan sebentar-sebentar untuk memastikan arah. Bau debu, kertas lama, dan besi berkarat memenuhi indranya. Ia sampai di depan pintu besi gudang barang bukti. Jarinya yang gemetar memasukkan kunci duplikat itu.
Cklek.
Pintu terbuka dengan derit halus yang terasa seperti teriakan di telinganya. Ia segera masuk dan menyisir barisan rak raksasa. A-1... A-5... B-1...
"B-12," gumamnya.
Di sana, di antara tumpukan barang bukti kasus lain, terletak koper hitam milik ayahnya. Koper itu tampak kusam, diberi label kuning kepolisian. Almira tidak punya waktu untuk membawanya keluar; koper itu terlalu besar dan akan mencurigakan. Ia meraba-raba bagian dalam koper, mencari lapisan rahasia di dekat pegangan yang disebutkan Ayah.
Tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan panjang. Sebuah pulpen.
"Dapat," bisik Almira penuh kemenangan.
Namun, tepat saat ia hendak berbalik, lampu kembali menyala dengan sentakan yang mengejutkan. Suara langkah sepatu bot yang berat terdengar mendekat dari lorong luar.
"Hei! Siapa di dalam?" teriak seorang petugas.
Almira panik. Ia tidak mungkin lewat pintu depan. Ia segera berlari menuju jendela toilet pria yang disebutkan Yoga. Ia memanjat wastafel, mengabaikan rasa jijik, dan mendorong jendela nako yang sempit itu. Tubuhnya yang ramping berhasil menyelinap keluar, jatuh terjerembap ke atas tumpukan tempat sampah plastik di gang samping Polres.
Tepat saat itu, alarm kebakaran mulai melolong keras di bagian depan gedung. Kekacauan pecah. Almira segera bangkit, mengabaikan rasa sakit di bahunya, dan berlari menuju mobil Yoga yang sudah bergerak pelan mendekatinya.
"Masuk!" teriah Yoga.
Almira melompat ke dalam, napasnya tersengal. Ia menggenggam pulpen itu erat-erat seperti memegang jantung hidup ayahnya. "Aku dapat, Yoga. Aku dapat."
Sementara itu, di Pelabuhan Tanjung Priok, suasana jauh lebih mencekam. Risky berdiri di atas tumpukan peti kemas, memantau dermaga internasional melalui teropong malam. Di bawah sana, sebuah kapal kargo raksasa sedang bersiap untuk angkat sauh.
Beberapa truk kontainer dengan logo Cahaya Nusantara bergerak perlahan menuju derek raksasa. Namun, ada yang aneh. Penjagaan di sana bukan dilakukan oleh petugas pelabuhan biasa, melainkan oleh orang-orang berpakaian sipil dengan senjata otomatis yang disembunyikan di balik jaket mereka.
"Mereka sedang memindahkan sisa 'barang' itu sebelum penyelidikan internal kementerian dimulai besok," ucap seorang pria di samping Risky. Ia adalah Inspektur Panji, satu-satunya kawan Risky di kepolisian yang masih memegang teguh sumpahnya.
"Kau punya cukup pasukan, Panji?" tanya Risky.
"Hanya enam orang yang bisa kupercaya sepenuhnya. Sisanya mungkin sudah dibayar oleh Wirayuda," jawab Panji sambil memeriksa magasin senjatanya. "Tapi ini cukup untuk membuat keributan hingga Brimob pusat datang jika kita berhasil mengirimkan bukti visual penggerebekan ini secara live."
"Lakukan sekarang," tegas Risky.
Risky dan tim Panji mulai bergerak turun. Mereka menyelinap di antara bayangan kontainer. Saat kontainer pertama hendak diangkat ke atas kapal, Panji melepaskan tembakan peringatan ke udara.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!"
Kekacauan pecah. Para penjaga bayaran Wirayuda langsung membalas tembakan. Suara dentuman peluru yang menghantam besi kontainer menciptakan simfoni kematian yang mengerikan. Risky berlari, berlindung di balik ban truk besar, mencoba mendekati kontainer utama yang dicurigai berisi narkotika dalam jumlah besar.
Ia berhasil mencapai pintu kontainer itu, mencongkel segelnya dengan linggis besi. Saat pintu terbuka, puluhan kotak kayu berlabel 'Alat Medis' tumpah keluar. Risky memecahkan salah satunya dengan paksa.
Bukan alat medis. Di dalamnya terdapat ribuan paket plastik berisi kristal putih.
Risky segera mengeluarkan ponselnya, melakukan siaran langsung melalui akun media sosial yang telah diatur oleh Debo untuk disebarkan ke seluruh kanal berita nasional.
"Lihat ini!" teriak Risky ke arah kamera ponselnya di tengah desingan peluru. "Ini adalah pengiriman ilegal milik Yayasan Cahaya Nusantara! Pak Wirayuda, jawaban Anda ada di sini!"
Tiba-tiba, sebuah peluru menyerempet lengan Risky, membuatnya terjatuh dan ponselnya terlempar. Seorang pria bertubuh besar, yang dikenali Risky sebagai pengawal pribadi Wirayuda yang ada di persidangan tadi, berdiri di depannya dengan moncong senjata yang mengarah tepat ke kepala Risky.
"Kau terlalu banyak bicara, Pengacara," ucap pria itu dingin.
Risky menatap pria itu tanpa rasa takut. Ia tahu, di tempat lain, Almira sudah memegang bukti yang akan menghancurkan mereka semua. "Kau terlambat. Seluruh Indonesia sudah melihat ini."
Terdengar suara sirine polisi dari kejauhan, puluhan lampu biru-merah mulai mengepung area pelabuhan. Pria bersenjata itu ragu sejenak, memberikan celah bagi Inspektur Panji untuk melumpuhkannya dengan tembakan di kaki.
Risky jatuh terduduk, memegangi lengannya yang berdarah, namun ia tersenyum. Malam ini, Jakarta tidak lagi terasa mencekam. Di saku jaketnya, ponselnya terus bergetar—pesan dari Almira.
Pulpennya aktif. Rekaman suara Hermawan dan Ayah sangat jelas. Kita menang, Risky.
Almira, Debo, dan Risky. Tiga orang yang dianggap remeh oleh kekuasaan, kini telah berhasil menemukan jawaban yang selama ini coba dikubur hidup-hidup. Besok, saat matahari terbit, bukan Pak Baskoro yang akan duduk di kursi pesakitan, melainkan mereka yang merasa diri mereka di atas hukum.