Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Bau kertas tua yang asam dan debu yang mengendap selama puluhan tahun menyambut Lisa dengan begitu jelas saat ia melangkah lebih jauh ke dalam lorong paling dalam Perpustakaan Arsip Nasional Seoul.
Udara di ruangan itu terasa sangat dingin dan lembap, seolah waktu berhenti bergerak di antara rak-rak kayu besar yang menguning akibat usia. Ruangan ini sunyi hingga tidak wajar, hanya diiringi suara putaran rol mikrofilm yang berderit pelan dari mesin pemutar di mejanya dan desah napas Lisa yang tertahan karena fokus penuh pada pekerjaannya.
Cahaya remang dari lampu meja baca yang hanya menyala di atas mejanya menciptakan bayangan panjang dan menjulang tinggi di antara rak-rak raksasa yang terisi penuh oleh berkas-berkas tua dan koran-koran yang sudah menguning, seolah-olah setiap rak menyimpan rahasia yang sengaja dibungkam dan disembunyikan dari pandangan dunia luar.
Lisa menarik sebuah kotak arsip besi yang berat dari salah satu rak dengan hati-hati, menyapu debu tebal yang menutupi permukaannya dengan tangan kanannya yang masih mengenakan sarung tangan tipis untuk melindungi diri dari debu dan jamur yang mungkin menempel pada kertas tua.
Tanda tulisan tangan dengan cat minyak yang sudah menguning jelas terbaca di bagian depan kotak: “Januari–Juni 1987 – Koran Lokal & Nasional.” Ia membuka tutup kotak dengan suara berdecit yang keras di tengah kesunyian, lalu mengambil rol mikrofilm yang berlabel “Korea Herald – Mei 1987” dengan hati-hati. Jemarinya memasukkan rol itu ke dalam mesin pemutar, kemudian memutar tuas pengatur agar gambar bisa muncul dengan jelas di layar putih yang terletak di depan mejanya.
Ia mulai memutar rol dengan kecepatan sedang, matanya menyapu setiap baris teks yang muncul di layar dengan ketelitian yang luar biasa. Kata-kata dan gambar yang sudah mengabur bergerak cepat di depannya, sebagian besar adalah berita tentang politik, ekonomi, dan acara sosial yang terjadi pada masa itu.
Sam melayang diam-diam di sisi kiri Lisa, bahunya tampak kaku dan tegang, matanya menatap guliran teks yang bergerak cepat dengan sorot yang sulit diartikan—antara harapan dan ketakutan yang mendalam akan apa yang mungkin ditemukannya.
"Pelan-pelan, Lisa..." Bisik Sam dengan suara terdengar hampa. "Jangan terburu-buru. Kita tidak ingin melewatkan sesuatu yang penting hanya karena kau terlalu cepat dalam mencari."
Lisa mengangguk perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar, namun mengurangi kecepatan putaran rol mikrofilm sesuai dengan permintaan Sam. Ia tahu bahwa ini adalah momen yang sangat penting bagi teman setimnyaㅡdi mana ia mungkin akan menemukan jawaban atas pertanyaan yang telah mengganggunya selama bertahun-tahun. Setiap detik yang mereka habiskan di sini adalah langkah yang lebih dekat ke arah kebenaran, namun juga langkah yang lebih dekat ke arah kemungkinan menemukan sesuatu yang akan menyakitkan hati dan jiwa Sam.
Beberapa menit kemudian, langkah pencarian Lisa terhenti dengan tiba-tiba. Jarinya yang sedang menggerakkan tuas pengatur berhenti di tempatnya, dan matanya melebar lebar saat melihat sebuah kolom kecil yang terletak di halaman kriminal bagian bawah layar.
Judulnya tidak mencolok dan hanya menggunakan huruf yang lebih kecil daripada berita-berita utama di sekitarnya, namun cukup untuk membuat jantung Lisa berdegup kencang dan membuatnya merasa sesak di dada: “Putra Pengusaha Sukses Jack Bahng Tewas Terjatuh dari Balkon Hotel Emerald pada Malam Ulang Tahun Kelima.”
"Ya Tuhan..." Bisik Lisa dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran, segera memutar tuas pengatur agar gambar bisa diperbesar dan terlihat lebih jelas.
Di sana, di atas kertas yang sudah mengabur dan sedikit robek di beberapa bagian, tampak foto berwarna hitam putih seorang bocah laki-laki berusia sekitar tujuh tahun yang mengenakan setelan jas kecil berwarna gelap dengan dasi kupu-kupu yang lucu. Pipinya tembam dan penuh dengan keceriaan, matanya jernih dan ceria, dan ia sedang memegang sebuah bola kasti kecil dengan tangan kirinya yang masih kecil dan lembut. Wajahnya menunjukkan senyum lebar yang tulus—senyum yang sangat mirip dengan senyum yang terkadang muncul di wajah Sam ketika ia sedang merasa bahagia atau lega.
"Sam... lihat ini." Ujar Lisa dengan suara lirih, matanya tidak bisa lepas dari foto bocah kecil itu yang sudah menjadi sosok arwah yang kini berdiri di sisinya. Ia merasa ada sesuatu yang menyakitkan di dalam hatinya saat melihat betapa bahagia dan ceria bocah itu terlihat dalam foto tersebut, menyadari bahwa kehidupan yang penuh dengan harapan itu telah terpotong dengan sangat singkat dan tragis.
Sam segera mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari layar putih yang menyala terang. Udara di sekitar mereka tampak menjadi lebih dingin dari biasanya, dan lampu meja baca mulai berkedip-kedip sejenak sebelum kembali menyala dengan stabil.
Begitu matanya menangkap gambar anak kecil itu yang sangat mirip dengan dirinya ketika masih hidup, sensasi mual yang hebat dan menyakitkan menghantam inti energinya dengan kekuatan yang luar biasa. Sam merasakan seluruh eksistensinya seolah terjungkal dan mulai bergetar dengan tidak stabil, tubuhnya yang biasanya cukup jelas kini menjadi semakin transparan dan sulit dilihat.
Suara-suara statis yang keras mulai berdengung di telinganya, seperti suara radio yang tidak mendapatkan sinyal yang jelas, diikuti oleh jeritan melengking seorang wanita yang penuh dengan kesedihan dan ketakutan yang luar biasa. Kemudian terdengar suara benda berat yang menghantam permukaan beton dengan keras—suara debam yang begitu kuat hingga membuat seluruh ruangan seolah bergetar dan membuat seluruh eksistensinya merasa seperti akan hancur berkeping-keping.
"Argh!!"
Sam mencengkeram kepalanya dengan kedua tangannya, tubuh transparannya mulai berkedip-kedip tidak stabil seperti layar televisi yang mengalami gangguan sinyal. Suaranya terdengar seperti orang yang sedang mengalami rasa sakit yang luar biasa.
"Berisik sekali... sangat berisik! Lisa, suara itu... mereka berteriak keras-keras! Aku bisa mendengar suara ayahku dan seorang wanita yang aku tidak kenal namanya!"
"Sam! Fokus padaku saja, jangan terbawa oleh suara-suara itu!" Teriak Lisa, ia segera berdiri dari kursinya dan mencoba meraih udara di tempat Sam berada, meskipun tangannya hanya menembus kabut dingin yang mengelilingi tubuh teman setimnya itu tanpa bisa menyentuh apa-apa pun. Ia bisa merasakan getaran energi yang tidak stabil dari Sam, merasakan betapa menyakitkannya apa yang sedang dialaminya saat ini. "Kau harus tetap tenang! Jika kau terbawa oleh emosi dan ingatan itu, kau bisa saja terluka atau bahkan menghilang sepenuhnya!"
Namun Sam tampaknya tidak mendengarkan panggilan Lisa. Memorinya seolah-olah berada di balik dinding kaca yang sudah retak dan hampir pecah—ia bisa melihat bayangan-bayangan dari masa lalunya dengan jelas, tapi tidak bisa menyentuh atau berinteraksi dengan apa yang dilihatnya.
Ia merasa seperti sedang berada di dalam film yang sedang diputar di depannya, tidak bisa mengubah alur cerita apa pun yang sedang terjadi. Ia melihat dengan jelas balkon lantai atas Hotel Emerald yang megah dan mewah, dengan lampu-lampu hias yang berkilauan dan dekorasi ulang tahun yang cantik. Ia merasakan angin malam yang kencang menerpa wajahnya, membuat rambutnya yang pendek menjadi berantakan. Dan kemudian ia merasakan rasa pening yang luar biasa di kepalanya, seolah ada sesuatu yang sedang memukulnya dari belakang, sebelum semuanya menjadi gelap dan kosong tanpa bisa ia lakukan apa-apa pun.
"Tewas terjatuh..."
Sam membaca kutipan berita itu dengan suara yang parau dan penuh dengan kesedihan yang mendalam, matanya masih terpaku pada layar yang menampilkan foto dirinya sebagai bocah kecil. Ia perlahan menoleh ke arah Lisa, matanya dipenuhi oleh ketakutan yang jauh lebih dalam daripada ketakutan akan kematian itu sendiri.
"Lisa... berita ini bilang aku terjatuh dari balkon. Apakah itu berarti aku... aku sengaja melompat? Apakah aku mati karena bunuh diri? Apakah aku adalah orang yang begitu lemah hingga memilih untuk mengakhiri hidupku ketika aku baru saja berusia sepuluh tahun?"
Lisa bisa melihat bagaimana aura yang mengelilinginya menjadi semakin gelap dan tidak stabil. Ketakutan yang ia rasakan itu nyata dan sangat mendalam, menyebar ke seluruh ruangan seperti kabut malam yang tebal. Pikiran bahwa dirinya sendiri yang telah mengakhiri hidupnya terasa jauh lebih mengerikan dan menyakitkan daripada kemungkinan dibunuh oleh orang lain.
Bagaimana jika selama ini ia adalah arwah penasaran yang harus menanggung beban dosa atas nyawanya sendiri? Bagaimana jika semua yang telah ia alami selama ini adalah hukuman untuk apa yang telah ia lakukan pada malam itu?
"Tidak, Sam. Jangan sekali-kali mengambil kesimpulan secepat itu! Kau baru berusia sepuluh tahun saat itu. Seorang anak kecil tidak mungkin melakukan hal seperti itu tanpa ada sebab yang sangat mendalam—bahkan kemudian, kebanyakan anak kecil tidak akan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara seperti itu. Lihat ini dengan saksama. Laporannya bilang tidak ada saksi mata selain ayahmu sendiri yang berada di dekat balkon pada saat kejadian itu terjadi."
Lisa kembali menunjuk ke layar mikrofilm, menyoroti bagian paragraf kedua dari artikel berita itu. "Tidak ada orang lain yang melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada bukti fisik yang menunjukkan bahwa kau sengaja melompat. Hanya ada kata-kata ayahmu yang mengatakan bahwa kau sedang bermain dan tidak sengaja terjatuh. Ada sesuatu yang tidak masuk akal di sini."
Sam mundur selangkah dengan lambat, napasnya terdengar memburu dan tidak teratur. Matanya masih terpaku pada foto bocah kecil itu di layar dengan ekspresi yang penuh dengan kesedihan dan keraguan yang mendalam. "Bagaimana jika aku memang selemah itu? Bagaimana jika aku memang sengaja melakukannya karena merasa tidak diinginkan atau tidak dicintai? Bagaimana jika aku adalah beban bagi ayahku dan itu membuatku memilih untuk pergi?"
Lisa menatap Sam dengan tatapan yang tajam dan penuh dengan keyakinan yang tidak bisa diragukan lagi, mencoba menyalurkan sebanyak mungkin keberanian dan kekuatan melalui tatapannya.
"Samuel Bahng yang aku kenal adalah orang yang dengan rela mengorbankan seluruh energinya untuk mendorongku dari jalur truk yang akan menghantamku di Malaysia. Kau adalah orang yang selalu ada di sisiku ketika aku membutuhkan bantuan, yang selalu memberikan nasihat yang bijak dan dukungan yang tulus. Orang seperti itu tidak mungkin mengakhiri hidupnya dengan cara yang dianggap sebagai pengecut oleh banyak orang. Ada yang salah dengan berita ini. Ada sesuatu yang tidak benar dan ada yang sengaja ditutup-tutupi oleh Jack Bahng atau orang-orang di sekelilingnya."
Sam terdiam dalam waktu yang cukup lama, masih menatap foto bocah kecil itu di layar dengan perasaan yang kompleks—benci terhadap kemungkinan yang muncul dalam pikirannya, namun juga rasa rindu yang dalam terhadap masa lalunya yang tidak bisa ia ingat dengan jelas.
Memorinya masih terkunci rapat di balik tembok yang tebal dan sulit ditembus, namun satu hal yang pasti bagi dirinya sekarang: rasa sakit yang muncul di bagian dalam dirinya saat melihat nama Jack Bahng di koran itu bukanlah rasa sedih karena kehilangan ayah yang dicintainya, melainkan rasa takut yang amat sangat dan sangat dalam yang berasal dari kedalaman jiwanya yang paling dalam.
"Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di balkon itu pada malam itu... Kita harus bertemu dengan ayahku dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum aku benar-benar meyakini bahwa aku adalah pembunuh diriku sendiri dan membawa beban itu untuk selama-lamanya." Bisik Sam.
Lisa mengangguk dengan tegas, matanya menunjukkan bahwa ia akan selalu berada di sisinya dalam perjalanan mencari kebenaran ini. Ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh mereka selanjutnya tidak akan mudah—bahkan mungkin jauh lebih berbahaya daripada apa yang pernah mereka alami sebelumnya.
Namun dengan tekad yang kuat dan persahabatan yang sudah terbentuk dengan kuat antara mereka berdua, ia yakin bahwa mereka akan mampu menghadapi segala sesuatu yang akan datang dan menemukan kebenaran yang telah tersembunyi selama terlalu lama.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ
dan bagaimanapun kita memang berdampingan dengan mereka☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️
apakah si SAM korban pembunuhan ?