Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
Tiga hari berlalu. Selama itu hanya ada Chandra yang selalu setia menemani Sarah di rumah sakit dan sepasang suami istri - Mona dan Rama yang datang sesekali. Itupun hanya sebentar. Mereka menyempatkan diri ditengah kesibukan. Tak ada kerabat, tak ada keluarga. Hanya mereka.
Sejak dulu, Sarah memang hidup sendiri. Ibunya meninggal saat dia masih di bangku sekolah. Sedangkan ayahnya tidak tahu entah kemana. Tidak ada yang tahu, tidak berniat juga untuk mencari tahu.
Rasa sakit yang ditinggalkan pria yang disebut ayah itu selama menjadi kepala keluarga, begitu membekas di ingatan. Cacian, hinaan, bentakan dan perlakukan kasar yang diterimanya cukup menjadi alasan bagi Sarah untuk tak mencari. Membiarkan semua berlalu ditelan waktu. Kini ia sudah hidup bahagia, dengan suami yang baik dan anak yang lucu-lucu.
Sementara keluarga Chandra sendiri berada di kota lain. Cukup jauh. Butuh 7 jam lebih perjalanan. Membuat mereka jarang berkunjung. Selain karena usia yang sudah semakin tua, juga karena mereka tidak pernah menyukainya. Bahkan setelah delapan tahun pernikahan, rasa benci itu masih ada. Masih sangat terasa.
Sarah pernah merasakan disambut hangat oleh mereka sekali, yaitu ketika Andra lahir. Orangtua Chandra begitu antusias, begitu bahagia. Bahkan selalu memamerkan Andra kemana-mana. Mereka begitu menyayanginya sebagai cucu laki-laki pertama kebanggaan keluarga.
Meski kehangatan itu tidak ditujukan untuknya, Sarah sangat bahagia saat itu. Setidaknya anaknya diterima, setidaknya mereka tidak mengabaikan Andra sama seperti mereka mengabaikannya. Bagi Sarah itu sudah lebih dari cukup. Namun kini ia ketakutan. Lily-nya yang kecil dan lucu adalah perempuan. Akankah mereka memperlakukan anak itu sama seperti kakaknya? Jujur saja, ia tidak yakin.
Berbulan-bulan Sarah menahan kegundahan hatinya, sejak hasil USG keluar, sejak ia tahu bahwa anak yang akan terlahir nantinya adalah perempuan. Namun kini ia tak mampu lagi bertahan. Air mata luruh perlahan. Rasa takut itu begitu nyata. Begitu terasa hingga menyesakkan.
Pesan itu, pesan yang diterimanya semalam, seolah menegaskan segalanya. Seolah menjadi jawaban atas takdir yang akan Lily terima nantinya. Tentang perlakuan mereka yang jelas tak akan sama.
Ya tuhan, ia tidak sanggup membayangkannya.
Saat Sarah masih tenggelam dalam lamunan, Mona datang dengan sekeranjang buah ditangan. Menatap heran, tetapi tetap diam. Tak ingin mengganggu juga tak ingin mengagetkan.
Pintu ditutup perlahan. Tanpa suara. Mona menunggu dan terus menunggu, tepat di balik pintu. Cukup lama. Dan Sarah masih tak menyadari kehadirannya diruangan itu. Hingga saat air mata Sarah jatuh, Mona tak tahan lagi, lalu mendekat. Direngkuhnya tubuh sang sahabat dengan erat. Saat itu tangis Sarah pecah. Begitu keras, begitu memilukan. Mona mengelus punggungnya lembut, penuh perhatian. Dalam diam ia mencoba membawa ketenangan.
Untuk sesaat tak ada yang bersuara. Mona membiarkan Sarah menumpahkan kesedihannya. Tak berani mengganggu, tak berani menyela. Berkali-kali ia mendongakkan kepala. Berharap air matanya tak ikut tumpah, tetapi tidak bisa. Mona tetap saja menangis. Ikut terlarut dalam kesedihan.
Beberapa menit kemudian, tangis Sarah mereda. Ia lalu melepaskan pelukannya. "Maaf Na, baju kamu jadi basah." Katanya penuh sesal.
Mona tersenyum hangat. Bekas air matanya sudah tidak ada, sudah ia hapus dengan tangan. Kini kakinya menjauh sebentar untuk meraih tissue diatas meja, lalu menyerahkannya pada Sarah. "Nggak papa. Baju bisa dicuci. Tapi sekarang, apa kamu baik-baik saja?" Nadanya terdengar khawatir. Namun ada perhatian yang terselip.
"Aku baik-baik saja." Jawab Sarah. Meski itu tidak sepenuhnya benar. Ia hanya bisa menyembunyikannya.
"Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama aku Sar, jangan di Pendem sendiri."
Sarah mengangguk. Lalu tersenyum tipis. "Aku akan cerita ke kamu kalau aku siap." Balasnya.
Selama ini tak ada yang tahu tentang hidupnya. Tentang kehidupan rumah tangganya. Karena Sarah tak pernah bercerita. Tidak pada Mona, tidak pada siapapun. Kalaupun ada yang keluar dari mulutnya, itu tentang pekerjaan, tentang pertumbuhan Andra yang jelas terlihat oleh mata atau tentang hal lainnya. Selebihnya tak ada yang tahu. Apalagi hubungan yang tidak baik antara dirinya dan mertua. Itu tertutup rapat dari siapapun. Kecuali sang suami, Chandra.
Mona tak memaksa. Ia memilih menarik kursi yang tidak jauh darinya ke samping ranjang. Sementara tasnya ia taruh dipangkuan. "Kamu sendirian dari tadi? Kemana Chandra?"
"Dia lagi cari makanan." Balas Sarah.
Tatapan Mona jatuh pada meja kecil di samping ranjang yang diatasnya terdapat makanan dari rumah sakit yang belum tersentuh.
"Ini ada makanan, kenapa nggak dimakan?" Tangan Mona meraih makanan itu yang ternyata sudah dingin.
"Nggak enak Na. Nggak ada rasanya." Jawab Sarah.
Mona melihat lagi ke atas meja. Memang terlihat sederhana. Nasi putih, sayur bening dan lauk pauk yang hambar, tersusun rapi di dalam nampan plastik yang bening dan transparan. Ditatapnya Sarah kembali. "Yakan emang gitu. Kaya anak kecil aja kamu ini." Ledeknya.
Sarah terkekeh, tak merasa tersinggung. Alasan sebenarnya karena ia ingin sendiri. Jadi makanan itu sengaja ia biarkan. Agar Chandra pergi dari sini. Dan sekarang ia malah kepergok tengah menangis oleh Mona. Sungguh rencana yang sia-sia.
"Bagaimana pemulihan kamu? Apa semua berjalan lancar?"
"Seperti yang kamu lihat, aku semakin sehat."
"Lalu, bagaimana dengan Lily? gimana keadaannya?"
Wajah Sarah seketika berubah. Kesedihan itu kembali, menyerang hati. Tapi tak akan ia biarkan butiran bening itu menganak sungai dipipi lagu. Hari ini cukup sampai disini. Ia tak mau terlihat bengkak saat Chandra kembali nanti.
"Sejak hari itu, aku nggak pernah lagi kesana. Rasanya berat Na, aku nggak kuat. Tubuh sekecil itu, bagaimana bisa menahan semuanya?"
Sarah menyerah. Nyatanya ia tetap tak sanggup. Air mata itu berhasil meluncur mulus, namun segera ia hapus. Senyumnya tertarik panjang, berusaha tegar.
"Tapi Mas Chandra sering kesana. Dia bilang anak kami sangat aktif. Tubuhnya selalu bergerak-gerak bahkan saat tidur. Dokter juga bilang, kondisinya semakin baik. Selang oksigen di hidungnya sudah dilepas semalam. Dia sudah bisa bernafas dengan normal, tetapi masih dalam pemantauan."
Mona ikut senang mendengarnya. "Dia akan segera sembuh. Lily anak yang kuat seperti mamanya. Kamu harus percaya itu."
Sarah mengangguk, dengan senyum yang semakin lebar. Rasa sesaknya perlahan berkurang. Mengingat kabar baik yang pagi tadi ia dengar, membuatnya jauh lebih tenang.
"Bagaimana dengan anak-anak? Apa mereka rewel? Maaf aku jadi ngerepotin kamu." Tanya Sarah.
Mona segera menampik. Telunjuknya sesekali membenahi rambut yang menghalangi pandangan ke belakang telinga. "Nggak ada, nggak ngerepotin sama sekali kok. Andra itu anak yang baik. Dia sangat penurut. Makan apa aja dia mau. Berkat dia Jeffrey jadi ikut-ikutan,"
"Selain itu, ada saja cerita yang anak itu lontarkan. Dan Jeffrey akan menanggapi sesekali. Apalagi jika itu soal Lily. Anakku mendadak jadi cerewet banget tau nggak."
Dua wanita itu tertawa. Mata mereka memancarkan kebahagiaan untuk satu sama lain.
Wanita-wanita tegar, dengan beban hidup yang berbeda.
Sejak kecil Jeffrey memang berbeda dari anak-anak lain. Jarang menangis, tidak berbicara. Anak itu selalu menatap malas pada apapun yang tidak ia sukai. Padahal harusnya di usianya saat itu, Jeffrey sudah bisa merangkai kata, menjadi kalimat pendek sederhana.
Mona pernah memeriksakan kondisinya ke dokter. Dan pada saat itu dokter berkata, ada beberapa hal yang menjadi faktor anak mengalami hal tersebut, seperti gangguan pendengaran, autisme, trauma atau stress dan gangguan perkembangan bahasa. Untuk gangguan pendengaran, Jeffrey jelas baik-baik saja. Tidak ada kerusakan pada telinganya. Semuanya tampak normal. Maka hanya ada faktor lain yang memungkinkan.
Sebagai langkah awal, dokter menyarankan untuk melakukan terapi wicara untuk menstimulasi anak. Mona menyetujui. Ia datang ke rumah sakit 2-3 kali seminggu untuk melakukan sesi terapi. Selama enam bulan penuh, tanpa pernah terlewati.
Perkembangannya begitu nyata. Jeffrey sudah mau mengucapkan satu sampai dua kata disesi ketiga. Itu awal yang bagus. Setelah enam bulan, hasil analisis keluar. Dokter bilang anaknya bukannya tak bisa bicara, tapi ia tak mau. Itu terjadi karena kepribadiannya yang seperti itu. Saat dihadapkan dengan sesuatu yang membuatnya tertarik, ia akan mengeluarkan suara dengan sendirinya. Bahkan cenderung cerewet.
Dan semalam, apa yang dikatakan dokter terbukti benar. Mona melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Jeffrey yang biasanya selalu diam dan irit bicara, mendadak begitu antusias akan sesuatu. Anak itu bahkan berteriak pada Andra saat merasa tidak senang. Sejujurnya Mona baru pertama kali melihat sisi yang normal seperti ini dari diri sang putra. Kejadian itu begitu langka, begitu menakjubkan. Membuat matanya berkaca-kaca.
Pintu berderit, Sarah begitu panik. Ia menepuk-nepuk ranjang, meminta perhatian Mona. Setelah wanita itu menoleh, dengan gerakan tanpa suara, Sarah meminta pendapat tentang penampilannya. Tentang wajahnya. Beruntung Mona segera mengerti dan berkata semua baik-baik saja. Kini Sarah kembali tenang.
"Loh, ada Mona ternyata. Sejak kapan Na?" Tanya Chandra dengan wajah terkejut.
Mona melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Sepuluh menit yang lalu kayaknya. Habis nganter anak-anak ke sekolah, aku langsung kesini."
"Sarapan Na." Tawar Chandra. Lalu mendekat. Berdiri disisi lain, yang berseberangan dengan Mona.
"Enggak, udah sarapan tadi." Tolaknya halus.
Dengan gesit Sarah segera meraih bungkusan di tangan Chandra. Bau harum menguar membuat cacing-cacing diperutnya berdemo minta diisi. Sangat tidak sabar.
Namun saat plastik itu dibuka, Sarah menatap bingung. "Loh, kok cuma satu Mas? Punya kamu mana?" Tanyanya heran.
"Aku bisa makan itu," tunjuk Chandra pada nasi diatas meja yang masih utuh. "Sayang kalau nggak ada yang makan." Lanjutnya.
Sarah tak mengatakan apa-apa, tapi hatinya jelas merasa bersalah.
"Kalian makan lah. Aku akan duduk disitu." Kata Mona sembari berdiri. Meninggalkan kursi kosong disamping ranjang dan beralih ke sofa. Mengambil sesuatu di dalam tas dan mulai melakukan pekerjaannya.
Chandra beralih, menempati posisi Mona sebelumnya. Kemudian ia berkata lirih untuk menggoda sang istri. "Mau aku suapi?"
Satu pukulan mendarat di bahunya. Tidak keras, tidak menyakitkan. Bahkan terasa seringan kapas. Wajah Sarah cemberut. Namun pipinya bersemu merah. Chandra tertawa pelan. Rasanya sangat menyenangkan bercanda seperti ini bersama sang istri setelah malam-malam kelam yang mereka lewati.
Pintu kembali terbuka, semua orang menoleh. Seorang perawat datang dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka. Sesuatu yang menggeliat dalam gendongan. Di belakangnya, seorang dokter mengikuti. Dengan langkah tegas dan penuh wibawa. Matanya terus tertuju pada kertas-kertas ditangan. Sesekali mencoret sesuatu.
Rasa senang tergambar jelas dalam diri Sarah. Kedua tangannya terbentang, siap menerima Lily dalam pelukan. Chandra segera berdiri. Menyambut dengan penuh senyuman.
"Dokter..."
"Pagi pak Chandra," Sapa dokter itu balik. Yang kini sepenuhnya fokus pada orang-orang disekitarnya.
"Alhamdulillah kesehatan ibu Sarah sudah pulih. Enak yah Bu nasi padangnya?" Tanyanya setengah bercanda.
Sarah tersenyum malu. Jika saja ia tidak sedang menggendong Lily, ia mungkin sudah menutupi wajahnya. Disisi lain, Mona yang mendengar itu tertawa tanpa suara. Satu tangannya memegangi mulut, tangan yang lain memegangi perut.
"Ini laporan kesehatan ibu Sarah dan juga anak kalian."
Chandra menerima kertas-kertas itu dengan tangan gemetar.
"Semuanya baik-baik saja. Kondisi keduanya sangat sehat. Selamat ibu atas kesembuhannya, sekarang ibu sudah diperbolehkan pulang."
Dokter itu menjabat tangan Chandra, lalu Sarah dan terakhir Mona. Kemudian berbalik meninggalkan ruangan.
Mona mendekat. Langkahnya begitu riang, begitu cepat. Wanita itu dengan tega menggeser tubuh besar Chandra ke samping. Sedikit keras, namun tidak kasar. Sementara tubuhnya sendiri ia tempatkan tepat disamping Sarah. Hampir menempel.
"Ayuyu... Lily. Akhirnya bisa lihat Tante Mona yang cantik ini. Uhh kamu lucunya."
***