NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Mahkota dari Abu dan Air Mata

BAB 31: Mahkota dari Abu dan Air Mata

Pagi di Jakarta tidak pernah terasa sedingin ini. Langit abu-abu menggantung rendah di atas gedung pencakar langit Adiguna Tower, seolah-olah semenit lagi badai besar akan menelan seluruh kota. Di dalam suite rumah sakit, Rangga sedang bercermin. Ia mengenakan setelan jas hitam tailor-made yang sangat presisi, dasi sutra berwarna gelap, dan sepatu yang mengkilap. Namun, wajah yang terpantul di cermin bukan lagi wajah Rangga yang penuh keraguan. Matanya tajam, rahangnya mengeras, dan ada aura kedinginan yang memancar dari setiap gerakannya.

Ia menoleh ke arah ranjang. Arini masih terlelap dalam tidurnya yang tenang, dijaga oleh ibunya dan dua perawat bersenjata yang kini berdiri di depan pintu.

"Aku pergi sebentar, Rin," bisik Rangga sambil menyentuh pipi Arini yang terasa sejuk. "Hari ini, aku akan mengambil kembali apa yang menjadi hakmu. Aku akan memastikan tidak ada satu orang pun yang berani membisikkan namamu dengan nada hinaan lagi."

Arini hanya bergumam kecil dalam tidurnya, sebuah gerakan bibir tanpa suara yang membuat hati Rangga bergetar. Ia mengepalkan tinjunya, lalu melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi.

Maya sudah menunggu di dalam mobil limusin hitam di lobi rumah sakit. Di tangannya terdapat tablet yang menunjukkan pergerakan saham Grup Adiguna yang sedang tidak stabil. Berita tentang skandal keluarga, tuduhan gangguan jiwa terhadap Rangga, dan kondisi Arini telah menjadi santapan empuk media selama 24 jam terakhir.

"Pak Hendrawan sudah berada di ruang rapat lantai 50. Hampir seluruh dewan komisaris hadir, termasuk beberapa relasi politik Ibu Sarah yang sengaja datang untuk memberikan tekanan," lapor Maya dengan nada khawatir.

Rangga hanya mengangguk pelan. Ia membuka sebuah map merah yang berisi dokumen asli wasiat ayahnya dan rekaman pengakuan perawat penyusup tempo hari. "Apakah tim media kita sudah siap di lobi gedung?"

"Sudah, Pak. Siaran langsung akan dimulai tepat saat Anda melangkah masuk ke ruang rapat. Seluruh Indonesia akan melihat apa yang terjadi di dalam sana."

"Bagus," desis Rangga. "Biarkan mereka merasa menang di lima menit pertama. Aku ingin melihat seberapa tinggi mereka bisa terbang sebelum aku mematahkan sayap mereka."

Sesampainya di Gedung Adiguna Tower, suasana terasa sangat tegang. Puluhan wartawan mencoba merangsek maju, namun barisan pengamanan Rangga membentuk pagar betis yang kokoh. Rangga berjalan menembus kerumunan itu dengan langkah mantap, mengabaikan semua pertanyaan yang dilemparkan padanya.

Ia menaiki lift pribadi menuju lantai 50. Begitu pintu lift terbuka, ia disambut oleh keheningan yang mencekam. Ruang rapat utama yang biasanya digunakan untuk membahas transaksi triliunan rupiah itu kini terasa seperti ruang pengadilan.

Pak Hendrawan duduk di kursi pimpinan, kursi yang seharusnya milik Rangga. Di sampingnya ada beberapa pengacara senior yang tampak siap menerkam.

"Selamat datang, keponakanku," ujar Hendrawan dengan senyum kemenangan yang memuakkan. "Tepat waktu. Kami baru saja akan memulai pemungutan suara untuk mencopot jabatanmu secara permanen dan menunjuk wali sah atas aset-asetmu karena kondisi mentalmu yang tidak stabil."

Rangga tidak duduk. Ia berdiri di ujung meja panjang itu, menatap satu per satu wajah para komisaris yang dulu sangat hormat kepada ayahnya, namun kini tunduk pada keserakahan Hendrawan.

"Kondisi mental yang tidak stabil?" Rangga mengulang kalimat itu dengan nada meremehkan. "Atau maksud Anda, Anda takut karena aku sudah terlalu dekat dengan kebenaran tentang bagaimana Anda dan Ibuku merampok perusahaan ini selama sepuluh tahun terakhir?"

Hendrawan tertawa keras, memukul meja. "Jangan mengalihkan isu! Kamu menggunakan uang perusahaan untuk membiayai wanita lumpuh itu! Kamu membawa perawat ilegal dan melakukan penyiksaan! Kami punya buktinya!"

"Bukti?" Rangga melempar map merah ke tengah meja. "Ini adalah bukti medis bahwa perawat yang Anda sebut 'korban' itu adalah orang suruhan Anda untuk menyuntikkan racun ke tubuh istriku. Dan di dalam map itu juga ada hasil audit forensik tentang proyek fiktif di Kalimantan yang Anda gunakan untuk mencuci uang."

Ruangan itu seketika riuh. Para komisaris mulai saling berbisik. Wajah Hendrawan berubah dari merah menjadi pucat pasi.

"Itu fitnah! Dokumen itu palsu!" teriak Hendrawan.

"Palsu?" Rangga menyalakan layar besar di ruang rapat. Seketika, video pengakuan sang perawat penyusup terputar. Video itu sangat jelas, memperlihatkan rincian instruksi yang diberikan oleh Hendrawan.

Tidak berhenti di situ, Rangga menyambungkan panggilan video ke sebuah lokasi rahasia. Di layar muncul seorang pria paruh baya yang merupakan mantan akuntan kepercayaan keluarga Adiguna yang selama ini dikabarkan menghilang.

"Selamat pagi, Tuan-tuan," ujar pria di layar tersebut. "Saya di sini untuk memberikan kesaksian bahwa Ibu Sarah dan Pak Hendrawan telah memalsukan tanda tangan Almarhum Tuan Adiguna dalam wasiat terakhirnya demi menguasai dana abadi yayasan."

Skakmat.

Rangga melangkah mendekati Pak Hendrawan, ia membungkuk sedikit agar wajahnya sejajar dengan pamannya yang kini gemetar ketakutan.

"Permainan selesai, Paman," bisik Rangga, suaranya terdengar sangat tajam. "Polisi sudah menunggu di lobi. Anda tidak hanya akan kehilangan jabatan, tapi Anda akan menghabiskan sisa hidup Anda untuk merenungi kebodohan Anda di balik jeruji besi."

Dalam hitungan detik, pintu ruang rapat terbuka. Petugas kepolisian dari unit tindak pidana korupsi masuk dan langsung memborgol Pak Hendrawan di depan kamera media yang sedang menyiarkan secara langsung. Drama perebutan kekuasaan itu berakhir dengan kekalahan telak bagi pihak antagonis.

Namun, Rangga tidak merasakan kepuasan sedikit pun. Ia mengambil mikrofon yang terpasang di meja rapat, berbicara langsung ke arah kamera yang masih menyala.

"Untuk seluruh pemegang saham dan masyarakat," ujar Rangga dengan suara yang bergetar namun tegas. "Mulai hari ini, Grup Adiguna akan melakukan restrukturisasi total. Lima puluh persen dari keuntungan perusahaan akan dialokasikan untuk yayasan penelitian saraf dan kanker. Dan untuk kalian yang selama ini menghina istriku... ingatlah wajah ini. Aku akan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya."

Setelah badai di kantor reda, Rangga segera kembali ke rumah sakit. Ia merasa jiwanya kosong, meskipun ia baru saja memenangkan perang besar. Yang ia inginkan hanyalah duduk di samping Arini dan memegang tangannya.

Sesampainya di kamar, ia menemukan suasana yang berbeda. Ibu Sarahwati tampak sedang menangis, namun kali ini tangisannya berbeda. Ia memegang tangan Arini dengan ekspresi takjub.

"Rangga! Lihat!" teriak Ibu Sarahwati.

Rangga berlari ke samping ranjang. Ia melihat Arini sedang berusaha menggerakkan jari telunjuk tangan kanannya. Kecil, sangat kecil, namun jari itu benar-benar bergerak.

"Ga... aku bisa... sedikit... merasakannya," bisik Arini. Suaranya terdengar jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Rangga jatuh berlutut di samping ranjang. Ia menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya di sprei ranjang. Tuhan seolah memberikan upah atas perjuangannya hari ini. Kemenangan di kantor tidak ada artinya dibandingkan dengan gerakan kecil dari jari Arini.

"Kamu hebat, Rin... kamu hebat sekali," isak Rangga.

"Bagaimana... urusanmu... di sana?" tanya Arini pelan.

"Sudah selesai, Sayang. Semuanya sudah selesai. Tidak akan ada lagi orang jahat yang mengganggu kita. Paman Hendrawan sudah ditangkap, dan Mama tidak akan pernah bisa keluar dari sana lagi," Rangga mencium jari Arini yang baru saja bergerak itu.

Malam harinya, Arini terbangun saat Rangga sedang membacakan sebuah puisi untuknya. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu tidur yang remang-remang.

"Ga," panggil Arini.

"Iya, Rin?"

"Aku memikirkan... tentang operasi eksperimental itu lagi. Operasi yang bisa membuatku berjalan tapi menghapus ingatanku."

Rangga tertegun. "Jangan bahas itu lagi, Rin. Kamu baru saja bisa menggerakkan jarimu. Kita akan coba cara alami, fisioterapi yang intens. Aku tidak ingin kehilangan kenangan kita."

"Tapi Ga... kalau aku bisa berjalan, aku bisa membantumu. Aku tidak mau hanya menjadi beban yang kamu suapi setiap hari. Aku ingin melihatmu kembali sukses tanpa harus terus-menerus menjagaku," Arini meraba wajah Rangga dengan jarinya yang masih kaku.

"Rin, dengarkan aku," Rangga menggenggam tangan Arini. "Kenangan kita—meskipun pahit, meskipun penuh luka—adalah benang yang menyatukan kita. Jika benang itu ditarik, kita akan menjadi dua orang asing yang tidak punya alasan untuk saling mencintai sedalam ini. Aku lebih memilih istrimu yang lumpuh tapi tahu betapa aku mencintainya, daripada melihatmu berjalan pergi dariku karena kamu tidak tahu siapa aku."

Arini tersenyum, sebuah senyuman yang sangat damai. "Baiklah. Kalau itu maumu, Tuan Adiguna. Kita akan menua bersama dalam kegelapan dan kesunyian ini... asal ada kamu di sampingku."

Di sisi lain kota, di dalam sel isolasi penjara wanita, Ibu Sarah sedang menatap dinding beton dengan tatapan kosong. Ia baru saja mendengar berita tentang penangkapan Hendrawan dan keberhasilan Rangga mengambil alih perusahaan.

Segalanya telah hilang. Kekuasaan, harta, dan putranya sendiri.

Namun, di dalam kebenciannya yang masih tersisa, ia memanggil penjara dan meminta kertas serta pena. Ia menuliskan sebuah pesan terakhir untuk Rangga. Sebuah pesan yang mengandung rahasia paling gelap tentang kematian Ayah Rangga yang sebenarnya—rahasia yang bisa menghancurkan kewarasan Rangga jika ia mengetahuinya.

"Kamu pikir kamu sudah menang, Rangga?" bisik Sarah pada kegelapan selnya. "Kamu baru saja memulai nerakamu yang sesungguhnya."

Pesan itu dilipat dan diserahkan kepada seorang sipir yang sudah ia suap. "Pastikan ini sampai ke tangan anakku, tepat di hari ulang tahun Arini nanti."

Di rumah sakit, Rangga tidak menyadari badai baru yang sedang disiapkan ibunya. Ia sedang sibuk menata ribuan bunga kamboja dan melati di sekitar kamar Arini. Ia ingin Arini selalu merasa seolah-olah ia berada di taman surgawi.

Ia memutar sebuah lagu klasik yang lembut, lalu ia mengangkat tubuh Arini dengan hati-hati. Ia mengajak istrinya yang lumpuh itu untuk "berdansa" dalam pelukannya. Rangga melangkah perlahan, membawa tubuh Arini berputar di tengah ruangan, sementara kepala Arini bersandar di bahunya.

"Kita sedang berdansa di bawah cahaya bulan, Rin," bisik Rangga. "Semua orang bertepuk tangan untukmu. Kamu adalah pengantin tercantik di dunia."

Arini memejamkan matanya, membayangkan dirinya sedang mengenakan gaun putih panjang dan menari di atas lantai marmer yang berkilau. Di dalam kegelapannya, ia tidak lagi merasa buta. Di dalam kelumpuhannya, ia merasa terbang.

Cinta mereka bukan lagi sekadar romansa picisan. Itu adalah perjuangan untuk tetap waras di tengah dunia yang gila. Dan malam itu, di lantai atas rumah sakit yang sepi, Rangga dan Arini membuktikan bahwa mahkota sejati bukan terbuat dari emas, melainkan dari abu penderitaan yang ditempa oleh kesetiaan yang tak terpatahkan.

1
falea sezi
ya uda end aja
falea sezi
lanjut
falea sezi
berasa baca trailer
falea sezi
astaga/Sob//Sob//Scowl//Scowl/ Thor g da apa keajaiban misal arini pindah jiwa ke tubuh lain
falea sezi
nyesek baca kisah ini beri keajaiban donk thor/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!