“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: DINASTI TULIP DAN JEJAK MASA LALU
Waktu di dalam Dimensi Independen mengalir dalam keheningan yang disiplin. Rimba tidak membiarkan satu detik pun terbuang sia-sia. Setelah menjalani satu tahun waktu dimensi—yang hanya setara dengan dua belas jam di dunia luar—Rimba akhirnya membuka mata dari meditasinya. Tubuhnya memancarkan aura yang lebih padat dan tajam. Ia telah resmi menapakkan kaki di Tingkat 4: Gejolak Elemen (Menengah). Kekuatan fisiknya kini terasa begitu masif, seolah-olah setiap jengkal ototnya mampu membelah gunung.
Rimba melangkah keluar dari dimensi dan kembali muncul di tengah keheningan kamar hotelnya. Jam di dinding menunjukkan pukul 09.30 pagi. Ia segera bersiap. Penampilannya hari ini mencerminkan sosok yang praktis namun penuh gaya: celana jeans biru yang dipotong sebatas lutut, kaos oblong hitam yang pas di badan, kemeja flanel merah-hitam yang dibiarkan terbuka, dan sepasang desert army boots yang kokoh. Dengan rambut yang sedikit panjang dan anting hitam di telinganya, ia nampak seperti model grunge yang baru saja keluar dari pemotretan.
Ia segera turun ke lobi dan melakukan proses check-out. Rimba meminta bantuan resepsionis untuk menyewa sebuah truk barang kecil beserta alat angkut (trolley heavy duty). Setelah menyelesaikan administrasi sewa truk, ia melangkah menuju parkiran hotel yang masih sepi.
Begitu keadaan dirasa aman dari pantauan CCTV dan mata manusia, Rimba menggenggam liontinnya. Wush! Sebuah peti kayu besar yang berisi batu Giok Imperial Heart seberat hampir dua ton muncul secara instan di lantai parkir. Sesaat kemudian, truk sewaan datang. Dengan bantuan sopir truk dan alat angkut, peti itu dimuat ke bak belakang. Rimba kemudian melompat ke atas motor Harley-nya, memimpin perjalanan truk menuju kantor pusat Tulip Jewelry yang hanya berjarak 500 meter dari hotel.
---
Gerbang Tulip Jewelry nampak megah dengan penjagaan yang ketat. Rimba menghentikan motornya di depan pos keamanan. "Saya Rimba, sudah ada janji temu dengan Bapak Rendi jam sepuluh ini," ujarnya tenang.
Petugas keamanan segera melakukan verifikasi internal. Tak butuh waktu lama, gerbang otomatis terbuka lebar. Rimba memandu truk masuk ke area parkir khusus. Begitu motor terparkir, seorang pria berusia pertengahan 30-an dengan setelan jas rapi namun santai keluar menyambut mereka. Wajahnya cerah dengan senyum ramah yang tulus.
"Dengan Bapak Rimba?" tanyanya antusias.
Rimba turun dari motornya dan melepas helm. "Iya, Pak, saya Rimba. Tapi mohon jangan saya dipanggil Bapak lah, usia saya baru delapan belas tahun," jawab Rimba sambil tersenyum tipis.
Pria itu tertawa renyah. "Hahaha! Luar biasa. Masih sangat muda ternyata. Kalau begitu, Dek Rimba juga jangan panggil saya Bapak. Rasanya saya belum setua itu. Panggil saja Rendi."
"Baiklah, Bang Rendi," sahut Rimba.
Rendi segera memerintahkan para pekerjanya. "Coba ambil troli besar, bawa kotak itu ke dalam dengan sangat hati-hati. Jangan sampai ada goresan sedikit pun. Itu harta karun!" Rendi kemudian mempersilakan Rimba masuk. "Ayo, Dek Rimba, kita ke dalam. Mari kita selesaikan prosedur pemeriksaannya."
---
Mereka melangkah masuk ke dalam gedung yang nampak seperti istana perhiasan. Aula utamanya sangat luas, dihiasi etalase kaca yang memamerkan berbagai karya seni giok yang harganya pasti selangit. Namun, Rendi membawa Rimba menuju area yang lebih privat. Mereka melewati koridor panjang yang dijaga oleh petugas keamanan bersenjata lengkap. Setelah melewati pintu dengan sistem kunci biometrik dan angka, Rimba mendapati dirinya berada di sebuah ruang pengamatan yang unik.
Dinding di depan mereka terbuat dari kaca tebal yang sangat jernih. Di balik kaca itu, nampak sebuah bengkel kerja berteknologi tinggi yang posisinya berada satu tingkat di bawah lantai tempat mereka berdiri. Ada banyak orang mengenakan jas laboratorium putih yang sedang bekerja dengan saksama di bawah sana.
Rendi menekan tombol pada alat komunikasi di dinding. "Pak Sofyan, ini batunya sudah tiba. Tolong segera dilakukan verifikasi akhir."
Seorang pria tua dengan kacamata tebal menengadah, mengangguk ke arah Rendi, lalu menghilang dari pandangan. Tak lama, terdengar suara desisan pintu lift di belakang Rimba. Pak Sofyan muncul dan langsung memberikan instruksi kepada para pekerja untuk membawa peti giok masuk ke dalam lift khusus.
Peti itu diturunkan ke ruang laboratorium di bawah. Di sana, Pak Sofyan dibantu empat rekannya mulai membuka peti. Begitu pelapis styrofoam dilepaskan, terpampang lah Giok Imperial Heart yang megah. Ukurannya sekitar 1 x 1 x 1,2 meter.
Seketika, ruangan di bawah sana seolah mendapatkan sumber cahaya baru. Giok itu memancarkan pendar hijau yang sangat dalam dan jernih, seolah-olah ada energi kehidupan yang berdetak di dalamnya. Seluruh pekerja di ruangan itu terdiam, terpaku melihat kemurnian batu yang sangat langka tersebut. Bahkan Rendi yang berada di atas kaca pengawas ikut menahan napas.
"Luar biasa..." gumam Rendi pelan.
Pak Sofyan mulai bekerja. Mereka menggunakan lampu UV, mikroskop laser, dan berbagai cairan kimia sensorik untuk memeriksa setiap sudut batu. Diskusi intens terjadi di bawah sana selama hampir tiga puluh menit. Akhirnya, Pak Sofyan menatap ke arah kaca pengawas dan mengacungkan kedua jempolnya dengan mantap. Rendi membalasnya dengan tawa lega dan acungan jempol serupa.
---
Saat suasana lega menyelimuti ruangan, pintu masuk aula terbuka. Dua orang pria masuk. Yang satu adalah orang tua yang duduk di kursi roda dengan aura yang sangat disegani, dan yang lainnya adalah pria paruh baya dengan tatapan mata yang tajam namun tenang, yang mendorong kursi roda tersebut. Pria kedua bahu kanannya naik, tidak sejajar dengan bahu kirinya, jadi terlihat agak aneh karena bahu kanannya seperti menempel dengan lehernya.
Rimba berusaha tidak memperlihatkan keterkejutannya. Dia segera fokus lagi pada orang-orang yang sedang bekerja.
"Sudah datang batunya, Ren?" tanya pak tua itu dengan suara serak namun bertenaga.
"Sudah, Eyang. Baru saja selesai diperiksa. Hasilnya seratus persen murni tanpa cacat," jawab Rendi penuh hormat.
Kedua pendatang baru itu mendekati kaca, menatap ke bawah pada giok yang bersinar indah. "Sangat cantik... ini giok terbaik yang pernah aku lihat dalam lima puluh tahun terakhir," puji sang Eyang. Ia kemudian memutar kursi rodanya menghadap Rimba. "Dan, pemilik batunya adalah... anak ganteng ini?"
Rimba membungkuk sedikit sebagai tanda hormat. "Iya, Pak. Nama saya Rimba."
"Haaa! Senang melihat anak muda yang masih menjunjung tinggi sopan santun," orang tua itu tertawa. "Kalau pemeriksaan sudah beres, mari kita selesaikan transaksinya di ruanganku saja. Bawa Nak Rimba ke sana, Rendi."
Rimba mengikuti mereka menuju sebuah ruang kantor yang sangat elegan. Ruangan itu penuh dengan buku-buku tua dan furnitur kayu jati kelas satu. Di sana, Rendi memperkenalkan keluarganya.
"Sebelum aku transfer, biarkan aku perkenalkan dulu. Ini adalah kakekku, Eyang Jayadi. Beliau adalah pendiri Tulip Jewelry. Dan ini adalah ayahku, Toni, yang menjabat sebagai CEO saat ini," ujar Rendi.
Rimba mengangguk ramah. "Karena saya sudah memanggil Bang Rendi dengan sebutan Abang, apakah saya boleh memanggil dengan Kakek Jayadi dan Om Toni?"
Keduanya tersenyum lebar. "Tentu saja boleh, Nak. Kami justru merasa lebih dekat," jawab Jayadi hangat.
"Baiklah, Bang Rendi. Ini nomor rekening saya," ujar Rimba sambil menyodorkan ponselnya.
Rendi mulai mengetik di laptopnya, menyiapkan transfer dana sebesar 47 Miliar Rupiah. Sebuah angka yang akan mengubah hidup siapa pun dalam sekejap. "Namanya... Rimba Dipa Johanson? Benar?" tanya Rendi memastikan.
"Iya, Bang," sahut Rimba pendek.
Namun, suasana hangat di ruangan itu seketika berubah. Eyang Jayadi yang tadinya nampak santai, tiba-tiba tersentak. Tubuhnya yang renta seolah mendapatkan sengatan listrik. Ia mencondongkan tubuhnya dari kursi roda, menatap Rimba dengan tatapan yang sangat lekat dan penuh selidik. Matanya nampak berkaca-kaca.
"Tunggu sebentar..." suara Eyang Jayadi bergetar hebat. "Rimba Dipa... Johanson? Nak, apakah... apakah kamu mengenal orang yang bernama Brian Johanson dan Maharani?"
DEG!
Jantung Rimba seolah berhenti berdetak. Nama itu. Nama ayahnya dan ibunya yang selama ini ia kira hanyalah bayangan di masa lalu. Ia tidak menyangka akan mendengar nama orang tuanya disebut di tempat semewah ini oleh seorang pengusaha besar. Rimba tersentak, tatapannya yang tajam kini dipenuhi dengan tanda tanya besar dan emosi yang mulai bergejolak.
"Siapa Bapak... kenapa Bapak tahu nama orang tua saya?" tanya Rimba dengan suara rendah yang sedikit bergetar.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan mewah itu, mengawali sebuah rahasia yang sebentar lagi akan terungkap.