Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Meskipun mereka berusaha tampil profesional, jelas ada perasaan mendalam yang tersimpan di hati Aisyah dan David saat bertemu kembali setelah lama terpisah. Apalagi dengan kehadiran Naina yang menjadi bagian penting dalam hidup David sekarang, dan Rain yang telah menjadi pasangan hidup Aisyah yang sah .
Setelah beberapa saat terdiam, David menarik napas dalam dan mulai membuka presentasi dengan suara yang sudah lebih stabil. "Seperti yang telah kami sampaikan di email, PT. Bumi Rasa berfokus pada pengembangan konsep makanan yang menggabungkan bahan lokal berkualitas dengan praktik berkelanjutan yang kami pelajari selama di Roma."
Aisyah mengangguk, mencoba memusatkan perhatian pada materi yang disampaikan. "Konsep itu sangat sesuai dengan visi kami dari awal mendirikan Dasyah Cafe. Bahkan, kami sedang merencanakan pembukaan tiga cabang baru dan sangat membutuhkan dukungan dalam perencanaan lokasi serta pelatihan staf."
Naina kemudian mengambil alih pembicaraan, menjelaskan detail rencana kerja sama dengan sangat rinci. Ia bisa merasakan ketegangan di antara David dan Aisyah, namun tetap fokus pada tujuan utama mereka datang ke sana.
Setelah David dan Naina pergi, Mayang segera mendekat dan memeluk bahu Aisyah. "Kau baik-baik saja kan, Syah?"
Aisyah menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, sedikit meneteskan air mata. "Aku tidak tahu, May. Semua ini terlalu tiba-tiba."
"Dengar ,Syah... antara kamu dan David, ada Rain' yang su...."
" Aku tahu...tapi aku harus tahu alasan David pergi begitu saja meninggalkan ku...tanpa memberikan penjelasan apa pun," lanjut Aisyah sambil menyeka air matanya dengan bahu lengan. "Selama hampir dua tahun aku terus bertanya-tanya apa yang salah denganku, apa yang aku lakukan salah."
Mayang duduk di sebelahnya, menjepit tangannya erat. "Kamu tidak salah apa-apa, Syah. David pasti punya alasannya sendiri, dan juga di antara kamu dan David ada tembok yang begitu tinggi. Dan ingat, Rain telah ada untukmu setiap saat ,dia yang selalu mendukung impianmu tentang cafe ini, yang membantu kamu dari awal hingga sekarang."
"Aku akan mengatakan pada Rain tentang hari ini, tentang kedatangan David."
" Sebaiknya tunggu dulu,Syah... takutnya Rain akan salah paham jika tahu David telah kembali dan kini bekerja sama dengan kita."
Aisyah menoleh ke arah Mayang,ia pun mulai berfikir jika apa yang di katakan Mayang ada benar nya juga.Mungkin sebaiknya dia tidak mengatakan apapun pada Rain.
...****************...
" Apa yang kamu dapatkan?" Tanya Rain saat Bobby berjalan memasuki ruang kerjanya.Saat ini Rain sedang sibuk bahkan akhir-akhir ini Ia dan Aisyah jarang bertemu meski mereka tinggal dalam satu atap.
Sudah beberapa hari ini Rain selalu pulang larut malam,bahkan tak jarang ia menginap di kantor, sedangkan Aisyah pun begitu sibuk di cafe setelah beberapa perusahaan yang siap jadi mitra mereka.
" Dia sudah kembali beberapa hari yang lalu,dan...." Bobby tak berani melanjutkan ucapannya karena takut akan reaksi sang bos jika mengetahui nya.
" Dan apa..?" Rain menatap ke arah Bobby yang berdiri di depan nya." Katakan saja."
" Perusahaan nya dan cafe milik nyonya telah bekerja sama untuk pengembangan cafe dan pembukaan cabang baru di beberapa kota." Lanjut Bobby dengan suara pelan hampir tak terdengar.
Rain terdiam sejenak, matanya tetap terpaku pada layar komputer di depannya namun jelas tidak lagi fokus pada apa yang ada di sana. Jari jemarinya mengerutkan kertas kerja yang ada di mejanya, kemudian dia perlahan menatap Bobby.
"Kenapa aku baru tahu sekarang?" tanyanya dengan suara yang tenang namun penuh tekanan.
"Bos... saya baru saja mendapatkan informasi ini kemarin malam. Saya juga bingung kenapa nyonya tidak memberitahu Anda," jawab Bobby dengan pandangan yang menunduk.""Saya khawatir ada hal lain yang tidak Anda ketahui."
Rain menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. " berarti ada sesuatu yang lebih dari sekadar kerja sama bisnis, bukan?"
Bobby mengangguk perlahan. "David Emmanuel Erlangga , itu nama pria yang datang bersama mitra perusahaan tersebut. Dari informasi yang saya dapatkan, dia dan nyonya pernah sangat dekat dulu sebelum dia meninggal kan Indonesia tanpa kabar."
Rain merasa ada rasa terbakar di dadanya , nama itu begitu familiar di telinga nya setelah mengenal Aisyah,ia tentu tahu hubungan David dan istrinya itu di masa lalu,dan istrinya masih terjebak dalam hubungan masa lalu itu.
"Terima kasih, Bobby. Kamu bisa keluar sekarang," katanya lembut. Setelah Bobby pergi, Rain menutup laptopnya dan merenung. Dadanya bergemuruh..ia tidak tahu alasan Aisyah tidak memberitahukan padanya..ataukah wanita yang kini menjadi istrinya itu kini mulai merahasiakan padanya kini?.
Malam itu, Rain pulang lebih awal dari biasanya. Dia menemukan Aisyah sedang duduk di ruang makan, melihat foto lama di ponselnya. Saat mendengar suara pintu terbuka, Aisyah terkejut dan cepat menyembunyikan ponselnya.
"Rain? Kamu pulang lebih awal hari ini?" ujarnya dengan suara sedikit gemetar.
Rain mendekat dan duduk di hadapannya, kemudian mengambil tangannya dengan lembut. " Pekerjaan ku sudah berkurang,dan lagi pula aku bisa mengerjakan nya dari rumah." Rain duduk di sofa melepas lelah setelah seharian ia bergelut dengan pekerjaan.
Aisyah berjalan ke dapur dan tak lama kemudian ia kembali dengan membawa segelas air putih untuk Rain.
" Minumlah." Aisyah memberikan gelas itu dan di terima oleh Rain lalu meneguk nya hingga tak bersisa.
" Bagaimana keadaan cafe? Apa semuanya berjalan dengan baik?" Tanya Rain sembari mengamati wajah Aisyah yang tiba-tiba berubah pucat.
"I...iya... semuanya berjalan lancar," jawab Aisyah dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menghindari pandangan Rain. "Kita sudah mulai menyusun rencana untuk pembukaan cabang pertama di Bandung."
Rain mengangguk perlahan, tapi matanya tetap terpaku pada wajah istrinya. "Hanya itu saja? Tidak ada hal lain yang perlu kamu ceritakan padaku?"
Aisyah menoleh ke arah jendela, tangannya mulai gemetar saat merasakan ketegangan di udara. "Apa maksudmu, Rain?"
" Tidak ada... mungkin saja ada mitra yang membuat mu tidak nyaman atau merasa tidak puas." Rain berdiri dan mendekat padanya, meletakkan tangannya pada bahu Aisyah dengan lembut sembari menuntunnya masuk ke ruang tengah, tempat mereka biasanya menghabiskan waktu jika hari libur.
" Ti...tidak ada... semua berjalan sesuai rencana dan profesional." Jawab Aisyah gugup sembari duduk di sofa depan tivi .
Rain terlihat kecewa dengan jawaban Aisyah yang tak ingin berterus-terang, ia lalu berjalan masuk ke kamarnya . Meski status mereka suami istri dan tinggal di tempat yang sama tapi Rain dan Aisyah memutuskan untuk tidur di kamar masing-masing,hal itu di lakukan Rain untuk memberi ruang dan waktu pada Aisyah yang belum sepenuhnya menerima pernikahan mereka karena hatinya masih terpaut pada orang lain. Tapi kini yang di takutkan Rain justru datang secara tiba-tiba yang tentu saja akan sangat berpengaruh pada hubungan pernikahan nya dan Aisyah.