Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas? Ayo Kipas!
Plak!
Suara tamparan itu menggema keras di antara puing-puing Cabang Utara yang masih menghitam. Semua orang membeku di tempatnya. Bahkan para petugas dan karyawan yang berdiri tidak jauh dari sana menunduk, tidak berani bersuara.
Carlos memegang pipinya yang memerah. Ia menatap kakeknya dengan campuran terkejut dan tidak terima.
“Kek… saya tidak pernah menyinggung siapa pun,” katanya menahan emosi.
Tatapan Tuan Jack tajam dan dingin. “Kalau begitu, siapa yang melakukan ini?”
Carlos terdiam. Rahangnya mengeras, tetapi tidak ada jawaban yang mampu ia berikan.
Leon dan Ruby saling berpandangan dengan wajah tegang. Viviane menggenggam tasnya erat-erat.
Tiba-tiba Viviane bersuara, suaranya terdengar ragu namun jelas.
“Jangan-jangan ini ulah Max. Pasti Kak Naomi mengadu soal mobil yang rusak itu, jadi—”
Ia langsung terdiam begitu menyadari ucapannya meluncur terlalu jauh.
Tuan Jack perlahan menoleh kepadanya. “Apa maksudmu?” suaranya rendah namun penuh tekanan. “Lanjutkan.”
Viviane menelan ludah. “Aku… tidak bermaksud seperti itu, Kek.”
Carlos mencoba menyela, “Kek, ini tidak ada hubungannya dengan—”
“Benarkah?” potong Tuan Jack tajam. “Kau mengganggu Max?”
“Tidak,” jawab Carlos cepat.
“Kalau begitu,” suara Tuan Jack semakin berat, “kau melakukan sesuatu pada Naomi?”
Carlos kembali terdiam.
Keheningan itu menjadi jawaban yang lebih jelas daripada pengakuan.
Tuan Jack mengalihkan pandangannya kepada Juno. “Kau. Jelaskan.”
Juno terlihat gelisah. “Tuan, saya…”
“Jawab.”
Di bawah tekanan tatapan itu, Juno akhirnya berkata, “Kemarin… mobil Nona Naomi dirusak atas perintah Tuan Carlos. Mobil itu hadiah dari Tuan Max.”
Suasana semakin mencekam.
Tuan Jack menutup matanya sejenak, menahan amarahnya. Setelah beberapa detik, ia kembali membuka mata dan menatap cucunya dengan kekecewaan yang nyata.
“Sudah aku peringatkan,” ucapnya pelan namun tegas. “Berhenti mengganggu kehidupan Naomi. Setidaknya, jika kau tak bisa memberikan Naomi kebahagian sebagai kakak. Jangan membuat Naomi sedih apalagi mengganggnya lagi. Dia sudah bahagia di keluarga Atlas.”
Carlos mencoba membela diri. “Naomi yang lebih dulu mengganggu Viviane—”
“Kau yakin?” potong Tuan Jack. “Apa kau sudah menyelidiki? Atau kau hanya terpengaruh oleh ucapan Viviane?”
Carlos menjawab dengan keras kepala, “Viviane tidak mungkin berbohong.”
Tuan Jack menggeleng perlahan. “Kau terlalu percaya.”
Ia melanjutkan dengan suara dingin, “Kalau begitu, biar aku yang mencari tahu kebenarannya.”
Wajah Viviane langsung pucat. Ia buru-buru berkata, “Kek … itu bukan salah Kak Naomi. Aku yang salah karena jatuh, akhirnya terkena siraman kuah panas.”
Tuan Jack mendengus dingin. Ia menunjuk Carlos dan Viviane bergantian.
“Dengar baik-baik. Jangan pernah menyentuh Naomi lagi. Jangan pernah mengusik hidupnya.”
Tatapannya mengeras. “Apalagi berurusan dengan Max. Ingat, Max adalah salah satu pilar negara yang paling penting di bidang pertahanan. Kalian bukan apa-apa di hadapannya.”
Leon dan Ruby menegang mendengar pernyataan itu.
“Jika Max mau,” lanjut Tuan Jack dengan suara rendah namun mengandung ancaman nyata, “kau bisa dibungkam tanpa suara. Ini hanya peringatan kecil.”
Carlos terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak mampu membalas satu kata pun.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Tuan Jack memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan tempat itu, tongkatnya mengetuk aspal dengan tegas.
Viviane berdiri dengan wajah pucat. Ia menunduk, jari-jarinya saling menggenggam erat. Perlahan, ia melangkah mendekati ibunya.
“Mami .…” suaranya bergetar.
Nyonya Ruby yang berdiri di dekat suaminya, menoleh. Wajahnya tetap tenang, meski jelas terlihat frustasi.
Viviane berhenti di hadapannya.
“Mami, aku minta maaf. Ini semua salahku,” ucapnya. “Seandainya aku tidak gegabah … mungkin masalah ini tidak akan sebesar ini.”
Beberapa orang itu terdiam.
Nyonya Ruby tersenyum lembut. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan putrinya.
“Viviane,” katanya pelan namun tegas, “ini bukan salahmu, Nak.”
Viviane mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. “Tapi, Mami—”
“Dengarkan Mami,” potong Nyonya Ruby. “Dalam dunia seperti ini, kesalahan kecil bisa dibesar-besarkan oleh orang lain. Itu bukan berarti kamu sepenuhnya bersalah.”
Ia mengusap punggung tangan putrinya dengan penuh ketenangan.
“Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita menyelesaikannya. Dan itu biar Mami dan Papa yang mengurus.”
Viviane menggigit bibirnya. “Aku tidak ingin hanya berdiam diri.”
“Kamu tetap jalani kehidupanmu seperti biasa,” jawab Nyonya Ruby. “Pergilah ke kampus. Jangan biarkan orang lain melihat kita goyah.”
Nada suaranya berubah lebih tegas. “Biar orang dewasa yang menangani urusan ini.”
Viviane terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk perlahan. “Baik, Mami.”
Ia berbalik dan melihat Carlos yang berdiri tak jauh dari sana. Wajah pria itu serius seperti biasa.
Viviane melangkah mendekatinya.
“Kak Carlos,” panggilnya pelan, seolah ingin mengatakan sesuatu yang lebih.
Carlos menatapnya dalam-dalam. Namun alih-alih berbicara panjang, ia hanya mengangguk singkat.
“Selesaikan harimu dengan baik,” ujarnya datar namun penuh makna. “Kami akan mengurus sisanya.”
Akhirnya Viviane berbalik pergi meninggalkan mereka dengan tangan mengepal kuat.
Sialan kau Naomi! Desisnya dalam hati. Niat hati ingin menjadikan Naomi pelaku, justru dialah yang kena batunya.
*
*
Sepulang dari kampus, keempat sahabat itu berjalan berdampingan menuju area parkir.
Timmy masih membicarakan daftar belanja yang akan mereka lakukan.
“Kita mulai dari supermarket dulu. Setelah itu toko perlengkapan outdoor. Jangan sampai ada yang terlewat,” ujarnya penuh semangat.
“Seolah-olah kiamat benar-benar besok datang,” sahut Yura sambil menggeleng.
Naomi hanya tersenyum tipis. Ia berjalan sedikit di depan mereka.
Namun langkah mereka terhenti ketika sampai di parkiran.
“Astaga!” Sonya terpekik.
Timmy membelalak. “Naomi … itu mobil barumu yang kau katakan tadi?”
Di hadapan mereka terparkir mobil mewah keluaran terbaru. Desainnya elegan, garis bodinya tajam dan futuristis. Catnya berkilau di bawah sinar matahari sore.
Namun yang membuat ketiganya benar-benar terdiam adalah warna mobil itu.
Awalnya berwarna hitam metalik. Lalu ketika seorang mahasiswa berjaket merah berjalan melewati sisi mobil, warna bodinya perlahan berubah menjadi merah marun mengilap.
“Apa aku salah lihat?” gumam Yura.
Belum selesai mereka mencerna, seorang mahasiswi dengan gaun biru langit melintas. Seketika mobil itu berubah menjadi biru safir.
Sonya menutup mulutnya. “Itu … itu berubah warna!”
Timmy mendekat, matanya berbinar seperti anak kecil mendapat mainan baru.
“Naomi! Mobilmu bisa berganti warna sesuai orang yang lewat! Ini teknologi apa lagi?”
Naomi sendiri tampak sama terkejutnya. Ia mengerutkan kening sambil memperhatikan bodi mobil yang kini berubah menjadi hijau zamrud karena seorang mahasiswa berkaus hijau berjalan melewati bagian depan.
“Aku … juga baru tahu,” jawab Naomi pelan. “Tadi pagi Kak Max hanya mengatakan mobilnya sudah siap digunakan. Ia tidak menjelaskan detailnya.”
“Max memang selalu penuh kejutan,” gumam Yura kagum.
Timmy menepuk bahu Naomi dengan heboh. “Ini bukan kejutan, ini sihir! Mobilmu seperti punya sensor warna. Wah, Naomi, kau benar-benar tidak main-main.”
Sonya tersenyum lebar. “Kalau parkir di mana pun, mobil ini pasti jadi pusat perhatian.”
Naomi menghela napas kecil, masih memandangi mobil itu. Dalam hati ia juga heran Max benar-benar terlalu berlebihan.
Di kejauhan, Viviane berdiri tidak jauh dari sana bersama teman-temannya.
Matanya terpaku pada pemandangan itu.
Mobil Naomi kembali berubah warna, kali ini menjadi ungu anggun saat seorang dosen berjas ungu melewatinya.
Tangan Viviane perlahan mengepal.
Dadanya terasa panas. Semakin hari, Naomi seolah selalu selangkah lebih unggul. Lebih mencolok. Tatapannya mengeras.
Timmy yang tanpa sengaja melihat ekspresi Viviane langsung menyeringai nakal.
Ia berbisik pelan pada Naomi, tetapi cukup keras untuk terdengar oleh orang yang dimaksud.
“Aduh … panas sekali ya di sini?”
Yura menahan tawa. “Padahal sore ini tidak terlalu terik.”
Timmy pura-pura melihat ke sekeliling. “Bukan panas matahari, rupanya. Ini panas yang lain.”
Ia menoleh ke arah Viviane dengan senyum tipis yang jelas menyindir.
“Panas hati, ya?” katanya santai. “Tunggu sebentar.”
Timmy lalu berpura-pura mengipasi udara dengan kedua tangannya. “Ayo, kipas … kipas … kasihan, nanti terbakar sendiri.”
Sonya spontan tertawa kecil, sementara Yura berusaha tetap tenang meski sudut bibirnya terangkat.
Naomi segera menatap Timmy dengan peringatan halus.
“Sudah. Tidak perlu memperpanjang.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat dada Viviane semakin sesak.
Naomi membuka pintu mobilnya. Warna bodinya kembali berubah perlahan menjadi hitam elegan ketika tidak ada siapa pun yang melintas dekat sensor.
Timmy masih terkagum-kagum. “Baiklah, Nona Teknologi Masa Depan, mari kita pergi belanja sebelum aku semakin jatuh cinta pada mobil ini.”
Naomi terkekeh pelan. “Kita pergi sekarang.”
Keempatnya masuk ke dalam mobil dengan suasana riang.