Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBURU BOUNTY PERTAMA
Ketiga pemburu bounty menyebar—membentuk formasi segitiga untuk mengepung kami.
Yang di tengah dengan pedang besar—sepertinya pemimpin—tersenyum percaya diri.
"Perkenalkan. Aku Garron, kapten Iron Fang Crew. Bounty dulu seratus juta sebelum aku pensiun jadi pemburu bounty. Di kananku—Vex, penembak jitu terbaik di East Blue. Di kiriku—Lyra, master chain whip yang sudah bunuh dua puluh bajak laut."
Mereka memang bukan lawan sembarangan. Aura Haki terasa dari ketiganya—meskipun tidak sekuat Doberman, tetap level yang harus diwaspadai.
"Kalian datang ke pulau yang salah," Sabo berkata sambil spin Ryuseikon. "Kami tidak akan tertangkap dengan mudah."
"Kami tahu kalian kuat. Makanya kami datang bertiga—dan sudah riset kemampuan kalian," Garron menjawab. "Ace, pengguna Mera Mera no Mi Logia type dengan Conqueror's Haki. Sabo, master Observation Haki dengan kecepatan tinggi. Kami sudah siapkan strategi khusus untuk kalian."
Mereka memang datang dengan persiapan. Bukan pemburu bounty amatir.
"Kalau begitu—" Garron angkat pedang besarnya. "—MULAI!"
SORU!
Ketiganya menghilang bersamaan—muncul dari tiga arah berbeda.
Garron dari depan dengan slash vertikal. Vex dari kanan dengan tembakan. Lyra dari kiri dengan cambuk chain yang melilit.
Serangan terkoordinasi sempurna.
Tapi—
Terlalu lambat untuk kami.
Observation Haki aktif. Aku sudah prediksi semua gerakan mereka tiga detik sebelumnya.
"Sabo, kanan!"
"Oke!"
Kami bergerak sinkron. Aku ubah tubuh bagian atas jadi api—Logia intangibility. Pedang Garron melewati tanpa damage. Tembakan Vex juga menembus api tanpa efek.
Sabo gunakan Future Sight untuk dodge chain whip dengan timing sempurna—melilit udara kosong.
"Apa?! Mereka terlalu cepat!" Vex berteriak shock.
Kami tidak kasih waktu recovery.
Aku reform di samping Garron—Hinokami sudah menyala dengan api putih.
"Hinotachi: Guren!"
Slash diagonal dari bawah dengan suhu tiga ribu derajat.
Garron reflex block dengan pedang dilapisi Armament Haki—
CLANG!
Benturan menciptakan percikan api kemana-mana. Garron terdorong mundur lima meter—kaki meninggalkan alur di pasir.
"Kekuatan monster...!" dia bergumam sambil lihat pedangnya yang mulai meleleh di bagian yang kena api.
Di sisi lain, Sabo sudah engage dengan Lyra.
Chain whip-nya bergerak cepat seperti ular—menyerang dari berbagai sudut dengan unpredictable.
Tapi Sabo dengan Future Sight-nya bisa lihat sepuluh detik ke depan. Semua gerakan terlihat jelas.
Dodge, parry, counter—semua dengan gerakan minimal dan efisien.
"RYUUGEKI!"
Thrust cepat dengan Ryuseikon dilapisi Conqueror's Haki—mengenai tepat di pergelangan tangan Lyra.
CRACK!
Tulang patah. Chain whip jatuh dari tangan.
"GYAAA!" Lyra berteriak kesakitan sambil mundur cepat—pegang tangan yang patah.
"Lyra! Sial!" Garron marah melihat rekannya terluka parah hanya dalam satu exchange.
Vex mencoba support dengan tembakan beruntun—tapi aku sudah ubah tubuh jadi api lagi. Semua peluru menembus tanpa damage.
"Peluru tidak ada gunanya pada Logia!" aku berteriak sambil lempar bola api besar ke arahnya.
Vex lompat ke samping dengan Geppo—hindar di udara.
Tapi bola api meledak dan menciptakan gelombang panas yang bikin dia kehilangan keseimbangan.
"RANKYAKU!"
Garron kirim slash udara berbentuk bulan sabit ke arahku dari jarak jauh.
Aku tidak menghindar. Langsung slash dengan Hinokami—
"Enpa!"
Api dan slash udara bertabrakan di tengah—menciptakan ledakan kecil.
"Kami meremehkan kalian..." Garron akhirnya mengakui sambil ambil stance lebih serius. "Tapi kami tidak akan menyerah! Vex! Formasi Beta!"
"Roger!"
Vex landing dan ambil posisi di belakang Garron. Lyra meskipun terluka juga ambil posisi—pakai tangan kiri untuk pegang chain whip.
Mereka berformasi segitiga lagi—tapi kali ini lebih defensif.
"Ace, mereka mau pakai strategi bertahan sambil cari celah," Sabo menganalisa. "Kita serang bersamaan atau satu-satu?"
"Bersamaan. Habiskan cepat. Aku tidak mau buang waktu dengan mereka."
"Setuju."
Kami berdiri berdampingan. Mengumpulkan energi.
Api putih menyelimuti Hinokami. Angin berputar di sekitar Ryuseikon. Conqueror's Haki dari kami berdua mulai bocor—tekanan spiritual menyebar.
"Apa... ini..." Garron berkeringat dingin merasakan tekanan. "Conqueror's Haki dari dua orang sekaligus..."
Lyra yang paling lemah sudah mulai limbung—tekanan terlalu berat untuk dia.
"Bertahan!" Garron berteriak—aktifkan Armament Haki maksimal untuk resist tekanan.
Tapi sudah terlalu terlambat.
"GUREN TATSUMAKI!"
Kami serang bersamaan—tornado api dan angin dengan Conqueror's Haki menyatu menciptakan badai destruktif.
"TEKKAI: KONGO!"
Garron aktifkan Tekkai terkuatnya. Tubuh mengeras seperti berlian.
Tapi tidak cukup.
Tornado menelan ketiganya—memutar dengan kecepatan dan suhu ekstrim.
ROOOAAARRR!
Berlangsung sepuluh detik penuh sebelum kami hentikan.
Saat tornado berhenti—ketiganya tergeletak di pasir. Lyra dan Vex pingsan total. Garron masih sadar tapi tidak bisa bergerak—luka bakar di sekujur tubuh dan tulang patah di beberapa tempat.
"Kalian... monster..." dia bergumam lemah. "Kekuatan ini... tidak mungkin dari bocah..."
"Kami bukan bocah biasa," aku menjawab sambil sarungkan Hinokami kembali. "Dan ini peringatan untuk semua pemburu bounty lain—jangan datang ke pulau ini kalau tidak mau mati."
Kami ikat ketiganya dan seret ke kapal mereka. Taruh di deck dan dorong kapal kembali ke laut.
"Pulang dan kasih tahu yang lain—Dawn Island di bawah perlindungan kami. Siapapun yang datang dengan niat jahat akan dapat nasib lebih buruk dari kalian," Sabo berteriak ke arah kapal yang mulai menjauh.
Garron yang masih sadar hanya bisa mengangguk lemah—terlalu terluka untuk protes.
Kami berjalan kembali ke gubuk. Pertarungan selesai dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
"Terlalu mudah," Sabo berkomentar. "Aku pikir akan lebih menantang."
"Mereka memang kuat untuk standar East Blue. Tapi setelah latihan tiga tahun melawan binatang raksasa dan Yamamoto—level ini terasa mudah."
"Benar juga. Doberman dulu jauh lebih menantang."
Di gubuk, semua orang sudah berkumpul dengan wajah khawatir.
"Bagaimana?!" Dadan bertanya panik.
"Sudah selesai. Mereka kami kirim pulang dengan luka berat. Harusnya jadi peringatan untuk pemburu bounty lain," aku menjawab sambil duduk—tidak ada luka sama sekali.
"Kalian menang tanpa luka apapun?!"
"Mereka tidak cukup kuat untuk lukai kami. Mungkin kalau datang sepuluh orang sekaligus baru bisa kasih perlawanan berarti."
Yamamoto tersenyum bangga. "Seperti yang kukira. Kalian sudah jauh melampaui level East Blue. Bahkan bajak laut dari Paradise mungkin tidak bisa menang mudah melawan kalian."
"Tapi ini baru permulaan," Sabo mengingatkan. "Pemburu bounty yang lebih kuat akan datang. Dan Marine juga pasti akan kirim pasukan serius setelah dengar kita kalahkan Iron Fang Crew."
"Maka kita tetap waspada. Patrol dilanjutkan. Latihan dilanjutkan."
Dua minggu berlalu. Kabar tentang kekalahan telak Iron Fang Crew menyebar cepat di dunia bawah.
Pemburu bounty yang tadinya excited dengar bounty total dua ratus tujuh puluh juta sekarang mikir dua kali sebelum datang.
Tapi ada yang tidak terpengaruh—yang lebih tertarik pada tantangan daripada uang.
Hari itu, saat kami sedang latihan dengan Luffy, Observation Haki menangkap presence sangat kuat mendekat dari laut.
Tidak hanya satu. Tapi lima.
Dan level mereka—jauh lebih tinggi dari Iron Fang Crew.
"Sabo, kau rasakan?" aku bertanya sambil tetap fokus ke presence.
"Ya. Lima orang. Masing-masing level seratus juta bounty atau lebih. Dan yang di tengah..." wajah Sabo pucat. "...presence-nya hampir setara Doberman."
Hampir setara Doberman. Berarti level Rear Admiral atau sangat mendekati.
"Ini masalah besar," aku bergumam.
Bell di pantai berbunyi.
DANG DANG DANG DANG DANG!
Lima kali. Kode untuk ancaman level tinggi.
"Yamamoto! Jaga Luffy dan Dadan! Jangan keluar sampai kami kembali!" aku berteriak sambil ambil Hinokami.
"Hati-hati! Lima presence sekuat itu bukan main-main!" Yamamoto memperingatkan.
"Kami tahu!"
Kami berlari ke pantai dengan kecepatan maksimal.
Disana, kapal besar dengan bendera tengkorak dan pedang menyilang sudah berlabuh. Jauh lebih besar dari kapal Iron Fang Crew.
Lima orang turun dari kapal. Semua memancarkan aura kuat yang membuat udara terasa berat.
Yang di depan—pria tinggi dengan rambut perak panjang, mata merah, dan pedang di pinggang yang terasa punya aura aneh—tersenyum melihat kami.
"Jadi kalian Portgas D. Ace dan Outlook Sabo. Bocah yang tolak Dragon dan kalahkan Iron Fang Crew dalam sepuluh menit."
Suaranya tenang tapi mengandung ancaman tersembunyi.
"Aku Kaizerr, kapten Silver Blade Pirates. Bounty kami total enam ratus juta berry. Dan kami datang bukan untuk bounty kalian—" dia tarik pedang yang langsung menyala dengan aura perak aneh. "—tapi untuk test kalian. Konon kalian sekuat Vice Admiral. Aku mau lihat sendiri apakah itu benar."
Enam ratus juta total. Berarti rata-rata seratus dua puluh juta per orang.
Dan Kaizerr yang pemimpin kemungkinan punya bounty dua ratus juta atau lebih.
Ini level yang sangat berbeda dari sebelumnya.
"Kalau kami menolak?" aku bertanya—meskipun tahu jawabannya.
"Maka kami akan paksa. Satu cara atau lainnya—hari ini kami akan lihat kekuatan kalian."
Tidak ada ruang negosiasi.
Ini pertarungan yang tidak bisa dihindari.
"Baiklah," aku tarik Hinokami. Api langsung menyala—putih kebiruan. "Tapi jangan menyesal kalau kalian semua pulang dengan tandu."
Kaizerr tertawa keras. "Itu semangatnya! Tunjukkan padaku—Fire Fist Ace dan Wind Dragon Sabo—seberapa kuat kalian sebenarnya!"
Pertempuran level baru dimulai.
Pertempuran yang akan tentukan apakah kami benar-benar sekuat rumor.
Atau hanya anak-anak yang beruntung.
Api dan angin bersiap untuk badai.
Badai yang akan menghancurkan siapapun yang menghalangi.