Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 5
Waktu berjalan terasa begitu lambat bagi Karin. Ia tetap menjadi orang yang sama—tak ada yang berubah dari dirinya. Kesedihannya masih menetap, begitu pula rasa rindunya pada Arka.
Ia terus bolak-balik mengecek ponselnya, berharap Arka menelepon atau setidaknya mengirim satu pesan singkat. Ia bahkan membuka Instagram Arka, namun tak ada satu pun unggahan baru di sana. Pemuda itu seolah menghilang, ditelan bumi tanpa jejak.
Tak adanya kabar itu membuat hati Karin bukan hanya diliputi rindu dan kehilangan, tetapi juga kekhawatiran. Ia bertanya-tanya dalam diam—apakah Arka baik-baik saja?
Dua minggu berlalu sejak malam konser itu. Karin lebih banyak mengurung diri di dalam kamar hotel. Ia tak pergi ke mana-mana. Kepada ibunya, ia berbohong dengan mengatakan bahwa ia berjalan-jalan di Seoul dan menikmati liburannya. Padahal kenyataannya, hari-harinya hanya diisi dengan tidur, menangis, lalu tidur lagi.
Hari demi hari berlalu, dan waktu hampir menyentuh satu bulan sejak ia tiba di Korea. Namun tak ada perubahan berarti dalam dirinya.
Hingga suatu pagi, Karin terbangun dengan dada yang terasa sesak. Ia menatap langit-langit kamar hotelnya dan untuk pertama kalinya merasa lelah dengan dirinya sendiri.
Ia merasa bodoh karena terus memikirkan seseorang yang tak lagi memikirkannya. Jika Arka memang mencintainya, ia tak akan meninggalkannya. Jika Arka benar-benar peduli, ia tak akan membuatnya sehancur ini.
Karin bangkit dari tempat tidur. Ia menarik napas panjang, seolah mengumpulkan sisa keberanian yang masih ia miliki.
Ia memutuskan untuk kembali menulis.
Dan untuk itu, ia memilih pergi ke Pulau Jeju.
“Karin, kamu harus melupakan Arka. Apa pun caranya,” katanya pada dirinya sendiri.
“Oke. Hari ini kita pergi ke Jeju.”
Ia pun bersiap—mengemasi koper, menyiapkan barang-barangnya—lalu meninggalkan hotel, membawa dirinya menuju Pulau Jeju, berharap jarak bisa sedikit demi sedikit menyembuhkan luka.
Pulau Jeju menyambut Karin dengan angin laut yang sejuk dan langit yang bersih. Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi. Cahayanya jatuh lembut di atas permukaan laut yang tenang. Karin berjalan pelan menyusuri jalan kecil dekat pantai, kamera tergantung di lehernya.
Ia berhenti beberapa kali. Mengangkat kamera, memotret laut biru yang membentang luas, batu-batu hitam vulkanik di tepi pantai, juga rerumputan liar yang bergoyang tertiup angin.
Sesekali ia menurunkan kameranya, menatap hasil foto di layar, lalu tersenyum kecil—senyum tipis yang jarang muncul sejak akhir-akhir ini.
Karin duduk di bangku kayu menghadap laut. Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah buku catatan dan sebuah pulpen. Ia membukanya, menatap halaman kosong itu cukup lama.
Tak ada kata yang ia tulis.
Ia hanya menutup kembali buku itu, memasukkannya ke dalam tas, lalu berdiri.
Langkahnya terasa sedikit lebih ringan.
Menjelang siang, Karin berjalan menuju sebuah pasar kecil di Jeju. Suasananya ramai tapi tidak bising. Lapak-lapak sederhana berjajar rapi, dipenuhi buah-buahan segar.
Karin menghampiri salah satu lapak jeruk. Ia mengambil sebuah jeruk berwarna oranye cerah, memutarnya perlahan di telapak tangan. Kulitnya halus, warnanya hangat. Entah kenapa, jeruk itu terlihat sangat cantik di matanya. Senyum kecil kembali terukir di wajah Karin.
Ia lalu bertanya kepada sang penjual dengan bahasa Inggris,
“Sir, how much is this?” (Pak, berapa harganya?)
Penjual itu menatapnya sebentar, lalu menggeleng pelan. Ia menjawab dengan bahasa Korea,
“한국어 할 수 있어요? 영어를 못해요.”
(Kamu bisa bahasa Korea? Saya tidak bisa bahasa Inggris.)
Karin terdiam. Ia sama sekali tidak mengerti.
“Wait a moment,” katanya pelan, lalu meraih ponselnya dari dalam tas untuk menerjemahkan.
Namun sebelum sempat menunjukkan hasil terjemahan, layar ponselnya mendadak gelap. Baterainya habis.
Karin panik kecil. Ia mencoba menggunakan bahasa isyarat seadanya—menunjuk jeruk, lalu menggerakkan jarinya seolah bertanya harga. Penjual itu tetap terlihat bingung.
Saat itulah sebuah suara datang dari samping, menggunakan bahasa Korea dengan lancar,
“이거 얼마예요, 아저씨?”
(Ini berapa harganya, Pak?)
Karin menoleh spontan.
Matanya membesar.
Pemuda itu berdiri di sampingnya dengan senyum ramah—wajah yang sangat ia kenal. Pemuda yang menemaninya di konser malam itu.
“Ah, hi,” katanya sambil tersenyum, jelas sama terkejutnya.
“Hai,” jawab Karin, balas tersenyum, sedikit kikuk tapi hangat.
Pemuda itu membantu menerjemahkan harga jeruk, lalu mereka membelinya bersama. Setelah itu, tanpa banyak bicara, mereka berjalan dan duduk di dekat sungai.
Udara terasa segar. Air mengalir pelan, memantulkan cahaya matahari sore. Karin memandang pemandangan di depannya, menggenggam kantong jeruk di tangannya.
Mereka duduk bersebelahan di tepi sungai. Sesekali saling melirik, lalu sama-sama mengalihkan pandangan ke arah air yang mengalir pelan. Rasa canggung itu muncul begitu saja—ringan, tapi terasa. Pemuda itu tampak ingin membuka percakapan, begitu pula Karin. Ia berdeham kecil, sementara Karin tanpa sadar menggaruk kepalanya.
Ketika mata mereka akhirnya bertemu, keduanya terdiam sejenak. Lalu tertawa bersamaan.
Tawa itu lepas dan hangat. Untuk sesaat, Karin bahkan lupa bahwa beberapa waktu lalu hatinya masih terasa berat.
Pemuda itu akhirnya membuka suara dengan bahasa Inggris, nadanya ramah meski terdengar sedikit gugup.
“We meet again. How are you?”
(Kita bertemu lagi. Apa kabar?)
Karin tersenyum kecil sebelum menjawab,
“Yes, we meet again. In Jeju. Last time was at the concert. I’m fine.”
(Iya, kita ketemu lagi. Di Jeju. Terakhir kita ketemu di konser. Aku baik.)
Pemuda itu menatapnya sebentar, lalu bertanya lagi,
“You didn’t go back to Indonesia?”
(Kamu nggak pulang ke Indonesia?)
Karin tertawa kecil.
“Indonesia? No. I’m on vacation here for one month.”
(Indonesia? Tidak. Aku liburan di sini selama satu bulan.)
Pemuda itu terlihat terkejut.
“One month? That’s a long time. You must have a lot of money to travel that long.”
(Satu bulan? Waktu yang cukup lama. Kamu pasti punya banyak uang untuk liburan selama itu.)
Karin hanya tertawa mendengarnya.
Pemuda itu kembali bertanya, kali ini terdengar lebih gugup,
“So… you come to Jeju for vacation?”
(Jadi… kamu ke Jeju untuk liburan?)
Ia terdiam sebentar, lalu mengulang,
“Vacation?”
Karin menatapnya dan tertawa kecil.
“You already asked that.”
(Kamu sudah menanyakan itu tadi.)
Pemuda itu ikut tertawa, lalu mengaku jujur,
“I’m nervous. This is my first time talking to an Indonesian girl.”
(Aku gugup. Ini pertama kalinya aku berbicara dengan cewek Indonesia.)
Karin mengangguk sambil tersenyum.
“Oh, I understand.”
(Oh, aku mengerti.)
Ia lalu membuka kantong plastik berisi buah Hallabong dan menyerahkannya pada pemuda itu.
“This is for you.”
(Ini untukmu.)
Pemuda itu tampak terkejut.
“But I already bought some.”
(Tapi aku sudah membelinya.)
Karin menggeleng pelan.
“Buying and being given are different. Consider it my gift. Thank you for helping me translate earlier.”
(Membeli dan diberi itu berbeda. Anggap saja ini hadiahnya dariku. Terima kasih sudah membantuku menerjemahkan tadi.)
Pemuda itu tersenyum lalu menerima buah tersebut.
“Alright. Thank you.”
(Baiklah. Terima kasih.)
Mereka kembali mengobrol ringan. Tertawa kecil. Membicarakan Indonesia, Korea, dan hal-hal sederhana yang mereka sukai. Dua orang asing yang terasa begitu terbuka, seolah waktu melambat di Pulau Jeju.
Sore beranjak malam. Udara semakin sejuk, angin laut berembus pelan. Karin menikmati hari itu sepenuhnya—dan tanpa ia sadari, untuk sesaat, ia lupa memikirkan Arka.