NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Rutinitas Pagi Lunaris

Ketika bus sampai di halte dekat sekolahnya, Lunaris pun turun dari bus. Langkah kaki Lunaris terasa berat saat ia memasuki gerbang Sevit Senior High School.

Sekolah ini adalah monumen kesombongan; pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi seolah-olah dibangun untuk mengingatkan siapa saja yang tidak memiliki kasta bahwa mereka tidak pantas bernapas di sini.

Baginya, setiap langkah menuju kelas adalah langkah menuju ruang eksekusi.

Ia berjalan menyusuri koridor dengan kepala tertunduk. Tidak ada yang menyapa, tidak ada yang menoleh. Bagi sebagian besar siswa, Lunaris hanyalah partikel debu yang menempel di dinding gedung mewah ini.

Dan sejujurnya, Lunaris menyukai itu. Diabaikan berarti aman. Dianggap tidak ada berarti tidak ada tangan yang akan menjegal kakinya atau suara yang akan meneriakkan ejekan.

Namun, ketenangan itu adalah fatamorgana yang pecah tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu kelas.

Byur

Lunaris berdiri kaku saat air mengguyurnya tepat ketika ia membuka pintu kelas, ia menunduk dengan ember yang menutupi seluruh kepalanya.

Terlalu terkejut untuk bereaksi saat tubuhnya basah kuyup seketika.

Sedangkan di dalam kelas terdengar nyaring suara gelak tawa dari seluruh penghuni kelas 2-3 A, seakan terhibur dengan tontonan lucu yang baru saja terjadi.

"Widih seger banget kayaknya pagi-pagi udah main air."

"Luna, emang di rumah lo gak mandi dulu ya? Malah mandi di depan kelas."

"Aduh Luna, lo ngotor-ngotorin kelas aja segala mandi disini, mana malah makin bau lagi."

Berbeda dengan seluruh penghuni kelas yang tertawa dan terus melontarkan cemoohan menghina padanya.

Tangan Lunaris terkepal di kedua sisi tubuhnya. Menahan perasaannya yang sekarang tak karuan. Marah, sedih, malu, terhina, dan jijik menjadi satu.

Selalu seperti ini setiap kali dia menyambut pagi ketika tiba di sekolah.

Menjadi bahan olokan teman-teman sekelasnya. Atau apakah Lunaris berhak menyebut mereka sebagai teman? Disaat mereka hanya menganggap Lunaris sebagai bahan lelucon murahan.

Badan Lunaris yang kini basah kuyup dan bau bergetar samar, menggigil bukan karena dingin melainkan karena menahan emosi meluap yang sayangnya tidak bisa dia lupakan.

Air yang mengguyurnya pun air bekas mengepel lantai membuat, seragam Lunaris kotor dan bau.

Lunaris berdecak dalam hati, ia sungguh muak menghadapi anak-anak orang kaya yang suka menginjak-injak harga dirinya seperti mereka.

Rasanya ingin sekali Lunaris berteriak untuk meluapkan semua kekesalannya, tapi nyatanya Lunaris hanya bisa menahan diri. Jika dia sampai berani mengeluarkan emosinya maka habislah sudah.

Di Sevit Internasional High School, Lunaris bersekolah dengan beasiswa penuh.

Lunaris harus berhati-hati dalam bersikap, bagaimanapun beberapa anak di kelasnya adalah anak dari para donatur sekolah.

Jika Lunaris berulah dan melawan bisa-bisa bukan pembelaan yang dia dapatkan, tapi beasiswanya yang terancam.

Anak-anak orang kaya itu bisa menyuap guru dengan uang mereka, lalu memutar balikkan fakta.

Di sekolah ini seperti menganut peraturan dan sistem kasta tidak tertulis. Dimana ada para penguasa yang bebas berbuat sesukanya, dan juga pesuruh yang harus rela dijadikan target lelucon.

Dan Lunaris harus menerima kenyataan jika dia menjadi salah satu dari target lelucon para penguasa.

Padahal dulu Sevit adalah sekolah impiannya. Dengan kenaifannya Lunaris sangat senang saat dia dinyatakan lolos seleksi beasiswa penuh di Sevit.

Jika tau sekolah elit ini adalah sebuah neraka bertitle sekolah, Lunaris akan lebih memilih sekolah di sekolah biasa saja.

Terlalu sibuk dengan isi pikirannya, Lunaris tidak menyadari kedatangan seseorang dari belakang dan mengambil ember yang masih menutupi seluruh kepalanya.

"Apa-apaan ini? Siapa yang ngelakuin hal ini?" Suara seseorang pemuda terdengar, tidak keras namun sangat tegas. Menyiratkan bahwa pemuda itu sedang tidak bercanda sekarang.

Lunaris mengangkat kepalanya yang tertunduk, lalu menoleh guna melihat siapa yang mengambil ember yang menutupi kepalanya.

"Aaron?" Ucap Lunaris, suaranya sangat pelan nyaris seperti bisikan.

Aaron mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Matanya menyorot tajam, kedatangannya yang tiba-tiba membawa aura menyeramkan membuat keriuhan suasana kelas yang tadinya penuh dengan tawa mengejek seketika hening.

"Gue tanya sekali lagi, siapa yang ngelakuin hal kekanakan kaya gini?" Tanya pemuda itu sekali lagi.

Melihat keterdiaman dari seluruh penghuni kelas membuat Aaron muak. "Ok, kalo gak ada yang mau ngaku. Gue laporin lo semua ke guru BK atau kalo perlu gue laporin langsung ke kepala sekolah."

Sekali lagi hening yang didapat, tidak ada yang berani bersuara, semua orang dalam kelas mulai merasa panik dan takut.

Ancaman semacam itu mungkin tidak akan mereka pedulikan jika itu tidak berasal dari Aaron.

Murid-murid di Sevit Internasional High School adalah anak-anak dari kalangan atas semua, bisa melakukan apapun seenaknya pada para pesuruh selagi ada uang untuk membungkam beberapa guru tidak tau malu yang hanya peduli pada uang.

Tapi jika yang mengatakannya adalah Aaron, ancaman itu bukan lha sekedar bualan bagi mereka.

Aaron Luxe adalah anak dari pemilik yayasan sekaligus anak dari salah satu keluarga paling berpengaruh di negara mereka.

Bisa menjadi masalah jika berani mengusik Aaron.

Dan Lunaris entah dia benar-benar beruntung atau sial karena dekat dengan Aaron.

Ah tidak bisa dibilang dekat juga. Lunaris hanya kebetulan mengenal Aaron karena ibunya yang bekerja jadi pelayan di rumah pemuda itu.

Dulu saat Aaron dan Lunaris masih kecil, Lunaris sering dibawa ibunya bekerja di rumah keluarga Luxe. Dan dari sanalah Lunaris tidak sengaja bertemu dan berkenalan dengan Aaron kecil, hingga mereka menjadi sedikit akrab.

Sejak dulu sampai sekarang Aaron adalah pemuda yang baik, tidak seperti ibunya, nyonya Dimitri yang bermulut tajam dan keras kepala. Aaron lebih mirip dengan ayahnya yang baik hati dan dermawan, tuan Julian Luxe.

Tidak jarang juga Aaron akan menjadi garda terdepan Lunaris saat gadis itu ada yang menganggu.

Dan berkat tuan Julian juga lha Lunaris mendapat kesempatan bersekolah di Sevit dengan beasiswa penuh. Tentu saja dengan pertimbangan penuh dari nilai-nilai sekolah Lunaris juga.

Itu sebabnya banyak yang terang-terangan tidak menyukai Lunaris.

Selain karena Lunaris hanya anak beasiswa miskin, tapi juga iri pada keberuntungan gadis itu karena kedekatannya dengan Aaron dan keluarga Luxe.

Lunaris masih bergeming di depan pintu kelas saat Aaron datang membelanya. Berdiri di sebelah Lunaris, Aaron dengan wajah mengeras menahan emosi memandang tajam ke seluruh kelas.

Muak melihat keterdiaman seluruh penghuni kelas yang mendadak bisu.

Kemudian seorang gadis dengan seragamnya yang terlihat modis berdiri. Lalu berjalan menuju Aaron dan Lunaris.

"Aku, aku yang melakannya." Gadis itu balik menatap mata Aaron yang lebih tinggi darinya, Bracia Emma Lauren.

Dan hanya Bracia pula yang berani menatap balik tatapan tajam Aaron.

Sebagai putri tunggal keluarga Lauren, keluarga nomor satu paling berpengaruh bahkan satu tingkat melebihi keluarga Luxe.

Tentu saja membuat gadis itu memiliki keberanian dan kepercayaan diri tinggi.

Senyum kecil terbit di bibir mungil Bracia. Matanya yang memiliki iris berwarna biru sejernih samudra itu masih belum melepaskan pandangannya dari Aaron. Dia berdiri dengan anggun dan tak tergoyahkan, penampilannya yang modis sangat kontras dengan Lunaris yang kumuh dan lusuh karena seragamnya yang kotor dan basah kuyup.

"Aku denger, di daerah kumuh tempat tinggalnya Luna lagi kekurangan air bersih. Jadi, aku gak salah dong kalo bantu temen."

Lalu gadis itu beralih menatap Lunaris yang berdiri diam di samping Aaron. "Bener 'kan Luna? Pasti Lo juga belum mandi, makanya gue inisiatif sediain air buat lo mandi di sini." Ucap Bracia diakhir dengan kekehan kecilnya. Seakan apa yang dia lakukan adalah hal yang benar.

Sementara Lunaris dalam diamnya, rasa marah membuncah pada Bracia. Harga dirinya terus diinjak-injak oleh gadis itu. Bagaimana bisa gadis itu menyebut dirinya hanya ingin membantu? Padahal sudah jelas jika yang dilakukannya adalah merundungnya.

Aaron menghela nafas, kesal dan marah menjadi satu saat berhadapan dengan Bracia.

"Bantuan apa yang Lo maksud? Apa Luna ngerasa terbantu dengan 'inisiatif' lo itu? Berenti bersikap kekanakan kaya gini. Ini sama sekali gak lucu Bracia!" Ucap Aaron dengan nada tegas yang cukup tinggi nyaris seperti bentakan.

Bohong jika Bracia tidak terkejut dengan perkataan dan nada suara yang Aaron gunakan.

Meski begitu Bracia masih tetap berdiri santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Aaron tanpa memudarkan sedikitpun senyumnya, menyembunyikan ketegangan yang terjadi dalam dirinya karena bentakan Aaron.

"Gak lucu? Tapi semua orang ketawa tuh. Lagipula aku cuma mau bantu Luna."

Aaron menghela napasnya, "Cukup Bracia, kelakuan lo udah ngelewatin batas. Lo-"

"Aaron udah, cukup." Lunaris menghentikan ucapan Aaron. Bukan karena Lunaris tidak senang jika Aaron membelanya.

Dia sangat berterimakasih pada Aaron karena pemuda itu selalu membelanya. Lunaris hanya tidak ingin memperpanjang masalah ini.

Lagipula kejutan-kejutan dari Bracia sudah seperti rutinitas setiap harinya untuk Lunaris.

Juga Lunaris khawatir jika Aaron meneruskan perkataannya, pemuda itu akan mengatakan sesuatu yang menyinggung Bracia.

Bukan tidak mungkin jika nantinya Bracia dan Aaron akan lanjut bertengkar.

Dan jelas jika itu terjadi, maka akan berimbas pada Lunaris juga. Belum lagi, jika Aaron bertengkar dengan Bracia, pemuda itu bisa saja mendapatkan masalah hanya karena membelanya.

Lunaris juga tidak ingin menempatkan ibunya dalam masalah karenanya. Karena bukan tidak mungkin jika nanti nyonya Dimitri akan mengetahui pertengkaran Aaron dan Bracia.

Mengingat jika semua orang tau bagaimana dekatnya hubungan antara keluarga Luxe dan Lauren.

Lalu Lunaris menatap Bracia yang masih tersenyum di depannya mengabaikan tatapan tajam Aaron. Yang Lunaris ketahui jika dibalik senyum Bracia ada kebencian yang besar untuknya.

"Makasih ya buat bantuannya, Bracia. Lo bener, di tempat gue emang lagi kekurangan air bersih." Ucapannya dengan senyum yang dipaksakan.

Setelah mengatakan itu dengan sisa harga dirinya yang tidak ingin lagi diinjak-injak oleh Bracia, Lunaris memilih untuk pergi, tak ingin memperpanjang masalah lagi dengan dengan gadis kaya raya itu.

Melihat Lunaris yang melangkah pergi, Aaron hendak berbalik dan menyusul Lunaris tanpa menghiraukan Bracia.

"Aaron!" Sebelum Aaron sempat melangkah, tangannya lebih dulu ditahan oleh Bracia.

"Lepas tangan gue, Bracia." Ucap Aaron.

"Enggak. Emangnya kamu mau kemana? Nyusul anak kampung itu?"

Aaron menghela nafas lelah, "Dia punya nama, dan namanya Lunaris bukan anak kampung. Sekarang lepas tangan gue selagi gue masih sabar sama lo."

Bukannya melepaskan tangan Aaron, justru pegangan tangan Bracia terasa semakin erat.

"Kenapa sih kamu selalu ngebela anak kampung itu daripada aku? Aku tunangan kamu, Aaron!"

"Gue gak pernah setuju sama pertunangan itu. Asal lo tau, bahkan dibanding Lunaris, lo gak ada apa-apanya Bracia." Ucap Aaron lalu dengan paksa melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Bracia.

Setelah tangannya terlepas Aaron pun kembali membalikkan tubuhnya untuk berjalan menyusul Lunaris.

Mendengar ucapan Aaron membuat bukan hanya Bracia yang terdiam tidak terima.

Dan apa yang dilakukan oleh Aaron sukses membuat kemarahan Bracia semakin meningkat.

Gadis itu mengepalkan tangannya dikedua sisi tubuh, menahan emosi yang terus meningkat.

Mata sebiru samudra itu memancarkan kobaran api penuh amarah yang disembunyikan oleh ketenangan badai.

Bracia melihat tidak percaya pada punggung Aaron. Bagaimana bisa Aaron mengatakan hal itu? Apalagi di depan seluruh penghuni kelas.

Bracia sungguh merasa terhina, dia tidak bisa menerima perlakuan Aaron yang lebih memilih membela Lunaris.

Bagi Bracia apa yang dilakukan Aaron adalah sebuah penghinaan untuknya. Dan tentu saja Bracia tidak terima dengan penghinaan itu.

Suasana kelas masih sunyi senyap, melihat bagaimana wajah keruh Bracia yang penuh amarah membuat tidak ada yang berani mengeluarkan suara.

Tapi tak lama seorang gadis berambut hitam panjang menghampiri Bracia.

Gayanya tidak kalah modis dari Bracia, menunjukkan bahwa gadis itu juga berasal dari status sosial kelas atas.

"Cuma demi cewek kampungan itu, Aaron sampe berani mempermalukan lo di depan seluruh kelas." Gadis bernama Emmeline itu berdiri di samping Bracia, sembari ikut melihat arah pandang Bracia yang masih belum lepas dari punggung Aaron yang semakin menjauh.

"Lo gak bakal diem aja dan ngebiarin tunangan lo terus-terusan dihasut cewek kampungan itu 'kan?"

Bracia menoleh pada Emmeline, tatapan matanya tajam penuh emosi.

"Lo gila? Mana mungkin gue ngebiarin Aaron terus ngebela cewek kampungan itu. Gue pastiin Lunaris bakal ngebayar semua penghinaan yang gue dapet hari ini. Dan gue juga bakal pastiin Aaron gak bakal lagi ada dipihak dia."

Emmeline tersenyum miring, seakan menikmati luapan emosi dari Bracia.

"Lo emang harus ngelakuin itu Bracia. Jangan biarin Lunaris seenaknya cuma gara-gara Aaron dipihaknya. Lo harus bikin dia sadar sama kelasnya yang gak bakal pernah selevel sama kita ataupun Aaron."

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!