Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
semua kebaikannya
Langkah Mandala semakin berat.
Suara di sekelilingnya terdengar menjauh… seperti terendam air.
“Mandala…?” suara Keyla bergetar panik. “Man, lihat aku. Jangan bercanda…”
Mandala mencoba fokus meski rasa mual, sesak, dan nyeri bercampur menjadi satu. Samar-samar ia melihat wajah Keyla tepat di depannya pucat, bibir gemetar.
Untuk pertama kalinya… ia melihat Keyla benar-benar takut.
“Tolong! Ada yang bisa bantu?!” teriak Keyla, suaranya hampir pecah.
Beberapa mahasiswa yang menyaksikan kejadian itu langsung berlari mendekat. Dua orang laki-laki membantu menopang tubuh Mandala yang mulai limbung.
Dalam keadaan setengah sadar, pikiran Mandala berputar liar.
Balas dendam.
Rencana.
Bayu Pratama.
Semua terasa semakin jauh.
Yang tersisa hanya ketulusan Keyla.
Dan di tengah rasa nyeri yang semakin menjalar bukan hanya di perut, tapi menusuk hingga ke dada dan punggung Mandala menyadari sesuatu.
Ia tidak yakin lagi.
Tidak yakin bisa menyakiti gadis itu dan menjadikannya alat.
Beberapa kali ia mencoba menjauh… tapi Keyla selalu ada. Dan entah bagaimana, ia pun selalu ada untuk Keyla.
Rasa sakit itu semakin tajam.
Napasnya tersengal.
Pandangan mulai gelap di tepi.
“Key…” suaranya hampir tak terdengar.
“Iya, aku di sini! Mandala!” Keyla menggenggam tangannya erat.
Sentuhan itu hangat.
Terlalu hangat untuk sebuah kebohongan.
Dan tepat sebelum kesadarannya runtuh, satu kalimat melintas di benaknya
"Jika aku pergi sekarang… jangan sampai dia tahu alasanku dulu mendekatinya."
Tubuh Mandala akhirnya lemas sepenuhnya.
“Mandala!!!”
Jeritan Keyla menggema di koridor.
Juna yang melihat kejadian itu langsung berlari mendekat tanpa banyak bertanya. Dengan bantuan beberapa mahasiswa, mereka segera membawa Mandala ke mobil Keyla dan melaju ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan, Keyla memangku kepala Mandala di kursi belakang.
“Mandala… bangun. Dengar aku… kamu nggak boleh sakit. Kamu denger aku, kan?”
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh.
Ia tak peduli siapa yang melihat. Tak peduli siapa yang bertanya.
Yang ia tahu, dadanya terasa sesak melihat Mandala tak bergerak.
Sesampainya di IGD, perawat dan dokter segera membawa Mandala masuk ke ruang penanganan.
“Silakan tunggu di luar,” ujar salah satu perawat cepat.
Pintu tertutup.
Keyla berdiri kaku. Tangannya masih gemetar. Napasnya belum stabil.
Juna mencoba menenangkan. “Dia pasti kuat kok, Key…”
Tapi Keyla tak menjawab. Ia menatap pintu itu tanpa berkedip.
Baru sekarang ia sadar ketika Mandala hampir tak sadarkan diri tadi, hatinya seperti ikut terhenti.
Kenapa ia setakut ini?
Kenapa rasanya seperti hampir kehilangan seseorang yang sangat berarti?
Di dalam ruang IGD.
Dokter memeriksa Mandala dengan serius.
“Tekanan darahnya turun. Nyeri menjalar sampai punggung… kita lakukan pemeriksaan lanjutan. Bisa jadi bukan sekadar akibat pukulan.”
Beberapa alat dipasang. Monitor jantung berbunyi pelan, teratur namun lemah.
Waktu berjalan terasa lambat.
Dan tanpa disadari siapa pun, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perkelahian kampus yang mulai membuka jalan menuju kenyataan yang selama ini tersembunyi.
Beberapa menit kemudian, kelopak mata Mandala bergerak.
Pandangan kabur. Langit-langit putih. Bau obat-obatan.
“Mandala? Kamu dengar saya?” suara dokter terdengar tenang di sampingnya.
Mandala mencoba berbicara, tetapi tenggorokannya terasa kering. “Saya… di mana?”
“Kamu di IGD. Kamu sempat tidak sadar. Sekarang sudah mulai stabil.”
Mandala mengangguk pelan, meski tubuhnya terasa sangat lemas. Rasa nyeri masih ada aneh, dalam, seperti tekanan dari dalam tubuhnya sendiri.
Dokter memperhatikan hasil pemeriksaan di layar.
“Kami menemukan sesuatu,” ucapnya hati-hati.
Mandala menoleh pelan.
“Dari gejala dan hasil tes awal, ada indikasi gangguan pada ginjal kamu. Kemungkinan ini bukan baru terjadi hari ini. Pukulan tadi mungkin hanya memicu rasa sakit yang sudah ada.”
Mandala terdiam.
“Ginjal…?” suaranya hampir berbisik.
Dokter mengangguk. “Kami perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan tingkatnya. Tapi dari hasil awal, fungsi ginjal kamu tidak dalam kondisi normal.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Mandala menatap langit-langit kosong.
...
Beberapa menit berlalu, pintu ruang IGD terbuka perlahan.
Keyla langsung berdiri. Menghampiri. Bertanya. Begitu dokter mengangguk memberi izin, ia masuk bersama Juna.
Langkahnya terasa berat.
Mandala terbaring di ranjang, wajahnya pucat namun sadar. Selang infus terpasang di tangannya. Monitor jantung berbunyi pelan, stabil.
Keyla terpaku.
Mandala yang selama ini selalu berdiri paling depan saat ada masalah… Mandala yang tak pernah terlihat lemah… kini terlihat rapuh.
“Man…” suaranya nyaris pecah.
Mandala menoleh pelan. Sudut bibirnya terangkat, memaksa senyum.
“Aku nggak apa-apa,” ucapnya lirih, berusaha terdengar ringan.
Keyla mendekat. “Jangan bohong. Dokter sudah cerita.”
Ada jeda.
Mandala menatap langit-langit sejenak sebelum kembali menatap Keyla. Tatapan yang biasanya tegas itu kini redup.
“Aku bahkan nggak tahu kalau ada yang salah sama tubuhku,” gumamnya pelan. “Ternyata… aku selama ini cuma pura-pura kuat.”
Keyla menggeleng cepat. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Kamu bukan pura-pura kuat. Kamu memang kuat. Cuma… kamu juga manusia.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Mandala terasa sesak dengan cara yang berbeda.
Malam itu, Mandala dipindahkan ke ruang rawat inap.
Suasana kamar lebih tenang. Lampu temaram. Juna akhirnya pamit setelah memastikan keadaan stabil.
Tinggal mereka berdua.
Mandala memecah keheningan. “Key…”
“Iya?”
“Untuk biaya rumah sakit… nanti potong aja dari gajiku. Aku nggak mau jadi beban.”
Keyla langsung menatapnya tajam. “Kamu pikir aku hitung-hitungan sama kamu?”
“Aku serius.”
“Aku juga serius.” Nada suara Keyla melembut. “Aku sudah telepon Papa tadi. Semua sudah diurus. Kamu fokus sembuh, itu aja.”
Mandala terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang berdiri di sisinya bukan karena kepentingan… bukan karena strategi… bukan karena rencana.
Tapi karena peduli.
Tangannya bergerak pelan, meraih ujung selimut. “Kenapa kamu sebaik ini, Key?”
Keyla tersenyum tipis, meski matanya masih basah. “Karena kamu juga selalu ada, waktu aku butuh.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari rasa sakit di tubuhnya.
Mandala memalingkan wajah, menahan gejolak di dadanya.
Ia tahu… seharusnya semua ini bagian dari rencana. Mendekat. Membuat percaya. Lalu menghancurkan.
Tapi bagaimana jika yang hancur justru dirinya sendiri lebih dulu?
Malam semakin larut.
Keyla tertidur di kursi samping ranjang, kepalanya bersandar di tepi kasur. Tangannya masih menggenggam tangan Mandala.
Mandala menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya… ia takut kehilangan sesuatu yang takseharusnya.
***
Di sisi lain kota.
Erga membanting pintu kamar lantai atas dengan kasar.
Ruang santai di depan kamarnya remang. Botol wine sudah terbuka di meja kecil. Gelas kristal terisi penuh sebelum ia duduk menjatuhkan diri ke sofa.
Ia meneguknya tanpa jeda.
penasaran... di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
duhh Mandala mau magang di hotel milik Arifal? pst Mandala bisa lbh sukses dari Erga 🐱
duhhh Keyla curhat dg Mandala...
Mandala blm sadar klo dia mencintai Keyla 🐱🐱
duhhh Keyla mau nya Mandala kerja di hotel Arifal 🐱🐱
penasaran lanjut nya
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪
duhhh Bayu jadi marah sama Keyla karena Keyla lebih pilih Mandala. tapi bnr kata Keyla bahwa Erga bukan org baik...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuuu🤗🥰💪🐱
lahhh Erga tiba-tiba minta maaf tapi Keyla gk percaya. jgn di percaya si Erga 😡😡😡 Erga sama kyak Alira... 😡😡
ciieee Keyla suruh Bi Minah antar Sop buat Mandala🐱🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🤗🥰 penasaran dg cerita nya🤗🤗
duhhh Keyla blg ke Ayahnya gmn Erga tapi Ayahnya gk percaya🥲🥲
duhh anak pertama Arifal dan Citra hilang di bawa Babysitter 🥲🥲
penasaran dg lanjut nya di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
jgn² Erga anaknya Alira, Mandala anaknya Arifal.
greget bacanya Sayyy pengen tak palu 😄😄😄😡😡😡
jd sbnrnya mandala ini ank siapa ya 🤔 kok membagongkan. yg gila itu brrti bkn ibu mandala. asli puyeng
duhh Erga gangguin Keyla dan Mandala mulu dasar stress Erga 😡😡
duhhh jantung nya berdebar² gk tuh yaa kan dan Mandala pun gombal ma Keyla 😁😁
dahhh lah Author nya pun senyum² sambil nulis 😁😁😁
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰💪🐱🤗
kenapa tuhhh Erga paksa Keyla bersama nya dahh mulai stress Erga. jgn² Erga anak si Alira soalnya stress nya sama 😡😡
Duhh Mandala dekati Keyla buat balas dendam, kira² Mandala bakal dgr nasehat Bu Heni yaaa???
tapi apa iya Erga anaknya Arifal dan Citra? terus klo bukan Erga anak siapa??
duhhh Mandala bawa Keyla ke rumah nya... 😔😔
emng stres si Erga, dia yg selingkuh, tapi merasa tersakiti seolah-olah jadi korban.
ciieee Keyla merangkul tangan Mandala, panas tuhh Erga marah² gk jelas padahal dia yg selingkuh😡😡
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🥰🤗💪