NovelToon NovelToon
TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.

Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.

Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.

Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.

Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perintah mendadak

Ravela baru saja menutup pintu rumah. Ia melepas topi dinasnya, menyampirkannya di tangan. Seragamnya masih rapi, tapi bahunya terlihat sedikit turun karena lelah seharian di markas.

“Ravela, sini sebentar, Nak.” Suara Nadira memanggil dari arah sofa.

Ravela menoleh. Di ruang tengah, Ayah dan Bundanya duduk berdampingan. Cara mereka memandangnya membuat Ravela berhenti. Ada sesuatu yang terasa tidak biasa dari pandangan mereka.

“Iya, Bun,” jawab Ravela.

Ravela melangkah mendekat lalu duduk di sebelah Nadira.

“Ada yang ingin Ayah dan Bunda sampaikan ke kamu,” ujar Dharma.

Ravela mengangkat alis. “Tentang apa, Yah?”

Dharma melirik Nadira. Mereka saling pandang sejenak, seperti sedang menentukan siapa yang akan bicara lebih dulu. Akhirnya Dharma mengangguk kecil ke arah istrinya.

Nadira menghela napas. “Begini, Ravela... Ayah dan Bunda ingin menjodohkan kamu.”

Ravela terpaku. “Dijodohkan?” ulangnya, suaranya naik sedikit. “Dengan siapa?” tanya Ravela, jantungnya seakan lompat dari tempatnya setelah mendengar hal tersebut.

“Dengan anak sahabat kami, Om Aditya dan Tante Keisha,” jawab Nadira.

Ravela mengenal nama itu. Sahabat lama orang tuanya. Mereka juga sudah beberapa kali datang berkunjung ke rumah ini.

“Aku tidak mau. Ini terlalu tiba-tiba, Yah, Bun. Lagipula aku tidak mengenal anak mereka,” tolak Ravela.

“Kami tahu,” sela Dharma. “Tapi ini bukan tanpa alasan kami ingin menjodohkan mu dengan anak mereka.”

Ravela menoleh ke ayahnya. “Maksud Ayah?”

“Saat ini kondisi Om Aditya sedang dalam keadaan kritis. Sakit kanker yang dideritanya semakin memburuk. Dokter bilang waktunya mungkin tidak akan lama lagi,” jelas Dharma dengan suara lirih.

Ravela langsung terdiam.

“Dia minta satu hal ke Ayah, dia ingin melihat anaknya menikah,” lanjut Dharma.

Nadira ikut menimpali, “Dan om Aditya memilih kamu.”

Ravela menggeleng pelan. “Tapi ini menyangkut hidupku, Bun. Ini bukan keputusan kecil yang bisa diambil begitu saja.”

“Ayah tahu,” kata Dharma. “Tapi Om Aditya itu sahabat yang Ayah anggap sudah seperti saudara. Dulu waktu Ayah jatuh dan kesusahan, dia yang pertama datang bantu tanpa pamrih. Kalau sekarang dia minta satu hal ini, Ayah tidak sanggup menolaknya.”

Ravela menunduk, pikirannya berkecamuk.

“Apa anak Om Aditya dan Tante Keisha mau juga menerima perjodohan itu?” tanya Ravela. Hubungannya yang gagal kemarin membuat Ravela sedikit trauma menjalin hubungan dengan pria lain.

“Iya. Kaivan juga setuju dengan perjodohan ini,” jawab Nadira.

Ravela kembali terdiam. “Boleh aku pikirkan dulu?” pintanya pelan setelah beberapa saat berpikir.

Dharma mengangguk. “Tentu.”

“Kalau gitu aku mau ke kamar dulu, Yah, Bun,” ucap Ravela.

Nadira menatapnya penuh pengertian. “Iya, Nak. Istirahatlah.”

Malam itu Ravela berbaring dengan mata terbuka. Jam dinding berdetak pelan, tapi pikirannya jauh dari kata tenang.

Ia memikirkan Kaivan Wiratama, laki-laki yang bahkan belum pernah ia temui.

Bagaimana mungkin ia menikah dengan seseorang yang sama sekali asing baginya?

Ravela membalikkan badan. Dadanya terasa sesak. Bukan karena perasaan yang tumbuh melainkan karena keadaan yang menekannya.

“Apa aku egois kalau menolak? Atau justru kejam?” gumamnya lirih.

Hingga dini hari, Ravela nyaris tak terlelap.

Tiga hari kemudian...

Ravela pulang kerja lebih sore dari biasanya. Ia masuk rumah dengan langkah pelan. Di ruang tengah, Dharma dan Nadira sedang duduk berdampingan.

Ravela berhenti di hadapan mereka. Ia menarik napas sejenak. “Aku mau bicara soal yang kemarin,” ucapnya pelan.

Dharma dan Nadira saling pandang, lalu kembali menatap Ravela dan menunggu apa yang akan diucapkan putrinya.

“Aku sudah memikirkannya,” lanjut Ravela, suaranya terdengar tenang meski hatinya belum sepenuhnya yakin.

“Aku terima perjodohan itu, demi Ayah dan Bunda,” ujarnya, setelah bergulat dengan pikirannya sendiri.

Wajah Nadira langsung sumringah. “Terima kasih, Nak.”

Dharma juga tersenyum senang. “Ayah dan Bunda senang mendengarnya.”

“Kalian akan menikah tiga hari lagi,” lanjut Dharma.

“Apa?” Ravela hampir berdiri. “Tiga hari lagi? Yah, itu tidak masuk akal. Ayah tahu aturan pernikahan di TNI. Prosesnya panjang.”

“Ayah tahu. Kalian menikah secara agama dulu. Setelah itu kamu langsung melapor ke komandan satuan mu dan mengurus izin resmi pernikahan di lingkungan TNI. Om Aditya ingin melihat pernikahan kalian secepatnya sebelum dia benar-benar pergi,” ucap Dharma, tangannya mengepal di atas lututnya, hatinya terasa sesak jika mengingat kondisi sahabatnya saat ini.

Namun besar harapan Dharma ingin Aditya bisa sehat kembali seperti dulu lagi. Nadira segera mengusap punggung suaminya untuk menenangkannya.

Saat itu pintu depan terbuka. Arkana masuk ke rumah masih menggunakan kaos basket. Laki-laki berusia 20 tahun itu baru pulang latihan basket bersama teman-temannya.

“Kenapa wajah kalian pada serius semua? Ada apa?” tanyanya.

Nadira menoleh ke arah anak bungsunya itu. “Kakakmu mau menikah. Tiga hari lagi.”

“Apa?!” Arkana melotot kaget. “Bukannya Kak Ravela sudah putus sama Jovan?”

“Dia tidak menikah dengan Jovan,” jawab Dharma.

“Terus sama siapa? Kok tiba-tiba banget?”

“Dengan anak sahabat Ayah.”

Arkana menoleh ke Ravela. “Kakak dijodohkan? Terus Kakak setuju begitu saja?”

Ravela mencoba tersenyum. “Iya.”

“Kakak tidak terpaksa menerimanya, kan?”

Ravela mengangguk lagi. “Tidak, Arka. Kamu tidak usah khawatir,” ucapnya, seolah semuanya baik-baik saja, meski di dalam dirinya masih penuh keraguan yang tak ingin ia tunjukkan.

Keesokan harinya, Ravela melangkah menyusuri koridor gedung batalyon. Sepatunya beradu pelan dengan lantai keramik.

Beberapa prajurit yang berpapasan memberi hormat singkat, ia membalas seperlunya. Wajahnya tetap tenang, tapi langkahnya terasa sedikit lebih berat dari biasanya.

Panggilan mendadak dari ruang Danyon membuat dadanya berdetak kencang. Entah kenapa, ada firasat yang sulit ia jelaskan.

Di depan pintu kayu besar bertuliskan Komandan Batalyon, Ravela berhenti sebentar. Ia menarik napas, menata ekspresi, lalu mengetuk.

“Masuk.”

Ravela membuka pintu dan melangkah ke dalam. Ruangan itu rapi dan formal. Di balik meja kerja besar, seorang pria berusia sekitar empat puluhan duduk tegap. Pangkat Letnan Kolonel tersemat jelas di pundaknya.

“Siap, Letkol,” ucap Ravela sambil memberi hormat.

“Silakan duduk, Kapten Ravela,” ujar Letkol Infanteri Armand Wirasatya, suaranya tenang penuh wibawa.

Ravela duduk. Letkol Armand membuka map di hadapannya, membaca beberapa lembar berkas sebelum akhirnya mengangkat pandangan. “Saya panggil kamu karena ada penugasan penting,” katanya.

“Siap, Letkol.”

“Kamu dan beberapa perwira lain akan masuk dalam satuan tugas pengamanan dan penjaga perdamaian. Lokasinya di Timur Tengah, tepatnya di Lebanon.”

Ravela mengedip sekali, tapi ia tidak menyela.

“Keberangkatan dijadwalkan besok pagi.”

Untuk sesaat, Ravela lupa bernapas. Ia menegakkan punggungnya. “Besok, Letkol?”

“Iya.” Letkol Armand menutup map perlahan. “Persiapan sudah berjalan. Negara kita diminta segera bergabung. Situasinya cukup sensitif.”

Letkol Armand berhenti sejenak, lalu menatap Ravela lebih dalam. “Dan kamu, Kapten Ravela, ditunjuk sebagai Komandan Satgas.”

Kata-kata itu jatuh begitu saja, tapi rasanya seperti menghantam dada Ravela. Tangannya refleks mengepal di atas paha. “Saya dipilih sebagai Komandan Satgas, Letkol?”

“Iya.”

Ravela menelan ludah. “Ada beberapa perwira yang lebih senior dari saya.”

“Ada,” jawab Letkol Armand tanpa ragu. “Dan mereka semua kami pertimbangkan. Tapi hasil evaluasi menunjukkan kamu yang paling siap memimpin misi ini.”

“Siap dalam arti teknis, atau keseluruhan?” tanya Ravela, kali ini lebih pelan.

Letkol Armand menyandarkan punggung ke kursi. “Keduanya. Kemampuan lapangan, pengambilan keputusan, juga kendali emosimu. Di misi ini, senjata bukan segalanya. Yang menentukan adalah caramu menangani setiap keadaan dengan kepala dingin.”

Ravela terdiam. Di kepalanya, bayangan tentang rumah, orang tuanya, dan keputusan besar yang baru saja ia ambil kemarin terus berkelebat. Tenggorokannya terasa kering. “Apakah ini keputusan final, Letkol?” tanyanya.

Tatapan Letkol Armand berubah lebih tajam. “Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan, Kapten?”

Ravela membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ada banyak hal yang ingin ia katakan tentang hidupnya yang sedang berada di persimpangan tapi semua itu tertahan di dadanya.

“Tidak ada, Letkol.”

Letkol Armand mengangguk kecil. “Baik. Saya pastikan ini keputusan pusat. Tidak ada perubahan jadwal.”

Ruangan kembali hening beberapa saat.

“Sebagai Komandan Satgas, kamu akan memimpin hampir seratus personel. Kamu akan jadi penentu, bukan hanya bagi dirimu, tapi bagi mereka,” lanjut Letkol Armand.

Ravela mengangguk. “Siap.”

“Tugas ini berat. Tekanannya tinggi. Kamu akan berada jauh dari tanah air, jauh dari kehidupan pribadi.”

Kalimat itu membuat jari Ravela mengepal lebih erat.

“Kalau kamu merasa ada hal yang mengganggu fokus mu, sekarang waktunya bicara,” ujar Letkol Armand, nadanya sedikit melunak.

Ravela menunduk sesaat, lalu mengangkat wajahnya kembali. “Ada urusan pribadi, Letkol.”

Letkol Armand terdiam, menunggu jawaban yang akan disampaikan Ravela.

“Tapi itu tidak mengubah komitmen saya pada tugas,” lanjut Ravela, suaranya lebih dalam seolah menahan sesuatu.

“Kamu yakin?” tanya Letkol Armand. “Saya tidak mau membawa perwira yang setengah hati ke wilayah konflik.”

Ravela menatap lurus ke depan. “Saya tidak setengah hati, Letkol. Saya hanya sedang berada di fase hidup yang menuntut banyak keputusan.”

Letkol Armand mengangguk pelan. “Itu wajar.”

Letkol Armand terdiam sejenak, “Kalau harus memilih antara kenyamanan pribadi dan tanggung jawab sebagai prajurit, apa yang kamu pilih?” tanyanya.

“Sejak masuk akademi, saya sudah tahu jawabannya, Letkol.”

“Dan sekarang?”

Ravela menarik napas panjang. “Sekarang pun sama. Saya memilih menjalankan tugas. Meski tidak mudah.”

Letkol Armand menatapnya lama. “Misi ini enam bulan. Bisa lebih lama kalau situasi belum stabil.”

Ravela tidak langsung menjawab. Enam bulan terasa seperti angka yang berat di kepalanya. Kalau dirinya pergi, apakah pernikahannya akan dibatalkan?

“Siap, Letkol.”

“Detail misi akan kamu terima malam ini,” ujar Letkol Armand. “Siapkan dirimu. Secara fisik dan mental.”

“Siap.” Ravela berdiri dan memberi hormat.

“Satu hal lagi, Kapten Ravela,” panggil Letkol Armand sebelum Ravela keluar.

“Siap, Letkol?”

“Jangan jadikan tugas sebagai pelarian,” ucap Letkol Armand pelan tapi tajam. “Hadapi apa pun yang kamu tinggalkan dengan kepala tegak.”

Ravela terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Siap, Letkol.”

Di koridor yang mulai sepi, Ravela berhenti. Pandangannya kosong menatap ujung lorong.

Lusa besok, seharusnya hidupnya berubah sebagai seorang istri. Tapi besok pagi, ia akan berada di pesawat menuju wilayah konflik.

Dadanya terasa sesak, bukan karena takut, melainkan karena terlalu banyak hal yang harus ia lepaskan dalam waktu bersamaan.

“Beginilah hidupku,” gumamnya lirih. “Selalu datang bersamaan dengan hal-hal yang tidak bisa ditebak.”

Lalu ia melangkah lagi, menuju baraknya, memilih tugas di atas segalanya.

1
Raja Tampan
smua cwok d sukai sm tari, trlalu pd
Sunaryati
Makanya cepat- cepat diurus sesuai aturan negara, untuk nikah secara resmi
Sinchan Gabut
lah, apa hub status tentara sama di gombalin suami Vel Vel... melemah d gombalin cwo lain baru salah 🤣🤣
Sinchan Gabut
Bangun Tari bangun... perlu di guyang air seember? 😏🤣
Kreatif Sendiri
terharu
Alessandro
pas mendung..... bab ini 🙈
Mutia Kim🍑: Hussttt😂
total 1 replies
Alessandro
kamu yg stromg aja meleleh, vela. gmn pembaca ini... meleyot lah pasti
Sunaryati
Kirain Kirana akan marah, syukur dia malah senang. Kalian jangan bersentuhan terlalu jauh sebelum sah di mata hukum.
Mutia Kim🍑: Huhuhu iya kak😭
total 1 replies
tami
plot twist nya bakal lucu kalo suaranya ga merdu 🤣
tami
jirr pede banget tuh si tari 😭
Sinchan Gabut
Gimana, gimana? Sudah SAH tp masih mikir di kira jd wanita gampangan? kalau km g hobah yg ada laki mu yg pindah haluan Vel...
Sinchan Gabut
Bagus Pak Kai, biar sekali2 Vella jg tau kalau lakinya jg butuh penjelasan 😏
Gisha Putri🌛
Tari kepedean bgt🥴
Aruna02
sabar buuu jangan ketus ketus loh 🤪
Aruna02
biarin atuh bangun juga 🤣🤣💋
Pengabdi Uji
Ah elah VELAA kentang bgt gue dibuatnya😌🤭
Pengabdi Uji
Yaudah lah Jovan nggak usah apasih namanya gitu gitu lagi, orangnya dh berkahwin😌
Sunaryati
Astaga Nak Kaivan, ngumpetin istri di kamar mandi adu mulut kalau kedengeran dari luar lenguhan Ravela gimana ? Aduh kaya orang selingkuh tak punya uang, 🤣🤣🤭
Alessandro
caper bgt ni jovan
Alessandro
tiba-tiba gerah thor.... 🔥
Mutia Kim🍑: Butuh AC kak? 😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!