Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 Janji di Balik Layar
Malam itu, suasana aula yang riuh berganti dengan sunyi kamar masing-masing. Di depan layar laptop yang menyala, wajah para panitia Pensi muncul satu per satu dalam kotak-kotak kecil aplikasi meeting online.
Ramdan duduk tegak di meja belajarnya, masih dengan kacamata andalannya. Di sudut layar, dia melihat kotak bertuliskan "Mentari ,Sekretaris". Tari nampak mengenakan baju santai namun tetap sopan dengan kerudung langsung warna hitam, wajahnya terlihat sedikit lelah tapi binar di matanya seolah masih menyimpan sisa-sisa euforia lomba puisi siang tadi.
Ramdan: "Oke, terima kasih yang sudah bergabung. Rapat malam ini adalah finalisasi sebelum besok saya berangkat ke Kalimantan bersama Pak Satria untuk mewakili sekolah. Saya minta progres terakhir dari setiap divisi."
Meskipun suaranya tegas seperti biasa, mata Ramdan nggak bisa bohong. Setiap kali Tari berbicara membacakan notulensi, mata Ramdan terpaku lama di kotak layar milik Tari.
Alvin: "Izin interupsi, Pak Ketua! Ini kita bahas Pensi atau lagi ajang menatap masa depan lewat Zoom? Ndan, fokus Ndan! Mata lu jangan nempel di kotak Tari terus, ntar layarnya pecah!"
Pajar: "Hahaha! Maklumin lah Vin, besok kan si Bos udah terbang ke Kalimantan bareng Pak Satria. Ini namanya charging kangen sebelum LDR-an!"
Tari langsung menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik buku catatan. Sementara Ramdan cuma bisa berdeham keras—senjata andalannya kalau lagi salah tingkah.
Ramdan: "Fokus ke agenda, Jar. Soal keberangkatan saya besok sore, urusan koordinasi harian akan saya serahkan sementara ke Arga dan Tari. Tolong jangan ada yang bikin masalah. Untuk rapat offline tetap terlaksana di hari Sabtu ya di pimpin langsung oleh ketua OSIS kita,Arga"
Rapat berlanjut sampai larut. Saat satu per satu panitia mulai leave meeting, tersisalah Ramdan dan Tari di ruang virtual itu. Hening sejenak. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Ramdan: "Ri... belum tidur?"
Tari: (Menatap layar dengan lembut) "Belum, Ndan. Masih beresin catatan. Kamu... beneran berangkat besok sore bareng Pak Satria?"
Ramdan: "Iya. Pak Satria udah konfirmasi, kita berangkat jam Dua siang , semoga bisa bawa pulang piala buat sekolah... dan buat kamu."
JLEB! Sinyal internet mungkin lancar, tapi jantung Tari mendadak buffering.Di layar laptop, Tari menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Ramdan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bangga karena Ramdan mewakili sekolah, tapi ada rasa nggak rela juga.
Tari: "Berarti... besok habis acara doa bersama di Aula, kamu langsung berangkat ya, Ndan?"
Suara Tari terdengar sedikit lebih pelan, seolah ada beban di tenggorokannya. Ramdan terdiam sejenak, menatap balik Tari lewat kamera web-nya dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari biasanya.
Ramdan: "Iya, Ri. Pak Satria bilang mobil jemputan sekolah sudah standby di gerbang jam dua siang, dan insyaallah habis doa bersama terus shalat Jum'at berjamaah aku masih ada waktu sekitar satu jam "
Tari mengangguk pelan, jemarinya memainkan ujung buku catatan. "Cepat banget ya..."
Ramdan: "Kenapa? Kamu takut kangen ya kalau nggak ada yang marahin kamu gara-gara notulensi nggak rapi?" (Ramdan mencoba bercanda, meski hatinya sendiri juga berat).
Tari: (Tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca) "Dikit sih. Tapi lebih ke... aneh aja biasanya kamu yang paling sibuk mondar-mandir di ruang OSIS, besok kursinya kosong."
Ramdan menarik napas panjang. Dia memajukan posisi duduknya, mendekat ke arah kamera laptop seolah-olah ingin memangkas jarak digital di antara mereka.
Ramdan: "Kursinya boleh kosong, Ri. Tapi saya usahakan komunikasi kita nggak akan pernah kosong. Kamu pegang janji saya kan? Saya pergi buat membanggakan sekolah, dan saya bakal pulang buat... kamu."
Tari langsung mematikan fitur mikrofonnya sebentar karena takut suara isak kecilnya kedengaran, lalu dia kasih jempol ke arah kamera sambil tersenyum lebar yang dipaksakan.
Tari: "Awas ya kalau pialanya ketinggalan di Kalimantan!"
Alvin: "Ehem! Ehem! Tes satu dua dicoba! Cakep bener pantunnya, Ri!"
Ramdan dan Tari tersentak hebat. Mereka berdua langsung melotot ke arah daftar peserta di pojok layar. Ternyata di urutan paling bawah, ada akun "Alvin_Ganteng_IPA1" yang profilnya sengaja dimatikan kameranya!
Alvin: "Eh, Ndan! Dengerin tuh kata Ibu Sekretaris! Piala aja nggak boleh ketinggalan di Kalimantan, apalagi hatinya! Jangan sampai tertinggal di sana gara-gara kepincut sama cewek Dayak ya! Hahaha! Aduh... asyik bener ya nonton drakor live begini!"
Tari: "ALVINNN! Kamu kok masih di sini?!" (Wajah Tari langsung merah padam, lebih merah dari logo aplikasi rapat online-nya).
Ramdan: "Alvin! Kamu saya kasih sanksi poin pelanggaran privasi ya besok!" (Ramdan mencoba galak, tapi suaranya pecah karena malu tingkat nasional).
Alvin: "Waduh, kabur ah sebelum kena pelet Waketos! Bye-bye para pejuang LDR!"
Tut!
Saking paniknya, Ramdan dan Tari secara serempak langsung menekan tombol End Meeting dengan kecepatan cahaya. Suasana kamar mendadak sunyi, tapi jantung mereka masih disko. Tak sampai satu menit, HP Tari bergetar hebat. Ada panggilan masuk dari "Ramdan Waketos". Bukan via telepon biasa, tapi Video Call Pribadi.
Begitu Tari mengangkatnya, wajah Ramdan muncul dengan latar belakang lampu kamar yang temaram. Kali ini tanpa gangguan Alvin, tanpa gangguan OSIS.
Ramdan: "Si Alvin bener-bener minta di-smackdown besok. Kamu... nggak apa-apa kan, Ri?"
Tari: (Cekikikan pelan sambil nutupin mulut pake selimut) "Nggak apa-apa, Ndan. Malu aja. Tapi... yang dibilang Alvin tadi ada benernya juga."
Ramdan: (Menatap layar dengan intens, suaranya melembut) "Soal hati yang nggak boleh ketinggalan? Tenang aja, Ri. Hati saya kuncinya ada di kamu, jadi nggak mungkin bisa kebuka buat orang lain di sana."
Tari terdiam, hanya bisa menatap layar ponselnya yang kini terasa lebih hangat dari biasanya. Kalimat Ramdan barusan seolah menjadi jangkar yang menahan hatinya agar tidak hanyut dalam kecemasan tentang jarak ribuan kilometer yang akan membentang besok sore.
Ramdan di seberang sana tersenyum tipis jenis senyum tulus yang hanya ia tunjukkan pada satu orang. Ia tidak butuh kata-kata puitis lagi malam ini, karena binar di mata Tari sudah cukup menjelaskan segalanya.
"Sudah malam, Ri. Tidur ya? Biar besok matanya nggak sembab pas nganterin saya ke gerbang," bisik Ramdan pelan, suaranya terdengar seperti pelukan virtual yang menenangkan.
"Iya, Ndan. Kamu juga istirahat. Jangan sampai besok telat gara-gara begadang VC-an," jawab Tari sambil menarik selimutnya hingga menutupi hidung, menyembunyikan senyum yang tak kunjung surut.
"Selamat tidur, Mentari."
"Selamat tidur, Pak Waketos."
Klik.
Layar ponsel itu menggelap, tapi pantulan wajah Tari di sana masih menunjukkan rona merah yang sama. Malam itu, di bawah langit yang sama namun dalam kamar yang berbeda, ada dua hati yang baru saja menyadari satu hal: Kalimantan mungkin akan memisahkan raga, tapi janji di depan layar barusan sudah mengunci satu frekuensi yang tak akan bisa diganggu oleh sinyal apa pun.
Besok, aula sekolah akan menjadi saksi sebuah doa bersama, dan sebuah perpisahan yang meskipun berpisah untuk medali.