NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Selingkuh / Mafia / Konflik etika
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kondisi Sarah

Mobil Mercy berwarna hitam metalik berhenti dengan mulus di halaman berumput rumah Patricia.

“Terima kasih ya, James, untuk malam ini,” ucap Patricia sambil tersenyum.

Saat ia hendak membuka pintu mobil, James tiba-tiba menahan lengannya pelan.“Justru aku yang harus berterima kasih padamu,” katanya, senyumnya tulus dan hangat.

Patricia terdiam sejenak, lalu berkata,“Tadinya aku ingin mengajakmu mampir ke rumahku. Tapi ini sudah malam… Ayah dan Ibu pasti sudah tertidur.”

James menggeleng pelan.“Tidak masalah. Aku akan datang lain waktu, kalau ada kesempatan. Boleh, kan?”

Patricia mengangguk sambil tersenyum.“Tentu. Kalau begitu aku masuk dulu. Hati-hati di jalan.”

“Selamat malam,” ucap James lembut.

“Selamat malam juga,” balas Patricia, sebelum akhirnya melangkah pergi.

Patricia tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia berdiri sejenak, memperhatikan mobil James hingga benar-benar menghilang dari pandangannya. Senyum tipis terbit di bibirnya.

Perasaannya terasa begitu senang, bahkan disertai kepuasan tersendiri. Bukan hanya karena malam yang menyenangkan, melainkan juga karena ia merasa berhasil membalas perbuatan Martin. Pria yang dulu dengan begitu mudah memutuskan hubungan mereka tanpa penjelasan berarti.

Di kamar dengan lampu temaram, Patricia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kedua sudut bibirnya belum juga berubah—masih tersenyum bahagia. Bayangan saat James menggenggam tangannya di dalam bioskop tadi terasa begitu hangat, menenangkan, dan nyata.

Namun dering ponsel mendadak membuyarkan lamunannya.

Senyumnya memudar saat nama Martin terpampang di layar.

“Mau apa bajingan itu menghubungiku?” gerutunya kesal.

Ia mengangkat panggilan itu dengan enggan.

[Halo] suara Martin terdengar dari seberang.

“Ada apa kau meneleponku?” balas Patricia dingin.

[Kau galak sekali. Memangnya tidak boleh?] sahut Martin dengan intonasi tengil yang begitu ia kenal.

“Bukan tidak boleh. Lebih tepatnya aku tidak mau menerima telepon darimu.”

Martin terkekeh. [Tadi itu siapa? Pacar barumu?] ia langsung ke inti.

“Kenapa kau ingin tahu?”

[Aku hanya bertanya. Apa dia kekasihmu yang baru?]

Patricia terdiam sejenak. Itu baru pertemuan ketiganya dengan James—di rumah sakit, coffee shop, dan malam ini. James pun tak pernah secara gamblang menyatakan perasaannya.

[Halo, Pat?]

“I-iya,” jawab Patricia akhirnya, mantap. “Tentu saja dia kekasihku. Kenapa? Kau mengenalnya?”

Martin tertawa mengejek. [Tentu saja tidak. Dari penampilannya saja, dia jelas tidak selevel denganku.]

Patricia ikut tertawa—namun kali ini dingin dan penuh sindiran.

“Tentu saja dia tidak selevel denganmu,” katanya tajam. “Karena dia jauh lebih tampan dan menarik. Aku menyukai sikapnya yang dewasa, bukan kekanak-kanakan sepertimu.”

Tawa Martin terhenti sesaat, namun kembali terdengar.

[Tapi kau sampai menangis tersedu-sedu waktu itu, kan? Karena tidak mau hubungan ini berakhir. Akui saja, Pat. Tidak usah munafik.]

Patricia menarik napas dalam.

“Ya, aku akui. Aku menangis seperti orang bodoh saat itu karena tidak mau hubungan kita berakhir,” ucapnya tenang. “Tapi itu dulu. Sekarang, setelah aku menyadari semuanya, aku justru sangat menyesal. Kenapa aku harus menangisi pria sepertimu—padahal aku bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dalam segala hal.”

Ia tertawa kecil, puas.

Di seberang, Martin mengepalkan tangannya.

[Rupanya kau juga seorang pemain, Patricia.]

Patricia tersenyum tipis.

“Apa? Aku seorang pemain?” katanya ringan. “Kau salah. Aku ini pelatihnya.”

Ia menutup telepon itu secara sepihak, menyisakan keheningan.

Kata-kata James terlintas kembali di benaknya—nasihat yang ia ucapkan di perjalanan tadi:

Jangan tunjukkan sisi lemah mu pada dunia. Tunjukkan bahwa kau mampu, maka dunia tak akan berani menyakitimu.

Dan malam ini, Patricia melakukannya.

Ia baru saja melawan setiap serangan kata Martin, meski jauh di dalam dirinya ia tetap seorang gadis yang lembut. Gadis yang jarang sekali mengucapkan kata-kata menyakitkan, kecuali jika benar-benar harus.

Pagi kembali menanti. Elia bangun seperti biasa—menyiapkan sarapan dan bekal untuk Dave. Hari-harinya selalu berjalan dengan pola yang sama.

Tak ada kata manis, tak pula sikap hangat yang membalas segala jasanya.

Meski terlihat sederhana dan seolah tak menguras tenaga, bangun di pagi hari sejatinya bukan perkara mudah, apalagi bila tak disertai niat. Rasa malas kerap datang tanpa diundang.

Namun Elia berbeda. Karena hatinya tertambat pada Dave, semua itu ia lakukan dengan ikhlas, tanpa keluhan, dan dengan senyum yang dipaksakan tetap bertahan.

"Selamat Pagi" sapa Elia dengan senyum penuh ceria. Seakan ia benar-benar bahagia lahir batin, bukan tengah menutupi luka yang teramat perih.

"Pagi" sahut Dave datar.

"Kau sudah minum obat magh mu?" tanya Elia

"Sudah"

"Baiklah".

Tanpa bertanya kembali, Elia menuangkan nasi ke atas piring yang telah tersedia. Menu sarapan pagi ini bertema Korea lagi. Yaitu telur mata sapi, Japchae dan kimchi yang selalu ada di kulkas.

Dave menggeleng pelan. "Kau sangat menyukai korea?" tanya nya sambil menyeruput Japchae yang lembut dan kenyal.

Elia mengangguk. "Tentu, bagaimana rasanya enak?"

"Ya" jawabnya singkat.

Tengah asyik sarapan telepon Elia berbunyi, ia melihat nama Angel pada layar telepon.

"Hallo"

[Elia, beritahu Dave. Sakit Mom kambuh. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju Bangkok Hospital]

"A-apa? Apa yang terjadi dengan Mom, kak?"

[Aku tidak tahu sepulang dari luar kota kondisi Mom tiba-tiba drop dan mengeluhkan sakit pada bagian dada nya. Aku akan beri kabar lagi jika sudah sampai]

Panggilan di tutup secara sepihak oleh Angel. Namun wajah Elia masih meninggalkan rasa panik dan khawatir.

"Elia, kau kenapa? Siapa yang menelepon mu?"

"Kak Angel, dia bilang sakit Mom kambuh".

Mendengar itu Dave langsung terbatuk-batuk, Elia segera menuangkan minum.

"Apa? Sakit Mom kambuh? Astaga!". Dave segera membuka ponselnya ternyata ia lupa mengaktifkan mode dering. Angel menelpon nya lebih dari tiga kali. Namun ada pesan tersemat. Angel mengatakan jika Sarah tengah berada di ambulan menuju Bangkok Hospital.

Dave membatalkan kepergiannya ke kantor hari itu. Ia juga menyuruh Elia untuk segera bergegas. Bimbim yang tengah mengelap mobil tampak heran saat melihat wajah panik keduanya.

“Bimbim, antarkan kami ke Hospital Bangkok,” ujar Dave tegas sambil masuk ke dalam mobil.

“Siapa yang sakit, Tuan?” tanyanya khawatir.

“Mom Sarah, Bimbim. Ayo, cepat,” seru Elia dengan suara bergetar.

“Baik, Nyonya.”

Bimbim segera masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin. Tak lama, kendaraan itu melaju meninggalkan halaman rumah.

“Bisa lebih cepat?” desak Dave, nada suaranya tak mampu menyembunyikan kecemasan.

“I-iya, Tuan. Tapi jalanan sedang macet, mungkin karena jam sibuk,” terang Bimbim sambil fokus menatap jalan.

Elia hanya terdiam. Wajahnya gelisah, kedua matanya berkaca-kaca. Sarah sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Maka wajar jika ketakutan kini mencengkeram hatinya. Takut jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada wanita itu.

Sesampainya di rumah sakit, Dave segera menghubungi Angel. Kakaknya itu mengatakan bahwa ia berada di ruang tunggu ICU. Tanpa membuang waktu, Dave dan Elia langsung menaiki lift menuju lantai yang dimaksud.

Begitu pintu lift terbuka, Dave refleks menoleh ke kanan. Di sana, ia melihat Angel yang tengah duduk dengan wajah tertunduk, bahunya bergetar hebat menahan tangis.

“Kak Angel,” sapa Elia lirih sembari segera duduk di sampingnya.

“Elia…” Angel langsung memeluk Elia erat. Tangisnya pecah, air mata mengalir deras hingga membasahi pakaian adik iparnya itu.

“Bagaimana kondisi Mom?” tanya Elia dengan suara gemetar.

Angel menggeleng pelan. “Sejak tadi dokter belum juga keluar dari ruangan. Aku… aku takut terjadi sesuatu pada Mom,” ucapnya terisak, napasnya tersengal menahan kecemasan.

Tak lama kemudian, pintu ruang perawatan terbuka. Dokter yang menangani Sarah melangkah keluar sambil membuka masker wajahnya. Sorot matanya tampak serius.

“Keluarga Nyonya Sarah,” panggilnya.

Elia, Angel, dan Dave serempak menghampiri dokter tersebut. Jantung mereka berdegup kencang, seolah menolak menunggu lebih lama.

“Bagaimana kondisi Mommy, Dok?” tanya Angel tak sabar. Suaranya bergetar, menahan ketakutan yang sejak tadi menghimpit dadanya.

Dokter menarik napas singkat sebelum menjelaskan. “Nyonya Sarah mengalami ruptur jantung dan harus segera dilakukan tindakan medis.”

Dunia Angel seakan runtuh seketika. Tubuhnya melemas, lututnya nyaris tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Jika saja Elia tidak sigap menahan, Angel pasti sudah terjatuh ke lantai.

“Apapun itu…” suara Dave terdengar berat namun tegas, “…tolong lakukan yang terbaik untuk ibu saya, Dok.”

Dokter itu mengangguk paham. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Setelah ini, Nyonya Sarah akan segera dipindahkan ke ruang operasi.”

Kata ruang operasi menggema di telinga mereka, membawa harapan sekaligus ketakutan yang bercampur menjadi satu.

Dokter itu mengangguk paham. "Baik, setelah ini Nyonya Sarah akan dipindahkan ke ruang operasi".

Tak lama setelah dokter berkata demikian, pintu ruang ICU terbuka lebar. Brankar didorong keluar dengan cepat. Di atasnya, Sarah terbaring kaku, kedua matanya terpejam, wajahnya tampak pucat di balik selang dan alat medis yang menempel di tubuhnya.

“Mom!” teriak Angel histeris.

Tanpa berpikir panjang, ia berlari mengikuti para perawat yang mendorong brankar menuju ruang operasi. Tangannya terulur, seolah ingin menyentuh, memastikan wanita itu masih ada, masih bernapas.

“Maaf, Nona. Anda tidak diperkenankan untuk masuk,” cegah seorang perawat sambil menahan langkah Angel.

Langkah Angel terhenti. Tubuhnya bergetar hebat. Ia mundur perlahan, seakan seluruh kekuatannya tersedot habis. Elia yang sejak tadi berada di sisinya segera merangkul tubuh Angel, menahan agar ia tidak terjatuh.

Angel menyandarkan kepalanya di bahu Elia. Tangisnya pecah tak tertahan, penuh ketakutan dan keputusasaan. Isakan nya menggema di lorong rumah sakit yang dingin. Rasa takut yang teramat dalam menggerogoti pikirannya takut kehilangan, takut terlambat, takut tak sempat mengucapkan kata apa pun.

Elia hanya bisa mengusap punggung Angel pelan, menahan air mata yang sama-sama menggenang di matanya. Di balik pelukan itu, doa-doa terucap lirih, menggantung pada satu harapan semoga Sarah masih diberi waktu.

Billy yang baru saja kembali setelah mengurus administrasi melangkah ke depan ruang ICU. Namun langkahnya terhenti saat pandangannya tak lagi menemukan sosok istrinya di sana. Kursi yang tadi diduduki Angel kini kosong.

“Suster,” panggil Billy pada seorang perawat yang melintas, “Apa kau melihat istri ku yang tadi duduk di sini?”

Perawat itu berhenti sejenak. “Maaf, Tuan. Istrinya memakai baju apa?”

“Kaos hitam dan celana pendek,” jawab Billy cepat, nada suaranya mulai terdengar cemas.

“Oh, beliau tadi menuju ruang operasi, Tuan. Pasien bernama Nyonya Sarah akan segera menjalani operasi,” jelas perawat tersebut.

Kedua mata Billy membesar tubuhnya meremang. “Baik, Sus. Terima kasih,” ucapnya singkat sebelum bergegas pergi.

Begitu melihat papan penunjuk arah, Billy langsung berlari menyusuri lorong rumah sakit.

“Sayang!” Begitu sampai di depan ruang operasi, Angel yang melihatnya langsung memeluk Billy erat. Tangisnya kembali pecah, seolah seluruh kekuatannya runtuh dalam sekejap.

“Tenangkan dirimu, Sayang,” ucap Billy sambil memeluk Angel, berusaha menahan gemetar di suaranya. “Kita doakan yang terbaik untuk Mom.”

Namun bukannya mereda, isak Angel justru semakin menjadi.“Kau tahu apa yang dokter katakan?” lirih Angel di sela tangisnya. “Mom… Mom terkena ruptur jantung dan harus segera dioperasi.”

Billy terdiam, merasakan ketakutan yang tengah di rasakan istrinya.

 “Aku takut, Sayang,” lanjut Angel dengan suara yang sudah serak. “Aku takut terjadi sesuatu pada Mom.”

Billy mengusap lembut rambut Angel, lalu mengecup puncak kepalanya penuh kasih. “Sabar, Sayang… tenangkan dirimu. Kita berdoa yang terbaik untuk Mom Sarah. Dia kuat.”

Tak jauh dari mereka, Dave berdiri mematung. Berbeda dengan Angel, ia memilih memendam segalanya. Wajahnya tetap datar, namun sorot matanya kosong. Seolah pikirannya melayang entah ke mana.

"Dave, kita doakan Mom agar diberi kekuatan ya" Kata Elia dengan suara sedikit gemetar.

Dave mengangguk. "Iya" katanya pelan.

Layar monitor di atas pintu ruang operasi menyala, menampilkan tulisan operasi sedang berlangsung. Kursi-kursi di ruang tunggu seakan menjadi saksi bisu atas ketegangan yang menyelimuti mereka.

Elia tak henti-hentinya melangitkan doa untuk Sarah. Ia berharap wanita itu dapat sembuh dan kembali seperti sedia kala. Namun, di sudut hatinya, Elia juga berusaha menyiapkan ruang untuk keikhlasan.Jika takdir berkata lain dan Sarah harus mengakhiri segalanya di rumah sakit ini.

"Sayang pagi tadi kau belum sempat sarapan. Ini aku membeli beberapa buah sandwich dan susu makanlah". Titah Billy.

Angel menggeleng pelan. "Aku tidak berselera untuk makan".

"Sayang, kau juga harus jaga kesehatan. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa ". Billy terus membujuk. "Atau mau aku suapi?" katanya sambil menyodorkan sandwich ke mulut Angel.

Angel tertawa pelan. "Aku bisa sendiri".

Tiga jam berlalu begitu saja, namun pintu ruang operasi masih tertutup rapat. Jantung keempat orang yang duduk di ruang tunggu itu berdegup semakin tidak beraturan, seolah berpacu dengan waktu.

“Kenapa Mom belum juga keluar dari ruang operasi?” gumam Angel pelan. Sejak tadi ia mondar-mandir tak karuan di depan pintu, berharap bisa melihat ibunya meski hanya dari balik kaca.

Billy bangkit dari duduknya dan menghampiri Angel. “Sayang, tenanglah. Mungkin dokter masih belum selesai. Ayo, duduk dulu,” ucapnya lembut sambil menahan pundak Angel agar berhenti berjalan.

Satu jam berikutnya berlalu dengan ketegangan yang sama. Hingga akhirnya, lampu ruang operasi padam. Angel sontak berdiri, matanya berbinar penuh harap. Ia mendekat dan mengintip dari pintu kaca. Tak lama kemudian, seorang perawat yang masih mengenakan baju operasi keluar.

“Keluarga Nyonya Sarah,” serunya.

“Saya!” Angel langsung melangkah mendekat. “Bagaimana keadaan Mom?” tanyanya dengan suara bergetar, menahan cemas.

“Operasinya sudah selesai dan berjalan dengan lancar,” jawab perawat itu. “Nyonya Sarah juga sudah sadarkan diri namun kondisi nya masih sangat lemah karena efek obat bius. Dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan. Namun sebelumnya, mohon untuk mengurus administrasi terlebih dahulu guna menentukan kamar inap pasien.”

Angel, Billy, Dave, dan Elia serempak menarik napas lega. Ketegangan yang sejak tadi menekan dada mereka perlahan luruh. Wajah-wajah yang semula tegang kini berubah lebih tenang.

“Baik, akan saya urus sekarang juga,” ujar Billy. Ia segera melangkah menuju bagian administrasi, tempat ia tadi mengurus keperluan rumah sakit.

“Syukurlah, Kak. Mom Sarah baik-baik saja. Aku yakin Mom pasti kuat,” ucap Elia sambil menghampiri Angel.

“Iya… ini juga berkat doa mu, Elia,” jawab Angel. Meski kelegaan mulai menyelimuti hatinya, pandangannya sesekali tertuju pada Elia. Sejak tadi bibirnya tak henti berkomat-kamit, memanjatkan doa saat Sarah masih dalam proses penanganan.

Dave yang sejak tadi ikut merasakan ketegangan itu kini merasa jauh lebih tenang. Ia menyibak rambutnya ke belakang sambil menarik napas panjang, seolah baru saja lolos dari beban yang berat.

Ponsel Dave berdering, memecah keheningan yang baru saja tercipta. Ia melirik layar dan mendapati nama Bianca tertera di sana.

“Sebentar, aku angkat telepon dulu,” ujar Dave singkat, lalu bangkit dan melangkah menjauh.

Elia memperhatikan punggung suaminya yang semakin menjauh. Hatinya terusik. Kenapa harus menjauh hanya untuk menerima telepon? pikirnya. Kecurigaan itu mencuat begitu saja, tanpa bisa ia kendalikan.

“Astaga… detak jantungku baru saja kembali normal, sekarang tubuhku malah terasa mendadak dingin,” gumam Elia pelan. Matanya mengikuti arah langkah Dave. “Ngomong-ngomong, Dave dapat telepon dari siapa, ya?”

Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menyusul, mencari tahu. Namun pandangannya beralih pada Angel yang masih berdiri gelisah tak jauh darinya. Elia menghela napas. Ia tak tega meninggalkan Angel sendirian di saat seperti ini. Dengan berat hati, ia menahan keinginannya dan tetap berdiri di tempat.

Sementara itu, di balik percakapan telepon, nada Dave terdengar jelas menahan kesal.

“Aku sudah bilang berkali-kali, Bianca. Jangan menelepon kalau aku tidak menghubungimu lebih dulu,” ucapnya dingin, nyaris membentak.

Di sebuah kamar apartemen yang sunyi, Bianca menggenggam ponselnya erat. Wajahnya memerah menahan amarah.

“Argh!” teriaknya kesal setelah panggilan terputus. Ia melempar ponsel ke atas ranjang. Bianca bukan tipe perempuan yang bisa menerima nada tinggi dari siapa pun terlebih dari Dave.

“Berani sekali dia membentak ku seperti itu,” geramnya sambil mengepalkan tangan. “Kurang ajar! Awas saja kau, Dave…”

Selesai menerima panggilan telepon, Dave kembali ke depan ruang operasi. Elia dan Angel masih duduk di sana. Menunggu pintu ruangan operasi dibuka dan kembalinya Billy mengurus administrasi.

“Siapa yang meneleponmu?” tanya Elia hati-hati, seolah takut salah memilih kata.

Dave menatap Elia sekilas. Tatapan yang sedikit tajam, mengandung peringatan. Jika situasinya berbeda, jika mereka tidak berada di depan ruang operasi saat ini, mungkin ia sudah mengungkit soal perjanjian pernikahan yang selama ini menggantung di antara mereka.

“Nick,” jawab Dave singkat.

1
kalea rizuky
laki bejat selingkuh ampe nidurin
sutiasih kasih
demi jalang.... n ancamannya km gercep ambil tindakan dave....
hadeuh dave.... ank siapa yg brtanggung jawab siapa🤣🤣🤣
Nnar Ahza Saputra
alex bertindak,, itu kn anak.ny alex,,,
kalea rizuky
cpet bkin Cerainthor gk sbar nunggu Dave gila
sutiasih kasih
lanjut thor
sutiasih kasih
lagian... istri sah di anggp musuh... di hindari....
eeee mlah lbh milih mnjatuhkn pilihan ke jalang....
istri di cuekin... eeee sm si jalang prhatian bgt...
skrg minta ksempatan.... g tau malu n g tau diri km dave.... elia km kasih barang bekasan jalang...
🙄🙄
Cookies
lanjut
Cookies
lanjut thor
kalea rizuky
nyesel mu g guna uda makan itu jalang bergilir lu doyan kam
sutiasih kasih
mkanya jgn nafsu yg km gedein dave.... smpe" buta mata dan hatimu...
udah g usah drama dave... bukankah perempuan pujaanmu adalah bianca...
jdi kmbali lah ke bianca...😅😅
sutiasih kasih
jgn prnah ada kata kmbali elia...
rugi dpt bekasan si bianca jalang...
dave g cocoj dpt perempuan sebaik km elia...
dave cocoknya dpt perempuan jalang..
sutiasih kasih
istri cantik... paket komplit... harus brsaing dgn perempuan yg cm modal selangkangan🙄🙄
sutiasih kasih
ya elah.... bini di rumsh nungguin dgn setia....
suami lgi main lndir sm jalang di luar....
ntar jalangnya hamil....
istri sah harud ngalah dan prgi...
Melinda Cen
lanjut perbnykkan eps nya dong
Nnar Ahza Saputra
gugat cerai aza... pergi nd menjauh,,,
Melinda Cen
lanjut
Melinda Cen
yeee akhirnya Dave menyesal. jgn mau kembali lg elia
Cookies
lanjut
Melinda Cen
lanjut thor, semoga elia berpisah dengan Dave. dan Dave kan menyesal
Nnar Ahza Saputra
lanjut ka...tp jangan bikin elia depresi,, bwat dia kuat pergi ninggalin dave..
Vianny: oke. jgn lupa like, dan subscribe yaa ka.. biar aku makin semakin up ceritanya 🥰🙏 makasih udh selalu mampir.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!