NovelToon NovelToon
SETELAH KAMU MENJADI ASING

SETELAH KAMU MENJADI ASING

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Mantan / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Puing yang Menyimpan Hangat

Sisa aroma sangit masih menempel di ujung rambut Maya, meskipun ia sudah keramas tiga kali pagi ini. Ia duduk di bangku taman rumah sakit, menatap lurus ke arah gedung bangsal bedah. Tangannya masih gemetar saat teringat bagaimana Arlan menerjang kobaran api demi menariknya keluar malam itu.

Pintu geser di belakangnya terbuka. Arlan muncul dengan kemeja rumah sakit yang dilapisi jaket katun. Lengan kanannya dibalut perban putih tebal akibat luka bakar derajat dua yang ia dapatkan saat menendang balok kayu di rumah Dago.

"Kenapa di luar? Udara Bandung lagi nggak ramah," suara Arlan terdengar lebih lembut, menghilangkan kesan bos yang angkuh yang selama ini ia pakai sebagai topeng.

Maya berdiri, hendak membantu Arlan duduk, tapi pria itu menolak dengan senyum tipis. Arlan duduk di samping Maya, menyisakan jarak yang sangat tipis—jarak yang kini terasa nyaman, bukan lagi mengancam.

"Maaf," bisik Maya sambil menatap perban di lengan Arlan. "Gara-gara aku keras kepala mau ambil foto itu, kamu jadi luka begini."

Arlan menoleh, menatap Maya dengan pandangan yang membuat jantung Maya berdegup dua kali lebih cepat. "Luka ini cuma di kulit, May. Bisa sembuh dalam dua minggu. Tapi kalau malam itu aku kehilangan kamu lagi... kurasa aku nggak akan punya waktu lagi buat sembuh."

Maya menunduk, memainkan jemarinya. "Rumahnya habis, Lan. Semua kerja kerasmu di Dago... hangus."

"Nggak semuanya," Arlan merogoh saku jaketnya dengan tangan kiri yang tidak terluka. Ia mengeluarkan foto photobox yang sudah sedikit gosong di bagian pinggirnya—foto yang diselamatkan Maya dengan nyawanya. "Selama foto ini masih ada, dan orang di foto ini masih di depanku, aku bisa bangun seribu rumah lagi, Maya."

Maya tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Kamu gombal banget sekarang. Sejak kapan CEO dingin sepertimu belajar bicara begini?"

Arlan terkekeh, suara tawanya terdengar seperti melodi yang sudah lama hilang dari hidup Maya. "Sejak aku sadar kalau gengsi nggak akan bisa memelukku saat aku kedinginan."

Suasana mendadak menjadi lebih serius saat seorang asisten Arlan datang membawa map dokumen. Arlan membacanya sekilas lalu mengangguk.

"Sandra sudah ditangkap di perbatasan Subang tadi subuh," lapor asisten itu sebelum pamit pergi.

Maya menghela napas lega. Beban berat yang selama lima tahun ini menghimpit pundaknya seolah terangkat seketika. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di pikirannya.

"Lan," panggil Maya pelan. "Setelah semua ini selesai... kita ini apa? Kita bukan lagi orang asing, tapi kita juga nggak bisa langsung balik ke masa lalu, kan?"

Arlan meletakkan tangannya di atas tangan Maya. Sentuhannya hangat dan penuh keyakinan. "Kita nggak akan balik ke masa lalu, May. Masa lalu itu penuh rahasia dan salah paham. Aku mau kita mulai sesuatu yang baru. Bukan sebagai arsitek dan desainer, bukan sebagai atasan dan bawahan."

"Lalu?"

"Sebagai dua orang yang sama-sama pernah hancur, dan sekarang mau coba saling memperbaiki," Arlan memajukan wajahnya, menatap Maya tepat di mata. "Aku mau mulai dari awal. Aku mau kencan pertama yang normal. Aku mau tahu semua hal yang kamu suka di Jakarta selama lima tahun ini. Aku mau tahu alasan kenapa kamu masih simpan kalung itu."

Maya meraba kalung perak di lehernya, lalu tersenyum tipis. "Aku simpan karena aku nggak pernah bisa benar-benar membencimu, Lan. Meskipun aku coba sekuat tenaga."

Arlan menarik napas panjang, tampak lega. Ia perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Maya. Di bawah pohon beringin rumah sakit yang teduh, di tengah aroma obat-obatan dan tanah basah, Arlan mencium dahi Maya dengan sangat lama—sebuah ciuman yang penuh dengan janji dan permintaan maaf yang tak terucapkan.

"Tapi ada satu masalah," bisik Arlan tepat di depan bibir Maya.

"Apa?" Maya bertanya dengan napas tertahan.

"Aku nggak punya rumah sekarang. Apartemenku di Jakarta lagi direnovasi, dan rumah Dago baru saja jadi abu. Jadi..." Arlan menyeringai nakal. "Boleh nggak aku numpang di apartemen kecilmu untuk sementara?"

Maya tertawa, ia mendorong bahu Arlan pelan. "Enak saja! Apartemenku sempit, nggak level buat CEO sepertimu."

"Sempit nggak masalah, asal ada kamu," goda Arlan.

Namun, candaan mereka terhenti saat ponsel Maya berdering. Sebuah panggilan dari nomor rumah sakit di Jakarta. Wajah Maya mendadak pucat pasi saat mendengar suara di seberang sana.

"Halo? Iya, saya anaknya... Apa?! Ibu kritis?!"

Ponsel di tangan Maya terjatuh ke rumput. Arlan langsung sigap menangkap bahu Maya agar wanita itu tidak ambruk.

"May? Ada apa?"

"Ibuku, Lan... Ibuku di Jakarta... keadaannya memburuk," suara Maya tercekat oleh isak tangis.

Arlan tidak membuang waktu. Ia langsung berdiri, mengabaikan rasa perih di lengannya. "Ayo. Kita ke Jakarta sekarang. Pakai helikopter perusahaan kalau perlu. Aku nggak akan biarkan kamu menghadapi ini sendirian lagi, Maya. Nggak akan pernah."

Di tengah kepanikan itu, Maya menyadari satu hal: Kali ini, ia tidak perlu lari sendirian. Kali ini, ada tangan yang akan selalu menggenggamnya, seburuk apa pun badai yang datang menghantam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!