Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Gerak-Gerik Berbohong
"Oh begitu... Terus mana Safea, Kak? Kayaknya Kakak lagi sendiri," ujar Rangga.
"Eh, anu. Kebetulan Safea masuk sekolah saat pagi begini. Aku kebetulan singgah karena mau beli sesuatu. Tapi malah ketemu dua orang tadi," terang Dita memberi alasan.
Rangga memperhatikan gelagat Dita. Ia bisa melihat kegelisahan dari perempuan itu. Sebagai polisi, Rangga tentu beberapa kali berhadapan dengan penjahat. Dia tahu betul gerak-gerik orang berbohong. Itulah yang dilihatnya dari Dita sekarang.
"Kak Dita udah makan? Bisakah kita makan bersama?" tawar Rangga.
"Maaf, Dek. Aku harus--"
"Kak Dita menolak ya? Kenapa sih Kak, rasanya Kakak berusaha menghindar dariku? Padahal aku cuman ngajak makan loh," potong Rangga yang bisa menduga jawaban dari Dita.
"Bukan begitu. Aku hanya..." Dita terdiam sejenak. Tapi dia segera berucap, "Ya sudah kalau begitu, kita bisa makan sebentar."
Rangga tersenyum. Dia segera mengajak Dita ke warung makan terdekat. Mereka memilih warung makan pecel lele. Keduanya kini duduk saling berhadapan.
Semenjak memasuki warung makan, banyak pasang mata yang menatap ke arah Rangga dan Dita. Bagaimana tidak? Keduanya sama-sama good looking.
"Sumpah ya, kamu nyadar nggak kalau dari tadi cewek-cewek di sini ngelihatin kamu terus?" imbuh Dita.
"Justru Kak Dita yang harusnya sadar. Dari tadi Kakak juga dilihatin," sahut Rangga.
"Apa yang orang lihat dariku coba? Aku hanya perempuan biasa. Janda," ungkap Dita. Namun dia sigap membekap mulut sendiri karena tak sengaja keceplosan. "Eh! Maksudku emak-emak. Ya kau tahulah!" ralatnya cepat.
Rangga mengangguk. Bersamaan dengan itu, pesanannya dan Dita datang.
"Kau nggak pernah berubah. Selalu suka pecel lele," komentar Dita.
"Begitulah aku. Bahkan aku masih suka sama Kakak. Kak Dita aja yang berubah banget. Aneh!" pungkas Rangga.
"Hush! Dek! Kenapa kau bicara begitu coba," tanggap Dita.
"Ya kan Kak Dita emang berubah. Apa bedanya sama Bang Firza. Mendadak menghilang tanpa kabar kayak ditelan bumi. Aku cemas banget sesuatu yang buruk terjadi sama Kakak," ungkap Rangga.
Dita memilih diam. Dia berusaha menikmati makanannya. Akan tetapi menelannya saja terasa sulit. Rangga pintar sekali membuat perasaannya goyah.
"Maaf, Dek. Saat itu semuanya terjadi begitu saja. Aku cuman nggak mau jadi beban untukmu. Aku mau kau fokus dengan kehidupanmu sendiri," tutur Dita.
"Tapi Kak Dita bagian dari hidupku. Penting banget malah."
"Aku hanya mantan kakak iparmu, Dek. Lagian aku lihat kau terlihat hebat setelah jadi polisi."
"Terlihat. Tapi Kakak nggak tahu hatiku bagaimana."
Dita mendengus. Dia mulai tidak nyaman dengan topik pembicaraan Rangga yang terus menjurus ke perasaan.
Alhasil Dita memilih diam dan fokus memakan makanannya dengan cepat. Setelah merasa cukup, dia bergegas pergi.
"Sebentar lagi kelas Safea selesai. Aku harus menjemputnya," ujar Dita.
"Aku akan antar--"
"Nggak usah, Dek! Aku sudah pesan ojek online. Lagian kau kan harus kembali kerja," potong Dita. Dia pergi meninggalkan Rangga yang belum menghabiskan makanannya.
Rangga mematung sambil terus mengunyah makanannya. Entah kenapa dia merasa sepertinya Dita menyembunyikan sesuatu darinya.
Karena penasaran, Rangga mengambil ponsel dan menelepon Clarisa. Sebelum itu, dia tentu mencuci tangannya terlebih dahulu.
"Ada apa, Mas?" Clarisa menjawab dari seberang telepon.
"Begini, aku ingin tanya padamu tentang dosenmu yang bernama Kemal. Apa kau punya nomor kontaknya?" tanya Rangga.
"Iya punya, Mas. Aku kirim langsung ya," sahut Clarisa.
"Makasih."
Tak lama Rangga mendapatkan nomor kontak Kemal, lelaki yang disebut Dita sebagai suaminya.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄