PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Perpisahan Sang Jendral
Zeiran melirik jam tangannya, lalu menatap Jihan dengan lembut.
"Jam sudah malam, Jihan. Kau harus kembali ke mansion. Alvaren pasti sudah menunggumu " ucap Zeiran pelan.
Wajah Jihan yang tadi sempat cerah langsung berubah mendung. Ia mencengkeram ujung meja. "Aku tidak ingin pulang, Zeiran. Aku ingin di sini saja, bersamamu."
"Kau harus kembali, Sayang," Zeiran membelai rambutnya dengan gerakan jemari yang sangat romantis,"Kau harus istirahat. hari ini pasti melelahkan untukmu."
"Bagaimana aku bisa istirahat, Zeiran?" Jihan mendongak, matanya kembali berkaca-kaca. "Jika aku tidak akan melihatmu berhari-hari, berminggu-minggu... bahkan, aku harus melewati hari ulang tahunku tanpa kehadiranmu."
Zeiran menghela napas panjang, hatinya ikut teriris. Ia berlutut di depan Jihan agar sejajar dengan duduknya. "Aku janji akan menggantinya di lain waktu. Aku akan mengirimkan hadiah terbaik untukmu tepat di hari ulang tahunmu nanti. Tapi untuk sekarang, kau harus kembali. Ayo, aku antar."
Jihan akhirnya mengangguk dengan senyum tipis yang dipaksakan. Mereka beranjak dari kafe. Mobil Jihan dibawa oleh pengawal pribadinya, sementara Jihan masuk ke dalam mobil mewah milik Zeiran.
Di dalam mobil, Jihan hanya melamun menatap jalanan yang gelap. Pikirannya kosong, hanya dipenuhi rasa sesak. Zeiran, yang tangan kanan nya tetap sigap mengemudi, menggunakan tangan kirinya untuk menggenggam erat tangan Jihan sebuah kebiasaan lama mereka setiap kali berada di dalam mobil saat berkencan.
"Ayolah, Jihan... ini hanya beberapa minggu saja, bukan beberapa puluh tahun," Zeiran mencoba memecah keheningan dengan nada ringan.
"Sama saja!" Jihan menoleh, air matanya kini benar-benar jatuh. "Aku tidak ingin berpisah denganmu, Zeiran..." mulai terisak. "Kau akan berada di tempat yang sangat berbahaya, dan aku di sini... aku hanya bisa menunggu tidak berdaya."
Entah kenapa, perpisahan kali ini terasa sangat berbeda. malam ini... rasa takut ini begitu nyata, seolah-olah dunia sedang berusaha menarikmu menjauh dariku. Batin Jihan Firasat Gelap
Zeiran tersenyum kecil, mencoba menenangkan. "Aku tidak akan ke mana-mana, Jihan. Aku masih ingin hidup lama. Aku masih ingin melihatmu tumbuh lebih dewasa lagi, melihatmu menjadi orang besar yang menguasai dunia hukum dan politik. Terutama..." Zeiran meliriknya dengan tatapan menggoda, "...aku masih ingin melihat senyumanmu setiap hari."
"Jangan bercanda! Aku sedang serius," protes Jihan di sela isaknya.
Zeiran tertawa kecil, suara yang menenangkan. "Aku tahu. Aku hanya tidak ingin kenangan terakhir kita sebelum aku berangkat adalah wajahmu yang penuh air mata. Tersenyumlah sedikit untukku?"
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan teras utama mansion Alvaren. Zeiran mematikan mesin, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Jihan. Ia memegang kedua pipi Jihan dengan lembut, menghapus sisa air mata dengan ibu jarinya.
"Lihat aku, Jihan. Aku akan kembali. Aku akan pulang untukmu. Jika aku menginjakkan kaki lagi di kota ini, orang pertama yang akan kutemui adalah dirimu," ucapnya dengan nada yang sangat sakral.
"Kau harus pulang... kau harus kembali, Zeiran," suara Jihan bergetar hebat. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau tidak kembali."
Zeiran tersenyum lembut, ia mendekatkan wajahnya hingga napas mereka bersatu. "Jangan pernah ragukan perasaanku, Jihan. Meskipun dunia ini runtuh... cintaku tak akan berubah. Aku akan selalu memilihmu."
Zeiran perlahan mendekat, dan Jihan pun memejamkan matanya. Zeiran mencium bibir Jihan dengan sangat hangat dan penuh perasaan.
Jihan membalasnya dengan erat, tangannya melingkar di pundak lalu naik ke belakang leher Zeiran, seolah ingin menahan pria itu agar tidak pernah pergi.
Setelah beberapa saat, Zeiran menjauhkan wajahnya sedikit, namun kening mereka masih bersentuhan. "Aku mencintaimu, Jihan."
"Aku juga sangat mencintaimu... aku akan selalu menunggumu," bisik Jihan.
Zeiran menarik diri dengan pelan, meskipun berat. "Sekarang masuklah. Alvaren mungkin sedang menunggumu dengan cemas. Jangan sampai dia memarahiku karena menahan adiknya terlalu lama."
Jihan terdiam, sorot matanya yang mengatakan bahwa ia enggan keluar dari mobil itu.
"Setelah kau masuk dan aku pergi dari sini, aku akan langsung menghubungimu, oke? Masuklah... sebelum aku berubah pikiran dan menculikmu ikut ke perbatasan," goda Zeiran lagi.
Jihan mengangguk pelan. "Baiklah. Kau... tidak masuk dulu untuk bertemu Kak Alvaren?"
Zeiran terkekeh. "Kami sudah bicara cukup lama di paviliun tadi. Sekarang adalah waktunya untukmu."
Zeiran keluar lebih dulu, lalu memutari mobil dan membukakan pintu untuk Jihan. Ia mengulurkan tangannya dengan sopan, seperti seorang ksatria menjemput putrinya. Jihan sempat ragu, namun tatapan meyakinkan Zeiran membuatnya menyambut uluran tangan itu.
Zeiran mengantarnya hingga tepat di depan pintu besar mansion.
"Kau pulanglah sekarang... dan jangan lupa hubungi aku," pesan Jihan.
"Aku sudah janji. Aku baru akan pergi setelah melihatmu masuk ke dalam," jawab Zeiran mantap.
Jihan tersenyum, lalu dengan cepat mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. Ia menarik napas panjang, mencoba memasang wajah tegar agar Alvaren dan Jinan tidak menyadari bahwa ia baru saja menangis hebat.
Dengan satu lambaian tangan terakhir, Jihan melangkah masuk, meninggalkan Zeiran yang berdiri diam menatap punggung gadis itu dengan janji yang tertanam mati di dalam hatinya.
—
Ruang tengah Mansion Alvaren
Jihan mendorong pintu besar mansion dan melangkah masuk. Di ruang tengah, suasana sudah berubah. Di atas meja kaca, berserakan berbagai macam camilan burger, pizza, kentang dan sosis, cokelat, keripik hingga minuman soda dan latte, yang sengaja dipesan Jinan untuk mencairkan suasana. Jinan duduk di sofa sambil mengunyah potongan pizza dengan santai.
Begitu melihat sosok Jihan muncul, ketegangan di wajah Alvaren seketika runtuh, menghela napas lega dan tersenyum tipis. Namun Jinan wajah penuh senyum nakal seperti seseorang yang tahu banyak.
Jinan menaikkan alis dua kali, suara penuh provokasi “Nahhh… lihat siapa yang kembali dengan wajah seperti habis syuting drama romantis episode terakhir.”
Jihan langsung menendang pelan betis Jinan.
Jihan ketus, menatap tajam “Diam, Jin. Aku cuma ngobrol.”
Tanpa permisi, jihan menyambar kaleng minuman dingin milik Jinan dan meneguknya hingga setengah.
"Hei! Itu minumanku!" protes Jinan sambil berusaha merebut kalengnya.
Jihan menghindar, lalu dengan cepat menyambar segenggam makanan ringan dari tangan Jinan. "Berisik kau, Jinan! Anggap saja ini pajak karena kau sudah menjahiliku seharian."
"Minumlah minumanmu sendiri! Dasar pencuri makanan!" dengus Jinan sambil memakan kentang.
Alvaren hanya memperhatikan mereka dari kursi kebesarannya. Di balik senyumnya, ia mati-matian menutupi kegelisahan nya. Ia ingin menyimpan memori tentang adik-adik kembarnya yang masih bisa bertengkar karena hal sepele.
"Sudah, sudah," Alvaren menengahi. "Ini sudah larut. Kalian berdua harus segera istirahat ke kamar masing-masing."
Jihan meletakkan kaleng minuman itu, lalu menatap Alvaren dengan lembut. "Justru Kakak yang harus istirahat. Kakak punya perjalanan jauh besok pagi. Jangan sampai Jenderal besar kita ini tertidur saat rapat strategi."
"Benar kata Jihan," Jinan menimpali, kali ini tanpa nada jahil. "Pergilah tidur, Kak. Aku tidak mau melihat berita besok pagi tentang Jenderal Alvaren yang pingsan karena kurang tidur."
Jihan mengambil sebungkus cokelat, lalu berkata, "Dan besok pagi, aku yang akan menyiapkan sarapan menu kesukaan Kakak sebelum berangkat."
Tawa Jinan pecah seketika, ia tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. "Kau? Menyiapkan sarapan? Jangan membuat lelucon, Jihan! Kau bahkan tidak tahu di mana letak penggorengan di dapur kita."
"Aku bilang menyiapkan, Jinan! Bukan memasak!" Jihan melemparkan bantal sofa ke arah Jinan. "Aku akan meminta koki memilih menu kesukaan Kakak. Dan kau... kau yang harusnya bangun pagi! Jangan sampai Kak Alvaren sudah sampai di Elyndor, kau baru mengucek mata!"
Alvaren tertawa kecil, suara tawanya terdengar tulus. Ia bangkit berdiri, mengacak rambut Jihan dan Jinan secara bergantian.
“Baiklah, Kakak kalah. Kakak akan naik ke atas sekarang untuk persiapan terakhir. Kalian jangan tidur terlalu malam."
Setelah sosok gagah Alvaren menghilang di balik tangga lantai atas, suasana menjadi sedikit lebih tenang. Jihan masih sibuk mengunyah keripik, sementara Jinan tampak berpikir keras.
"Sayang sekali ya," gumam Jinan tiba-tiba. "Orang sekeren Kak Alvaren, punya jabatan tinggi, wajah tampan... tapi tidak punya istri. Umurnya sudah sangat cukup untuk berkeluarga. Jihan, apa kau pernah melihat Kak Alvaren dekat dengan wanita?"
Jihan mendengus, ia sengaja mengunyah dengan keras untuk menunjukkan rasa tidak sukanya pada gosip Jinan. "Berhenti ikut campur urusan asmara orang lain, Jinan. Urusi saja jadwal syutingmu yang berantakan itu."
"Aku serius! Bayangkan jika ada Jenderal wanita yang mendampinginya, rumah ini pasti akan penuh dengan senjata," balas Jinan sambil tertawa.
Jihan mulai melancarkan serangan balasan. Ia mengejek Jinan habis-abisan tentang kegagalannya mendekati lawan main di film terakhirnya, membuat suasana ruang tengah menjadi heboh dengan aksi kejar-kejaran kecil.
Tiba-tiba, ponsel di saku Jihan bergetar. Jihan berhenti bergerak, ia mengambil ponselnya dan melihat layar. Seketika, senyumnya mengembang begitu lebar, matanya berbinar bahagia.
"Heyyyy!" Jinan berhenti mengejar, ia menyipitkan mata. "Wajahmu itu... kenapa seperti baru saja dikirimi pesan oleh pangeran dari langit? Apa pangeran tempurmu sudah menghubungimu?"
"Tepat sekali dan lihat, aku memang dicintai seseorang" balas Jihan penuh kemenangan.
Jinan membuka mulut lebar-lebar. “WOAAAH pasangan romantisku video call setelah ciuman dramatis.”
Jihan menatapnya, menahan senyum. “Diam, Jin. Kau cuma iri karena tidak ada yang meneleponmu malam-malam begini.”
Jinan menaruh tangan di dadanya seperti tertusuk.
“Jihan…. itu pukulan fatal.”
“Baiklah. Baiklah. Angkat teleponmu. Tapi… jangan ciuman virtual di depanku.”
Jihan menendang kaki Jinan pelan, Sambil membawa segelas minuman dan sisa makanan, Jihan melangkah cepat menuju tangga, sesekali berbalik untuk menjulurkan lidah mengejek Jinan.
Di tengah anak tangga, Jihan menempelkan ponselnya ke telinga, suaranya berubah menjadi sangat lembut dan penuh perhatian.
"Halo zeiran! Kau sudah kembali ? Kau harus banyak istirahat, Zeiran... jangan membuatku cemas terus. Jangan lupa minum air hangat sebelum tidur," ucap Jihan, suaranya mengecil seiring langkahnya naik ke atas.
Jinan yang berdiri di bawah hanya bisa mendengus kasar, ia melempar satu buah keripik ke udara dan menangkapnya dengan mulut. "Cih, dunia serasa milik berdua. Yang jomblo dianggap ngontrak!"
Jihan tertawa kecil di atas tangga, menghilang di balik pintu kamarnya, meninggalkan Jinan yang kini menatap sepi ruang tengah, menyadari bahwa fajar besok akan mengubah segalanya.
—-
Kamar pribadi Alvaren
Di dalam kamar pribadinya yang luas dan bernuansa maskulin, Alvaren duduk di depan laptop. Jemarinya mengetik di atas keyboard, menyusun strategi pertahanan di perbatasan Elyndor. Secara militer, memenangkan pertempuran di sana adalah hal mudah baginya, sang "Singa Aestrasia". Namun, yang ia takutkan bukanlah peluru musuh, melainkan tangan dingin kakaknya sendiri, Rahez.
Alvaren menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya yang tegang. Ia teringat janji yang pernah ia ucapkan pada Rahez, ia tidak akan mencampuri urusan Alvarezh Group selama Rahez tidak mengusik adik-adik mereka. Namun, ia tahu Rahez bukan orang yang memegang janji.
"Waktu akan segera berubah," gumamnya pelan.
Tugasnya kini bukan sekadar melindungi rakyat dari sistem negara yang bobrok, tapi menjadi benteng bagi Jihan dan Jinan dari kekejaman Rahez yang haus kuasa. Alvaren memijat pelipisnya, lalu pandangannya beralih pada sebuah bingkai foto perak di atas meja.
Di sana, mereka tampak lengkap. Mendiang Ayahnya yang berwibawa, Ibunya yang lembut, mendiang Rayden kakak pertamanya, Rahez yang tampak dingin, dirinya sendiri, dan si kembar Jihan-Jinan yang masih remaja.
"Ayah..." Alvaren menyentuh permukaan kaca foto itu. "Kau pasti tidak menyangka apa yang Rahez lakukan pada keluarga ini sekarang. Dia kehilangan nuraninya demi kekuasaan Alvarezh.
“Tapi aku berjanji padamu, aku akan melindungi dan memfasilitasi setiap kebutuhan Jihan dan Jinan. Mereka tidak akan menjadi pion di papan catur Rahez selama aku masih bernapas."
—-
Pagi pun tiba suasana di ruang makan terasa sunyi meski hidangan kesukaan Alvaren telah tersaji lengkap, hasil pilihan menu Jihan yang ia siapkan sejak subuh.
Setelah sarapan yang terasa berat itu, mereka berkumpul di ruang tengah. Dua mobil taktis militer sudah menunggu di depan gerbang. Zeiran tampak berdiri tegak di samping mobil, menunggu komandannya.
Alvaren mengenakan baret hitamnya, merapikan seragam Jenderal yang tampak sangat gagah. Ia menatap Jihan, lalu memeluknya sangat erat.
"Jihan, ingat pesanku," bisik Alvaren di telinga adiknya. "Jaga dirimu baik-baik. Jangan biarkan siapa pun meragukan kekuatanmu. Aku sudah menitipkan instruksi pada tim keamanan privat untukmu."
Jihan membalas pelukan itu dengan tubuh gemetar, berusaha menahan tangis. "Pulanglah, Kak. Kau harus kembali, merayakan kelulusan dan ulang tahunku.”
Alvaren tersenyum kecil. “Tentu saja, itu alasan bagus untuk kembali.”
Alvaren melepaskan Jihan dan beralih pada Jinan. Ia menepuk bahu adik laki-lakinya itu dengan keras. "Jinan, Jaga Jihan dan jagalah mansion ini. Jangan terlalu sibuk dengan dunia hiburanmu sampai kau lupa jika sedang dalam bahaya. Kau adalah mataku di rumah ini."
Jinan bercanda, tapi matanya berkaca-kaca
“Siap, Jenderal. Aku pastikan rumah ini tidak meledak…dan aku akan menjaga si cerewet ini.”
Alvaren tertawa kecil. Lalu ia menepuk pundak Jinan dengan kekuatan yang menandakan percaya.
“Aku mengandalkanmu.”
Jinan menelan ludah. Ia jarang mendengar kalimat itu dari sang kakak.
Alvaren berbalik, melangkah keluar tanpa menoleh lagi, jika ia menoleh, ia mungkin tidak akan sanggup melangkah pergi.
Mesin mobil berbunyi, memecah keheningan pagi. Jihan dan Jinan berdiri di depan teras, menatap iring-iringan mobil itu bergerak menjauh hingga akhirnya menghilang di balik gerbang besar mansion.
Suasana seketika terasa kosong. Jinan untuk sesaat, wajahnya berubah serius. Kak… pulanglah. Batin Jinan.
Jihan berdiri mematung, wajahnya terlihat tidak enak, penuh kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan. Firasatnya sejak semalam bukannya menghilang, malah semakin menguat.
—-