Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Yang Perlahan Tumbuh...
Di basement parkiran gedung restoran itu, suara pintu mobil yang dibanting keras menggema, memecah kesunyian malam.
Reno duduk di balik kemudi dengan napas memburu. Tangannya memukul setir berulang kali, menyalurkan rasa malu dan amarah yang meledak-ledak. Wajahnya yang basah kuyup sisa siraman air Nindi tadi memerah padam.
"Sial!" umpat Reno kasar. "Arga sialan! Nindi juga... berani-beraninya dia permaluin gue di depan umum!"
Reno menyugar rambutnya yang basah ke belakang. Ia menatap pantulan dirinya di kaca spion. Dulu, ia selalu merasa di atas angin. Dulu, Nindi adalah gadis penurut yang akan lari tergopoh-gopoh hanya dengan satu jentikan jarinya.
Namun kini, saat Nindi pergi, Reno baru merasakan dampak nyatanya.
Selama di Bali, hidupnya berantakan. Tidak ada yang mengingatkannya meeting, tidak ada yang membereskan laporan keuangannya yang kacau, tidak ada yang menyiapkan obat saat ia hangover. Nindi bukan sekadar wanita yang mencintainya, Nindi adalah fondasi hidupnya yang nyaman dan aman.
"Gue nggak bisa lepasin dia gitu aja," gumam Reno, matanya menyipit licik. "Tanpa Nindi, hidup gue ribet, berantakan, dan gue nggak suka hidup kayak gini."
Reno menyalakan mesin mobilnya. Seringai tipis muncul di bibirnya, seringai seorang pecundang yang enggan mengaku kalah.
"Lo boleh seneng-seneng sekarang sama Arga, Nin. Tapi gue tau kelemahan lo. Gue tau cara bikin lo balik natap gue. Tunggu aja... gue bakal cari celah. Gue bakal rebut 'zona nyaman' gue balik."
Mobil Reno melesat keluar dari gedung itu, membawa serta rencana busuk untuk merusak kebahagiaan orang lain demi kenyamanan dirinya sendiri.
Sementara itu, di sebuah pusat perbelanjaan elit di kota.
Arga dan Nindi sedang berada di dalam toko perlengkapan bayi yang besar dan penuh warna-warni.
Arga berdiri dengan wajah bingung, memegang sebuah jumpsuit bayi bermotif tengkorak dan jaket kulit imitasi ukuran mini.
"Nin, liat deh! Ini keren banget!" seru Arga antusias, memamerkan jaket kulit itu. "Bayangin anaknya Devan pake ini, terus gue ajak naik motor gede. Pasti jadi bayi paling garang di kota ini."
Nindi menepuk jidatnya, menahan tawa. "Ga, itu bayi baru lahir, bukan anggota geng motor! Kulitnya masih sensitif, masa dipakein jaket kulit? Yang ada dia gatel-gatel terus nangis."
Arga cemberut, meletakkan kembali jaket itu dengan berat hati. "Yah... padahal gue mau ngajarin dia jadi cool kayak om-nya."
"Om-nya aja konyol gini, gimana mau ngajarin
cool?" ledek Nindi sambil berjalan menuju rak baju tidur berbahan katun lembut.
Arga mengekor di belakang Nindi seperti anak ayam, ia melihat-lihat sekeliling dengan takjub.
"Nin, kok baju bayi kecil banget ya? Ini kaos kaki apa sarung jempol? Kecil amat," komentar Arga sambil mengangkat sepasang kaos kaki rajut super mungil.
"Namanya juga bayi, Arga Sayang..." jawab Nindi gemas, tanpa sadar menggunakan panggilan sayang.
Arga langsung tersenyum lebar, pipinya memerah. "Apa? Coba ulangin? Arga apa tadi?"
Nindi sadar ia keceplosan, wajahnya langsung merona. "Arga... Arga yang bawel! Udah ah, fokus cari kado!"
Saat mereka sedang berdebat memilih antara
stroller warna biru dongker atau abu-abu, seorang pelayan toko wanita menghampiri mereka dengan senyum ramah.
"Selamat siang, Bapak, Ibu. Wah, serasi sekali pasangannya," sapa pelayan itu sopan, membuat Nindi tersenyum. "Lagi cari perlengkapan buat kelahiran putra pertamanya ya, Pak? Kebetulan kami ada promo paket newborn lengkap."
Arga dan Nindi saling pandang, lalu salah tingkah.
"Eh... bu-bukan, Mbak. Kami bukan—" Nindi berusaha menyangkal dengan gugup.
Tapi Arga, dengan sifat jahilnya, malah merangkul bahu Nindi dan membusungkan dada.
"Iya, Mbak. Doain ya, ini buat persiapan keponakan dulu. Nanti kalau buat anak kami sendiri, kami pasti borong satu toko ini," ucap Arga sambil mengedipkan sebelah mata ke Nindi.
Si pelayan tertawa kecil. " Amin, Pak. Semoga segera nyusul ya."
Setelah pelayan itu pergi mengambilkan barang, Nindi mencubit pinggang Arga gemas.
"Aduh! Sakit, Nin!"
"Lo tuh ya, malu-maluin! Pake bilang mau borong satu toko segala," omel Nindi, meski bibirnya tersenyum.
"Loh, itu doa, Nin. Diaminin dong." Arga meringis sambil mengusap pinggangnya, lalu menatap Nindi lembut. "Lagian, gue nggak keberatan kok dikira suami lo. Malah seneng."
Nindi terdiam, menatap mata Arga yang tulus. Di tengah tumpukan popok dan botol susu itu, ia merasa hangat.
"Dasar modus," gumam Nindi, menyembunyikan senyum bahagianya.
"Jadi, kita beli yang mana buat Devan?" tanya Arga mengalihkan topik, mengangkat sebuah topi bayi bentuk telinga kelinci.
"Yang itu lucu!" seru Nindi.
"Oke, fiks! Gue mau liat Devan yang cool dan dingin itu gendong anak pake topi kelinci. Pasti harga dirinya runtuh seketika." Arga tertawa jahat membayangkannya.
Siang itu dihabiskan dengan tawa dan canda. Arga dan Nindi menikmati momen kebersamaan mereka, tanpa menyadari bahwa di luar sana, ada sepasang mata pengintai dari masa lalu yang sedang menyusun rencana untuk merusak tawa itu. Dan di sudut gelap lainnya, Tamara yang menghilang masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Perjalanan menuju rumah sakit sore itu diwarnai dengan kemacetan seperti biasa. Namun, di dalam mobil Arga, suasana justru terasa hangat dan penuh tawa.
Di kursi penumpang, Nindi memangku paper bag besar berisi kado untuk bayi Devan, hasil perburuan mereka kemarin hari.
"Nin," panggil Arga sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mengikuti irama lagu di radio.
"Apa lagi?" sahut Nindi tanpa menoleh, sibuk mengecek isi tasnya.
"Kamu tau nggak bedanya kamu sama kemacetan jalanan?" tanya Arga dengan wajah sok serius.
Nindi memutar bola matanya malas. "Mulai deh. Apa? Kalau macet bikin pusing, kalau aku bikin emosi?"
"Salah!" Arga menoleh cepat sambil nyengir lebar. "Kalau macet itu bikin waktu terbuang sia-sia. Kalau kamu... bikin waktu aku jadi berharga selamanya."
"Huwek!" Nindi pura-pura mau muntah, memukul lengan Arga pelan. "Sumpah ya, Ga. Gombalan lo itu levelnya udah di atas lebai. Itu gombalan bapak-bapak Facebook tau nggak!"
Arga tertawa lepas, tidak tersinggung sama sekali. "Biarin, yang penting pipi kamu merah tuh. Cie, salting."
"Siapa yang salting! AC mobil lo panas!" elak Nindi, padahal pipinya memang memanas.
Hening sejenak saat mobil merayap pelan. Tiba-tiba Arga menghela napas panjang dan dramatis.
"Hah... Nin, kayaknya nanti habis jenguk anaknya Devan, aku harus mampir ke UGD deh. Sekalian periksa."
Nindi langsung menoleh, wajahnya berubah khawatir. "Loh? Kenapa? Lo sakit, Ga? Pusing? Atau masuk angin gara-gara AC?"
Nindi refleks meletakkan punggung tangannya di dahi Arga untuk mengecek suhu tubuh cowok itu.
Arga membiarkan tangan Nindi di dahinya, lalu menatap Nindi dengan tatapan puppy eyes.
"Badan gue nggak panas, Nin. Tapi kayaknya gula darah gue naik drastis deh."
"Hah? Diabetes?" tanya Nindi bingung, "perasaan tadi lo nggak minum manis."
"Gimana nggak naik." Arga meraih tangan Nindi di dahinya, lalu mengecupnya singkat. "Orang yang duduk di sebelah gue manisnya kelewatan, bikin diabetes akut."
Nindi menarik tangannya cepat, wajahnya merah padam menahan malu dan geli.
"ARGA!!" jerit Nindi gemas, "gue turunin lo di sini ya! Sumpah, gue kira lo sakit beneran! Receh banget sih lo!"
Arga tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. "Habisnya lo lucu kalau lagi panik. Khawatirin gue banget ya?"
"Bodo amat!" Nindi membuang muka ke luar jendela, menyembunyikan senyumnya yang merekah lebar. Meski mulutnya protes, tapi hatinya berbunga-bunga.
Arga memang obat terbaik untuk melupakan luka masa lalunya bersama Reno.