Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: SERIGALA BERBULU DOMBA
Tiga hari setelah penyerbuan gudang, nama Alana Dirgantara menghiasi halaman depan seluruh media nasional. Bukan sebagai agen kepolisian yang berprestasi, melainkan sebagai sosok misterius yang secara resmi telah menjadi pendamping hidup Arkano Dirgantara.
Pagi ini, mansion Dirgantara terasa lebih sibuk dari biasanya. Arkano memutuskan bahwa malam ini adalah waktu yang tepat untuk "debut" resmi Alana di mata publik dalam sebuah acara amal bergengsi yang diadakan oleh yayasan kepolisian. Sebuah langkah yang sangat berani, sekaligus provokatif.
Alana duduk di depan meja riasnya. Tiga orang penata rias profesional sibuk bekerja di sekelilingnya.
"Nyonya, lipstik warna burgundy ini akan membuat Anda tampak sangat berkuasa," ujar salah satu penata rias dengan suara sopan.
Alana hanya menatap pantulan dirinya di cermin dengan kosong. Matanya masih terlihat sedikit sembab karena kurang tidur, namun ia menyembunyikannya di balik lapisan riasan yang sempurna.
Cklek.
Pintu terbuka. Arkano masuk dengan langkah mantap. Ia mengenakan kemeja hitam yang baru setengah dikancingkan, memperlihatkan otot dadanya yang kokoh. Para penata rias segera menunduk dan keluar dari kamar, memberikan privasi bagi sang penguasa mansion.
Arkano berdiri di belakang Alana, menatapnya lewat cermin. Tangan besarnya mendarat di bahu Alana yang terbuka.
"Kau terlihat luar biasa, Alana," bisik Arkano.
"Kau sengaja melakukannya, kan?" Alana menoleh, menatap Arkano dengan tajam. "Membawaku ke acara amal kepolisian. Kau ingin memamerkan padaku bahwa kau bisa menginjak-injak tempat kerjaku dulu?"
Arkano menyeringai tipis. "Aku ingin kau melihat wajah Hendra saat dia menyadari bahwa 'senjata' terbaiknya sekarang berada di tanganku. Aku ingin dia tahu bahwa dia tidak lagi punya kendali atasmu."
Arkano mengambil sebuah kotak beludru dari saku celananya. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah kalung berlian hitam yang sangat langka. Ia memasangkannya di leher Alana, jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher wanita itu, memberikan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuh Alana.
"Berlian hitam ini sama sepertimu, Alana. Cantik, langka, dan sulit ditemukan di tempat terang," gumam Arkano. Ia mencium pundak Alana dengan posesif. "Malam ini, jangan tunjukkan kelemahanmu. Jadilah wanita yang paling dicemburui di ruangan itu."
Hotel Grand Clarion dijaga ketat. Puluhan wartawan berkumpul di depan lobi, kamera mereka terus memotret setiap tamu penting yang hadir. Acara malam ini dihadiri oleh pejabat tinggi, pengusaha, dan tentu saja, petinggi kepolisian.
Saat mobil Rolls-Royce hitam milik Arkano berhenti di depan lobi, suasana mendadak riuh. Marco membukakan pintu. Arkano turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Alana.
Alana menarik napas panjang, menguatkan mentalnya, lalu menyambut tangan Arkano. Ia turun dari mobil dengan keanggunan seorang ratu. Gaun hitamnya yang menjuntai di lantai marmer berkilau terkena cahaya lampu kamera.
"Tersenyumlah, Sayang. Dunia sedang menontonmu," bisik Arkano sambil merangkul pinggang Alana dengan sangat protektif.
Mereka berjalan masuk melewati karpet merah. Alana bisa merasakan tatapan sinis dan bisikan-bisikan dari orang-orang di sekitarnya. Sebagian besar dari mereka mengenal Alana sebagai mantan agen intelijen, dan melihatnya bersanding dengan musuh publik nomor satu adalah skandal terbesar tahun ini.
Di tengah aula utama, Alana melihat sosok yang sangat ia kenal. Komisaris Hendra berdiri di sana bersama istrinya, sedang berbincang dengan beberapa jenderal bintang dua. Hendra tampak sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa di gudang beberapa malam lalu.
Arkano membawa Alana berjalan tepat ke arah Hendra.
"Komisaris Hendra, senang melihat Anda di sini," suara Arkano terdengar ramah, namun ada nada ejekan yang sangat jelas.
Hendra berbalik. Ekspresi wajahnya sempat menegang selama sepersekian detik sebelum kembali berubah menjadi topeng keramahan yang palsu. "Tuan Dirgantara. Dan... Alana. Aku tidak menyangka kalian akan hadir."
"Bagaimana mungkin kami melewatkan acara penting ini? Apalagi ini adalah acara amal untuk rekan-rekan kepolisian yang... malang," sahut Arkano sambil menatap Hendra dengan tajam.
Alana menatap mantan atasannya itu tanpa berkedip. "Kudengar Anda kehilangan beberapa personel terbaik Anda di kawasan industri baru-baru ini, Komisaris? Sungguh sebuah tragedi."
Hendra menyipitkan mata. Ia tahu Alana sedang menyindir kejadian di gudang. "Dunia kepolisian memang penuh risiko, Alana. Kadang kita harus kehilangan orang-orang yang tidak kompeten agar organisasi tetap bersih. Kau sendiri, sepertinya sudah menemukan 'tugas' baru yang sangat menguntungkan."
"Tugas saya sekarang jauh lebih jujur daripada apa yang Anda lakukan di balik meja itu, Komisaris," balas Alana dengan suara rendah namun sangat tegas.
Arkano tertawa kecil, ia mengeratkan rangkulannya pada pinggang Alana, seolah ingin menunjukkan pada Hendra siapa pemilik wanita itu sekarang. "Istriku memang sangat perhatian pada detail. Kami sudah menyiapkan sumbangan sebesar sepuluh miliar untuk yayasan ini. Kuharap uang itu benar-benar sampai ke tangan keluarga korban, bukan ke saku pribadi seseorang."
Wajah Hendra memerah menahan amarah, namun ia tidak bisa melakukan apa-apa di depan publik dan kamera wartawan. "Tentu saja. Terima kasih atas kedermawanan Anda, Tuan Dirgantara."
Setelah konfrontasi yang menegangkan itu, Arkano membawa Alana menuju area balkon privat yang lebih sepi.
"Kau sangat hebat di dalam tadi," puji Arkano. Ia mengambil dua gelas sampanye dari pelayan yang lewat.
Alana menyesap minumannya, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. "Aku ingin mencekiknya saat itu juga."
"Sabar, Alana. Membunuh seseorang dengan pistol itu terlalu cepat. Kita akan menghancurkannya perlahan-lahan. Kita mulai dengan reputasinya, lalu kekuasaannya, dan terakhir... hidupnya."
Tiba-tiba, ponsel Arkano bergetar. Ia melihat layarnya sejenak, lalu wajahnya berubah menjadi serius. "Aku harus menerima panggilan ini. Jangan pergi ke mana-mana, mengerti?"
Alana mengangguk. Arkano berjalan menjauh menuju sudut balkon yang lebih gelap untuk berbicara di telepon.
Alana berdiri sendirian, menatap pemandangan kota dari ketinggian lantai dua puluh. Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Ia mengira itu adalah Arkano, namun aroma parfumnya berbeda.
"Kau benar-benar sudah menjadi budaknya, Alana?"
Alana berbalik cepat. Ia terkejut melihat sosok pria muda dengan pakaian pelayan hotel berdiri di hadapannya. Pria itu menundukkan kepalanya, namun Alana mengenali suaranya.
"Rian?" bisik Alana panik. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau harusnya sedang dalam perawatan medis!"
Rian mengangkat wajahnya. Matanya terlihat penuh dengan kekecewaan dan amarah. "Aku tidak bisa diam saja saat melihatmu dipamerkan seperti piala oleh monster itu. Alana, ikut aku sekarang. Kita punya jalur pelarian di belakang dapur. Tim dari divisi lain sudah siap melindungimu. Kita bisa menjatuhkan Hendra dan Arkano sekaligus!"
Alana terpaku. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu sejak awal misi ini dimulai. Kesempatan untuk kembali ke jalannya yang benar. Namun, matanya melirik ke arah Arkano yang masih berbicara di telepon di kejauhan.
"Rian, kau tidak mengerti... Arkano tidak sejahat yang kau kira. Dan Hendra—"
"Kau sudah dicuci otak olehnya!" potong Rian dengan suara tertahan. "Dia mafia, Alana! Dia membunuh orang tanpa berkedip! Dan sekarang kau malah membantunya?"
"Aku melakukan ini untuk menghancurkan Hendra!"
"Kau bisa melakukannya tanpa harus tidur dengan iblis itu!" Rian menarik tangan Alana dengan kasar. "Ayo pergi, sebelum dia berbalik!"
Alana bimbang. Di satu sisi, ada Rian, sahabatnya dan simbol dari moralitas yang dulu ia junjung tinggi. Di sisi lain, ada Arkano—pria yang meskipun kejam, adalah satu-satunya yang tidak membohonginya saat dunianya runtuh.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat.
"Ada masalah di sini, Sayang?"
Suara Arkano yang dingin dan menggelegar membuat Rian langsung melepaskan tangan Alana. Arkano berdiri di sana dengan tatapan yang sangat mematikan. Ia melihat Rian yang menyamar, lalu beralih ke tangan Alana yang memerah karena tarikan Rian.
Dalam sekejap, Arkano sudah berada di depan Rian. Ia mencengkeram kerah baju pelayan Rian dan menghantamkan tubuh pria itu ke dinding balkon dengan kekuatan luar biasa.
"Arkano, jangan!" teriak Alana.
Arkano tidak mendengarkan. Ia menodongkan pistol kecil dari balik jasnya tepat ke dahi Rian. "Sudah kubilang pada Marco untuk membuangmu ke perbatasan, tapi kau malah kembali ke sini untuk menyentuh milikku?"
"Tembak saja, brengsek!" tantang Rian.
Alana berdiri di antara mereka, mendorong dada Arkano. "Hentikan! Jika kau membunuhnya di sini, semuanya akan hancur! Arkano, lihat aku! Jangan lakukan ini!"
Arkano menatap Alana. Rahangnya mengeras. Emosi posesifnya yang gelap seolah ingin meledak. Namun, melihat kepanikan dan permohonan di mata Alana, ia perlahan menurunkan senjatanya.
"Bawa dia pergi dari sini, Marco. Masukkan dia ke mobil," perintah Arkano dingin tanpa melepaskan pandangannya dari Alana.
Marco yang entah sejak kapan sudah muncul di sana segera menyeret Rian pergi lewat pintu darurat.
Arkano kemudian mendekati Alana. Ia mencengkeram dagu Alana dengan cukup keras, memaksanya untuk menatapnya. "Kau masih ingin lari dariku, Alana? Setelah semua yang kuberikan padamu?"
"Aku tidak mencoba lari!" bela Alana.
"Maka buktikan," desis Arkano. Ia menarik Alana ke dalam pelukannya dan menciumnya dengan kasar di depan umum, seolah ingin menegaskan pada siapa pun yang menonton bahwa wanita ini adalah wilayah kekuasaannya yang tidak boleh diganggu gugat.
Malam itu, Alana sadar. Ia benar-benar telah terjebak di antara dua dunia yang saling menghancurkan. Dan yang paling menakutkan adalah, ia tidak tahu lagi dunia mana yang ingin ia selamatkan.
Apakah pengkhianatan Rian akan membuat Arkano semakin tidak percaya pada Alana? Dan rencana apa yang disiapkan Hendra setelah dipermalukan di acara amal tersebut?