Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Kota Daxia
Setelah melewati beberapa Desa, hari sudah gelap. Mereka menepi untuk beristirahat dan akan melanjutkannya di pagi hari. Setelah makan malam mereka bersiap untuk tidur. Tidak lupa Aruna memberi mereka 1 tael emas per orang. Mendapat uang dari hasil keringat sendiri sungguh rasanya luar biasa.
Karena cuman berempat mereka tidak memasang tenda, jadi mereka memilih tidur di atas pohon. Aruna yang tidak suka segera menawarkan untuk masuk ke batu penyimpanan agar lebih aman.
Ketiganya langsung setuju, mereka dimasukkan dalam posisi berbaring. Aruna tersenyum puas, dia akhirnya bisa masuk keruang penyimpanan untuk berendam.
***
Di sisi Yuan Zhi yang baru tiba di Kota Longwan langsung menuju ke Gedung Biro Kemanan. Dia hanya mengeluarkan para korban dan sang si Ketua Bandit, sedangkan hasil jarahan, akan dia bawa ke Ibu Kota untuk diserahkan pada Kaisar.
Para Penyelidik cukup terkejut, akhirnya bandit itu bisa ditangkap. Mereka makin kagum dengan kekuatan Yuan Zhi yang hanya memerlukan beberapa bulan saja untuk menangkapnya, mereka sudah berusaha selama beberapa tahun tapi tak pernah ada hasil.
Yuan Zhi segera kabur, dia tidak ingin mendengar pujian mereka, karena bukan dia yang menangkapnya. Dia pergi mencari penginapan, dia masih akan tinggal beberapa hari di Kota Longwan untuk memulihkan tenaga.
...----------------...
Ke esokan harinya, Aruna sudah menyiapkan banyak roti dan biskuit kering dilengkapi susu dan teh. Dia mengeluarkan mereka semua untuk sarapan, dan segera melanjutkan perjalanan. Karena butuh setengah hari untuk tiba di Kota selanjutnya, Aruna mengeluarkan semua kereta kuda agar lebih cepat.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu beberapa orang, jika diperhatikan teryata mereka juga rombongan pengungsi. Aruna yang berada paling depan bertanya. "Tuan, Apakah Anda rombongan menuju pengungsian?"
Orang yang paling tua menjawab, "Nona, Anda benar. Rombongan kami sudah jalan lebih dulu."
"Kenapa mereka meningalkan kalian? Oh apa kalian satu keluarga?" Aruna bertanya lagi setelah turun dari kudanya.
Orang-orang itu juga ikut berhenti, kondisi mereka sudah sangat lemas. Perbekalan mereka sudah habis sejak lama, dan bantuan yang bagikan di Kota Longwan dibawah oleh Kepala Desa dengan rombongan lainnya.
"Ya, kami semua satu keluarga. Mereka tidak meninggalkan kami, tapi kami yang berjalan lambat!" jelas Pak Tua dengan wajah sedih.
Aruna mengangguk, dia melihat seorang gadis kecil yang terbaring di atas gerobak dorong. "Apakah anak kecil itu sedang sakit?"
"Ya, dia terjatuh saat bermain dan kakinya terkilir!" Pak Tua menatap cucunya dengan penuh kasih sayang.
"Kakek, Ximei tidak terjatuh, tapi dia didorong!" seorang Anak remaja membantah ucapan Kakeknya, dia sangat marah melihat Adiknya kesakitan, tapi tidak bisa membalas.
Sang Kakek hanya berkata, jika mereka tidak bisa melawan, karena orang itu memiliki kekuasaan. Jadi meminta semuanya diam, dan tidak membahas masalah itu lagi. Tapi dia tidak setuju dengan pernyataan yang Kakeknya buat, jika mereka diam saja, maka orang jahat itu menganggap mereka lemah dan mudah ditindas.
Tapi Sang Kakek kembali berkata, jika kamu membalas, maka orang jahat itu akan menargetkan mereka sekeluarga. Dia terpaksa menahan diri, karena tidak ingin keluarganya dalam bahaya.
"Biar aku coba periksa!" Aruna jalan mendekat dan melihat kaki si kecil sudah bengkak kebiruan, itu bukan terkilir lagi tapi sudah patah.
"Nona, Anda seorang Tabib?" tanya Pak Tua dengan penuh harap, begitupun dengan anggota keluarga yang lainnya.
"Ya, turunkan dia di bawah pohon!" Aruna mengeluarkan kasur angin dan meminta mereka membaringkannya.
Aruna menyentuh kaki si gadis kecil yang sudah sangat parah, sehingga membuatnya demam dan tak sadarkan diri. "Jika terlambat diobati, dia akan berjalan dengan pincang!"
"Nona, apa maksudnya? Bukankah kaki Anakku cuman terkilir? Kenapa sampai bisa tidak bisa berjalan lagi?" seorang Bibi bertanya dengan gelisah.
"Siapa yang mengatakan jika kakinya hanya terkilir?" Aruna balik bertanya.
"Ada seseorang di Desa kami yang mengerti pengobatan, katanya cuman terkilir dan hanya perlu diurut saja!" Jelas Pak Tua dengan cepat.
Aruna mendengus, mengerti pengobatan tapi malah salah mendiagnosa. "Jadi apakah sudah diurut?" Aruna bertanya sambil memberi obat penurun panas.
"Sudah, sudah diurut!"
"Apakah sembuh?" Aruna bertanya lagi, tapi dia masih fokus pada si anak kecil, dia mengompres kakinya yang bengkak, kemudian menusukkan beberapa jarum.
Pak Tua dan keluarganya terdiam, karena setelah diurut kaki Cucunya tidak sembuh tapi malah bengkak. "Nona, apakah kaki Cucu Saya patah?"
"Ya"
Pak Tua dan keluarganya sangat terpukul, seketika mereka merasa bersalah kepada Ximei. Mereka hampir saja membuat anak itu tidak bisa berjalan normal lagi.
"Nak, maafkan Ibu!" ternyata Bibi itu Ibu dari Ximei.
"Bibi jangan menangis, Ximei pasti akan sembuh." Aruna berusaha menenangkannya.
Bukannya berhenti, tangisnya makin pecah. Anaknya sudah tidak sadar dari kemarin, bagaimana jika Ximei tidak bangun lagi karena kesalahan yang mereka buat.
Aruna membiarkan untuk menumpahkan kesedihan dan kekecewaan mereka. Dia meminta Tabib Gu untuk menjaga anak kecil itu, dan mencabut jarumnya setelah waktunya tiba.
Dia naik kereta dan masuk ke dalam ruangnya, Aruna mencari gips kaki patah tulang, dia tidak tau apakah stok atau tidak karena dia belum pernah melihatnya. Aruna mencari dibagian obat-obatan dan akhirnya menemukannya di dalam lemari.
Saat dia keluar, Aruna melihat Pak Tua dan keluarganya sedang makan nasi kotak. Dia tidak bingung, karena setiap orang yang punya batu penyimpanan memiliki banya stok nasi di ruangnya. Aruna tersenyum melihat warga Desa yang sudah mulai suka berbagi tanpa dia suruh.
Ternyata jarum perak sudah Tabib Gu cabut, bengkaknya sudah mulai mengecil dan panasnya juga sudah turun. Aruna membersihkan kembali kaki Ximei sebelum dia memasangkan gips, untung tidak perlu dioperasi.
"Kakinya jangan dipake untuk berjalan dulu, bisa sembuh dan berjalan lagi setelah tiga bulan!" Aruna menjelaskan setelah gips terpasang.
"Nona terima kasih!" ucap Pak Tua yang ingin bersujud di kaki Aruna, tapi Aruna menahannya.
Semua anggota keluarga bergantian mengucapkan terima kasih kepada Aruna. Pak Tua meminta maaf karena tidak bisa membayar biaya pengobatan, tapi dia mau menulis surat utang. Karena ternyata Desa mereka tidak terlalu berjauhan.
Pak Tua dan keluarganya tak menyangka bahwa Desa Suning juga rombongan pengungsi, mereka sangat terlihat hidup dengan sehat dan makmur.
Aruna menolak, selama perjalanan dia hanya akan meminta biaya pengobatan kepada orang kaya, "Tidak perlu, kalian rawat saja dengan baik, agar pengobatanku tidak sia-sia!"
"Nona Anda sangat baik! Semoga kebaikan Anda dibalas oleh para Dewa!" Kali ini seorang Nenek Tua yang berbicara, dia mendoakan Aruna dengan tulus, gadis secantik Aruna harus panjang umur dan hidup bahagia.
Semua kembali bersiap, karena perjalanan tertunda mereka akan tiba di Kota Daxia di sore hari, apalagi Aruna kembali menyimpan Kereta Kuda meminta mereka berjalan bersama.
Pak Tua dan keluarganya terkejut melihat kereta kuda tiba-tiba menghilang, selama perjalan mereka hanya diam karena takut salah bicara dan menyinggung orang lain, mereka tidak mau mencari masalah dengan orang-orang yang punya kekuatan seperti itu.
Karena sudah makan sebelum melanjutkan perjalanan tadi, mereka tidak berhenti untuk makan siang. Mereka hanya berhenti beberapa menit untuk menghilangkan dahaga.
Pak Tua dan keluarganya merasa ada yang aneh dengan tubuh mereka, lelah yang mereka rasakan tidak seperti sebelumnya. Padahal saat ini mereka terus berjalan, Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Aruna, jika memang benar, mereka sudah bertemu dengan seorang Dewi penolong.
Aruna tidak tau apa yang mereka pikirkan, seandainya dia bisa mendengar isi hati mereka mungkin Aruna hanya bisa menghela nafa panjang karena mendapat julukan baru lagi.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka tiba Gerbang Kota Daxia, Kota terakhir sebelum mereka tiba di Ibu Kota, Kota terluas dan Kota yang paling makmur diantara Kota lainnya.
Raja Wang ( gelar )
Tingkat Bangsawan di kota kecil (3-1)
Tingkat Bangsawan di Ibu Kota (10-1)
🙏🙏🙏
Author baca berulang-ulang kok sebelum up.😁 Tapi kadang masih ada yang nyelip.🤭
ceritanya keren banget 🫰🙆♀️😊