Ding! [Sistem Fate Breaker Aktif: Mengubah skenario dunia!]
Dibuang dan difitnah sebagai putri sampah? Itu bukan gaya Aruna. Masuk ke tubuh Auristela Vanya von Vance, ia justru asyik mengacaukan alur game VR ini dengan sistem yang hobi error di saat kritis.
Tapi, kenapa Ksatria Agung Asher de Volland yang sedingin es malah terobsesi melindunginya?
Ding! [Kedekatan dengan Asher: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh tapi menarik."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Kegagalan Berlapis
BHUUSH!! Ledakan kabut hitam yang keluar dari kristal terlarang itu mulai menggerogoti udara, mematikan cahaya neon bunga-bunga hutan dan melayukan akar pelindung di lapisan luar altar. Bau busuk belerang dan kematian menyeruak, membuat napas terasa sesak. 'Kali ini pasti berhasil!' Para assasin yang tersisa menyeringai di balik topeng mereka, mengira kemenangan sudah di depan mata.
GURUHHH!
Tanah di bawah Altar bergetar hebat, seolah bumi sendiri sedang mengamuk. Sebelum kabut busuk itu menyebar luas, cahaya hijau emerald yang sangat murni tiba-tiba meledak dari kedalaman tanah—Mana suci dari Yggdrasil, Pohon Dunia yang menjadi jantung Aethelgard, telah bangkit. Cahaya itu menyapu kabut hitam seperti fajar yang menghalau kegelapan terdalam.
Akar-akar yang tadi sempat layu seketika tumbuh kembali dengan lebih kuat, menjalar cepat dan menghancurkan bebatuan yang menghalangi jalan. Bunga-bunga hutan mekar kembali dengan pendar yang jauh lebih kuat, menyinari wajah Aruna yang pucat. Aruna yang masih lemas dalam pelukan Asher merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya; energi murni Yggdrasil itu membantu menstabilkan aliran denyut mananya yang sempat kacau.
"S-sialan! Kekuatan apa ini?! Kenapa hutan ini seolah ingin melindunginya?!" teriak pemimpin Viper’s Fang yang syok berat. Ia mencoba melompat mundur, namun tekanan mana yang luar biasa besar membuatnya merasa seperti dipaku ke tanah.
Scwartz tidak memberikan jawaban. Wajahnya yang biasa tenang kini memancarkan amarah dingin. Memanfaatkan pemurnian dari Yggdrasil, ia melompat ke dahan pohon tertinggi dengan seringan helai daun. Ia menarik busur kayunya yang terukir rumit, menciptakan tiga anak panah dari mana murni yang berpendar perak kebiruan.
Swish! Swish! Swish!
Anak panah itu melesat melengkung, mengejar sisa-sisa assasin yang mencoba melarikan diri di tengah cahaya hijau yang menyilaukan. Tidak ada suara dentingan logam, hanya ada suara angin yang terbelah dan tubuh para assasin yang jatuh satu per satu ke tanah dengan leher atau jantung tertusuk tepat sasaran. Scwartz menunjukkan kenapa ia adalah ketua suku muda yang ditakuti di benua Xyloseria.
Setelah ancaman terakhir lenyap dan hutan kembali sunyi karena lindungan Yggdrasil, ketegangan fisik Asher akhirnya mencapai batasnya. Aura emas dari pedang Solis-Aeterna perlahan meredup hingga akhirnya menghilang sama sekali, meninggalkan pedang itu kembali ke sarungnya.
Bruk! Asher jatuh berlutut, napasnya terasa berat dan panas. Kepalanya perlahan jatuh dan bersandar di bahu Aruna yang rapuh. Aruna yang masih merasa tubuhnya seberat timah terkejut, tangannya yang gemetar mencoba menahan bobot tubuh besar Asher agar tidak terjatuh lebih keras.
"Asher?! Hei, bangun! Jangan bercanda sekarang!" bisik Aruna dengan suara yang mulai serak karena panik. Ia bisa merasakan cairan kental dan hangat merembes dari perban di bahu Asher, membasahi tangannya. 'D4rah? Kenapa ada begitu banyak d4rah?!'
"ASHER!!!"
Dalam kepanikannya, Aruna mencoba meminta tolong ke sistemnya yang masih menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
Ding!
[M-memproses permintaan host... E-error... Terdeteksi g-gangguan mana sisa kristal hitam...
Mengaktifkan Memory Materialization...
Memanggil Item: Handuk Basah.]
"Handuk?! Untuk apa handuk dalam keadaan genting seperti ini, sistem rongsokan! Aku butuh ramuan penyembuh, bukan handuk gak berguna!!" maki Aruna dalam hati dengan air mata yang mulai menggenang. Ia hanya bisa memeluk Asher lebih erat, mencoba menyangga tubuh ksatria itu dengan sisa tenaganya yang kecil.
Sesaat kemudian Scwartz kembali dengan langkah cepat, ia mendengar jeritan penuh keputusasaan dari dalam altar.
"Ada apa, Putri Auristela?!" tanya Scwartz dengan nada waspada, busurnya masih dalam posisi siaga.
"Asher pingsan! Sepertinya dia kehabisan d4rah terlalu banyak!! Lukanya dari tadi tidak mau berhenti mengalir!" Jawab Aruna sambil mati-matian menyeka luka Asher yang terus mengeluarkan d4rah menggunakan handuk basah dari sistem. Tangan Aruna gemetar hebat, ia belum pernah melihat Asher yang tampak sepucat ini.
Scwartz segera mendekat, memeriksa denyut nadi Asher di lehernya. "Tenangkan diri mu, Putri. Dia hanya mencapai batasnya setelah menahan kekuatan kristal itu sendirian. Aku akan segera memanggil tim medis terbaik suku kami. Bertahanlah sebentar lagi."
-#-
Ratusan mil dari kedamaian semu Hutan Primordial, suasana di sebuah ruang kerja mewah sangat jauh berbeda. Suhu di ruangan itu terasa dingin membeku, meski perapian menyala terang. Cahaya lilin menari-nari gelisah mengikuti napas berat seorang pria bangsawan 'Count' yang duduk di balik meja mahoni besarnya.
Brak!
"Apa maksudmu dengan 'hilang kontak'?!" bentak sang Count hingga vas bunga di sampingnya terguling dan pecah berkeping-keping.
"La-Lapor, Yang Mulia... seluruh unit Viper’s Fang dan Night-Claw Shadows musnah tanpa sisa di perbatasan Aethelgard. Laporan terakhir dari pengintai jarak jauh menyebutkan adanya gelombang mana suci yang luar biasa—Yggdrasil bangkit secara mendadak untuk melindungi mereka," lapor agen itu dengan suara gemetar, dahinya menyentuh lantai dingin karena ketakutan.
"ARGH!! BENAR BENAR SEKELOMPOK SAMPAH YANG TIDAK BERGUNA!!!"
PRANG!!! BRUK!
Sang Count merasa dunianya seolah runtuh seketika. Kegagalan ini benar-benar berlapis. Ia telah membuang d4na besar yang seharusnya digunakan untuk biaya logistik pemberontakan, menggunakan artefak kristal hitam langka yang ia curi dari gudang rahasia, namun hasilnya nol besar. 'Jika rencana ini tercium oleh kaisar, kepalaku pasti akan dipenggal besok pagi.'
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menarik selembar perkamen premium dan mulai menulis pesan. Tinta hitamnya beberapa kali meluber, menciptakan bercak-bercak yang tampak seperti noda d4rah di atas kertas.
"Lapor. Misi pengejaran 'target' gagal total. Unit elit musnah tanpa sisa di tangan para Elf. Target masih hidup dan terkonfirmasi masih berada dalam perlindungan Archduke, Asher de Volland. Kekuatan mereka jauh di luar perkiraan, bahkan setelah kristal hitam digunakan. Pertahanan mereka diperkuat oleh mana Pohon Dunia. Mohon instruksi untuk langkah selanjutnya sebelum mereka pulih dan kembali ke pusat kerajaan."
Ia melipat surat itu dengan gerakan kaku, lalu meraih lilin segel berwarna hitam pekat. Ia meneteskan lilin itu di atas lipatan kertas, lalu menekan segel peraknya yang memiliki simbol mata yang tertutup. Simbol faksi rahasia yang bahkan kaisar pun belum mengetahuinya.
"Kirimkan ini sekarang kepada 'Beliau'. Gunakan jalur rahasia ketiga. Pastikan tidak ada satu pun orang yang melihatmu, bahkan jika itu nyamuk sekali pun, atau kau sendiri yang akan menjadi santapan anjing hutan," perintahnya dingin dengan tatapan mata yang penuh kebencian.
Sang Count bersandar pada kursinya setelah bayangan itu menghilang. Ia menatap langit malam dari balik jendela, menyadari bahwa permainan ini baru saja menjadi jauh lebih berbahaya.
'Beliau pasti tidak menyukai berita buruk ini, dan kegagalan kali ini mungkin aku pun akan menjadi korban.'
ayo Aresh, musnahkan ikan² bau amis itu semuanya