NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Tantangan Alea

🕊

Restoran sudah ramai oleh pelanggan. Suasana hangat dari aroma masakan berpadu dengan bunyi alat-alat dapur dan percakapan pengunjung. Alea berdiri tegak di sisi meja, mengatur piring, gelas, dan sendok dengan cermat. Senyum manisnya menghiasi wajahnya setiap kali menyapa pelanggan.

Seorang pelanggan tampak kesal karena pesanan yang mereka minta sedikit terlambat. “Ini sudah lebih dari sepuluh menit! Apa yang kalian lakukan di sini?” suara pelanggan tajam dan sedikit meninggi.

Alea menatap sekilas, menelan napas, lalu mencondongkan badan sedikit sambil tersenyum ramah. “Maaf, Bapak, pesanan Anda sedang dalam proses. Kami pastikan akan segera tersaji. Terima kasih atas kesabaran Bapak.”

Pelanggan itu mendengus, tetapi senyum Alea yang tulus seolah menenangkan sedikit amarahnya. Ia tidak membiarkan emosi orang lain menguasai dirinya. Sebaliknya, ia melanjutkan pekerjaannya—mengatur meja lain, menyajikan minuman, membersihkan tumpahan kecil, dan mencatat pesanan tambahan.

Di sudut restoran, beberapa rekan kerja yang lebih senior menatapnya dengan tatapan evaluatif. Salah satu dari mereka, seorang perempuan sekitar usia tiga puluhan dengan rambut disanggul rapi, mendekat. “Kamu baru ya? Jangan terlalu banyak senyum, nanti pelanggan malah nggak percaya sama kemampuanmu,” katanya setengah serius, setengah sinis.

Alea menatap sekilas, mengangguk tipis, dan memilih tetap fokus pada piring yang harus ia antar. Ia tahu, komentar itu hanya ingin menguji atau menegaskan senioritas mereka. Namun ia tetap tenang, tidak terpancing. Senyumnya tetap ramah, langkahnya tetap cepat dan teratur.

Selesai mengantarkan pesanan, Alea kembali ke dapur. Pak Rino, kepala dapur yang sudah berusia 47 tahun namun masih kuat dan cekatan, menyapanya. “Alea, hari ini kamu boleh belajar sedikit masak saat istirahat, ayo ikut ke sini. Aku tunjukkan dasar menyiapkan saus ayam spesial kita,” ujar Pak Rino sambil mengangkat sendok kayu besar. Alea mengangguk, matanya berbinar. “Iya, Pak. Terima kasih banyak.”

Di dapur, Alea mulai belajar memotong bahan dengan presisi, mencampur bumbu sesuai takaran, dan memperhatikan teknik memasak yang benar. Pak Rino dengan sabar membimbingnya, sesekali menepuk pundaknya atau memberi komentar positif. “Bagus, Alea. Kamu cepat tangkapnya. Tapi ingat, jangan buru-buru. Masakan itu soal ritme dan rasa, bukan sekadar cepat,” kata Pak Rino sambil tersenyum.

Alea tersenyum, menahan semangatnya agar tetap fokus. Ia belajar setiap langkah dengan seksama, mencatat dalam benaknya, dan sesekali menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti.

Di luar dapur, pelanggan mulai tersenyum dan memuji pelayanannya. Beberapa mengomentari bagaimana Alea selalu tersenyum dan menanyakan kebutuhan mereka dengan hangat. Senyum sederhana tapi tulus itu membuat orang merasa dihargai.

Saat bel istirahat berbunyi, Alea meneguk air putih dan menyeka keringat di dahinya. Ia merasa lega, tapi juga bangga pada dirinya sendiri. Ia berhasil menghadapi pelanggan sulit, tetap ramah meski ditekan oleh senioritas rekan kerja, dan belajar hal baru di dapur.

Pak Rino menepuk pundaknya lagi. “Lihat, Alea, hari pertama saja kamu sudah bisa menahan tekanan dan tetap profesional. Ini yang membuatmu bisa bertahan lama di sini.” Alea mengangguk, menatap mata Pak Rino. “Terima kasih, Pak. Saya ingin belajar lebih banyak lagi.”

Sore itu, Alea pulang dengan langkah yang lebih ringan dari pagi. Pikirannya sudah sibuk dengan resep, senyum pelanggan, dan catatan kecil tentang cara melayani dengan tenang meski di tengah tekanan. Ia menyadari bahwa pekerjaan ini bukan hanya soal tenaga, tapi soal kesabaran, konsistensi, dan kemampuan membaca situasi—semua pelajaran yang ia perlukan untuk hidup mandiri.

Malam itu, restoran masih ramai meski jam sudah menunjukkan pukul delapan. Lampu-lampu hangat menggantung di atas meja, menciptakan bayangan lembut di lantai kayu yang bersih. Alea menatap sekeliling, menarik napas panjang, dan menegakkan punggungnya. Shift malam selalu lebih menantang—pelanggan lebih cerewet, pesanan datang lebih cepat, dan rekan kerja senior terkadang ingin menunjukkan dominasi mereka.

Di meja dekat jendela, sekelompok pelanggan tampak ribut. Seorang pria dengan jas rapi menggerutu, menatap menu, lalu menatap Alea dengan tatapan tajam. “Kamu bisa pastikan ini siap dalam lima menit? Kita lapar dan waktu terbatas,” katanya cepat dan tegas.

Alea tersenyum tipis, mengangguk sambil menulis pesanan dengan cepat. “Tentu, Pak. Saya akan pastikan pesanan Bapak sampai tepat waktu.”

Pria itu mengerutkan dahi, seakan tidak yakin. Alea hanya menatap sebentar, lalu melangkah ke dapur. Fokusnya tetap pada pekerjaan, tidak membiarkan ketidakpuasan pelanggan mempengaruhi langkahnya.

Di dapur, suara alat masak berdengung, aroma bumbu menyengat, dan beberapa pegawai lain sibuk menyiapkan hidangan. Salah satu rekan kerja senior mendekat, mengamati Alea. “Kamu cepat banget, tapi hati-hati. Jangan sampai salah, nanti pelanggan tambah cerewet,” ucapnya dengan nada hampir mengejek.

Alea mengangguk, tetap fokus mengaduk saus ayam. “Terima kasih sarannya,” jawabnya ringan. Tidak ada nada defensif. Ia tahu rekan itu ingin menunjukkan senioritas, tapi ia memilih tetap profesional.

Pak Rino yang melihat dari sudut dapur menepuk punggung Alea. “Tenang, Alea. Fokus sama pekerjaanmu. Jangan biarkan orang lain mengacaukan ritme kerja. Mereka sering begitu di malam pertama.” Alea tersenyum tipis, menundukkan kepala. “Iya, Pak. Saya akan tetap fokus.”

Setelah beberapa menit, Alea kembali ke meja dengan nampan penuh hidangan. Ia menyajikannya dengan senyum lebar, menatap mata pelanggan dan berkata dengan hangat, “Ini pesanan Bapak. Selamat menikmati.”

Pria itu menatap Alea, ragu sejenak, lalu tersenyum tipis. “Terima kasih,” ucapnya, sedikit melunak.

Alea menatap meja lain, mengatur piring bersih, mengisi air minum, dan menyapa pelanggan dengan ramah. Meskipun shift malam penuh tekanan, ia menemukan ritme yang membuatnya tetap nyaman.

Di sela-sela pekerjaan, Alea mendapat sedikit waktu istirahat. Pak Rino mengajaknya ke dapur untuk belajar membuat saus spesial dessert malam ini. “Ini waktumu belajar sambil tetap jaga ritme kerja. Lihat dan praktikkan,” kata Pak Rino sambil menunjukkan langkah-langkah mencampur bahan.

Alea memperhatikan setiap gerakan, mencatat mental, dan bertanya ketika tidak yakin. “Pak, kalau teksturnya terlalu kental, apa yang harus saya lakukan?” Pak Rino tersenyum. “Tambahkan sedikit air panas, perlahan. Tapi jangan terburu-buru. Kesabaran itu penting di dapur.”

Sambil mempraktikkan, Alea merasakan ketegangan malam itu mulai sedikit mencair. Ia menyadari, menghadapi pelanggan sulit, tekanan senioritas, dan ritme cepat shift malam bukan hanya soal tenaga, tapi soal kesabaran, fokus, dan ketenangan.

Ketika shift malam hampir selesai, Alea berdiri di dekat pintu dapur, menarik napas panjang. Wajahnya basah oleh keringat, tapi senyumnya tetap tulus. Ia menatap ke luar jendela, melihat lampu jalan yang mulai redup. Malam itu ia tahu sesuatu: tekanan bukan untuk membuatnya menyerah, tapi untuk membuatnya berkembang.

Shift malam akhirnya selesai. Alea keluar dari restoran, menarik napas panjang. Udara malam terasa sejuk, meski sedikit lembap. Jalanan sudah mulai sepi; hanya lampu-lampu jalan yang menyorot trotoar dan gedung-gedung kosong di pinggir jalan. Namun, beberapa angkringan dan warkop masih dipenuhi anak muda yang bercanda, tertawa, dan merokok tipis-tipis, menciptakan aura hidup di tengah kesunyian kota malam.

Alea melangkah perlahan, tas kerja masih tergantung di pundaknya. Ia menatap sekeliling, mencoba menyerap ketenangan malam itu. Ada perasaan damai, tapi di balik itu, pikirannya terus berputar tentang hari ini. Shift malam membuatnya lelah, tapi juga mengajarkannya banyak hal—bagaimana menghadapi pelanggan cerewet, tekanan senioritas dari rekan kerja yang ingin menonjolkan diri, dan bagaimana tetap profesional meski situasi tidak ideal.

Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma kopi dari warkop menenangkan pikirannya. “Mungkin… ini akan menjadi tempat aku bisa bertahan,” pikir Alea lirih. Namun, sejujurnya, ia masih tidak tahu berapa lama ia bisa menahan diri menghadapi tekanan senioritas yang kadang terasa menekan.

Langkahnya membawa Alea ke sisi trotoar, memandang lampu-lampu jalan yang memantul di aspal basah. Matanya menatap jauh, menimbang hari-hari yang telah dilewati—mulai dari sekolah, butik, pabrik gaun pengantin, hingga restoran ini. Setiap langkah terasa seperti lembaran baru yang harus ia tulis sendiri.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan dari Tami muncul di layar: “Kaka Alea, kerja shift malam ya? Jangan lupa jaga kesehatan. Besok pasti lebih ringan kok.” Alea tersenyum tipis, jantungnya terasa hangat. Ia membalas singkat, “Iya, Tami. Makasih ya. Aku baik-baik saja.”

Pesan itu membuatnya teringat pada rasa nyaman kecil yang selama ini ia cari: teman yang memahami, orang-orang yang peduli. Senyum kecil itu bertahan meski ia tahu besok ia harus kembali menghadapi tekanan yang sama.

Beberapa langkah kemudian, seorang pemuda menepuk bahunya sambil bercanda. “Eh, Kak Alea, baru pulang kerja ya? Shift malam pasti berat tuh.” Alea menoleh, tersenyum ramah. “Iya, lumayan capek, tapi masih bisa bertahan.”

Pemuda itu tersenyum. “Kamu hebat, Kak. Aku nggak yakin bisa sekuat kamu.” Alea menundukkan kepala, merasa sedikit bangga, tapi tetap rendah hati. “Terima kasih. Yang penting tetap fokus aja, ya.”

Ia berjalan ke perempatan jalan, melihat sepi yang menenangkan. Angin malam membawa aroma segar dari pohon dan warkop yang jauh. Alea menepuk pundak tasnya, seolah memberi semangat pada dirinya sendiri.

Mungkin ini jalan yang aku pilih. Mungkin aku akan jatuh, mungkin juga aku akan belajar lebih banyak. Tapi setidaknya, aku tetap berdiri, pikirnya dalam hati.

Sambil melangkah pulang, ia menatap lampu-lampu jalan yang berkelap-kelip di kejauhan. Tidak ada yang bisa menenangkan seperti malam, pikir Alea, selain langkahnya sendiri dan udara yang mendinginkan wajahnya. Meski lelah, hati kecilnya merasa damai—sejenak, di tengah malam yang hening, ia bisa bernafas lega.

Di pojok jalan, ia melihat anak-anak muda tertawa di angkringan, beberapa membunyikan musik dari speaker kecil, aroma sate dan gorengan melayang ke udara. Alea tersenyum tipis, membiarkan aroma dan suara itu menjadi musik latar untuk pikirannya. Malam ini, ia mungkin tidak punya teman serumah di mess seperti dulu, tapi malam kota memberinya ruang untuk menenangkan diri.

Ia melanjutkan langkah, memikirkan besok, rekan kerja yang sulit, dan pelanggan yang cerewet. Tapi untuk malam ini, ia memutuskan untuk membiarkan semuanya pergi sejenak. Pulang, mandi, makan sedikit, dan tidur nyenyak agar esok bisa memulai lagi dengan energi baru.

Alea menatap langit gelap yang bertabur bintang tipis. Di atas sana, entah kenapa, hatinya merasa sedikit lega. “Semoga besok aku tetap kuat. Semoga aku bisa bertahan… dan mungkin, sedikit demi sedikit, aku akan merasa di rumah di sini juga,” gumamnya pelan, sambil mengangkat kepala dan tersenyum tipis.

Langkah nya semakin ringan. Meski lelah dan pikirannya bercampur rasa was-was tentang senioritas rekan kerja, Alea merasa satu hal pasti: ia masih bisa mengendalikan dirinya, masih bisa berdiri tegak, dan malam ini, ia belajar menemukan ketenangan meski hidup kadang terasa keras dan menekan.

Saat akhirnya Alea sampai di rumah, lampu di halaman menyambutnya hangat. Ia menepuk tasnya, tersenyum lelah, dan berkata dalam hati, “Aku pulang, tapi besok aku akan kembali. Aku akan terus belajar, terus berjuang, dan tetap tersenyum.”

Dan malam itu, Alea tidur dengan hati sedikit lebih ringan, membawa harapan baru bahwa setiap tantangan bisa dihadapi, asalkan ia tetap percaya pada dirinya sendiri.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!