NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Rahasia yang Terkubur di Balik Badai

BAB 23: Rahasia yang Terkubur di Balik Badai

Lampu neon di koridor Sanatorium berkedip pelan, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti hantu masa lalu. Rangga berdiri di depan pintu kamar Arini, menghalangi jalan bagi para pengacara utusan ibunya. Di tangannya, selembar kertas akta nikah darurat itu bukan sekadar dokumen; itu adalah perisai baja yang tidak bisa ditembus oleh kekuasaan Ibu Sarah.

"Kalian masih di sini?" tanya Rangga dengan suara yang sangat tenang, namun matanya memancarkan ancaman yang nyata. "Apakah kalian ingin aku memanggil polisi untuk mendakwa kalian atas tindakan pelecehan terhadap privasi pasien dan pelanggaran hak asuh suami?"

Lukman, sang pengacara senior, tampak berkeringat dingin. Ia melirik akta di tangan Rangga dengan gusar. "Tuan Rangga, pernikahan ini... Ibu Sarah pasti akan menuntut pembatalan. Anda memanfaatkan kondisi pasien yang tidak sadar sepenuhnya."

"Dia sadar. Dia menjawab 'ya', dan ada rekaman video untuk membuktikannya," sahut Rangga dingin. "Sekarang, angkat kaki dari sini sebelum aku kehilangan kesabaranku dan menghancurkan karier kalian dalam satu malam."

Tanpa kata lagi, rombongan pria bersetelan hitam itu mundur. Mereka tahu bahwa melawan Rangga yang sekarang sama saja dengan menabrak tembok beton. Rangga telah berubah dari seorang pangeran yang manja menjadi seorang pelindung yang siap membunuh demi cintanya.

Setelah koridor itu sepi, Rangga kembali masuk ke dalam kamar. Arini sedang tertidur lelap akibat pengaruh obat penenang pasca-prosesi pernikahan yang melelahkan tadi. Wajahnya tampak sedikit lebih cerah, atau mungkin itu hanya perasaan Rangga yang kini merasa memiliki hak sepenuhnya untuk mencintai wanita ini.

Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Rangga bergetar. Sebuah nomor pribadi yang ia kenal sebagai informan rahasianya di desa kelahiran Arini menelepon.

"Tuan Rangga, ada sesuatu yang harus Anda ketahui tentang Ibu kandung Nona Arini," suara pria di seberang sana terdengar terengah-engah.

Rangga mengerutkan kening. Selama ini, ia tahu bahwa ibu Arini sudah meninggal tak lama setelah ayahnya dipenjara. "Apa maksudmu? Bukankah beliau sudah tiada sepuluh tahun lalu?"

"Itu yang dikatakan penduduk desa, Tuan. Tapi saya baru saja menemukan catatan di sebuah panti jompo tua di pinggiran Jawa Tengah. Ada seorang wanita dengan nama yang sama, namun identitasnya disembunyikan secara paksa oleh seseorang dari keluarga Adiguna. Dan yang lebih mengejutkan... wanita itu masih hidup, meskipun dalam kondisi yang sangat memprihatinkan."

Jantung Rangga berdegup kencang. Jika ibu Arini masih hidup, ini berarti pengkhianatan ibunya jauh lebih dalam dari sekadar masalah bisnis. Ibu Sarah tidak hanya menghancurkan ayah Arini, tapi mungkin juga telah menculik dan menyembunyikan ibunya agar Arini hidup sebatang kara dan mudah dikendalikan.

"Cari lokasinya sekarang juga. Kirimkan alamatnya padaku. Jangan beritahu siapa pun, termasuk Maya," perintah Rangga sebelum mematikan telepon.

Rangga menatap Arini. "Rin... jika ibumu masih hidup, aku bersumpah akan membawanya ke depanmu. Aku akan menyatukan kembali kepingan hidupmu yang sudah dihancurkan oleh keluargaku."

Baru saja Rangga hendak meletakkan ponselnya, pintu lobi Sanatorium kembali terbuka. Namun kali ini, bukan pengacara yang datang. Suara langkah sepatu tinggi yang tegas bergema di koridor. Ibu Sarah datang sendiri. Tanpa pengawal, tanpa asisten. Wajahnya merah padam, menunjukkan amarah yang sudah mencapai puncaknya.

"APA YANG KAMU LAKUKAN, RANGGA?!" teriak Sarah saat ia sampai di depan kamar. "Menikahinya? Kamu benar-benar sudah gila! Kamu baru saja merusak garis keturunan Adiguna dengan menikahi putri dari seorang pengkhianat dan narapidana!"

Rangga berdiri di ambang pintu, menghalangi ibunya untuk masuk. "Jangan berteriak di sini, Ma. Ini rumah sakit. Dan berhenti menyebut ayah Arini pengkhianat. Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu siapa yang sebenarnya berkhianat pada persahabatan demi uang dan takhta."

Ibu Sarah terdiam sejenak, matanya menyipit. "Oh, jadi kamu sudah membaca dokumen-dokumen sampah itu? Kamu pikir kamu tahu segalanya?"

"Aku tahu Mama menyembunyikan ibu kandung Arini," sahut Rangga dengan nada yang sangat rendah namun mematikan.

Wajah Ibu Sarah mendadak pucat. Untuk pertama kalinya, Rangga melihat ketakutan di mata ibunya. "Kamu... kamu bicara apa? Wanita itu sudah mati karena sakit hati!"

"Mama tidak pandai berbohong saat Mama merasa terpojok," Rangga melangkah mendekati ibunya, membuat wanita itu mundur satu langkah. "Kenapa, Ma? Kenapa Mama begitu takut pada keluarga ini? Apakah karena Ayah sebenarnya masih mencintai ibu Arini sampai hari kematiannya? Apakah Mama hanyalah pilihan kedua yang terpaksa diambil Ayah karena Mama hamil denganku?"

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Rangga. Wajah Rangga terlempar ke samping, namun ia tidak membalas. Ia hanya tersenyum getir sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah.

"Terima kasih, Ma. Tamparan ini adalah tanda bahwa dugaanku benar. Mama menghancurkan keluarga Arini karena rasa cemburu yang buta. Mama takut Arini akan merebut harta Adiguna yang Mama anggap milik Mama sepenuhnya."

"Kamu tidak tahu apa-apa, Rangga! Aku membangun kerajaan ini dari nol!" teriak Sarah dengan suara parau.

"Mama membangunnya di atas tumpukan mayat kebahagiaan orang lain! Sekarang, dengarkan aku baik-baik," Rangga menatap mata ibunya dengan kebencian yang murni. "Aku sudah resmi menjadi suami Arini. Semua aset yang Ayah wariskan kepadaku akan kugunakan untuk menghancurkan dominasi Mama di perusahaan. Aku akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Dan jika aku menemukan ibu Arini dalam keadaan tidak baik karena ulah Mama, aku sendiri yang akan memastikan Mama membusuk di penjara yang sama dengan tempat Ayah Arini dulu dibuang."

Ibu Sarah terjatuh di kursi lobi, ia tampak seperti wanita tua yang baru saja kehilangan segala kekuatannya. "Kamu tega melakukan ini pada ibumu sendiri?"

"Mama yang memulai ini saat Mama mencoba membunuh wanita yang kucintai," jawab Rangga tanpa belas kasihan. "Sekarang, silakan pergi. Jangan pernah tunjukkan wajah Mama di sini lagi. Bagiku, ibuku sudah mati bersama dengan nuraninya sepuluh tahun lalu."

Setelah Ibu Sarah pergi dengan sisa-sisa kesombongan yang hancur, Rangga kembali ke dalam kamar. Tubuhnya terasa sangat lemas. Ia duduk di lantai di samping ranjang Arini, menyandarkan kepalanya di besi ranjang.

Air matanya jatuh. Ia merasa sangat kotor menjadi seorang Adiguna. Namun, sebuah tangan lembut menyentuh kepalanya.

Arini terbangun. Ia rupanya mendengar sebagian dari pertengkaran itu.

"Ga..." bisik Arini. Suaranya masih sangat lemah, namun penuh dengan kasih sayang.

"Maafkan aku, Rin. Maafkan keluargaku," tangis Rangga pecah.

Arini menarik tangan Rangga, membawanya ke pipinya yang tirus. "Jangan... menangis... Kamu... berbeda... Kamu... penyelamatku..."

Rangga mencium telapak tangan Arini. "Aku akan mencarinya, Rin. Aku akan mencari ibumu. Aku akan membawa semua orang yang bersalah ke pengadilan, termasuk ibuku sendiri."

Malam itu, Rangga membuat rencana besar. Ia menyadari bahwa posisinya sekarang sangat berbahaya. Ibunya adalah singa yang terluka, dan singa yang terluka akan menyerang dengan lebih ganas. Rangga segera memerintahkan Maya untuk memindahkan Arini ke sebuah rumah pribadi yang telah ia ubah menjadi unit perawatan intensif rahasia.

"Kita tidak bisa tinggal di sini lagi, Rin. Mama tahu tempat ini. Kita harus menghilang sampai aku punya cukup kekuatan untuk memukul balik," ujar Rangga saat ia menggendong Arini yang ringan seperti kapas menuju mobil ambulans pribadi yang sudah ia siapkan.

Di dalam ambulans, Rangga menggenggam tangan Arini erat-erat. Di luar sana, konspirasi besar sedang berjalan. Ibu Sarah mulai menghubungi koneksi-koneksi politiknya untuk menyatakan bahwa Rangga telah menculik Arini.

Perang ini bukan lagi sekadar tentang cinta, tapi tentang pembersihan dosa masa lalu dan perjuangan hidup di tengah kepungan kekuasaan yang korup.

"Tidurlah, Rin. Perjalanan kita masih panjang. Tapi kali ini, kita akan melaluinya bersama. Sebagai suami istri," bisik Rangga sambil menatap lampu-lampu jalanan yang berkelebat di balik jendela ambulans.

Di kegelapan malam, sebuah rahasia besar baru saja dimulai. Di sebuah panti jompo yang kumuh, seorang wanita tua dengan tatapan kosong terus menggumamkan nama Arini. Dan Rangga, dengan segala hartanya yang tersisa, sedang menuju ke sana untuk menjemput potongan terakhir dari kebahagiaan istrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!