NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: INVESTASI MASA DEPAN DAN SEMANGAT DI ATAS LAPANGAN

Pagi yang cerah menyelimuti kampus Universitas Buana Cakrawala. Sisa-sisa embun masih tampak di dedaunan taman, namun aktivitas mahasiswa sudah mulai menderu. Rimba, yang baru saja keluar dari dimensi beberapa jam sebelumnya, melangkah santai menuju gedung Fakultas Teknik Informatika. Di sampingnya, Cesar berjalan dengan langkah anggun, kepalanya tegak, seolah ikut mengawasi ketertiban kampus.

Hari itu, jadwal perkuliahan berjalan normal. Rimba mengikuti setiap materi dengan kecerdasan yang jauh melampaui rata-rata. Namun, yang membuat hari itu terasa istimewa bukanlah teori algoritma yang ia pelajari, melainkan apa yang terjadi setelah kelas usai.

Saat dosen terakhir meninggalkan ruangan, Wahyu, sang ketua kelas, berdiri di depan meja instruktur. Ia mengangkat tangan, meminta perhatian dari dua puluh sembilan teman sekelasnya.

"Teman-teman, mohon waktunya sebentar!" seru Wahyu. "Saya ingin melaporkan perkembangan rencana kita. Saya sudah mendapatkan GOR untuk latihan voli selama sebulan ke depan. Lokasinya tidak jauh, hanya sepuluh menit dari sini. Saya juga sudah mengontak Coach Bambang dan asistennya, Coach Heru. Keduanya pelatih yang terdaftar di PBVSI. Kita mulai latihan perdana sore ini jam empat."

Rimba yang duduk di barisan tengah langsung mengangkat tangan. "Wahyu, boleh aku minta nomor rekening Roro sekarang?"

Roro, sang bendahara yang duduk di baris depan, menoleh dengan wajah bingung namun segera menyebutkan deretan angka rekeningnya. Rimba menunduk sejenak pada ponselnya. Hanya butuh tiga detik bagi jemarinya untuk menekan tombol send.

Ting!

Ponsel Roro berbunyi nyaring. Gadis itu membukanya, dan seketika matanya membulat. Ia berdiri dari kursinya dengan wajah pucat sekaligus syok. "Rim... Rimba... ini... ini tiga ratus juta rupiah?!" teriaknya histeris.

Seluruh kelas mendadak hening. Angka itu terlalu fantastis untuk ukuran uang kas kelas. Mereka menatap Rimba seolah pemuda itu baru saja menjatuhkan meteor emas ke tengah ruangan.

Rimba berdiri dengan tenang, menyunggingkan senyum tipis. "Kenapa aku transfer sebesar itu? Begini penjelasannya," ucapnya kalem, menatap teman-temannya satu per satu. "Tiga ratus juta itu bukan hanya untuk sewa GOR dan gaji pelatih. Aku ingin selama sebulan kita latihan, semua teman sekelas—baik tim yang bermain maupun yang tidak main—hadir di lapangan untuk memberi dukungan. Dan setiap sore setelah latihan, aku minta Wahyu memesan nasi kotak terbaik untuk semua yang hadir. Bagi teman-teman yang tinggal di kosan atau jauh dari orang tua, minimal kalian tidak perlu memikirkan biaya makan malam selama masa latihan dan pertandingan kita."

Ledakan tepuk tangan dan sorakan riuh seketika memenuhi kelas. Beberapa mahasiswi bahkan tampak berkaca-kaca. Di tengah kesulitan ekonomi mahasiswa tingkat awal, tawaran Rimba bukan sekadar bantuan, melainkan sebuah bentuk persaudaraan yang luar biasa.

"Kalau nanti uangnya kurang, Roro tinggal bilang padaku. Jangan sampai ada yang kelaparan atau kekurangan air mineral saat latihan," tambah Rimba.

Wahyu menarik napas panjang, mencoba menetralkan rasa harunya. "Baiklah... atas nama seluruh kelas, aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Rimba. Kita tidak punya alasan untuk malas. Jam empat sore ini, semua kumpul di GOR!"

---

Sebelum mereka benar-benar bubar, Rimba kembali berbicara. Suaranya rendah namun penuh wibawa. "Tunggu sebentar. Aku ingin bertanya... di kelas ini, ada berapa orang yang mendapatkan beasiswa?"

Semua orang saling pandang. Tidak ada satu pun tangan yang terangkat. Rimba mengangguk paham. Ternyata hanya dia yang mendapatkan beasiswa penuh dari universitas karena "jalur khusus" prestasinya.

"Tanpa melihat latar belakang ekonomi kalian, jika aku bisa mengusahakan beasiswa penuh untuk kalian semua sampai tamat, dengan syarat kalian harus lulus tepat waktu dan tidak main-main dalam kuliah, apakah kalian bersedia?"

Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong. "Tentu saja kami mau, Rim! Itu impian semua orang!" jawab Wahyu mewakili suara teman-temannya.

"Baiklah. Wahyu dan Nadia, tugas kalian sekarang adalah pergi ke bagian administrasi kampus. Tanyakan berapa total biaya pendidikan untuk dua puluh sembilan orang sampai lulus. Masukkan biaya skripsi, biaya sidang, hingga biaya wisuda. Pokoknya sampai kalian memegang ijazah. Aku ingin angka totalnya hari ini."

Nadia, sang sekretaris, mengangguk cepat. "Kami berangkat sekarang, Rim!"

---

Setelah pertemuan bubar, Rimba melangkah menuju tempat favoritnya: di bawah pohon beringin tua. Seiring berjalannya waktu, area di bawah pohon itu kini tidak lagi sepi. Berkat keramahan Rimba, banyak mahasiswa dari berbagai jurusan mulai berani mampir untuk sekadar ngobrol atau berdiskusi soal tugas.

Saat sedang asyik bercengkerama, suara feminin memanggil namanya. "Rimba!"

Rimba menoleh dan tersenyum melihat dua sosok akrab. "Halo, Kak Maya, Kak Sari! Apa kabar? Bagaimana hasil sidangnya?"

Kedua senior cantik itu mendekat dengan wajah berseri-seri. "Beres! Kami berdua sudah resmi jadi sarjana sekarang!" ucap Maya sambil melakukan high-five dengan Sari.

"Widih... selamat ya! Calon-calon bos baru nih. Semoga karier Kakak-kakak semakin melejit setelah ini," puji Rimba tulus.

Sari menghela napas sedikit panjang. "Kalau ada lowongan pekerjaan yang bonafit, kabari aku ya, Rim. Di kantor lamaku rasanya sudah mentok, tidak ada ruang untuk naik jabatan lagi."

"Lho, Kak Sari mau pindah?"

"Iya, aku memang kuliah lagi untuk cari peluang baru. Kalau Maya sih sudah aman, dia sudah jadi kesayangan di kantornya," goda Sari.

Rimba terkekeh. "Oke Kak, nanti kalau aku dengar ada informasi bagus, pasti aku kabari. Tapi jangan terlalu berharap padaku ya, aku kan baru semester satu, jaringanku masih seumur jagung."

"Gaya kamu, Rim. Kami tahu kamu itu bukan mahasiswa biasa," goda Maya sebelum keduanya pamit pergi untuk merayakan kelulusan mereka.

---

Tak lama kemudian, Wahyu dan Nadia kembali dari gedung rektorat. Wajah mereka tampak sedikit tegang namun bersemangat.

"Rim, kami sudah dapat angkanya," ujar Wahyu sambil menyodorkan secarik kertas. "Untuk dua puluh sembilan orang, total biaya kuliah sampai lulus, termasuk semua tetek bengek wisuda dan lain-lain, adalah empat koma tujuh miliar rupiah."

Rimba melirik angka itu tanpa ekspresi terkejut sedikit pun. Baginya, angka itu jauh lebih kecil dibanding satu taruhan di meja dadu kemarin malam. "Oke, besok akan aku transfer. Nadia, pastikan kamu meminta surat bebas pungutan biaya resmi dari kampus atas nama masing-masing orang. Aku ingin tiap orang memegang bukti bahwa kuliah mereka sudah lunas."

Nadia tertegun. "Kamu benar-benar akan membayar empat koma tujuh miliar untuk kami semua, Rim?"

Rimba hanya menepuk bahu Wahyu. "Anggap saja ini investasi untuk masa depan sahabat-sahabatku. Sekarang, mari kita fokus ke masalah yang lebih mendesak: voli."

---

Tepat jam tiga sore, suasana kelas mulai bergerak. Mereka meninggalkan kampus menuju GOR yang telah disewa. Rimba memacu Harley-nya dengan Cesar yang duduk tenang di jok belakang, memimpin konvoi kecil teman-temannya yang menggunakan motor dan mobil.

Di dalam GOR, suasana sudah mulai hidup. Roro dan beberapa teman lainnya ternyata sudah bergerak cepat menyiapkan sepuluh bola voli baru, berdus-dus air mineral, dan handuk kecil. Satu per satu mahasiswa IT angkatan Rimba berganti pakaian.

Saat mereka sedang bercengkrama, dua pria jangkung memasuki GOR. Yang satu berusia sekitar lima puluh tahun dengan aura tegas namun kebapakan, dan yang satu lagi jauh lebih muda dengan tubuh atletis.

"Itu Coach Bambang dan Coach Heru," bisik Wahyu.

Setelah perkenalan singkat, Wahyu membawa kedua pelatih itu menemui Rimba. "Coach, ini Rimba. Dia yang memfasilitasi semua latihan kita."

Rimba menyalami kedua pelatih itu dengan hormat. "Coach, sebelum kita mulai, saya punya beberapa usul. Mengingat tinggi rata-rata teman saya hanya sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, saya harap Coach bisa menitikberatkan latihan pada *defend*. Mereka harus bisa menahan serangan sekeras apa pun. Biarkan bola tetap hidup. Untuk urusan menyerang, biar saya yang usahakan dari posisi mana pun."

Coach Bambang mengangkat alisnya, mengamati postur Rimba yang jangkung dan atletis. "Usul yang menarik. Tapi, kamu sendiri main di klub mana sebelumnya?"

Rimba tertawa kecil. "Saya bukan pemain profesional, Coach. Saya cuma menang di tinggi badan saja. Dulu waktu kecil saja saya sering main di desa sama teman-teman seadanya. Tidak pernah ikut klub."

"Oke, kita lihat dulu kemampuanmu di lapangan hari ini," jawab Coach Bambang diplomatis.

"Satu lagi, Coach," lanjut Rimba. "Apakah Coach keberatan jika saya jarang ikut latihan? Kegiatan saya di luar kampus cukup padat. Saya hanya bisa latihan hari ini, dan mungkin dua hari terakhir sebelum turnamen dimulai."

Coach Bambang terdiam sejenak. "Biasanya aku akan menolak pemain yang malas latihan. Tapi karena ini kompetisi antar jurusan dan kamu adalah penyokong utamanya, aku tidak keberatan. Asalkan hari ini aku bisa melihat gambaran kualitasmu, agar aku tahu harus menempatkanmu di posisi mana."

"Terima kasih, Coach. Saya ganti baju dulu."

Rimba melangkah menuju ruang ganti. Ia membuka ranselnya yang sebenarnya terhubung dengan dimensi. Di sana, Lara telah menyiapkan perlengkapan voli terbaik: kaos jersey dengan bahan teknologi tinggi, celana pendek yang nyaman, serta sepatu voli bermerek yang memiliki daya cengkeram luar biasa.

Saat Rimba keluar dari ruang ganti dengan pakaian olahraganya, seluruh GOR mendadak senyap. Sosoknya yang jangkung, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna namun tidak berlebihan, memberikan aura intimidasi alami yang luar biasa. Ia tampak seperti pemain profesional yang baru saja turun dari liga internasional.

Rimba memutar bahunya, merasakan aliran energi Qi yang ia tekan hingga ke titik terendah agar tidak merusak bola. "Baiklah, mari kita mulai," gumamnya dengan kilatan mata penuh semangat.

1
D'ken Nicko
mantap poll
D'ken Nicko
apa cerita kurang mantap kalau mc tdk dari keluarga yg WAH,,? knp cerita super tdk dari org awam .ZERO TO HERO
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
semangat
D'ken Nicko
kren poll
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
uang receh ,5T...wkwkwk
D'ken Nicko
bacaan favorit nmr satu ,tapi setiap up buat kecewa karna serasa sangat pendek
D'ken Nicko
super mantaaap
D'ken Nicko
KAGOLLL
D'ken Nicko
waduh nanggung amat thor ,up lagi..
D'ken Nicko
kurang panjang thor, up doble
maldi Suryana
bagus
Davide David
lanjut thor abdet lagi episodnya👍💪💪💪💪
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!