Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Sisa-sisa Penyesalan
Tiga tahun telah berlalu sejak malam di mana api melahap habis laboratorium bawah tanah di pinggiran Leb City, namun bagi Esmeralda Aramoa, aroma asap dan bau besi dari darah yang tumpah masih terasa seolah baru terjadi kemarin sore. Proyek Enigma bukan hanya dinyatakan gagal total, tetapi juga dihapus dari semua catatan resmi sejarah sains. Para investor besar, termasuk organisasi Tuna Tour yang dulu begitu ambisius mendanai eksperimen ilegal tersebut, segera menarik diri dan memutuskan semua hubungan diplomatik maupun finansial begitu mereka melihat kehancuran yang ditinggalkan oleh AL. Mereka tidak ingin diasosiasikan dengan sebuah bencana yang menelan nyawa puluhan ilmuwan cerdas dalam satu malam. Baginya, proyek itu hanyalah sebuah kesalahan investasi yang harus segera dilupakan dan dikubur dalam-dalam.
Esme, sebagai peneliti utama yang masih hidup, harus menanggung seluruh beban kegagalan itu di pundaknya sendiri. Dia tidak hanya dipecat secara tidak hormat, tetapi kredibilitasnya sebagai ilmuwan hancur berantakan di mata dunia internasional. Tuduhan kelalaian prosedur keamanan dan ketidakmampuan mengendalikan subjek eksperimen membuatnya kehilangan segalanya: karier, reputasi, dan masa depan di dunia kedokteran modern. Namun, di balik semua hukuman formal itu, hukuman yang paling berat berasal dari dalam dirinya sendiri. Rasa bersalah itu terus tumbuh seperti benalu yang mencekik hatinya. Dia merasa bahwa dialah yang bertanggung jawab atas hilangnya nyawa rekan-rekannya dan perubahan AL menjadi monster yang tidak memiliki ingatan lagi.
Keputusan itu akhirnya diambil dengan mantap. Esme memilih untuk meninggalkan dunia sains yang penuh dengan ambisi buta dan praktek ilegal. Dia menjual apartemen mewahnya di pusat kota, membuang semua peralatan lab canggihnya, dan memutus kontak dengan siapa pun dari masa lalunya. Dia memilih untuk pensiun dini, menjauh dari hiruk-pikuk teknologi, dan pindah ke sebuah kota kecil yang terpencil di kaki pegunungan yang dikelilingi oleh hutan purba yang sangat lebat. Di sana, tidak ada yang mengenalnya sebagai Esmeralda si jenius pembuat Enigma; dia hanyalah seorang wanita pendiam yang tinggal di sebuah pondok kayu sederhana di perbatasan hutan.
Kehidupan barunya kini berputar di sekitar ketenangan alam. Esme tidak lagi menyuntikkan gen predator ke dalam tubuh manusia. Sebaliknya, dia menjadi seorang dokter tumbuhan, seseorang yang mendedikasikan waktunya untuk merawat pohon-pohon tua yang terserang jamur atau meneliti mengapa bunga-bunga liar di lereng gunung mulai layu sebelum waktunya. Setiap pagi, dengan pakaian yang jauh berbeda dari jas lab putihnya yang dulu kaku, Esme akan menyandang tas kanvas berisi buku catatan dan peralatan botani sederhana. Dia akan berjalan masuk ke dalam hutan, menyapa kabut pagi, dan menyentuh kulit kayu yang kasar dengan penuh kasih sayang.
"Tumbuhlah dengan baik, tidak perlu terburu-buru," bisiknya pelan sambil mengoleskan cairan herbal hasil racikannya sendiri pada batang pohon ek yang terluka. Dia benar-benar telah menemukan kedamaian dalam kesederhanaan ini. Esme sering melakukan eksperimen kecil di leb kecil tersembunyi yang ia buat di dekat pondoknya, namun kali ini tujuannya adalah menciptakan obat-obatan organik untuk memastikan tanaman di sekitar rumahnya tetap sehat dan terhindar dari hama. Dia juga sering membantu warga desa yang membawa hewan peliharaan mereka yang sakit, memberikan ramuan alami yang tidak mengandung zat kimia berbahaya. Dia ingin menebus dosanya di masa lalu dengan cara menjaga kehidupan, bukan merusaknya.
Hutan itu menjadi tempat persembunyian sekaligus tempat penyembuhan bagi jiwanya yang lara. Di sini, dia merasa aman karena tidak ada mesin pemantau detak jantung atau kode keamanan ganda. Namun, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Esme terkadang masih sering terdiam saat menatap kegelapan di balik pepohonan yang rapat. Bayangan AL yang menghilang tanpa kabar, yang seolah ditelan bumi malam itu, masih sering muncul dalam mimpinya. Dia tahu proyek itu sudah tutup dan semua orang menganggap subjek itu telah mati dalam ledakan, namun instingnya sebagai seorang ilmuwan mengatakan hal yang berbeda.
Esme duduk di teras pondoknya saat matahari mulai terbenam, meminum teh herbal hangat sambil menatap garis hutan yang menghitam. Suasana desa yang damai dan hidupnya yang sederhana saat ini adalah segala yang dia butuhkan untuk merasa utuh kembali. Dia tidak lagi memburu kekuasaan atau pengetahuan terlarang. Baginya, melihat sebuah tunas baru tumbuh dari tanah sudah lebih dari cukup untuk membuatnya tersenyum kecil. "Mungkin ini adalah cara dunia memaafkan ku," gumamnya dengan nada yang jauh lebih tenang dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun, hutan di kaki gunung itu menyimpan rahasia yang jauh lebih dalam dari yang bisa dibayangkan oleh penduduk desa setempat. Terkadang, saat malam mencapai puncaknya, beberapa hewan hutan akan lari ketakutan tanpa alasan yang jelas, dan suara geraman rendah yang sangat asing bagi telinga manusia akan terdengar terbawa angin, menghilang di antara dedaunan yang berbisik. Esme belum menyadarinya, tetapi predator yang pernah dia ciptakan dan yang kini telah melupakan segalanya, mungkin saja berada jauh lebih dekat daripada yang dia duga, bersembunyi di balik bayang-bayang yang tidak tersentuh cahaya.