Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Wanita Simpanan
Malam itu, di rumah mereka yang mendadak terasa sangat dingin, Gavin berlutut di depan Odelyn. Ia bersedia melakukan apa saja agar Odelyn tidak meninggalkannya.
"Aku bodoh, Lyn. Aku ngerasa dibutuhin sama dia, sampe aku lupa siapa yang udah kasih aku nyawa kedua," isak Gavin.
Odelyn menatap suaminya dari atas sofa.
"Saya nggak butuh air mata kamu, Gavin. Saya butuh jaminan. Besok, kita ke notaris. Seluruh aset pribadimu, termasuk saham G-Corp atas namamu, dialihkan ke nama Arsa. Kamu hanya akan menjadi wali sampai dia berusia 21 tahun. Jika kamu melakukan kesalahan lagi, kamu keluar dari rumah ini tanpa membawa satu sen pun. Setuju?"
Gavin mengangguk cepat. "Setuju. Apa pun, Lyn. Apa pun."
Namun, Nike bukanlah lawan yang bisa diremehkan begitu saja. Dia adalah predator sosial yang sudah kehilangan segalanya.
Baginya, jika dia tidak bisa mendapatkan Gavin, maka Odelyn tidak boleh memiliki kebahagiaan.
Nike mulai mengintai. Ia tahu bahwa Odelyn dan Gavin sedang dalam masa "perbaikan" hubungan, yang artinya mereka mungkin sedikit lengah.
Nike menggunakan sisa uang perasannya untuk menyuap salah satu mantan asisten rumah tangga yang baru saja dipecat dari kediaman Wijaya.
Sasarannya hanya satu: Arsa.
Satu minggu kemudian, saat Odelyn sedang menghadiri rapat darurat, Gavin membawa Arsa ke sebuah taman privat yang dijaga ketat.
Namun, Nike sudah menyiapkan rencana matang. Ia menciptakan keributan palsu di pintu gerbang utama—sebuah kecelakaan beruntun yang melibatkan truk pengangkut zat kimia.
Di tengah kepanikan dan asap yang membumbung, seorang perawat yang sudah disuap Nike berhasil memisahkan Arsa dari pengasuhnya saat Gavin sedang membantu korban kecelakaan di depan gerbang.
Saat Gavin kembali, stroller Arsa sudah kosong.
Di sana hanya ada sebuah boneka kecil dengan catatan: "Gavin, kalau kamu nggak bisa jadi milikku, anak ini juga nggak akan jadi milik siapa pun."
Gavin hampir gila. Ia menelepon Odelyn sambil berteriak histeris. Odelyn yang mendengar kabar itu langsung membeku, namun otaknya yang jenius segera bekerja.
Ia tidak menelepon polisi lebih dulu. Ia menelepon satu orang yang memiliki jaringan satelit paling akurat di dunia.
"Hediva... Arsa diambil orang. Tolong saya," suara Odelyn bergetar hebat.
Di London, Hediva yang sedang memimpin rapat dewan komisaris langsung berdiri. "Kunci seluruh akses keluar Singapura. Sekarang."
Hanya dalam waktu 15 menit, Hediva berhasil melacak posisi ponsel Nike yang bodohnya masih menyala.
"Odelyn, dia tidak di pelabuhan. Dia menuju ke arah gudang tua di Jurong. Saya sudah kirim tim taktis saya yang masih berada di Singapura untuk mencegatnya. Saya akan tetap di sambungan telepon ini sampai Arsa di tangan saya."
Gavin dan Odelyn sampai di gudang tersebut hampir bersamaan dengan tim Hediva. Di dalam, Nike berdiri di pinggir balkon yang tinggi, menggendong bayi Arsa yang sedang menangis kencang. Wajah Nike tampak gila.
Di dalam, Nike berdiri di pinggir balkon yang tinggi, menggendong bayi Arsa yang sedang menangis kencang. Wajah Nike tampak gila.
"Jangan mendekat!" teriak Nike.
"Odelyn, kamu pikir kamu punya segalanya? Kamu cuma punya uang! Aku punya Gavin di masa lalu, dan sekarang aku punya masa depanmu!"
Odelyn melangkah maju, tangannya memberi kode pada tim Hediva untuk tetap di posisi gelap.
"Nike, kamu mau uang? Aku kasih 100 miliar sekarang juga. Lepaskan anakku."
"Uang nggak cukup!" Nike tertawa melengking.
Tiba-tiba, suara tenang Hediva terdengar melalui pengeras suara gedung yang diretasnya dari London.
"Ms. Nike, saya adalah Hediva Vandermere. Di bawah kaki Anda, ada titik merah dari senapan penembak jitu saya. Jika Anda bergerak satu milimeter saja untuk menyakiti bayi itu, saya pastikan Anda tidak akan pernah merasakan dinginnya penjara, karena Anda akan langsung ke neraka."
Nike melihat titik merah di dadanya. Ia gemetar. Gavin memanfaatkan momen itu untuk menerjang maju dan merebut Arsa dari pelukan Nike yang melonggar.
Nike terjatuh dan langsung diringkus oleh tim taktis Hediva.